Sequel Wanita Simpanan CEO
"Aku menyayangimu, aku mencintaimu tapi bukan sebagai kakak melainkan perasaan seorang gadis yang mencintai lelaki, aku ingin menjadi kekasihmu, aku ingin menjadi pendampingmu, aku ingin jadi istrimu kak, tidak bisakah kau mencintaiku". - Abel
"Maaf selama iini aku hanya menganggapmu sebagai adikku".-Excel
Saat kecil Abel dan Excel mereka tumbuh bersama seperti kakak dan adik namun karena suatu hal Excel harus pergi karena ikut orang tua kandungnya dan meninggalkan Abel, saat mereka dewasa dan Excel kembali apakah perasaan mereka sebagai adik kakak masih sama ataukah berubah, dan apakah mereka masih ingat janji masa kecil mereka ?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merry
Sekertaris itu mengetuk pintu dan saat terdengar jawaban mereka masuk, namun nona mariana tersebut duduk membelakangi mereka hingga tak terlihat bagimana rupanya, "permisi nona mereka sudah datang". Ujar sang sekertaris.
Seketika kursi di putar menampilkan sosok wanita cantik dengan wajah datarnya yang membuat Excel membelalakkan mata, "Abel ?". Excel sungguh sulit percaya dan memandang Abel yang ada di sana dengan wajah terkejutnya begitu juga dengan Bagas.
Bagas mendekatkan tubuhnya ke Excel dan berbisik ,"tuan bukankah dia Abel kenapa bisa ada disini ?". Namun Excel tak mejawab, ia masih menatap Abel seolah ia ingin memastikan kembali apakah benar yang ada di hadapannya benar Abel atau bukan bahkan namanya saja 'mariana' bukan Abel tapi Mariana adalah nama depan Abel.
"Silahkan duduk". Seru Abel dan Bagas berjalan untuk duduk di depan Abel namun berbeda dengan Excel yang bergemin di tempatnya, ia sulit mempercayai Abel yang ada di depannya. Rambut yang dulu hitam panjang kini pendek berwarna coklat terang dengan riasan cukup tebal dan lipstik berwarna merah, sama sekali tak menampakan seorang Abel yang biasanya ia lihat.
Bahkan sudah berminggu-minggu ia tak melihat Abel begitu juga sebaliknya. Banyak perubahan yang terjadi diantara keduanya sejak saat itu membuat mereka menjadi dua pribadi yang berbeda terutama pada Abel. Dan kini Abel layaknya terlahir kembali menjadis sosok baru yang bernama Mariana.
"Kalian terlambat 10 menit". Ujar Abel kala Excel mendudukkan tubuhnya di kursi. "Maaf tadi kami terkena macet". Jawab Excel namun Abel seolah tak suka dengan jawaban yang terlalu umum dan biasa itu tersebut.
"Alasan yang sangat klasik, waktu saya tidak banyak silahkan kalian jelaskan mengenai proposal tersebut". Excel tak tenang di buatnya hingga menyuruh Bagas yang menjelaskan dan sesekali mencuri pandang pada Abel, ia merasa bingung harus bagaimana menghadapi Abel bahkan Abel layaknya orang asing saat ini.
"Cukup". Sela Abel kala Bagas masih menjelaskan dan membuat semua yang ada di sana terkesiap, "sepertinya proposal ini kurang memenuhi standar saya, akan lebih baik jika di revisi baru setelah itu saya akan pertimbangkan".
Bagas melongo ia rasanya sudah tak percaya jika benar Abel yang mengatakan itu, begitu juga dengan Excel yang langsung ingin marah, "tunggu bukannya kita akan menandatangani kontrak kerjasama hari ini ?". Tanya Excel.
"Apa ? Tandatangan kontrak ?". Abel tersenyum miring kala Excel salah mengartikan maksud kedatangannya, "bagaimana tanda tangan kontrak jika kita saja belum ada kesepakatan bersama begini saja saya beri waktu 3x24 jam, silahkan kirim kembali proposal yang sudah direvisi baru saya akan mengambil keputusan apakah kerjasama ini berjalan atau tidak".
Excel hampir meledak di buatnya ia menyuruh sekertaris Abel dan juga Bagas untuk keluar dari ruangan itu. Abel mengernyit kala Excel menyuruh semuanya keluar dan kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan.
"Apa maksud anda menyuruh sekertaris saya untuk keluar, ini ruangan saya harusnya saya yang menentukan siapa yang boleh pergi dan siapa yang boleh tinggal". Ujarnya kala hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.
Excel menghela nafas berat, ia tak menyangka akan di hadapkan di situasi ini, dan juga kembali bertemu Abel setelah ke jadian hari itu, nampaknya Abel benar-benar marah padanya. "Bel aku tau kamu marah dan ingin melampiaskan padaku tapi mencampuradukan masalah pekerjaan dan masalah pribadi itu sangat tidak etis, dan tentang waktu itu aku minta ma__".
