"Ikutlah dengan ku, aku akan membantumu membalaskan semua rasa sakit yang telah mereka berikan padamu!" seru Bram.
Sepuluh tahun kemudian...
Gadis kecil yang dibawa oleh Bram kerumahnya setelah menangis dan memeluk gundukan tanah, makam kedua orang tuanya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat menawan.
Syaheera sedang menunggangi kuda kesayangan nya dan mengarahkan anak panahnya ke sasaran bergerak yang sudah disiapkan oleh Bram.
Syut!
Suara tepuk tangan membuat Syaheera menoleh.
Prok! prok! prok!
"Good job, my little princess! kemampuanmu semakin baik!" puji Bram.
Syaheera telah di didik Bram menjadi gadis muda yang energik dan pintar.
Sesungguhnya Bram yang akan membantu Syaheera balas dendam, atau sebaliknya?
Happy reading...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Membuat Masalah lagi Arthur!
Semua orang di kediaman Anggara terperangah, Arthur sampai jatuh ke lantai karena pukulan Burhan yang begitu keras padanya.
Sudut bibirnya bahkan mengeluarkan robek dan mengeluarkan darah.
Sarah segera berlari mendekati putranya ketika Burhan hampir saja menendang Arthur dengan kakinya.
"Cukup!" teriak Sarah yang sudah berlutut di hadapan Arthur.
"Arthur adalah anak kandung mu! Kita bisa menghukum kesalahannya dengan cara lain, tidak dengan menyiksanya seperti ini!" protes Sarah.
Burhan di buat bertambah kesal karena Sarah ikut campur dan membela Arthur yang jelas-jelas bersalah.
"Listy!" teriak Burhan memanggil Listy yang sedang berada tak jauh dari mereka.
Dengan setengah berlari, Listy pun mendekati mereka bertiga. Dia juga tidak ingin jadi sasaran kemarahan Burhan selanjutnya.
"Iya mas!" jawab Listy.
"Bawa Sarah ke kamarnya!" perintah Burhan dengan tegas.
Listy pun menunduk dan berusaha membujuk Sarah agar ikut dengannya.
"Aku mohon kak, Kita sebaiknya tidak ikut campur dulu!" bujuk Listy pelan.
"Kamu bilang apa? dia menghajar anak ku seperti ini? Lihat Listy..." bantah Sarah.
Burhan menarik Arthur dan kembali memukulinya. Sarah dan Listy juga tidak bisa berbuat banyak karena anak buah Burhan menahan mereka.
Tangisan dan teriakan Sarah bisa di dengar oleh Aisyah yang berada di dalam kamarnya Bastian.
"Astaghfirullah" ucap Aisyah.
Benar, hanya itu yang dapat di ucapkan Aisyah. Selama ini dia sudah paham betul tabiat dan watak keras Burhan.
Sementara di kamar lain, Angel bahkan sudah menangis terisak sambil memeluk erat sebuah bantal yang dia letakkan di pelukannya.
Seluruh tubuhnya bergetar, Angel sangat takut. Bahkan dia menutup mulutnya agar tangisnya tidak bersuara.
Di dalam kamar anak-anaknya, Andini juga menahan ke dua putranya agar tidak keluar dan melihat betapa kejamnya kakek mereka.
"Bunda, kenapa nenek Sarah dan Kakek berteriak begitu?" tanya Sean polos.
Andini menutup telinga Sean dengan kedua tangannya.
"Jangan di dengarkan ya!" ucap Andini lembut.
Andini berusaha mengalihkan perhatian kedua putranya yang baru saja pulang sekolah itu. Andini bahkan mengajak kedua putranya itu masuk lewat pintu belakang karena sebelumnya Listy sudah mengirim pesan padanya.
Gadis kecil lainnya, Cherry putri bungsu Burhan juga sudah di bawa oleh baby sitter nya untuk keluar berjalan-jalan agar tidak mendengarkan dan melihat apa yang terjadi.
"Hentikan Mas..." Sarah masih terus memohon pada Burhan agar berhenti memukuli Arthur.
"Mas, sudah.. kasihan Arthur, dia sudah babak belur!" Listy juga memohon pada Burhan.
Sementara yang sudah babak belur di pukuli malah tidak mengatakan sepatah kata pun. Ekspresi wajahnya bahkan datar. Tidak ada keinginan sedikit pun di hati Arthur untuk meminta maaf pada Burhan.
Dia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan hanya menahan rasa sakit itu sendiri.
"Burhan!!" teriak Seseorang dari arah pintu utama.
Semua orang menoleh, dan Burhan pun berhenti memukul Arthur.
Sarah mengusap tangisnya dengan cepat lalu mendorong para pengawal yang tadi menahannya. Sarah dengan cepat berlari menghampiri Arthur dan meminta Listy membantunya untuk membawa Arthur ke dalam kamarnya.
