Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa pria itu?
Alesia mencoba saran yang di katakan leon yaitu dengan mengabaikan apa yang di katakan santi. Meskipun memang terkadang alesia hampir emosi dan membalas namun alesia berhasil menahanya.
Ternyata memang benar. Dengan tidak perduli semuanya menjadi mudah.
“Kamu benar benar tidak menghormati saya sebagai tantenya leon ya alesia.”
Alesia hanya tersenyum mendengarnya. Santi akan emosi sendiri jika alesia tidak menanggapinya.
“Saya sedang bicara sama kamu. Jangan hanya diam seperti patung.”
Alesia menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan lewat mulut.
“Tante, aku tidak membalas karna aku mau menjadi pendengar yang baik. Di samping itu tante adalah tante aku. Jadi akan tidak sopan rasanya jika aku membantah apa yang tante katakan.” Senyum alesia berkata dengan tenang.
Santi menyipitkan kedua matanya. Alesia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Alesia selalu membantah apa yang santi katakan biasanya.
“Udah ya tante, aku pamit dulu mau ke dokter.”
Alesia berlalu meninggalkan santi setelah berkata. Jika boleh jujur, alesia ingin sekali menyalimi santi. Tapi alesia yakin santi tidak akan mau bahkan mungkin tidak sudi.
“Tunggu.”
Langkah alesia terhenti. Dengan posisi memunggungi santi alesia terdiam menunggu ucapan apa lagi yang akan di lontarkan santi padanya.
“Saya antar.” Katanya.
“Tunggu saya 5 menit.” Lanjutnya kemudian berlalu melangkah menuju kamarnya.
Berlahan senyum di bibir alesia mengembang. Santi berniat mengantarnya ke dokter kandungan untuk mengecek bagaimana pertumbuhan janin dalam rahim alesia.
“Kamu jangan besar kepala alesia. Saya mengantar kamu bukan karna saya perduli sama kamu. Tapi karna saya tidak mau leon khawatir dan terlalu memikirkan kamu.”
Alesia tertawa pelan mendengarnya. Sepertinya santi juga enggan di anggap baik oleh alesia.
Sekitar 20 menit perjalanan mobil santi sampai di sebuah rumah sakit elit di pusat kota. Rumah sakit yang dulu juga menjadi tempat leon di rawat.
“Santi.”
Suara berat seseorang membuat santi dan alesia yang baru turun dari mobil menoleh. Keduanya terdiam namun dengan ekspresi yang berbeda begitu menatap sosok pria tinggi tegap juga tampan di samping kanan alesia. Alesia dengan tatapan bingung juga penasaranya, sedang santi menatap datar kemudian melengos membuang muka.
“Alesia kamu masuklah dulu. Saya akan menyusul nanti.” Kata santi dengan nada memerintah.
Alesia mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya alesia sangat penasaran ingin tau siapa pria tinggi tegap itu.
“Kamu apa kabar santi?”
Santi tertawa sinis. Kabarnya tidak pernah bisa di katakan baik.
“Kamu bisakan pura pura saja tidak mengenal saya dimanapun kita bertemu?”
Pria tinggi tegap dengan rambut cepak itu tersenyum miris.
“Kenapa harus begitu?” Tanyanya lirih.
“Tentu saja karna saya tidak mau lagi mengenal kamu tuan bramono.” Jawab santi dengan penuh penekanan.
“Apakah karna leon?”
“Jangan bawa bawa leon. Dia tidak tau apa apa. Dan dia juga tidak salah dalam segala hal.” Tegas santi.
“Tapi dia..”
“Kamu yang selingkuh bramono. Berhenti menyalahkan leon.” Sela santi dengan kedua mata berkaca kaca juga dadanya yang kembang kempis karna emosi.
Bramono menganggukan kepalanya pelan. Padahal bramono pikir dengan memberi pelajaran pada leon santi akan takut dan luluh kembali padanya.
“Dia alesia bukan? Istri leon?” Tanya bramono tenang.
Santi menoleh. Wanita itu melipat kedua tanganya di bawah dada menatap penuh rasa benci pada mantan suaminya itu.
