"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN
"Kalau berinteraksi berlebihan sampai berduaan dan sentuhan, jelas saya keberatan. Apalagi dia kelihatan masih suka sama kamu, tapi kalau di antara kalian bisa profesional saya gak masalah!" ucap Zaldy. Ya dia realistis saja, sebelum berhubungan dengan Niar perempuan itu sudah bekerja lebih dulu, dan di instansi ada sang mantan tentu bukan keinginan Niar juga. Selagi tidak ada unsur pengkhianatan, Zaldy akan berusaha realistis saja.
"Iya, saya tahu batasan untuk hal itu!" jawab Niar, harus tegas juga.
"Ada lagi?" tanya Zaldy kemudian.
"Sebenarnya saya ingin ada perjanjian tertulis untuk menjaga komitmen kita," Zaldy kaget. Perjanjian? Jangan bilang Niar ingin membuat kontrak pernikahan?
"Perjanjian maksudnya?" tanya Zaldy heran. Niar tersenyum.
"Santai saja, Bang. Bukan perjanjian nikah kontrak seperti di novel, bukan!" mendadak Zaldy lega, sampai mengelus dada.
"Kirain, Ni!" tutur Zaldy dengan menghela nafas lega.
"Maksud saya, perjanjian itu memuat komitmen kita dalam rumah tangga."
"Boleh, apa aja. Sementara kita catat dulu, nanti kalau sudah selesai fix dengan pointnya, akan aku cetak," rasanya Niar ingin tertawa, karena Zaldy langsung mengeluarkan tabletnya.
Pertama, tidak ada pengkhianatan dalam rumah tangga dalam bentuk apapun, baik fisik maupun. Non fisik, baik verbal maupun non verbal, atau dalam dunia maya dan nyata. Batas dengan lawan jenis harus tegas, kecuali saudara kandung dan orang tua. Tak ada panggilan khusus ke perempuan atau laki-laki lain. Kalau ada perselingkuhan, narkoba, dan tindak kriminal lain, pihak korban bisa mengajukan perceraian dan jika ada anak akan dibawa oleh pihak korban.
Kedua, tidak ada privasi apapun, khususnya soal ponsel. Baik Niar dan Zaldy bebas buka ponsel, dan tidak menyembunyikan apapun apalagi dengan alasan tak mau menyakiti pasangan. Baik dan buruk masalah, pasangan harus tahu nomor satu.
Ketiga, lebih baik tinggal terpisah. Rumah boleh berdekatan dengan orang tua atau mertua, tapi tinggal di rumah yang berbeda.
"Sudah?" tanya Zaldy yang mencatat segala usulan komitmen yang diucapkan Niar. Sejauh ini, usulannya berlaku untuk kedua belah pihak dan tidak ada komitmen yang merendahkan pihak lain. Zaldy setuju tanpa sanggahan.
"Menurutku sudah," ucap Niar semata-mata melindungi masa depannya. Karena ia tak mau ketika berumah tangga harus ada pikiran buruk dan curiga pada aktivitas pasangan di luar. Apalagi Zaldy seorang dosen, setiap hari bertemu dengan jenis mahasiswa tertentu.
"Oke! Saya hanya minta satu," Zaldy akan memberi usulan.
"Apa?"
"Jangan pernah menolak saya ketika saya butuh kamu, apapun keadaannya, kecuali ada halangan ataupun sakit." Niar langsung menundukkan wajah, malu. Ternyata bagian intim ini harus disampaikan juga. "Sanggup?"
"InsyaAllah!" jawab Niar menahan malu.
"Bagian penting dalam rumah tangga, karena selama 28 tahun saya sudah menjaga dari perempuan lain," Zaldy mempertegas, dan wajah Niar sudah panas, menahan malu.
"Iya, baik! Tuan!" jawab begitu sajalah, daripada dibahas terus.
"Soal nafkah silahkan kamu pegang semua sumber penghasilan saya. Siap menerima jatah jajan dari kamu," ucap Zaldy sembari mengeluarkan tiga kartu debet. "Ini kartu penghasilan dosen, ini kartu penghasilan dari cafe, dan ini penghasilan dari saham! Kamu boleh mengatur semua."
Niar memegang kepalanya, berat. "Harus aku ya yang pegang? Gak takut aku korupsi semua?" tanya Niar membuat Zaldy tertawa lebar.
"Silahkan dihabiskan!"
"Duh, gak tega. Bang Zaldy yang kerja keras loh. Menurutku Bang Zaldy tetap pegang saja. Aku ditransfer aja urusan nafkah rumah, aku takut pegang uang orang lain!"
