Kisah ini nyata juga dari seorang tetangga, sudah seperti saudara. Kehidupan dia sangat berliku.
"Kak, Hiks... Hiks... Hiks... Aku hamil." Kata Della menangis.
"APA!!!! Itu ngga mungkin, gugur kan anak itu, aku ngga mau. Siapa tau itu bukan anak ku, gugur kan anak itu." Indra terkejut.
"Apa? Gugur kan? Ngga anak ini ngga bersalah. Ini anak kakak, cuma sama kakak aku melakukan itu. Ngga ada yang lain. Aku berani sumpah" Della memegang tangan Indra.
"Pokoknya aku ngga mau tau kamu harus lenyapkan anak itu. Dasar wanita bodoh." Indra bangun dari duduknya, lalu mendorong tubuh Della hingga jatuh ke tanah.
"Aku tidak akan bertanggung jawab, kamu cuma pelampiasan hasrat ku saja. Dasar wanita murahan, pergi dari sini. Aku muak melihat mu." Perkataan Indra sangat menyusuk di hati Della.
Bagaimana kelanjutannya... kita simak yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Sudah seminggu Della tinggal di rumah Pak Ucup dan Bu Ucun, selama tinggal dengan Pak Ucup dan Bu Ucun.
"Pagi, Bu, Pak. Apa bisa Della bantu?." Sapa Della.
"Tidak ada, Nak. Sebaiknya kamu istirahat aja didalam." Kata Bu Ucun yang sedang memotong sayuran.
"Iya, Nak. Bapak dan Ibu tidak mau kamu kelelahan, kamu kan sedang hamil besar." Kata Pak Ucup yang sedang menyapu lantai.
"Aku tidak bisa berdiam diri, sedangkan kalian sibuk. Apa lagi aku menumpang di rumah Bapak dan Ibu, aku tidak bisa bersantai ria."
"Nak, kamu jangan bicara seperti itu. Kamu sudah Ibu dan Bapak anggap anak sendiri." Bu Ucun meletakkan pisau dan menghampiri Della.
"Hh, Baiklah kamu. Bapak izin kamu membantu kami, tapi kalau kamu lelah langsung istirahat ya. Bapak tidak mau cucu bapak nanti kenapa-napa." Pak Ucup mendekati Della, lalu mengelus perut buncit Della.
"Terimakasih, Pak, Bu. Kasih sayang kalian mengingat aku kepada Papa dan Mama, aku sangat merindukan mereka." Della meneteskan air mata.
"Kamu anggap saja kami orangtua kamu juga, Nak."
"Iya, Pak, Bu."
"Insyaallah, kalau Bapak dan Ibu sudah ada duit. Kita berangkat ke Jakarta."
Della sudah menceritakan semua kepada Bapak Ucup dan Ibu Ucun. Mereka sangat prihatin kepada Della.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba pintu di gedor kencang. Della, Pak Ucup dan Bu Ucun saling pandang, mereka nampak bingung. Siapa-siapa yang mengetuk pintu sangat kencang.
Pak Ucup bergegas membukakan pintu.
Ceklek
Pintu di buka.
"Maaf ada apa ini?." Pak Ucup kaget melihat banyak orang di depan rumahnya.
"Mana Della?." Teriak wanita muda.
"Ada apa kamu mencari Della, Nur?." Pak Ucup mengerutkan alisnya.
"Suruh dia keluar Pak Ucup." Kata Nur marah.
Della dan Bu Ucun keluar.
"Ada apa kamu mencari saya?." Della merangkul Bu Ucun, ia takut banyak orang seakan mau menerkam dirinya.
"Dasar wanita ja**ng, gara-gara kamu Aa Aceng menceraikan saya. Kamu kan yang sudah menggoda suami saya, hah."
"Itu tidak benar, selama aku tinggal disini. Aku tidak pernah keluar rumah dan aku juga tidak kenal itu Aa Aceng."
"Halah, sok ngga kenal. Saya lihat sendiri kok, kamu bicara Aa Aceng kemarin Pagi. Dasar wanita ja** ng pantas aja kamu di tinggal sama suami mu, karena kamu suka bermain dengan laki-laki. Usir dia dari kampung ini."
"Iya, Usir. Sejak ada dia, para pemuda selalu di depan rumah Bu Ucun." Meta memanasin.
"Bikin malu kampung kita ini pak RT." Tambahnya.
Semua warga menghina dan melemparkan Della dengan batu, Pak Ucup dan Bu Ucun melindungi Della. Hingga Bu Ucun kepalanya terkena timpukan batu, untung tidak terlalu parah.
"Cukup!!!!!, Kalian jangan main hakim sendiri. Kita bisa bicara baik-baik, jangan seperti ini. Lihat lah Pak Ucup dan Bu Ucun yang terkena, akibat ulah kalian." Pak RT marah-marah.