“Saya diam bukan berarti saya tidak mampu melawan bramono. Sekali saja berani kamu menyentuh istri leon saya tidak akan segan untuk bertindak.”
Bramono tertawa pelan mendengarnya. Pria berkemeja hitam itu tau rasa sayang santi pada leon memang melebihi segalanya. Bahkan mungkin juga santi rela menukar nyawanya demi leon.
“Kamu terlalu berlebihan santi. Saya hanya ingin berkenalan denganya.”
“Jangan harap kamu bisa mendekatinya.”
Santi langsung melenggang pergi menjauh dari bramono. Santi benar benar tidak ingin lagi ada hubungan apapun dengan bramono. Karna bramono selain pria yang egois, dia juga kejam dan tidak berperasaan.
Sementara alesia yang menatap keduanya dari pintu kaca rumah sakit itu semakin merasa penasaran. Selama ini alesia tidak pernah melihat santi berhubungan dengan seorang pria. Alesia bahkan juga pernah berpikir santi tidak laku karna terlalu galak sehingga para pria takut mendekatinya.
Siapa dia sebenarnya? Kenapa tante terlihat sangat tidak suka?
Alesia merogoh tas slempangnya dan mengeluarkan hp miliknya. Alesia mengarahkan kamera benda pipih itu tepat ke arah bramono dan langsung memotretnya.
“Siapa tau kak leon tau dan mengingat siapa pria itu.” Gumamnya.
Saat alesia dan santi masuk ke dalam ruang pemeriksaan, Leon datang dengan sangat tergesa gesa. Sebelumnya mereka memang sudah janjian bertemu di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan alesia bersama.
“Maaf aku telat. Ada metting mendadak tadi..” Kata leon dengan nafas terengah engah.
Alesia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Iya, nggak papa kok kak..”
Sedangkan santi yang berada di samping leon hanya diam. Wanita itu tampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Tante..”
Leon mengangkat sebelah alisnya menatap bingung pada santi yang sama sekali tidak bersuara. Sebenarnya bukan bingung karna kediaman santi saja, tapi bingung juga dengan kehadiran santi di ruang pemeriksaan kandungan itu.
“Leon, tante pulang dulu.” Katanya pelan kemudian berlalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan alesia dan leon yang tidak bisa mencegahnya untuk pergi.
“Permisi tuan, nyonya.”
“Ah, ya dokter.” Senyum leon tipis.
“Maaf menunggu lama. Kita mulai pemeriksaanya sekarang ya.”
“Baik dok.”
Leon terus mendampingi alesia saat dokter memeriksa kandungan wanita itu. Leon juga terus menggenggam lembut tangan alesia.
“Timbang dulu nyonya.” Kata dokter tersebut.
Leon dengan sigap membantu alesia bangkit dan turun dari brankar. Dengan sangat hati hati leon menuntun alesia berjalan menuju timbangan digital yang berada tidak jauh dari brankar tempat alesia berbaring tadi.
Lena nama dokter itu. Dokter cantik itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Padahal bisa saja leon mengambil timbangan digital dan mendekatkanya pada alesia.
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Semuanya bagus. Tapi saran saya tetap perhatikan kesehatan nyonya. Jangan terlalu menguras tenaga dalam ber aktivitas. Istirahat yang cukup dan rajin minum vitamin.” Kata dokter lena.
“Baik dok..” Angguk alesia.
Sedangkan leon, pria itu hanya diam. Leon sepertinya juga tidak mendengarkan apa yang di katakan dokter lena karna terus fokus menatap alesia.
Tuhan.. Sebentar lagi aku akan menjadi orang tua.. Bantu dan tuntun aku tuhan.. Dan tolong, jaga selalu istri dan anaku dimanapun keduanya berada.
Setelah mendapat resep vitamin yang harus di tebus dan di konsumsi oleh alesia, leon pun mengajak alesia untuk makan siang bersama. Kebetulan waktu makan siang memang sudah tiba.
“Kak..” Panggil alesia pelan.
“Ya..” Saut leon meletakan buku menu yang di pegangnya.
“Tante, apa dia nggak punya pacar?”
sukses
semangat
mksh