"Lah kan kamu istriku. Ya sangat berhak mengatur keuanganku," ucap Zaldy.
"Bang, sumpah deh. Aku maunya terima beres. Aku sangat takut uangmu habis nanti!"
"Gak masalah nanti aku cari lagi!" Niar meleleh seketika. Kok dia bisa bertemu dengan pria sehijau neon begini sih. Semoga dari awal sampai maut memisahkan dia selalu baik sama istri.
Keputusan pun sudah di dapat, Niar hanya mau ditransfer untuk nafkah dia dan rumah saja, selebihnya silahkan diatur Zaldy sendiri.
"Soal orang tua bagaimana?" tanya Niar.
"Maksudnya?"
"Ibu dan Umi kan orang tua tunggal, bagaimana menanggung beliau?" tanya Niar, karena dia tak mau tinggal serumah dengan ibu dan Umi. Bukan egois, tapi tidak ingin ada pertengkaran satu sama lain, layaknya hubungan mertua dan menantu.
"Oh itu, Umi memang tidak mengizinkan anaknya tinggal serumah dengan beliau. Harus punya rumah sendiri, beliau kan tinggal bersama Zifa. Untuk kebutuhan sehari-hari memang aku yang menjadi tulang punggung keluarga, tapi nanti setelah menikah tentu porsi untuk Umi dan Zifa sesuai persetujuan kamu."
"Kalau menurutku apa yang sudah berjalan di antara kita, kebiasaan kita kasih ke orang tua, tak perlu dikurangi. Aku khawatir ada pemikiran nanti aku atau Bang Zaldy berubah setelah menikah, aku khawatir akan hal itu. Yang terpenting terbuka saja, saat kondisi keuangan Bang Zaldy misalnya ada penurunan omzet, ya nanti pakai gajiku dulu!" Zaldy tersenyum, tak menyangka saja dia bertemu seorang perempuan yang detail sekali membahas rumah tangga, padahal ini masih angan-angan, belum terjun langsung.
"Kok ketawa sih?" protes Niar.
"Enggak. Aku hanya sempat berpikir. Apa karena aku terlalu takut menikah sampai dipertemukan oleh Allah, perempuan sedetail kamu, sampai berpikir menjaga hubungan antara menantu dan mertua bagaimana," Zaldy kemudian mengacungkan dua jempolnya dengan senyum manis. "Salut."
"Biasa aja sih, aku hanya takut memilik rumah tangga dan pernikahan yang menyeramkan!"
"Aku paham, hanya saja kita manusia. Ada porsi masalah dalam menjalani hidup. Seidealnya kita menyusun rencana, ada pengatur rencana yang paling baik!"
"Aku paham, cuma kalau bisa diantisipasi, lebih baik diantisipasi saja!" Zaldy mengangguk, sangat memahami apa yang ditakutkan Niar. Apalagi mereka tidak melalui pacaran, tentu membutuhkan adaptasi ekstra antara keluarga dan kepribadian masing-masing.
"Oke. Ada lagi yang mau kamu sampaikan? Besok berarti kita bertemu lagi untuk tanda tangan di atas materai?"
"Boleh."
"Bilang ke orang rumah kapan?"
"Aku tunggu kabar dari Bang Zaldy saja, Abang izin dulu ke Umi, buat melamar aku."
"Kalau Umi boleh? Mau nikah kapan?" Niar tertawa sampai menutupi mulutnya, dan matanya menyipit.
"Kok ketawa?"
"Sabar atuh, Pak. Kasih nafas dulu, nanti kalau terlalu cepat dikira aku hamil duluan loh!" Zaldy tertawa.
"Duh, jangan sampai. Kamu kalau aku mengajak di luar batas normal, tonjok aja deh, Ni."
"Pastinya. Kata Ibu, kalau mau punya pasangan yang baik, diri kita harus baik dulu. Karena jodoh itu cerminan diri," kembali Zaldy memberikan jempol. Niar bisa menjadi perempuan muda keren dan berprinsip karena didikan orang tuanya. InsyaAllah Zaldy tak menyesal.
Pulang dari pertemuan ini. Zaldy langsung mengutarakan niatan untuk melamar Niar. Tahu reaksi Umi? Beliau langsung sujud syukur, dan memeluk sang putra. Zifa pun begitu, tak menyangka berawal dari klop di kerjaan otw jadi ipar.
Umi langsung menemui ustadz di area perumahannya. Ingin memastikan jawaban istikharah ustadz sesuai dengan niatan Zaldy. Beliau makin bahagia saat ustadz mengatakan InsyaAllah baik, apalagi keduanya anak pertama dan anak bungsu, istilahnya tumbu dapat tutup. Klop.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...