NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:94.4k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berharap benih itu tidak tumbuh

Pagi itu, setelah melakukan pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya mengizinkan Tiara pulang. Di depan ruang perawatan, Keenan masih berbincang dengan dokter sebelum kepulangan putrinya.

"Secara fisik kondisi Tiara sudah jauh lebih baik. Namun, proses pemulihannya belum selesai. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kondisi psikologisnya. Jangan sampai dia merasa tertekan atau terus-menerus mengingat trauma yang dialaminya."

Keenan mengangguk pelan.

"Baik, Dok. Saya mengerti."

"Obat-obatnya tetap harus diminum sesuai jadwal. Kalau ada keluhan atau perubahan kondisi, segera bawa Tiara kontrol kembali."

Keenan kembali mengangguk paham.

Dokter tersenyum tipis.

“Setelah administrasi selesai, Tiara sudah diperbolehkan pulang. Saya permisi."

"Terima kasih banyak, Dok."

Setelah dokter berlalu, Keenan hendak memasuki ruang perawatan. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.

"Assalamu'alaikum, Mas."

Keenan menoleh. Kinanti berdiri di belakangnya. Perempuan itu segera menyalami lalu mencium punggung tangan Keenan dengan penuh takzim.

"Wa'alaikumsalam," jawab Keenan lembut. "Daffa sudah berangkat sekolah?"

"Sudah. Begitu mobil jemputannya datang, aku langsung ke sini."

"Dokter sudah mengizinkan Tiara pulang pagi ini."

Wajah Kinanti langsung berbinar.

"Alhamdulillah... “

"Mas mau mengurus administrasi dulu. Tolong bantu Tiara bersiap-siap, ya."

"Tentu."

Kinanti pun masuk ke dalam ruang perawatan.

"Assalamu'alaikum."

Tiara yang sedang merapikan rambutnya segera menoleh.

"Wa'alaikumsalam... Tante Kinanti."

Sorot matanya seketika berbinar melihat kedatangan ibu sambungnya.

"Tadi ayahmu bilang dokter sudah mengizinkanmu pulang. Sekarang beliau sedang mengurus administrasi."

Tiara terdiam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

"Tante..."

"Ya, Sayang?"

Tiara menundukkan kepala.

"Aku... mau minta maaf."

Kinanti tersenyum tipis.

"Minta maaf untuk apa?"

"Selama ini aku sering bersikap jahat sama Tante. Aku sering nyakitin hati Tante." Suaranya mulai bergetar. "Padahal Tante baik banget sama aku."

Hening sejenak menyelimuti ruangan.

Tiara kembali mengangkat wajahnya. Tatapannya dipenuhi harap. "Kalau aku minta Tante pulang lagi ke rumah... Tante mau, nggak?"

Kinanti menatap wajah Tiara cukup lama. Bibirnya membentuk senyum tipis, tetapi ia sengaja tidak langsung menjawab.

"Hmm... gimana, ya?"

Tiara langsung memasang wajah memelas.

"Aku kan baru sembuh dari sakit. Dokter bilang aku harus makan makanan yang sehat. Kalau Tante nggak ada, nanti siapa yang masakin? Masa aku jajan terus?"

Kinanti menahan senyum.

"Hmm..."

"Please, Tante..." Tiara meraih tangan Kinanti lalu menggenggamnya erat. "Aku janji bakal nurut. Nggak bakalan jahat lagi.”

"Janji?" tanya Kinanti, memastikan.

"Janji." Tiara mengangguk mantap.

Senyum hangat mengembang di wajah Kinanti.

"Kalau begitu... Tante mau pulang ke rumah."

Mata Tiara langsung berbinar.

"Serius? Makasih, Tante."

Tanpa mampu menyembunyikan rasa bahagianya, Tiara segera memeluk erat pinggang Kinanti. Kinanti membalas pelukan itu sambil mengusap lembut punggung gadis tersebut.

"Aduh... ada yang lagi pelukan, nih. Ayah kok nggak diajak?" goda Keenan yang baru saja kembali setelah menyelesaikan urusan administrasi.

Mendengar suara Keenan, Tiara dan Kinanti buru-buru melepaskan pelukan. Keduanya saling berpandangan lalu tersenyum canggung. Keenan ikut tersenyum melihat perubahan sikap putrinya terhadap Kinanti.

"Semuanya sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang."

Tiara mengangguk, tetapi senyum di wajahnya perlahan memudar.

"Yah..."

"Ya, Nak."

"Aku nggak mau ketemu sama Mas Yudha." Tatapan Tiara berubah dingin. "Aku benci sama dia."

Keenan menarik napas panjang. Ia memahami luka yang masih menganga di hati putrinya.

"Ayah mengerti perasaanmu." Suaranya tetap tenang. "Untuk sementara, Yudha akan tinggal di rumah nenekmu."

