NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Kota Samber

Seratus meter sebelum memasuki wilayah Samber. Yula turun dari kereta kuda bersamaan dengan Yoshizu. Lacus membuat kelompoknya terpecah menjadi dua bagian. Ia akan pergi menemui pemimpin kota Samber bertatap muka langsung mengatasnamakan perwakilan Kerajaan Woerlt, dengan Esha yang akan berperan sebagai pengawal dan juga rekannya dalam perjalan. Lacus berharap sang pemimpin kota belum mendapatkan kabar bahwa ia telah memiliki dua rekan, agar kehadiran Esha tidak dicurigai dan Yula lebih tenang dalam tugasnya mengamati sikap penduduk dan mengumpulkan rumor kota yang beredar.

Sementara Yula dan Yoshizu akan masuk kota belakangan, mereka berusaha bersikap tenang agar tidak dicurigai oleh siapa pun yang berkemungkinan menjadi musuh mereka. Mereka berdua memasuki kota dengan berjalan kaki kemudian menumpang pada kereta pedagang yang lewat. Setiba di dalam kota mereka pun berpisah menuju tujuan masing-masing.

“Sebenarnya tujuanmu apa, Yoshizu?” tanya Yula sebelum Yoshizu melangkah pergi.

Yoshizu membalikkan badan. “Bukan masalah pribadi, Tuan Putri,” jawabnya.

“Ada kaitannya dengan perjalanan kami?” terka Yula.

Yoshizu tersenyum. “Tepat sekali,” ucapnya sambil menyipitkan satu mata. Ia pun melangkah pergi meninggalkan Yula sendirian di tengah kota.

Yula mengadah pandangan ke atap gedung pertemuan yang ia perkirakan ada tiga lantai. Namun ia masih jauh dari gedung tersebut, sekitar tiga puluh meter kurang lagi ia bisa mencapai beranda gedung itu. Namun sebelumnya ia harus berkeliling sebentar dan akan mencoba mencicipi beberapa makanan yang dijual di pasar.

Ia pun melangkah dengan senyum dan langkah ringan.

.

.

.

Tujuan Yoshizu ke Samber ialah pelelangan gelap yang sudah beberapa kali dilakukan semenjak ada yang berubah dari kota itu. Namun sayangnya tak ada satupun informasi yang menggantung di telinganya di mana diadakan pelelangan tersebut. Yoshizu tidak memiliki niat ikut dalam pelelangan gelap tersebut, bahkan ia berencana untuk mencurinya sebelum dijual.

Mencurinya? Tidak, ia hanya mengambil sebuah benda yang seharusnya menjadi milik seseorang. Jika ia mendapatkan benda itu segera ia berikan pada orang yang berhak memilikinya. Lagipula dari awal pelelangan gelap itu merupakan barang-barang curian mau pun barang-barang berbahaya yang tak seharusnya dimiliki oleh orang biasa, barang-barang yang seharusnya di bawah kendali Kerajaan Woerlt. Benda-benda yang berkemungkinan memiliki magica yang kuat, magica penghancur, terutama benda yang mengandung magica kegelapan yang sulit untuk dikendalikan.

Sudah satu jam Yoshizu berkeliling, bahkan sengaja berjalan di tempat yang agak sepi. Karena belum juga berhasil menemukan informasi tentang pelelangan gelap tersebut Yoshizu memutuskan untuk berbelok arah dan menelusuri gang sempit hingga bertemu sebuah bar minum. Ia memiliki firasat dan membuka pintu tanpa ragu.

Saat masuk tidak ada yang memperhatikannya. Dengan tenang Yoshizu masuk dan langsung memesan segelas minuman pada bartender. Ia bertindak seakan tidak asing dengan suasana bar kecil dengan berbagai botol minuman alkohol yang berjejer di raknya, terciumnya asap tembakau yang berterbangan dengan bebas di udara, serta orang-orang yang bermain kartu sambil tertawa terbahak-bahak karena akan mendapatkan uang di siang bolong.

Bartender menyuguhi minuman di depan Yoshizu, namun ia tak lansung meminumnya. Lebih tepatnya Yoshizu tak akan meminum alkohol yang akan membuatnya mabuk, karena ia tak menyukainya. Ia hanya memegang ujung atas gelas dengan jari-jarinya lalu menggoyangkan gelas dengan santai.

“Jika tak menyukainya sebaiknya jangan pesan,” saran sang bartender. