Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32
Kini Laura sudah kembali bergabung bersama keluarga besarnya setelah dari toilet. Laura menatap lurus ke arah pengantin yang Nampak sekali sedang berbahagia. Namun pandangan Laura seketika menjadi pandangan penuh kebencian ketika melihat Viviane. Mengingat apa yang baru saja dilihatnya seakan Viviane sekarang hanya pura-pura bahagia. Bahkan mungkin mempelai wanita itu juga pura-pura mencintai kakaknya yang tak lain adalah Edwin.
Bagaimana tidak, Laura tadi tidak percaya saat Alfa menunjukkan sebuah foto dimana Angga sedang memeluk seorang wanita. Namun Laura masih ragu bahwa itu benar Angga atau bukan. Dan wanita yang dipeluk pun Nampak menundukkan kepalanya. Namun saat Alfa menunjukkan foto yang lainnya, Laura Nampak terkejut bahwa wanita yang dipeluk adalah Viviane. Wanita yang saat ini resmi menjadi istri kakaknya.
Laura mengingat kembali tentang pakaian yang dikenakan oleh Viviane dan Angga, dan juga latar belakang dimana foto itu diambil. Yaitu di sebuah toilet. Dan Laura juga ingat kapan kejadian itu berlangsung. Pantas saja dulu Angga tiba-tiba memutuskan untuk pergi padahal mereka sama sekali belum makan malam. Dan hal itu karena Angga baru saja melepas rindu dengan wanita yang sangat dicintainya.
“Aku nggak akan membiarakan Angga jatuh lagi ke dalam pelukanmu.” Gumam Laura dalam hati.
Laura semakin geram dan benci dengan Viviane. Selain Viviane sudah menghianati kakaknya, dia juga telah menusuk dirinya dari belakang. Padahal selama ini dia sudah menganggap Viviane sebagai kakaknya sendiri.
“Lho Ra, Angga mana?” Tanya Mama Laura.
“Nggak tahu ma. Aku kan baru saja dari toilet.” Jawab Laura.
Laura juga bingung kemana Angga yang tiba-tiba saja menghilang. Bahkan dia tadi tidak berusaha membantu membersihkan noda di bajunya.
Dan pandangan Laura kembali ke arah mempelai pengantin. Nampak kedua mempelai sudah turun dari pelaminan dan menemui beberapa tamu. Namun Viviane sepertinya sedang membisikkan sesuatu ke telinga Edwin, kemudian pergi. Laura mengikuti kemana arah Viviane pergi.
Laura berjalan mengendap-endap mengikuti langkah kaki Viviane. Ternyata arah kaki Viviane menuju toilet. Kini Viviane sudah masuk ke dalam toilet. Laura masih memantaunya sambil bersembunyi di balik dinding.
Klek
Terdengar pintu toilet terbuka dan Viviane lah yang keluar. Melihat keadaan toilet yang sangat sepi, Laura ingin sekali menyalurkan amarahnya. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ada orang lain selain dirinya dan Viviane. Laura benar-benar tidak percaya kalau Angga sedang berada ti tempat yang sama.
“Vi, kamu tega ngelakuin itu semua. Aku sakit Vi melihat kamu menikah. Aku sakit Vi melihat kamu berbahagia dengan orang lain.” Ucap Angga di depan Viviane dengan sendu.
“aku sudah katakan padamu Ngga, lupain masa lalu kita. Raihlah kebahagiaan kamu bersama Laura.” Ucap Viviane.
“Perlu kamu ingat Vi, selamanya, sampai mati pun aku akan tetap mencintai kamu. Dan aku sama sekali tidak pernah mencintai Laura. Aku tidak pernah menganggap Laura.”
Deg
Seketika tubuh Laura terasa lemas. Bahkan kakinya tidak mampu berpijak. Dia mencari pegangan untuk menopang tubuhnya. Dia sangat sakit akan perkataan Angga baru saja. Air matanya mengalir deras. Tapi dia masih mengintip apa yang akan dilakukan lagi oleh Angga pada Viviane.
“Vi, aku mohon tinggalkan Edwin!” pinta Angga.
“Kamu jangan egois Ngga. Aku tidak akan meninggalkan Mas mmmpphhhh……” ucapan Viviane terpotong saat dengan cepat Angga membungkam mulut Viviane.
Laura membelalakkan matanya tidak percaya. Hatinya semakin hancur. Dia tidak kuat bertahan lebih lama di tempat itu. Kemudian dia memilih pergi meninggalkan sepasang manusia yang yang sangat menjijikkan itu.
Plakkkk
Viviane yang dengan susah payah mendorong tubuh Angga. Setelah bisa melepaskan diri, Viviane dengan cepat menampar pipi Angga dengan sangat keras.