"Kok cuma sementara?" Tiara langsung menyahut. "Lebih baik aku nggak usah ketemu dia lagi... selamanya."

Wajah Tiara kembali menegang. Nafasnya mulai memburu, seolah amarah yang selama ini ia pendam kembali menyeruak ke permukaan.

Kinanti segera meraih tangan gadis itu.

"Tiara..." ucapnya lembut. "Bagaimanapun juga, Yudha tetap kakak kandungmu."

"Tapi gara-gara dia aku ngalamin semua ini!" bentak Tiara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia jahat! Aku benci sama dia!"

Tatapannya beralih kepada Keenan.

"Ayah kirim aja dia ke pondok pesantren! Biar dia tahu rasa!"

Suasana mendadak hening.

Keenan menatap putrinya dengan penuh kesabaran.

"Tiara..." katanya pelan. "Sudah, ya. Jangan marah-marah terus. Dokter juga bilang kamu harus menghindari stres. Ayah nggak mau tekanan darahmu naik lagi."

Tiara menunduk, berusaha menahan gejolak emosi yang kembali memenuhi dadanya.

"Kamu juga nggak mau ‘kan kalau kepulanganmu harus ditunda sampai besok?"

Mendengar itu, Tiara langsung menggeleng cepat.

"Semuanya sudah beres. Kita pulang sekarang," ujar Kinanti lembut, memecah ketegangan.

Tiara mengangguk pelan. Ia meraih masker medis yang tergeletak di atas meja, lalu mengenakannya hingga menutupi sebagian wajahnya. Setelah itu, ia menarik tudung jaketnya, seolah ingin bersembunyi dari dunia luar. Namun, begitu tiba di ambang pintu, langkahnya mendadak terhenti.

Tubuhnya membeku.

"Kenapa, Sayang?" tanya Kinanti, penuh perhatian.

Tiara menunduk. Jemarinya mencengkeram ujung jaket.

"Yah... Tante...Aku takut.” Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Keenan dan Kinanti saling berpandangan.

"Takut apa?" tanya Keenan hati-hati.

Tiara mengangkat wajahnya. Di balik masker itu, matanya dipenuhi kecemasan.

"Gimana kalau semua orang memandangku hina? Gimana kalau mereka jijik sama aku?" Suaranya mulai bergetar. "Gimana kalau aku jadi bahan gunjingan?”

Ucapan itu membuat dada Keenan terasa sesak. Ia memahami ketakutan putrinya. Terlalu sering ia mendengar kisah korban yang justru dihakimi, disalahkan, bahkan dijauhi oleh lingkungannya. Ketakutan Tiara bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sayangnya, Keenan tak mampu menemukan kalimat yang benar-benar bisa menenangkan hati putrinya.

Melihat kebimbangan di wajah suaminya, Kinanti melangkah mendekat. Dengan lembut ia menggenggam tangan Tiara.

"Kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian, Sayang," ucapnya hangat. "Ada Ayah, ada Tante, dan masih banyak orang yang menyayangimu. Apa pun yang orang lain katakan, itu tidak akan mengubah siapa dirimu. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja."

Mata Tiara kembali berkaca-kaca. Hangatnya genggaman Kinanti sedikit demi sedikit mengikis rasa takut yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Bersama Keenan dan Kinanti yang berjalan di sisi kanan dan kirinya, Tiara akhirnya melangkah keluar dari kamar perawatan.

Begitu tiba di ruang tunggu, langkah Tiara kembali melambat. Meski sebagian wajahnya tertutup masker dan tudung jaketnya menutupi kepala, ia tetap merasa puluhan pasang mata sedang mengawasinya.

Beberapa orang yang duduk di kursi ruang tunggu tampak saling berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya. Awalnya Tiara berusaha mengabaikan. Namun, salah satu bisikan itu terdengar cukup jelas di telinganya.

"Kasihan banget gadis itu. Semoga saja dia nggak hamil."

"Iya. Biasanya korban perkosaan itu hamil dan bayinya juga biasanya lahir cacat."

Kalimat itu menghantam Tiara sekeras petir. Wajahnya seketika pucat. Nafasnya memburu, sementara tubuhnya mulai gemetar hebat. Suara-suara itu bercampur dengan bayangan malam kelam yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Air matanya mengalir tanpa mampu ia bendung.

"Aku nggak mau hamil..." bisiknya dengan suara bergetar.

Sesaat kemudian, emosinya pecah.

"Aku nggak mau hamil! Aku juga nggak mau punya bayi cacat!" teriaknya histeris.

Keenan sontak memeluk putrinya erat sebelum tubuh gadis itu benar-benar kehilangan kendali. Di sisi lain, Kinanti mengusap bahu Tiara sambil terus membisikkan kalimat-kalimat penenang.

"Tiara... sudah, Sayang. Tenang... kami ada di sini."

