Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 KEMBALINYA DAYANG PUTRI, SEKAR MAYANG, DAN SEKAR ARUM
Akhirnya, setelah kami bertiga dimarahi (karena rasa sayangnya pada kami), Haruma dan Harumi pun bisa tertidur juga.
Dan bapakku (kakek Haruma-Harumi) pun segera tidur lagi di kamarnya.
Ternyata, barusan ia mengomel itu karena sedikit merasa terganggu. Karena setelah Isya tadi ternyata bapak sudah tertidur di atas sajadahnya. Mungkin karena lelah setelah bekerja di perkebunan bosnya seharian.
Sedangkan aku?
Aku tak langsung tidur menyusul mereka bertiga.
.....
.....
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔
"Kriiik-kriiik... Kriiik-kriiik..."
Suara jangkrik saling bersahutan di sekitar rumah.
Aku duduk di bangku teras. Sendirian.
Sambil kutatap bulan di atas langit, yang sedikit lagi akan berbentuk bulan purnama sempurna.
Mungkin dua atau tiga hari lagi purnama itu akan datang.
"Wuuussshhh... Grasak-grasak-grasak..."
Suara angin semilir pelan malam ini, membuat dedaunan di sekitar rumah saling bergesekan pelan.
Jujur, malam ini, sambil terus kutatap bulan hampir purnama di atas sana, batinku sangat bersyukur pada Alloh swt.
Aku bersyukur memiliki kehidupan yang seperti sekarang.
Bisa memiliki Haruma (Harum Sekar Putri Purnamasari) sebagai anak angkatku, dan juga bisa mempertemukannya dengan Harumi (Harum Intan Purnamasari) yang ternyata adalah saudara tirinya.
Aku juga bersyukur, atas pekerjaan dan kelancaran bekerjaku setelah kepergianku dari pondok pesantren putri, milik Ustadz Furqon, tiga tahun yang lalu.
Setelah merenung sesaat itu, kulirik segelas kopi hitam pahit di atas meja teras, tepat di sebelahku.
Segelas kopi hitam pahit itu kubuat bukan untuk Bapakku. Melainkan untuk diriku sendiri malam ini.
Entah kenapa, setelah berusaha membuat Haruma-Harumi tidur tadi, ingin sekali rasanya aku merasakan kopi hitam pahit kesukaan Bapakku itu.
Kuambil gelas itu, kupegang tepat di depan wajahku, dan kuhirup perlahan aromanya.
Waaah...
Ternyata, senikmat ini aroma kopi hitam pahit kesukaan Bapak.
Dan, kutiup sedikit, lalu...
"Ssslllrrrppp..." kuseruput kopi itu.
"Eeekkkhhh... Duuuhhh... Pait banget, eeekkkhhh..." responku saat merasakan betapa pahitnya kopi itu untuk pertama kalinya.
"Kok bisa, sih? Bapak doyan banget kopi pait kayak begini?" kataku pelan, sambil kembali meletakkan gelas kopi itu di atas meja.
Sambil mulutku masih mengecap sedikit, kembali lagi mataku menatap bulan hampir purnama di atas langit sana.
Betapa santainya suasana malam ini di teras rumahku yang sederhana.
Dan tubuhku, kusandarkan pada bangku yang sedang kududuki ini.
Lalu, kupejamkan mata sesaat, mencoba merasakan kedamaian malam ini lebih dalam lagi.
"Kriiik-kriiik... Kriiik-kriiik..."
Kudengar jelas irama suara jangkrik yang saling bersahutan.
"Wuuussshhh..."
Kurasakan jelas angin yang berhembus semilir.
"Grasak-grasak-grasak..."
Ditemani suara dedaunan sekitar yang saling bergesekan.
Semakin rileks dan santai tubuhku...
Semakin ringan pikiranku...
Semakin dalam kedua mataku terpejam...
.....
.....
Tiba-tiba, terciumlah aroma yang sangat kukenal selama perjalanan hidupku.
AROMA BUNGA KANTIL MERAH DAN PUTIH.
Sambil terdengar satu suara yang lembut, sangat lembut, memanggil namaku.
"NISA..."
.....
.....
Sontak, kubuka perlahan kedua mataku.
Dan...
Ternyata...
Tepat di tiang teras sebelah kanan, sudah berdiri Dayang Putriku.
Dan, tepat di tiang teras sebelah kiri, sudah berdiri juga Sekar Mayangku.
Langsung duduk tegak tubuhku di bangku.
Langsung mengembang senyuman di bibirku melihat mereka berdua.
"Kangen sama aku?" tanya Sekar Mayang dengan gestur tubuh centilnya.
"Ya jelas, lah!" jawabku spontan.
"Hihihihi..." balas Sekar Mayang.
"Kalian, kemana aja selama ini? Kenapa aku panggil berulang kali, kalian gak muncul?" tanyaku.
"Tak apa-apa, Nisa..." jawab Dayang Putri, dengan gestur tubuhnya yang tenang dan anggun.
"Semua ini gara-gara dia, Nisa!" kata Sekar Mayang, dengan ekspresi sedikit kesal.
Tapi, tangan Sekar Mayang itu sambil menunjuk ke arah di sebelahku.
Sontak, wajahku akhirnya mengikuti arah tunjukan tangan Sekar Mayang itu.
Dan...
Ternyata...
Sekar Arum juga hadir, dia duduk di bangku tepat di sebelahku.
"Loh? Kamu?" tanyaku sedikit kaget.
Dan Sekar Arum pun, menatap wajahku dengan ekspresi datar. Biasa saja.
"Huuuft... Kenapa malah nyalahin dia?" tanyaku pada Sekar Mayang.
"Hmphhh!!" Sekar Mayang malah mendengus sedikit kesal, sambil memalingkan wajahnya, menatap bulan di atas sana.
Sedangkan, Dayang Putri diam saja. Wajahnya juga sambil menatap bulan di atas sana.
"Aduuuh... Kenapa sih kalian berdua?" tanyaku penasaran.
Alih-alih Dayang Putri atau Sekar Mayangku yang menjawab, malah Sekar Arum yang menjawabku.
"Mereka berdua iri, Nisa."
Sontak, jawaban Sekar Arum itu membuat Sekar Mayang semakin kesal.
Dengan wajahnya yang masih menatap bulan, Sekar Mayang lantas menjawab.
"Siapa juga yang iri?! Kamu saja yang berpikir begitu!!"
"Sudah, diamlah!" kata Dayang Putri pada Sekar Mayang.
Dan, Sekar Arum pun hanya duduk saja, melihat ke Sekar Mayang.
Aku yang duduk melihat tingkah mereka bertiga, malah merasa tak tahu harus bagaimana.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