Kedatangan murid baru bernama Alby Nevandra, cowok manis penderita Autisme itu membuat Zinnia Sheeva tertarik.
Selain karena wajahnya yang manis dengan bola mata indahnya, Sheeva merasa dia harus melindungi Alby dari masalah di sekitarnya.
Alby bagai sebuah kaca yang kapan saja bisa pecah jika tak dijaga sebaik mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryntimtam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Empat-Selesai
Seorang gadis cantik menggunakan gaun pernikahan yang indah dan sangat menawan, di berjalan pelan mendekati calon suaminya yang nampak tampan menggunakan jas putihnya.
Bunyi tapakan High Heels terdengar selama dia melangkah "Alby lihat~" Panggilnya pada sang calon suami.
Pemuda yang dipanggil Alby itu menoleh, senyum manis langsung terbentuk begitu melihat rupa sang calon istri saat ini.
Dia merengkuh tubuh indah Zinnia dan mencium pipinya lembut "Sheeva cantik" Ucap Alby tulus, tatapan mata yang begitu menandakan dambaan besar pada Zinnia.
"Hihi, makasih sayang" Jawab Zinnia senang.
"Tinggal berapa hari lagi By?" Tanya Zinnia.
Alby mengetuk dagunya sekali "1 bulan lagi sayang" Jawab Alby lembut. Dia kembali mencium setiap inci dan sudut wajah Zinnia. Membuat gadis itu geli.
"Uda ih, geli tau"
Alby merengut sedikit "Sheeva mah.." Gumamnya pura-pura sedih, membuat Zinnia gemas dan mau tak mau mengusak rambut Alby.
"Gemesin banget sih"
Alby cuek saja, dia kembali memeluk Zinnia dan menyandarkan kepalanya di bahu Zinnia, mengirup dalam aroma lemon yang Zinnia keluarkan.
"Alby, aku sangat mencintaimu" Bisik Zinnia lembut di telinga Alby, Alby melepas pelukannya dan menatap lekat Zinnia, gadisnya, gadis yang menerimanya apa adanya, gadis cantiknya.
Alby bersyukur, setidaknya jika dia dibuang keluarganya, masih ada Sheeva yang akan menerimanya "Aku, bahkan sangat mencintaimu, melebihi ikan dilaut dam bintang dilangit" Jawab Alby lembut.
Zinnia tersenyum geli sekaligus senang, perutnya serasa ada jutaan kupu-kupu berterbangan di dalamnya.
"Belajar darimana heh, kata-katanya manis banget"
"Belajar, dari brainly"
"Hahaha yakali brainly By"
Alby menatap lembut Zinnia, sungguh betapa dia sangat mencintai Sheeva-nya ini, tak rela jika Sheeva pergi meninggalkannya, jika Sheeva pergi maka Alby juga akan pergi.
Tok.Tok. Tok.
Prok. Prok. Prok.
Alby membuka matanya, bunyi palu yang baru saja diketukan Hakim menyadarkannya dari mimpi sesaatnya. Alby menoleh ke kanan dan menarik ujung kemeja Ayahnya, memandang Felix dengan tatapan bertanya.
Felix memandang sendu Alby "Bunda dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas kasus Pembunuhan berencana, dan Aldy hukuman 20 tahun Penjara atas kasus penipuan" Ucap Felix lembut.
Alby mengangguk, dia menatap kosong ke arah Frisya dan Aldy yang digeret menuju penjara.
"HAHAHA BAGUS! SETIDAKNYA GADIS ITU MATI! AHAHAHHA BAGUUUSS!!" Alby membeku mendengar teriakan sang Bunda, dia langsung menutup kedua telinganya.
"A..aaa.." Alby bersuara namun tak tau apa yang bisa dia katakan, pecuma.
Felix merengkuh erat tubuh Alby dan mengelusnya, tertangkapnya Frisya dan Aldy adalah laporan dari Felix sendiri, saat dia menemukan Zinnia tak sadarkan diri di pelukan Alby.
Dengan Frisya yang berdiri dengan tangan berlumuran darah, lebih sakit lagi hati Felix saat mendapati Alby tak bisa bicara karena racun yang diberi Frisya pada makanan Alby.
Felix bahkan sampai bersujud di kaki Leo dan Bretna saat mengabarkan kondisi Zinnia, Leo tak menjawab karena saat itu juga dia hampir hilang kesadaran.
Sedangkan Bretna langsung pingsan dan Melo menangkap sang Mami dengan segera.
Felix dan Alby berdiri lalu berjalan keluar dari gedung Pengadilan, berjalan perlahan menuju mobil milik Felix.
