Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor Sekolah
Hari Senin dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda.
Begitu Alya masuk ke kelas, beberapa temannya langsung berhenti mengobrol dan menoleh ke arahnya. Ada yang tersenyum, ada yang saling berbisik, bahkan ada yang sengaja menahan tawa.
Alya mengernyit.
“Ada apa sih?”
Nadya yang baru datang meletakkan tasnya di bangku lalu menghela napas.
“Kayaknya ada gosip baru.”
“Gosip apa?”
“Belum tahu pasti.”
Belum sempat mereka membahas lebih jauh, Dion muncul di depan kelas sambil membawa botol minum.
“Selamat pagi, selebriti.”
Alya langsung menatap bingung.
“Selebriti apaan?”
Dion terkekeh.
“Udah, nanti juga tahu.”
---
Jawabannya datang saat jam istirahat.
Di kantin, Alya tanpa sengaja mendengar dua adik kelas sedang mengobrol.
“Katanya Kak Alya lagi deket sama anak baru itu.”
“Kevin?”
“Iya. Soalnya sering bareng di perpustakaan.”
“Serius?”
“Iya, kata kakak kelas begitu.”
Alya yang mendengar percakapan itu langsung menoleh ke Nadya.
“Ini maksudnya?”
Nadya mengangkat bahu.
“Namanya juga rumor.”
“Tapi nggak benar.”
“Gue tahu.”
Rumor itu rupanya menyebar cukup cepat.
Hanya karena beberapa kali terlihat mengerjakan tugas bersama dan berjalan di koridor sekolah, banyak siswa menganggap Alya dan Kevin sedang menjalin hubungan.
Padahal kenyataannya jauh dari itu.
---
Di sisi lain, Kevin juga mulai mendengar bisik-bisik yang sama.
Saat sedang mengisi botol minum di dekat lapangan, seorang teman baru menepuk bahunya.
“Bro, selamat ya.”
“Selamat apa?”
“Katanya lagi deket sama Alya.”
Kevin langsung tertawa.
“Siapa yang bilang?”
“Anak-anak pada ngomong gitu.”
Kevin menggeleng.
“Kita cuma teman sekelas.”
“Oh… kirain bener.”
Setelah temannya pergi, Kevin hanya bisa tersenyum tipis.
Ia tahu bagaimana rumor di sekolah sering muncul dari hal-hal kecil.
---
Yang paling diam justru Raka.
Saat Dion memberitahu soal gosip itu, ia hanya menjawab singkat.
“Orang bebas ngomong apa aja.”
“Lo nggak kepikiran?”
“Sedikit.”
“Percaya sama Alya?”
Raka mengangguk tanpa ragu.
“Percaya.”
Meski begitu, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Mendengar nama Alya dikaitkan dengan orang lain tetap membuat hatinya terasa tidak nyaman.
Bukan karena ia curiga.
Melainkan karena ia sadar perasaannya sudah terlalu dalam.
---
Siang harinya, Alya akhirnya bertemu Kevin di perpustakaan.
“Gue mau minta maaf,” kata Kevin tiba-tiba.
Alya terlihat bingung.
“Kenapa?”
“Gara-gara gue, lo jadi ikut digosipin.”
Alya menggeleng.
“Bukan salah lo.”
“Mungkin kita harus ngurangin kelihatan bareng.”
“Padahal kita cuma ngerjain tugas.”
“Iya, tapi orang lain belum tentu lihatnya begitu.”
Alya tersenyum kecil.
“Yang penting kita tahu kenyataannya.”
Kevin ikut tersenyum lega.
“Bener juga.”
Percakapan itu didengar oleh seseorang yang berdiri tidak jauh dari rak buku.
Raka.
Ia sebenarnya datang untuk mencari buku sejarah, tetapi tanpa sengaja mendengar bagian akhir pembicaraan mereka.
Bukannya marah, ia justru merasa lega.
Setidaknya ia tahu langsung bahwa tidak ada hubungan khusus antara Alya dan Kevin.
Namun ia memilih tidak menyela dan kembali keluar perpustakaan.
---
Sore hari, hujan turun cukup deras.
Sebagian siswa memilih menunggu di teras sekolah.
Alya berdiri di dekat pintu sambil memandangi halaman yang basah.
Tak lama kemudian, Raka datang membawa dua gelas minuman hangat dari kantin.
“Nih.”
Alya menerimanya.
“Buat gue?”
“Iya.”
“Makasih.”
Mereka berdiri berdampingan sambil menikmati hujan.
Beberapa menit berlalu sebelum Raka akhirnya berkata,
“Gue dengar soal rumor itu.”
Alya langsung menoleh.
“Lo percaya?”
Raka tersenyum kecil.
“Kalau gue percaya gosip sekolah, harusnya dari dulu gue udah percaya kita pacaran gara-gara foto festival.”
Alya tertawa pelan.
“Iya juga.”
“Makanya gue lebih milih denger langsung dari orangnya.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang gue tahu itu cuma salah paham.”
Alya merasa lega mendengar jawaban itu.
Di tengah banyaknya bisik-bisik orang lain, ternyata masih ada seseorang yang memilih percaya padanya.
---
Keesokan harinya, gosip itu mulai mereda.
Muncul isu baru tentang pertandingan basket antarsekolah yang akan digelar bulan depan, sehingga perhatian siswa beralih.
Di sela pergantian jam pelajaran, Kevin menghampiri Alya dan Raka yang sedang mengobrol.
“Gue mau pinjam catatan Matematika, boleh?”
“Boleh,” jawab Alya sambil menyerahkan bukunya.
Kevin menerimanya lalu tersenyum kepada Raka.
“Besok gue balikin.”
“Siap.”
Setelah Kevin pergi, Raka menoleh ke Alya.
“Ternyata dia orangnya baik.”
“Iya.”
“Berarti selama ini gue overthinking.”
“Sedikit.”
“Sedikit banget?”
“Lumayan.”
Mereka sama-sama tertawa.
Rumor yang sempat membuat suasana canggung justru mengajarkan satu hal penting.
Tidak semua yang dibicarakan orang lain harus dipercaya.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk bertanya langsung dan kepercayaan kepada orang yang dianggap penting.
Dan bagi Alya maupun Raka, kepercayaan itu perlahan menjadi fondasi yang membuat hubungan mereka semakin kuat, meski belum ada satu pun yang berani mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.