"Cukup sepertinya anda tidak mengerti maksud saya menyuruh anda kemari, saya bukan orang yang akan mencampuradukan masalah pribadi dengan pekerjaan, dan untuk yang waktu itu", Abel manatap mata Excel dengan tajam seolah hendak mengatakan ancaman, "JANGAN PERNAH LAGI ANDA MEMBAHASNYA".
Abel bisa melihat keterkejutan Excel tapi ia tak peduli, sebenarnya yang akan menemui Excel hari ini adalah papa Rey namun Abel meminta untuk ia yang bertemu dengan Excel agar meperlihatkan sosoknya yang baru, yang lebih kuat dalam menghadapi rasa sakit. Dan sama sekali tak terlihat rapuh ataupun di remehkan. "Kalau tidak ada lagi yang ingin di bicarakan silahkan keluar". Perintahnya.
Excel mengangguk sepertinya ia salah jika menganggap Abel yang dulu dan sekarang adalah orang yang sama karena Abel yang ini terasa seperti orang asing baginya. Hingga ia pasrah dan melangkahkan kaki untuk keluar namun saat baru memgang gagang pintu Abel memanggilnya.
"Tolong saat keluar suruh sekertaris saya masuk dan setelah itu tutup pintunya". Excel keluar dan menyuruh sekertaris Abel yang menunggu di depan untuk masuk, tak lupa untuk menutup pintu.
"Sekarang bagaimana tuan ?". Tanya Bagas dan mereka masih berdiri di depan ruang kerja Abel. Pening seketika kepala Excel ketika apa yang ia fikirkan tak sejalan dengan kenyataan.
"Kau tunggulah disini". Bagas terdiam hendak bertanya tapi lebih dulu Excel pergi untuk menemui papa Rey di ruangannya, ya papa Rey dan Abel masih satu kantor jadi mudah bagi papa Rey untuk mengajari putrinya yang baru lulus menjadi pemimpin ketika ia akan pensiun nanti.
"Om apa papa Rey ada di dalam ?". Tanya Excel kepada asisten pribadi papa Rey yaitu Andy. Mereka sudah saling kenal jadi Excel sudah terbiasa memanggil Andy dengan sebutan om.
"Oh Excel kau sudah besar rupanya lama tak bertemu, kau mencari tuan Reymond dia ada di dalam". Jawabnya dan memberitahukan kepada atasannya jika Excel hendak masuk dan bertemu.
"Masuklah". Excel mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih, setelah itu ia melangkahkan kaki masuk ke ruangan papa Rey, kebetulan saat itu papa Rey juga sangat sibuk.
Suara langkah kaki Excel membuat papa Rey mengalihkan sejenak perhatiannya dan kini ia melihat Excel di depannya, "duduklah ada apa ?".
"Begini pa mengenai kerja sama yang akan kita lakukan bukannya papa yang menangani tapi kenapa malah jadi Abel yang menangani pa ?". Tanyanya.
"Tadinya memang papa yang menangani tapi setelah di fikir-fikir lebih baik Abel yang menangani kerja sama itu lagipula sekalian biar dia bisa belajar, kenapa apakah ada masalah ?". Tanyanya papa Rey balik.
"Proposal yang aku ajukan di tolak pa dan Abel menyuruh untuk merevisi dalam waktu 3 hari". Papa Rey terkejut tentunya namun tak terlalu terlihat, beliau hanya mengangguk faham. "Yasudah turuti saja lagipula tidak ada salahnya kan merevisi".
Excel hanya bisa menghela nafas pasrah, kini urusan kerja sama akan ditangani oleh Abel, dan tentu mereka akan sering bertemu jika memang kerja sama itu berhasil di sepakati. "Baiklah pa".
Excel hendak pamit undur diri namun ia tiba-tiba terfikir mengenai nama Abel yang diubah panggilannya, mungkinkah ada sangkut paut dengan dirinya mengingat nama 'Novabel' dan panggilan 'Abel' ia yang memberikan.
"Pa kenapa Abel sekarang menggunakan nama Mariana ?". Papa Rey tersenyum melihat Excel, ia sebenarnya tak tau apa yang terjadi. "Entahlah papa sendiri tidak tau, dia cuma bilang nama Mariana lebih cocok dengannya dan seluruh orang rumah disuruh memanggilnya Merry bukan lagi Abel".
"Baiklah pa aku permisi kembali ke perusahaan". Excel keluar dari ruangan papa Rey seraya memikirkan tentang Abel. "Sebegitu bencinya dirimu hingga tak mau menggunakan nama yang kuberikan".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udah diusahakan up tiap hari tapi votenya tetep segitu, syedih akutuh 😔😔😔
sukses
semangat
mksh