"Berjanjilah kau akan menikahiku!."
"Kau! "
Terdengar percakapan sepasang manusia dari ruang kelas yang sangat gelap, karena hari mulai malam dan tidak ada penerangan apapun, tidak ada sinar rembulan yang terang mungkin cuaca buruk dan listrik dalam keadaan mati.
"Seharusnya kau yang menikahiku! Bukannya aku yang harus menikahimu! Aku kan perempuan! " Perotes anak perempuan, membuat mulut yang bergetar dari sosok laki-laki itu seketika diam dan berubah menjadi senyuman yang tipis.
"Cepat lah berdiri disini sangat gelap! lagian para pemuda itu telah di bawa polisi. Dan lagi aku tidak ingin menikah denganmu, kau itu pemuda penakut. Aku menginginkan suami yang berani yang bisa menjadi pelindungku! " Kembali anak perempuan yang berusia sekitar 11 tahunan itu menyerukan keinginannya.
Pemuda yang berseragam SMA itu pun menurut, ia bangun lalu berjalalan melewatinya sambil meraba sekeliling mencoba mencari jalan keluar. Tapi tangannya segera ditarik oleh anak perempuan itu dan akhirnya mereka bisa keluar dari gedung sekololah.
" Buka matamu! Ini sudah di luar sekolah. Jalan kok merem! Masih takut A? ledek anak perempuan. Pemuda itu membuka matanya, lalu menghembuskan nafas tenang.
"Sebenarnya aku seorang pemberani! dan aku ingin menikah denganmu karena kau seorang perempuan cerewet dan manis." Ucap pemuda itu!
"Aduh!"
Jodoh tidak akan pergi kemana ujar pepatah.
Kisah sepasang manusia yang di pertemukan kembali dangan keadaan yang berbeda, guru dan muridnya saling menyukai. Akankah kisah dahulu menjadi cinta yang manis? Walau terkadang masalah silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selly YuniraTera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengawal Tersembunyi
Diruang leb kimia nampak dua insan yang sedang dinaungi asmara cinta, suara decakan dari mulut mereka terdengar indah diruangan itu dan setiap sesepan yang mereka lakukan terhadap bibir, terasa sangat manis seakan tidak bisa berhenti dan menjadi candu bagi yang melakukannya. Peraduan mulut yang sangat mendebarkan hati dan membangkitkan gairah.
Tak terasa kini Heru mulai mengelus dua gundukan putih dan indah itu, yang memiliki puncak yang sangat curam hingga membuat Heru jatuh kepayang saat memasukan puncak itu kemulutnya.
"MMm ashhh... " Suara eksotis Sisil memenuhi gendang telinga Heru, membuatnya menjadi bersemangat untuk terus menjelajahi gunung kembar itu.
"Yak! Hentikan! " teriak Sisil dengan susah payah, karena sebenarnya pemikiran sama nafsunya kali ini mempunyai pikiran yang berbeda.
Dengan terpaksa Heru pun menghentikannya, lalu mengaitkan pembungkus gunung itu dan mengancingkan baju seragam Sisil kembali.
"Aku tidak bisa kontrol kalau ketemu sama istriku ini, " Heru tersenyum.
"Sebenarnya aku juga! " sahut Sisil dan segera menutup mulutnya, membuat Heru tertawa.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan! " usul Heru dan kembali menarik Sisil ke dada bidangnya.
"Nanti saja, " Sisil tersipu, entah kenapa dia menjadi seperti itu tidak semestinya.
"Kapan? Kita ke hotel yu? Aku ingin melakukannya di sana," ucapan Heru membuat Sisil menyentil hidung Heru.
"Buang uang," sahut Sisil.
"Nih! "Heru meletakan kartu warna black di meja.
"Ini untukku? " Sisil antusias sambil memegang kartu itu. " Ini kartu tanpa limit, apa benar ini untukku tidak akan menyesal?"
Ctakkkk
Heru menyentil dahi Sisil, "Seharusnya aku memberikan ini sedari awal kita menikah, tapi aku selalu lupa, "
"Sakit tau! " Sisil mengusap dahinnya dengan bibirnya yang sengaja dia pajukan.
"Jadi kita jadi malam ini ke hotel ya? " Heru menggetakan alisnya kepada Sisil.
"Baiklah. apa pun asal bersama Mas," Sisil pun tersenyum.
Tanpa mereka sadari dari celah pintu tengah ada yang melihat keromantisan mereka, Ratna! Dia lah orang nya yang kini berada di depan pintu leb, tangannya mengepal.
"Pemandangan yang sangat menjijikan! Membuatku muak apalagi wanta itu begitu genit awas saja aku gak rela jika Pak Heru yang tajir itu milik orang lain! Gak apa mereka sekarang bersetatus tunangan, tapi nanti untuk seratus menikah hanya aku yang akan di posisi itu bersama Pak Heru," Ratna pun pergi, dia hanya bisa melihat keromantisan Sisil dan Heru tanpa memdengar apa yang di bicarakan mereka karean Ratna datang baru beberapa menit yang lalu.
Tringgggggg
Bel masuk berdering memberi tahu bahwa saatnya Sisil dan Heru harus berpisah.
