Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
Bella terbangun karena suara ketukan tiga kali pada pintu kamar hotelnya. Melirik jam dinding, rupanya sudah pukul setengah delapan. Aska masih tidur lelap, namun Bella tak berniat untuk membangunkannya. Ia segera bergegas menuju pintu dan membukanya.
" Lho, kamu belum siap?" Danang geleng-geleng kepala. Merasa kecewa dengan Bella. Biasanya Bella selalu bangun pagi-pagi buta, namun entah karena ia belum terbangun dari liburan sembilan harinya, Bella bangun sesiang ini.
" Maaf. Saya nggak denger alarm. Masuk dulu, Pak," Bella mempersilahkan atasannya yang sudah rapi, segar dan wangi untuk duduk.
Danang menggeleng, " saya tunggu di kamar saja. Kabari saya kalau kamu sudah siap. Saya mau meeting di kafe dekat sini, sekaligus membahas conference nanti malam."
Danang tak menunggu Bella menjawab. Ia membenarkan jasnya dan membuka pintu kamarnya yang berada di sebelah kamar Bella.
Bella menutup pintu dan menghela napas lega. Seharusnya ia tak bangun sesiang ini. Ia harus selalu stand by jika sewaktu-waktu atasannya membutuhkannya. Jika ada pekerjaan ekstra macam ini, Bella pasti akan mendapat bonus yang lumayan bulan ini.
Bella meraih handuk dan bersiap mandi. Rasanya segar sekali. Beberapa bulab lalu, ia melakukan pekerjaan di luar negeri macam ini. Bedanya, waktu itu di Vietnam. Lebih bedanya lagi waktu itu tak ada Aska yang mengikutinya. Sekarang, semuanya sudah berubah. Ia sudah tak lagi sendiri, parahnya kenapa semakin lama Aska semakin protektif?
Selesai mandi, Bella yang sedang merias wajah melihat pantulan Aska yang masih lelap dari cermin. Bella geleng-geleng kepala. Tak yakin jika Aska akan menceraikannya setelah Citra menikah nanti.
Berjalan menuju kamar Danang, Bella memeriksa barang bawannya. Buku catatan, alat tulis lima warna, laptop, beberapa lembar kertas HVS kosong, siapa tahu diperlukan dan mengecek semuanya, berharap tak ada yang tertinggal.
Bella mengetuk pintu kamar sebelahnya, tak lama Danang muncul di balik pintu.
" Lama sekali!"
Danang cemberut. Ia mengunci pintu hotelnya dan memimpin perjalanan, " kamu sudah buat realese-nya, kan?"
Bella berjalan mensejajarkan langkah dengan Danang. Mendengar pertanyaan barusan ia ingat jika belum mengirim realese yang ia buat ke email pribadi Danang, " sudah, Pak. Tapi, maaf saya lupa kirim ke email pribadi Bapak."
Danang sudah tahu jika Bella lupa, " ya sudah. Nanti jangan lupa dikirim."
Bella mengangguk dan mengikuti Danang masuk ke sebuah kafe di area hotel. Danang berbicara sebentar dengan pelayan kemudian mengajak Bella naik ke lantai dua.
" Di lantai dua aja, ya. Supaya nggak terlalu bising."
Bella mengangguk saja, bagaimanapun ia cuma mengikuti saja.
" Suami kamu belum bangun ya?"
Bella aneh dengan pertanyaan Danang. Ia berusaha berjalan tegak dan berusaha bersikap biasa saja meski tak terima dengan sindiran atasannya.
" Dia kecapekan. Kemarin dia mengurus banyak hal sebelum pergi."
Danang mengambil tempat di dekat jendela, agar mendapat cukup cahaya, " jadi, kamu menolak Indra dan saya karena dia."
Baru Bella duduk, tenggorokannya langsung tercekat. Danang memang pernah terang-terangan bilang suka kepada Bella, tapi sama dengan Indra, Danang juga tak mendapat respon berarti dari Bella.
" Lupain aja. Sekarang tolong kirim realese-nya ke email saya."
Bella menurut, ia menyalakan laptopnya dan menunggu beberapa saat agar koneksi internet dari wifi kafe berjalan dengan baik.
