kisah ini bercerita tentang Nindy Nugraha Pale, seorang dosen muda nan cantik jelita yang terpaksa menikahi pelajar SMA dari kelas homogen.
Awalnya mereka berdua sangat menolak, namun pernikahan itu tetap saja berlangsung karena desakan keluarga dan orang-orang sekitar yang main hakim sendiri.
Bagaimana kehidupan mereka setelah menikah? Akankah pernikahan mereka bertahan? Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azya Tanre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Bodoh
Tiba di rumah, bu Jeni diam-diam masuk dan langsung ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Ia tidak mau ketahuan oleh suaminya kalau ia baru saja bertemu seseorang dan dengan gampangnya menyerahkan uang melebihi 1 tahun gaji pak Muyadi.
Bu Jeni merasa harus lebih hati-hati, dan akan selalu mengusahakan semuanya terlihat baik-baik saja dihadapan suaminya.
“Si Carlos benar-benar menyusahkanku, bagaimanapun suamiku tidak boleh curiga,”
Kemudian bu Jeni mendekati pak Muladi yang duduk di ruang tengah sambil membaca buku.
“Ayah belum tidur?”
“Eh, ibu sudah pulang, kapan datangnya?”
“Memangnya ayah tidak dengar ibu ucapkan salam ketika buka pintu?” ketus bu Jeni,
ia memanfaatkan kebiasaan pak Mulyadi yang terlalu fokus membaca buku.
“Iya, maafkan Ayah, bagaimana kondisi anak bu Salamah?” Tanya pak Mulyadi sambil meletakkan bukunya.
Bu Jeni menjadi sedikit gugup, Ia baru ingat kalau dirinya minta izin keluar untuk menjenguk tetangga mereka yang sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.
“Parah Yah, tangan kanan sama kaki kirinya patah, ibu benar-benar tidak tega melihatnya, ibu tidak tahu bagaimana jadinya jika ayah ikut,”
“Untung aku sempat mampir ke rumah sakit sebelum menemui si Carlos biadab itu,” kata bu Jeni dalam hati.
“Kenapa Begitu?” pak Mulyadi menatap heran kearah istrinya.
“Ya, ibu hanya tidak mau ayah pingsan, apalagi darahnya banyak keluar,” balas Bu Jeni.
“Oh, ibu selalu meremehkan ayah,”
“Bukan begitu, kan memang benar adanya kalau ayah takut darah, dan itu menurun ke Nindy,” bu Jeni tanpa sadar masih mengingat putri sulungnya itu.
Pak Mulyadi tersenyum mendengar pernyataan istrinya, ia tahu sebenarnya bu Jeni masih menyayangi Nindy, tapi ia terlalu egois untuk mengakuinya.
“Ibu benar, tapi apakah ibu tahu? Kegigihan dan kecantikan anak kita itu pasti berasal dari ibu,” canda Mulyadi.
Bu Jeni seketika menatap pak Mulyadi,
“Jangan mempengaruhiku, sampai kapanpun Ibu tidak akan memaafkannya, ibu heran kenapa ayah masih saja membanggakannya?” ketus bu Jeni kemudian bangkit dari duduknya dan terus mengoceh hingga mereka masuk kamar hendak tidur.
“Ya Tuhan, entah kapan jiwa keibuannya kembali lagi,” kata pak Mulyadi kembali mengabaikan istrinya dan menarik selimutnya.
Bu Jeni masih duduk bersandar di pinggir Kasur, melihat suaminya sudah tidur, bu Jeni berhenti mengoceh dan meraih bantal guling kemudian merebahkan tubuhnya. Ia tidak menyadari ponselnya beberapa kali bergetar karena ada pesan masuk via whatsapp.
****
Darco melajukan mobilnya ke sebuah Mall di kota Jakarta, langit yang cerah seakan menggambarkan suasana hatinya bisa jalan berdua bersama Nindy. Sesekali ia melirik kearah Nindy yang terus menunduk menyibukkan diri dengan gawainya. Ia tahu Nindy terpaksa mengikuti kemauannya, tapi menyaksikan raut wajah Nindy ketika marah sungguh menjadi hiburan baginya.
Nindy baru mengangkat kepalanya ketika Darco memperlambat laju mobil karena sudah mendekati area parkir, ia kaget melihat bangunan tinggi dihadapannya.
“Astaga, si Rebung kenapa membawaku ke Mall? Apa dia lupa dengan pakaianku? Apa dia sengaja hendak mempermalukanku?” Nindy menjadi gelisah sendiri. Ia melirik kearah Darco dengan dengan sudut matanya.
“Ibu kenapa?”
“Aku, aku mau ke toilet,” kata Nindy gugup.
