Akankah kehidupan pernikahan secara poligami bisa membawa kita ke sakinah mawadah warohmah, atau justru menjerumuskan kita ke dalam ketidakrelaan hati?
Jangan lupa follow aku yah,makasih.
Ig;Aininabila23
Akun wattpad;23ainifaizah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aini nabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengungkapan Rasa Dokter Reza
"Apa kamu yakin, Nak?" ujar mama Halwa yang membantu anaknya membereskan beberapa barang yang akan di bawa Halwa.
"Aku yakin ma. Aku juga akan cepat pulang kalau urusanku di Indonesia sudah selesai," ujar Halwa.
Halwa memang mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia. Negara tempatnya menikah dan negara tempatnya mendapatkan bahagia dan luka yang mendalam, negara yang menyaksikan perpisahannya dengan orang yang dicintainya.
Sesampainya dibawah.
Halwa menatap anaknya yang ketiduran di atas sofa, dia mengelus lembut puncak kepala anaknya itu
"Bunda sayang Vina," ujar Halwa, lalu mencium kening Vina dengan lembut.
"Tenanglah Halwa ada mama, mama janji akan menjaga Vina selama kamu pergi," ujar mama Halwa.
"Makasih ma. Kabarin Halwa kalau ada apa-apa," ujar Halwa.
"Iya, pergilah, dan cepat pulang kalau urusanmu telah selesai," ujar mama Halwa.
Halwa telah sampai di bandara Inggris diantar oleh Dokter Reza.
"Hati-hati di jalan yah," ujar Reza lembut.
"Iya, makasih yah udah mau nganterin aku," ujar Halwa.
"Santai aja, nggak masalah kok," ujar Reza tersenyum lembut.
Saat kaki Halwa sudah maju satu langkah, Reza pun memegang tangan Halwa, dan Halwa pun menoleh.
"Aku mencintaimu Wa," ujar Reza yang membuat Halwa syok.
"Maksudnya?" tanya Halwa.
"Maukah kamu jadi pendamping hidupku selamanya?" ujar Reza.
Ya Allah apa yang harus hamba lakukan, pria di depan hamba ini adalah lelaki yang sangat baik, hamba tidak tega jika harus menolaknya, tapi hamba lebih tidak tega jika menerimanya dan hati hamba untuk pria lain batin Halwa.
"Kamu nggak perlu jawab sekarang, aku akan tunggu jawaban kamu kapanpun itu, dan kamu nggak usah terlalu pikirin soal ini. Fokus dulu aja ke butik kamu," ujar Reza, lalu melepaskan tangan Halwa.
Aku tau Wa pasti kamu akan menjawab tidak. Aku tau pada siapa hati mu itu, kenapa aku juga dengan bodohnya menyatakan cinta, kalau aku tau dia akan menolak, batin Reza.
"Za, aku," ujar Halwa terpotong.
"Yaudah, kamu masuk aja sebentar lagi pesawat kamu pasti bakal berangkat. Aku pulang yah," ujar Reza hendak pergi, tapi kakinya terhenti kala mendengar sesuatu yang diucapkan Halwa.
"Aku mau jadi istri kamu," ujar Halwa. Entah mengapa Halwa berkata seperti itu, padahal dia tak mencintai Reza.
"Kamu serius?" ujar Reza tersenyum.
"Iya." ujar Halwa dengan senyuman lembutnya.
Reza pun spontan memeluk tubuh Halwa erat.
"rez..ak..u nggak..bisa..na..fas," ujar Halwa dan Reza pun melepaskan pelukan itu.
"sorry Wa, aku kesenangan," ujar Reza.
"Yaudah, aku pergi yah," ujar Halwa.
"Aku janji sama kamu, kalau aku nggak akan pernah menyia-nyiakan kamu seperti yang dilakukannya (Kevin)," ujar Reza.
"Makasih Za, tapi aku nggak butuh janji, aku butuh pembuktian, karena dari pengalaman yang ku dapatkan kalau janji hanyalah kesenangan semata," ujar Halwa.
Pesawat yang ditumpangi Halwa pun mendarat di Jakarta. Halwa turun dari pesawat itu, dan terdiam sejenak menatap sekelilingnya.
Apa kabar mas Kevin?. Apakah kamu bahagia tanpa aku?, aku tau pasti jawabannya adalah iya. Kamu memulai hidupmu dan berjalan dengan bahagia, sedangkan aku selama ini aku tetap terdiam pada jalan yang sama, tapi aku akan berjalan mencari kebahagiaan itu bersama Reza mulai dari sekarang, batin Halwa, lalu dia tersenyum walau di hatinya masih terbelit luka yang belum kering.
Halwa sendiri pun tidak tau kapan luka di hatinya hilang sepenuhnya, karena jujur Halwa tidak ingin hidup dalam bayang-bayang Kevin terus-menerus.
**Jangan lupa vote dan komen yah
Tadinya sih aku mau up nya lagi besok dan nggak mau up malam ini, tapi karena aku liat di kolom komentar banyak banget yang nunggu aku up, jadi aku putuskan untuk up malam ini aja, khusus buat kalian
Salam manis Author**