Bella melakukan pencarian media-media yang cukup populer di Malaysia. Setelah dapat lebih dari tiga puluh media terkemuka, ia mengirim undangan conference ke setiap email perusahaan media tersebut. Ia melirik Danang yang sibuk dengan ponselnya, kemudian ponselnya berbunyi. Ia angkat panggilan tersebut. Rupanya panggilan video yang berisi beberapa orang yang Bella tebak adalah orang-orang distributor perusahaannya yang melakukan komplain kemarin.
Bella tak ikut berpartisipasi dalam percakapan penting itu. Ia hanya mendengarkan dan menyimak agar ia dapat menyusun kata-kata klarifikasi nanti malam sambil membalas satu-persatu pesan balasan dari media yang diundang tadi.
Tiba-tiba ponsel Bella bergetar, menunjukkan nama Aska di layarnya. Bella melirik Danang yang rupanya sudah lebih dulu melirik ponselnya. Ia tahu Danang tak suka dengan ini, tapi sepertinya atasannya pura-pura tak peduli.
Bella mengangkat panggilan tersebut, membuat Danang menaikkan sebelah alis yang tak dipedulikan oleh Bella.
" Hallo, sayang. Kamu dimana?"
Suara Aska terdengar panik, namun Bella menganggap jika itu sangat berlebihan.
" Aku lagi meeting. Mungkin sampai malem."
Terdengar Aska mengembuskan napas keras, " kenapa nggak bangunin aku?"
" Kamu lelap banget. Kupukir kamu kecapkean dan butuh waktu istirahat."
" Tapi..."
" Aska, aku kerja dulu."
Bella mematikan sambungan teleponnya. Ia melirik Danang yang tampak menahan tawa. Sejujurnya, Bella sudah kesal sejak tadi. Kesal dengan segala hal, mulai dari ia yang telat bangun, Danang yang menyindirnya, mengungkit masa lalu dan Aska yang tak tahu waktu. Tapi Bella menahannya sekuat tenaga agar citra dirinya tetaplah sebagai Bella yang tenang dan sempurna dalam menghadapi setiap masalah. Atau bahkan, selalu terlihat tanpa masalah.
" Udahan mesra-mesranya?"
Bella kaget ketika mendengar Danang mengajukan pertanyaan untuknya.
" Maaf, saya nggak bermaksud buat teleponan sama suami disaat kayak gini."
" Saya tahu kamu orang yang profesional."
Bella tersenyum, " harusnya memang kayak gitu. Lagipula, ini pekerjaan kan?"
Danang mengangguk, paham maksud Bella, " saya minta maaf."
" Minta maaf buat apa? bukannya atasan nggak pernah salah?"
Danang menggeser sepiring nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja sejak lima belas menit yang lalu ke depan Bella, " maaf karena saya cuma bisa kasih kamu sarapan nasi goreng."
Bella langsung diam. Dia malu. Danang memang menyebalkan. Lelaki itu senang sekali mengerjainya.
" Jadi, udah sampe mana?"
Bella mengambil sendok dan berniat menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, " deal. email sudah masuk ke tiga puluh media terkemuka di Malaysia. Tapi, baru beberapa aja sih yang bales."
Danang menyedot teh hangat, " perkiraan saya bisa sampai tujuh puluh orang yang datang."
" Kurang lebih."
Danang memakan nasi gorengnya dan ingat sesuatu. Ia mengecek ponselnya dan berhenti mengunyah.
" Ada apa?" sensitifitas Bella kembali.
" Saya dapet info dari Dini kalau amplop buat dibagikan ke wartawan ketinggalan di meja saya."
Bella geleng-geleng kepala melihat Danang nyengir.
" Namanya juga manusia."
Bella sudah yakin, ia pasti akan disuruh ke Bank untuk menukar rupiah menjadi ringgit dan memasukkan ringgit itu ke dalam seratus amplop.
" Bel."
" Iya, Pak."
" Bank nggak jauh dari sini. Cuma nyebrang jalan aja, tuh," ucapnya sambil menynjuk sebuah gedung di seberang jalan, " tolong ya bantu saya."
Bella segera menghabiskan nasi gorengnya dan bersiap-siap pergi ke Bank. Meninggalkan Danang yang kembali fokus dengan ponsel dan panggilan videonya.
***
sukses
.....semangat