"Aku akan ke lestoran dulu setelah sekolah, ada hal lenting di sana, " Heru mengelus lembut kepala Sisil.
"Baiklah hati-hati aku pergi dulu, " pamit Sisil berbalik tapi Heru malah menarik tangannya membuat Sisil kini berada di pelukan Heru.
Chu.....
Satu kecupan mendarat di kening Sisil, membuat yang di cium itu bersemu merah di pipinya.
"Tunggu aku di rumah! " ucap Heru melepas ciuman itu, dan hanya disahut anggukan oleh Sisil.
Jam demi jam pun belalu tidak terasa waktu pulang telah tiba, semua siswa terlihat berbondong-bondong keluar dari gedung itu. Sisil menghampiri motornya di palkiran, matanya menagkap seseorang yang sedari tadi merasa selalu memperlihatkannya. Hingga seseorang menghampirinya.
"Hai Sisil, apa kau baik-baik saja? Hati-hati di jalan ya alalagi cuaca mendung. " Ratna melambaikan tangannya pada Sisil lalu terlihat naik ke mobil hitam itu.
Kini awan pekat menyelimuti daerah itu, bertanda hujan akan turun dengan deras. Sisil merogoh jas hujan di bagasi motor, lalu memakainya. Perlahan Sisil mulai melajukaan motornya dengan kecepatan sedang dan tepat hujan pun mengguyur jalanan itu, Sisil menarik rem untuk memperlambat jalannya tapi sepertinya tidak berfungsi.
"Wah gawat! " Sisil panik, sedangkan laju motor semakin laju di tambah hujan pun semakin deras.
Terlihat di depan banyak kendaraan lain, untuk kali ini Sisil bisa menyalip dan terus menarik rem itu dengan sekuat tenaga. "Gimana ini bisa celaka! "
"Nona dengarkan aku! Belokan motor itu ke samping arahkan pada pohon besar di depan sana lalu lompatlah ke mobil ini! " tiba-tiba seorang laki-laki berjas berteriak dari dalam mobil bak terbuka itu.
"Aku tidak bisa! " Sisik tangannya gemetar.
"Cepatlah anda bisa! di saat motor itu akan menabrak, nona perlu melompat! "
Sisil dengan berani memfokuskan pada pohon besar itu, perlahan hampir mendekati. Dia mengarahkan motornya pada pohon itu, lalu dia pun berdiri di bagian depan motor dengan berani akhirnya Sisil melompat.
Brukkkkk
Suara motor yang menabrak pohon itu terdengar nyaring, untung nya di pinggiran jalan itu lahan kosong hanya ada pohon besar berjejer di sana. Nafas Sisil menggebu.
"Nona kau baik-baik saja?" tanya Laki-laki lain yang tadi mengkap Sisil saat Sisil melompat ke mobil yang memiliki bak terbuka itu.
"Aku baik, kalian siapa? " Sisil duduk dengan lemas.
"Kami hanya orang lewat nona, " ucap laki-laki itu, Sisil terdiam untuk kali ini dia hanya bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada dirinya kecuali motornya mungkin sekarang sudah ringsek.
Tidak berapa lama Sisil tiba dirumahnya tapi hal itu makin membuat Sisil curiga, sedari tadi di jalan dia tidak pernah memberi tahukan alamat rumahnya tapi sekarang dia sudah berada di depan rumah.
"Kalian suruhan suamiku? " tanya Sisil, karena mana mungkin orang lain mau menolong apa lagi tau rumah Sisil.
"Tidak nona, " Ucap kedua laki-laki itu kompak.
Alga pun terlihat membukakan gerbang dengan payungnya.
"Anda baik-baik saja? " tanya Alga karena heran, pagi Sisil membawa motor ke sekolah dan sekarang malah di antar oleh orang-orang berjas itu.
"Aku baik, " sahut Sisil dan tanpa sengaja melirik anak kecil di pos itu.
"Siapa anak itu? " tanya Sisil menunjuk Ulan yang sedang menatap mereka.
"Dia anak saya, " jawab Heru dan Sisilpun mengangguk, hingga akhirnya Sisil akan memanggil kedua laki-laki yang menolongnya untuk di ajak mampir, tapi sudah tidak ada.
"Pasti orang itu suruhan Mas Heru, " ucap Sisil dalam hati.
Sisil membuka jas itu, lalu memasuki rumahnya di sana sudah ada bi Mimin yang menyodorkan handuk.
"Makasih Bi, " ucap Sisil meraih handuk itu lalu berlari ke kamarnya.
🌹🌹🌹
Di sebuah rumah yang besar tepatnya diruang kamar yang benuansa pink itu, terlihat Ratna tengah menelepon seseorang.
"Kau bisa di andalkan?" ucapnya, lalu perlahan senyumnya mengembang.
"Saya sudah melaksanakannya dengan rapi, jadi sisa bayarannya harus segera ditransfer, " suara sautan dari sebrang sana membuat Ratna senang mendengar orang suruhannya.
"Bagus, sekarang juga aku akan transfer uangnya. " Ratna mematikan sambungan telepon itu.
"Aku senang mendengar kamu celaka Sisil haha... "