“aku semakin benci sama kamu Ngga! Pergi dari kehidupanku mulai sekarang juga!!!!”
Kemudian Viviane pergi meninggalkan Angga yang masih terpaku sambil memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan keras dari Viviane.
Sebelum kembali bergabung dengan para tamu, Viviane masuk ke ruang make up terlebih dahulu. Dia ingin memperbaiki riasannya yang sedikit berantakan karena air matanya yang keluar.
“Mbak tolong perbaiki riasan saya ini!” pinta Viviane pada salah satu MUA yang ada di ruangan itu.
“Lho ko’ bisa begini nyonya?” tanyanya yang sedikit heran dengan make up Viviane yang sedikit berantakan. Padahal make up nya water proof tapi yang terlihat sekarang Nampak berantakan. Apalagi lipstiknya.
“Ah itu tadi tanpa sengaja waktu di toilet saya mencuci muka saya.” Jawab Viviane sekenanya. Dia tidak peduli dengan MUA itu yang menganggap jawabannya sangat konyol.
Dan tanpa menjawab lagi, MUA itu segera memperbaiki riasan pada wajah Viviane. Setelah selesai, Viviane segera kembali ke suaminya. Dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan suaminya agar tidak mencurigai sesuatu.
“sayang, dari mana saja? Aku bingung sejak tadi mencari kamu tapi tidak ada.” Ucap Edwin sangat cemas.
“maaf mas, tadi setelah dari toilet aku ke ruang make sebentar.”
“memangnya kenapa?”
“Oh.. itu mas. Ehmm tadi saat aku ngaca di toilet, wajahku Nampak pucat jadi aku ingin memperbaikinya sedikit.”
“Pucat?? Kamu sakit?” Edwin semakin khawatir dengan istrinya.
“Nggak ko’ mas. Mungkin kelelahan saja.”
Setelah itu Edwin mengajak istrinya untuk duduk. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya. Edwin juga menyuruh pelayan untuk mengambilkan minuman dan makanan untu istrinya. Mengingat dirinya sejak tadi berdiri di atas pelaminan sangat lama, jadi pasti istrinya kelelahan.
“sayang ini kamu makan dulu ya, agar perut kamu ada isinya.” Ucap Edwin sambil memberikan makanan pada istrinya.
“terima kasih Mas.”
Sementara itu, setelah mendapat tamparan dari Viviane, Angga segera pergi dari pesta itu. Dia tidak mempedulikan Laura lagi. Dia pergi ke suatu tempat untuk menghilangkan sejenak rasa sesak di dadanya.
Laura sejak tadi juga tidak menemukan keberadaan Angga. Meskipun hatinya masih sakit atas pernyataan dari Angga, namun Laura tidak pantang menyerah. Dia akan terus berusaha mendapatkan Angga.
**
Akhirnya pesta pernikahan Edwin dan Viviane selesai juga. setelah semua tamu undangan pulang. Edwin segera mengajak istrinya masuk ke dalam kamar president suit yang telah disediakan oleh pihak hotel untuk menyambut pasangan pengantin baru itu.
“Mas, ini mewah sekali.” Ucap Viviane takjub saat melihat kemewahan kamarnya.
“Ini memang special buat kita sayang. Apa kamu suka?”
“Iya Mas, aku suka.”
Kini Viviane sudah duduk di depan meja rias. Dia melepaskan beberapa acessoris sebelum membersihkan dirinya. Edwin yang melihat istrinya, segera melangkah mendekati istrinya. Dia akan membantu istrinya melepas beberapa acessoris itu.
“Mas, nggak usah! Biar aku lepas sendiri.” Tolak Viviane lembut.
“Nggak apa-apa sayang. Biar lebih cepat selesai.”
“Ehm. Terima kasih Mas.”
Edwin perlahan membantu istrinya. Viviane dapat melihat wajah serius suaminya yang terlihat di balik cermin di depannya. Viviane memperhatikan suaminya yang begitu sangat perhatian padanya.
“Jangan dilihat terus, nanti kamu semakin terpesona.” Ucap Edwin tiba-tiba.
“Apaan sih Mas. GR banget!” balas Viviane dengan cemberut.
“Sudah selesai sayang, sekarang bajunya sekalian mau dibukain?” goda Edwin sambil tersenyum jahil.
“Tidak!!! Aku bisa sendiri.” Dan Viviane segera melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi. Edwin tersenyum geli melihat reaksi istrinya.
“Sayang jangan lama-lama. Aku nggak bisa menunggu terlalu lama lagi!!” teriak Edwin di balik pintu menggoda istrinya.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