Semua warga terdiam dan menunduk.
"Maaf, Della. Apa benar yang di bicarakan Nur dan Meta?." Tanya Pak RT menoleh ke arah Della.
"Itu tidak benar pak,..." Pembicaraan Della di potong oleh Nur.
"Halah, ngga usah mengelak lagi." Kata Nur Sinis.
"Nur, kamu itu bisa diam ngga." Pak RT menatap tajam Nur.
Nur terdiam dan menunduk.
"Della, coba kamu jelaskan kepada kami semua apa yang terjadi." Kata Pak RT.
"Baik, Pak... Waktu itu Pak Ucup sedang ke kebun dan Bu Ucun sedang memasak, saya bingung harus melakukan apa. Sedangkan Bu Ucun melarang saya membantunya, jadi saya keluar rumah hanya di depan teras. Tiba-tiba ada 5 orang pemuda datang menghampiri saya dan menggoda saya, untung ada bapak-bapak datang membantu saya. 5 pemuda itu akhirnya pergi dan saya mengucapkan terimakasih, setelah itu saya masuk kedalam dan tidak melakukan apa-apa." Della menjelaskan.
"Bohong kamu, setelah ketemu kamu kenapa Aa Aceng menceraikan saya. Atau anak yang di kandungan itu anak Aa Aceng, kamu selingkuhannya iya kan?. Ayo ngaku." Nur mencengkeram tangan Della.
"Sembarangan ibu ngomong, ini anak saya dengan suami saya. Anaknya Kak Indra, bukan anak suami anda. Saya berani sumpah demi Allah ini anak Kak Indra." Bela Della.
"Ck, Nur. Kamu itu dari dulu tidak menyadari sikap mu, kenapa suami mu bisa menceraikan mu. Jangannya menuduh orang yang berbuat tidak-tidak dengan suami mu." Bu Ucun melepaskan cengkeraman Nur dari tangan Della.
"Bu, Pak. Della tidak mau ada keributan, sebaiknya Della pergi dari kampung ini." Della menatap Pak Ucup dan Bu Ucun secara bergantian.
"Jangan Della, Ibu tidak mau kamu pergi dari sini. Kamu anak Ibu, Ibu tidak akan membiarkan kamu terluka." Ibu Ucun memeluk Della.
"Bu, Del. Kita bersama dari rumah ini, Bapak tidak mau kamu akan banyak pikiran. Lebih baik kita tinggal di hutan, tempat kita dulu Bu." Kata Pak Ucup mengelus pundak Bu Ucun.
"Iya, Bapak benar. Disana tidak akan mengganggu kita nanti." Bu Ucun melepas pelukan.
"Pak, Bu. Jangan seperti ini, coba Bu dan Bapak tidak memperdulikan nasib Della dan anak yang di kandungan. Jika kalian tinggal di hutan, kalian tidak kasihan kepada Della." Bu Mira tetangga Bu Ucun.
"Tapi Bu Mirah, kamu lihat sendiri betapa warga ini sangat tidak suka Della tinggal di sini. Saya tidak mau Della kenapa-napa." Bu Ucun mengelus tangan Della, Bu Ucun dan Pak Ucup begitu sayang sama Della.
"Begini Bu, Pak. Bagaimana kalau kalian tinggal di kota?Di sana saya mempunyai rumah sudah lama tidak di pakai, kalian bisa tinggal disana dan kalian bisa berdagang nantinya." Usul Bu Mirah.
"Maaf Bu, saya dan Istri saya tidak bisa menerima kebaikan kamu Bu Mirah." Kata Pak Ucup, ia merasa curiga dengan sikap Bu Mirah yang tiba-tiba baik kepadanya.
"Tapi kenapa pak?." Bu Mirah penasaran.
Pak Ucup bukannya menjawab pertanyaan Bu Mirah, malah menyuruh Della dan Istrinya segera berkemas.
"Sial, kenapa Pak Ucup bisa curiga?Kan gue ngga bisa dapat cuan." Kata Bu Mirah dalam hati.
Pak Ucup, Bu Ucun dan Della pergi. Semua orang hanya menatap mereka, tidak ada satu pun yang memberhentikan jalan mereka. Bagi mereka pengganggu sudah pergi.
Della merasa sedih, gara-gara dirinya. Pak Ucup dan Bu Ucun di usir dari kampungnya.
"Ya Allah, kenapa hidup ku seperti ini?Apakah aku pembawa sial, jadinya pak Ucup dan Bu Ucun terkena sial. Kasihan mereka gara-gara aku mereka terusir dari kampungnya." Batin Della, matanya berkaca-kaca.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Like, Vote dan Komentarnya ya...
See you... 😘😘😘😘
lanjut.. makin seru