"Listy, telepon dokter. Cepat!" ucapnya sambil memapah Arthur masuk ke dalam kamar.
Alvaro Gunawan, Ayah dari Sarah dan kakek dari Arthur berjalan dengan penuh wibawa mendekati menantunya yang baru saja memukuli habis-habisan cucunya itu.
Raut wajah tidak suka jelas tergambar di wajah Burhan.
"Berapa uang mu yang sudah di habiskan oleh cucuku?" tanya Alvaro dengan wajah dingin.
Suasana menjadi mencekam ketika Alvaro berhadapan langsung dengan Burhan.
Alvaro adalah orang cukup berkuasa. Saat Burhan menikahi Sarah, saat itu Alvaro sedang menjabat sebagai gubernur di kota ini.
Hartanya juga cukup banyak untuk menyaingi Burhan, bedanya Alvaro tidak melakukan perbuatan kotor seperti Burhan untuk mendapatkan harta dan kekayaan.
Karena itu Alvaro adalah orang yang cukup disegani, hingga Burhan selama ini selalu berhati-hati jika menghadapi Sarah.
"Hak apa yang kamu miliki hingga memukuli cucuku seperti itu?" tanya Alvaro dengan nada suara meninggi.
"Ayah, dia berjudi!" Jawab Burhan dengan cepat.
Alvaro pun terdiam, dia menghela nafasnya panjang.
"Baiklah, aku yang akan mengganti semua kerugian mu! aku juga yang akan menasehati nya!" ucap Alvaro yang merasa kecewa pada Arthur.
Burhan ikut menghela nafasnya. Tapi dirinya masih kesal pada perbuatan Arthur. Bagaimana bisa dia mengeluarkan uangnya dan uang perusahaan hanya untuk taruhan.
Alvaro masuk kedalam kamar Arthur yang sedang di beri pertolongan medis oleh seorang dokter dan seorang perawat.
Melihat ayahnya datang, Sarah segera menghampiri Alvaro dan memeluknya sambil menangis.
"Sudah, semua sudak ayah selesai kan. Untung saja Beni menelpon ayah tepat waktu!" ucap Alvaro sambil membelai lembut kepala putri tunggalnya itu.
Sarah pun menghela nafas lega.
'Akhirnya pria bodoh itu tahu apa yang harus dia lakukan' batin Sarah.
Alvaro berjalan mendekati Arthur dan duduk di sebuah kursi yang ada di sebelah ranjang Arthur.
"Untuk apa kamu menghabiskan uang sebanyak itu?" tanya Alvaro.
Arthur meringis kesakitan saat si perawat menjahit luka robek di dekat pelipisnya.
Arthur belum bisa menjawab, dia melirik sekilas kearah kakeknya yang terlihat kecewa padanya.
Setelah si perawat selesai, dokter dan perawat itu pun meninggalkan ruangan kamar Arthur.
Sarah duduk disebelah Arthur dan memeriksa lukanya.
"Oh, astaga. Lihatlah wajah tampan mu jadi begini!" ucap Sarah sedih.
"Sekarang katakan, kenapa kamu melakukan hal bodoh ini?" tanya Alvaro lagi. Kali ini nada suaranya sangat tegas.
"Katakan!" sambung Sarah.
"Untuk mendapatkan seseorang!" jawab Arthur pelan, karena luka robek di sudut bibirnya masih terasa perih.
Sarah membulatkan matanya.
"Arthur..." lirihnya.
Alvaro malah terkekeh.
"Rupanya cucu ku ini sedang jatuh cinta!" ucap Alvaro yang merubah ekspresi wajahnya dari kecewa menjadi senang dalam sekejap.
Berbeda dengan ayahnya yang bahagia saat Arthur jatuh cinta, Sarah justru merasakan ada hal yang tidak baik akan terjadi.
"Katakan pada kakek siapa gadis beruntung itu?" tanya Alvaro.
Arthur terlihat ragu ketika akan membuka suara.
"Kakek janji, akan membantu mu!" sambung Alvaro lagi yang sangat antusias.
"Syaheera!" jawab Arthur.
"Syaheera!" pekik Sarah yang langsung berdiri dengan cepat dan melayangkan tatapan tidak suka pada Arthur.
"Arthur, jangan katakan jika Syaheera yang kamu maksud adalah kekasih Bastian!" bentak Sarah.
Melihat Arthur diam, Sarah yakin gadis yang dimaksud Arthur adalah kekasih Bastian.
"Sarah..."
"Ayah, dia melakukan hal bodoh seperti itu demi seorang gadis! Arthur ibu mohon jangan membuat masalah lagi! Ayah mu akan sangat marah padamu!" seru Sarah memperingatkan Arthur.
Alvaro pun diam.
"Kenapa harus kekasih adik mu, Arthur?" tanya Alvaro yang kembali murung.
...Bersambung.......
...❤️❤️❤️...
...Yuk, tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...