Sepertinya mulai sekarang Felix tak bisa lagi mengabaikan Putranya, dia sampai tidak sadar jika Istrinya memiliki kelainan jiwa, dan membunuh Zinnia yang bahkan baik itu.
"Alby mau ketempat Sheeva?" Tanya Felix lembut, Alby menoleh perlahan, senyum manisnya terbentuk walau sedikit, dia mengangguk begitu mendengar ajakan Felix.
"Ayo kita ketempat Sheeva"
Dan mereka mulai melaju menuju tempat Sheeva berada, setidaknya Alby bisa menenangkan hatinya dengan melihat Sheeva-nya lagi.
Masih ingat jelas, saat Melo menatapnya tajam dan hampir membunuh Alby karena kondisi Sheeva yang seperti itu, beruntung Leo menghentikan Melo.
Melo mengatakan hal yang menyakitkan, tapi Alby tak bisa mengelak karena semua itu benar.
Flashback.
Melo berdiri, walau kakinya bergetar saat melihat kondisi saudarinya yang tak sadarkan diri itu, dia menatap tajam Alby yang berdiri dengan kepala yang ditundukan.
Segera dia berjalan mendekati Alby dan hendak mencekiknya, namun Leo langsung menahan Putranya itu.
"GARA-GARA LO SIALAN!! GARA-GARA LO KAKAK GUE JADI KAYAK GITU!! LO DAN KEMBARAN LO ITU MEMANG BAWA SIAL! KENAPA HARUS SHEEVA!? KENAPA!?Hiks..kenapa..dia seneng banget waktu nunjuki undangan pernikahan kalian...hiks..tapi sekarang..hiks..TAPI SEKARANG DIA SEKARAT! BAJINGAN LO! BRENGSEK!!"
Melo mengamuk, mata biru mudanya jelas menunjukan kemarahan yang besar, dia mengamuk diselingi tangisan yang memilukan.
Bruk.
"Alby!"
Felix mendekati Putranya begitu melihat Alby jatuh terduduk "A..aaaa..Hiks..Aaaa!!" Alby meracau, dan menggelengkan kepala ribut.
(Bukan salahku..hiks..bukan!!!)
"AAAAAAAGRH!!"
Koridor UGD ricuh akibat kedua Pemuda ini, Odice bahkan tak bisa untuk tak emosi, dia sedih mendengar kabar ini, Sheeva adalah temannya, walau bukan sahabat setidaknya mereka tidak munafik.
Flashback End.
Alby berjalan perlahan, melewati bebatuan dan kerikil yang menghalangi jalannya, dia berjalan menuju sebuah makam, berada di bawah pohon yang rindang.
Alby langsung duduk disebelah batu Nisan itu dan memeluknya, sesekali memberikan ciuman hangat disana.
Tatapannya menghangat, walau tak menampik jika dia sangat, amat terluka dan sakit hati "Aaa.." Panggil Alby.
(Sheeva)
Tak ada jawaban, tak masalah karena Alby sudah biasa, sejak 2 minggu setelah kematian Sheeva, Alby sudah biasa seperti ini.
"Aaaa..hiks..aaaaa!! Huaaaaaaaa"
(Jahat..hiks..jahat!!"
Alby tak bisa untuk tidak menangis, dia sakit hati, apa yang tidak menyakitkan selain kehilangan kemampuan bicara, dan ditinggalkan Calon Istri saat pernikahan mereka sudah dekat.
Alby meremat tanah merah dimakam Zinnia "Aaaa..AAAAAA!! Hiks.."
(Bangun...SHEEVAA!!"
Felix menatap sendu putranya itu, tentu saja Racun Arsenik yang Sheeva dapatkan tak bisa dihilangkan, racun itu mematikan, maka dari itu nyawa Sheeva tak tertolong lagi.
Alby memeluk erat batu nisan yang tertulis nama Sheeva-nya, menumpahkan air mata kesedihannya yang tak tertolong lagi.
"Hiks....Aaaa..aa...aaaaaa!!"
(Hiks...kenapa..Va..kenapaa!!)
Felix menyeka air matanya, dia sedih melihat putranya terpuruk seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah takdir dan jalan kematian Sheeva.
Felix hanya bisa menanggung dosa yang Frisya lakukan, dia merutuk dirinya yang tak bisa menjadi kepala keluarga yang baik.
"Sheeva...maafin Om.." Lirih Felix.
Ditemani langit sore yang mendung, Alby menumpahkan kesedihan terpendamnya.
...MY AUTIS BOY...
...TAMAT....
...WOHO, Sheeva nya koid ya ampun, hehehehehehhe....
jujurlyy, ternyata Sad Endingg 😭😭😭
SAMA JUGA TU ORTU SHEVA,, SAYANGNYA PALSU KE SHEVA & MELO