Tanpa membuang waktu, Keenan dan Kinanti segera menggiring Tiara meninggalkan ruang tunggu. Mereka membawanya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah sakit, menjauh dari tatapan dan bisik-bisik yang hanya memperparah luka di hati gadis itu.

Sepanjang langkah, Kinanti terus menggenggam tangan Tiara seolah ingin menguatkan bahwa gadis itu tidak sendirian. Di dalam hati, ia terus melangitkan do'a.

"Ya Allah... jika hamba boleh meminta, jangan biarkan ada benih yang tumbuh di rahim Tiara.”

1
Rosmazita Imah
ayu selfish.
Arin
Semoga keputusan yang di ambil Ibu Salma, Kinanti dan Kenaan benar. Dengan mengikatkan dulu Mahesa dan Kalila dalam pertunangan. Biar mereka melakukan penjajakan perasaan, apakah akan di lanjutkan ke jenjang pernikahan atau tidak berjodoh.
Dan untuk Ayu lebih baik Mahesa kasih pemahaman kepadanya. Jangan buat Ayu terus berharap kepada nya....
sri hastuti: mahesa hrs tegas ,jngn lemah, jd laki2 hrs tegas ,ada batasan. terangkan , jngn dibiarkan ayu semaunya sendiri, dasar egois .
betul bu salma,disegerakan saja antara mahesa dngn kalila , gak sabar thor , 😡😡😡
total 1 replies
sri hastuti
alaaahhh drama, awas ya thor kl smp mahesa sm Kalila batal, biar dirasakan ayu, aku gak simpati sama sekali, dasar arogan dan egois, kyk ibunya, biar dirasakan, suka kok dipaksakan, 😡😡😡
sri hastuti
bagus thor akhirnya mahesa sm kalila ,aku kasih 👍 buat bu salma yg tegas , jd hrs ada batasan , 👍👍👍
pokoknya mahesa cm cocok sm kalila ,gak ada yg lain 👍👍👍
Arin
Lebih baik sakit pas baru memulai. Daripada sakit terjadi ketika sudah menjalin hubungan tapi di sakiti
My_Sunshine: betul-betul-betul😅
total 1 replies
sri hastuti
ayo thor, segera mahesa sm kalila , biar ayu sadar, dan ternyata sifat ayu jelek spt ibunya , tambah gak cocok sm mahesa 😡😡
Arin
Segerakan perjodohan dengan Kalila dan Mahesa. Biar Ayu segera sadar, kalau memang dari awal Mahesa bukan hanya menghindarimu dan tidak pernah memberi harapan dengan membalas pesan-pesanmu.
Rosmazita Imah
bagus. mahesa tetap jaga jarak. jangan di layan si ayu tu. sama je perangai dgn mak dia
sri hastuti
semoga segera terlaksana ,antara mahesa sm kalila thor, biar mereka berdua bahagia, singkirkan ayu , yg sombong itu 🙏😡😡
sri hastuti
lha gitu mahesa km hrs tegas ,gak usah ragu2, tolak aja ayu, perempuan kok gak punya harga diri , sombong ,gak cocok kl sm mahesa😡😡😡
Rosmazita Imah
ayu eh. kalau org x respone tu. maksudnya, org x berminat la ke awak. malu eh.
sri hastuti
alaaahh emang km sombong bu, sdh aku jugabgak suka kl ayu sm mahesa thor, lbh baik sm kalila aja thor,
dasar ayu juga gakbtau diri sdh gak di respon kok msh kejar2 mahesa 😡😡
sri hastuti
tolak aja ayu, mahesa,jangan mau ,km lebih baik sm kalila aja, buat sm ayu km akan diremehkan nanti ,
ayo thir ,jangan mahesa sm ayu lho ya 😡😡
Rosmazita Imah
terus terang je la mahesa. balik nanti saya akan menikah dgn kalila. biar ayu sedar diri. yg dia x ada makna pun.
Rosmazita Imah
jgn bermimpi la bu elina. mahesa pun x pandang dgn si ayu anak awak.
Arin
/Heart/
sri hastuti
bagus ozi, sdh relakan yg penting km sdh jadi baik, tata kembali masa don mu , 👍
thor ingat lho ,mahesa jangan sm ayu ,gak pas 🙏😡
Rosmazita Imah
bagus la. x nak. mahesa pun x tertarik pun pada anak awak bu elina oi. anak awak yg terhegeh2
ika
bagussss....
emang Mahesa bukan jodoh ayu
Mahesa mau nya ma Khalila
Arin
Bagus Bu Elina jangan sampai merestui hubungan Ayu. Biar Mahesa berjodoh dengan Kalila saja
sri hastuti: sdh betul itu jangan setuju ayu sm mahesa ,aku juga gak setuju,buar mahesa sm kalila aja thor, orng sombong gitu biar dpt karmanya 😡😡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!