“Baiklah, tunggu sebentar,”
Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, mereka memasuki mall. Nindy berjalan dibelakang Darco seakan seperti seoang gadis yang bersembunyi dipunggung saudara laki-lakinya. Ia terus menunduk dengan rambut dibiarkan menutupi sebagian wajahnya. Ia membiarkan Darco meraih tangannya.
“Oh Tuhan, bagaimana jika ada mahasiswa yang melihatku? Ini benar-benar memalukan,”
Kemudian Nindy bergegas ke toilet, mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Ia mencuci muka lalu menatap dirinya di cermin.
“Tidak bisa dipercaya aku melakukan hal konyol seperti ini,”
Nindy memandang kosong kearah tas nya, ia baru menyadari ada kaca mata berwarna hitam. Ia tersenyum lalu mengeringkan wajahnya.
Dari kejauhan Darco melihat Nindy keluar dari toilet dengan memakai kaca mata, ia terus memperhatikan Nindy berjalan kearahnya dengan langkah kaki sedikit kaku sambil sesekali menoleh ke samping. Terlihat jelas ia terus berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Wanita aneh, jika merasa malu kenapa memaksakan diri dengan pakaian itu,”
Darco tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari Nindy.
“Ibu sangat cantik pakai kaca mata?” goda Darco ketika sudah berada di hadapannya.
“Itu terdengan seperti sindiran?” ketus Nindy.
Darco membalas dengan senyuman, kemudian meraih tangan Nindy dan naik ke lantai 3 mengelilingi setiap sudut tanpa membeli apapun.
Nindy yang mulai kelelahan, memperlambat langkah kakinya. Saat melewati toko perhiasan, Nindy tidak sengaja melihat Anjas dan Reta yang sibuk memilih perhiasan. Nindy memegang erat tangan Darco, dan dengan cepat menjauh dari tempat itu.
“Ibu kenapa?”
“Ayo kita pergi, buat apa berkeliling disini jika tidak berencana membeli sesuatu?!” tegas Nindy. Matanya terus melirik ke toko perhiasan.
“Tenang saja, mereka tidak akan mengenali ibu dengan pakaian seperti ini,”
Namun disaat bersamaan, Anjas keluar dari toko perhiasan itu, dan melihat kearah Nindy, Nindy dengan cepat memutar balik badannya.
“Aku, aku mau ke toilet lagi,” Nindy berlari, meninggalkan Darco yang terus memanggil namanya.
Nindy tanpa sengaja menabrak seorang laki-laki di hadapannya, sehingga tas beserta telepon genggamnya jatuh ke lantai.
“Maaf, aku tidak sengaja,” Nindy membantu mengambilkan tas laki-laki yang merupakan mahasiswanya itu.
“Ibu Nindy?” ia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Suara itu seperti petir di telinga Nindy, irama jantungnya menjadi tidak karuan, hal yang ia takutkan benar-benar terjadi. Ia terus menunduk lalu menyerahkan tas itu dan kembali berlari.
Darco yang menyaksikan itu menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan Nindy yang terlihat melangkah cepat memasuki toilet.
Nindy menyandarkan tubuhnya di dekat jendela, menyalahkan Darco akan masalah yang ia alami.
“Ini akan menjadi yang terakhir aku mengikuti kemauannya,” Nindy merasa selalu menjadi orang bodoh ketika bersama Darco.
Nindy tidak kunjung keluar dari toilet, ia sengaja melakukan itu karena tidak mau bertemu dengan orang yang ia kenali. Ia tidak peduli petugas kebersihan mondar-mandir menatap heran kearahnya.
Darco yang sudah kembali merasa bosan menunggu Nindy, ia berjalan maju mundur hendak menyusul Nindy ke toilet. Ia tidak bisa menghubungi Nindy karena handphonenya ketinggalan di mobil.
Karena tidak sabar menunggu, akhirnya Darco memberanikan diri berjalan ke toilet wanita.
“Yang bernama Nindy, tolong cepat keluar!” teriak Darco berdiri dipintu masuk yang dalam keadaan tertutup.
Orang-orang yang sedang memperbaiki make up nya di toilet saling memandang satu sama lain. Begitupun dengan Nindy, meski kaget ia berusaha terlihat tenang dan berjalan keluar dengan kepala terus menunduk.
“Aku sakit perut, mari kita pulang,”
Darco terus memperhatikan Nindy yang menurutnya sangat kekanak-kanakan.
💚💚💚💚💚
Hallo readers rersayang.. terimakasih sudah membaca karyaku..
jangan lupa komen, like and favorit ya..
karena kalian semua adalah penyemangatku dalam melanjutkan kisah istimewa ini.....🥰😘😍
BAGI YANG MAU BACA, MENDING JANGAN NOVELNYA GAK ADA LANJUTANNYA.
Makin penasaran...
Nungguin NindyDarco bucin..😍
Semangat Up-nya Kak...
duuhh mkin ruwet...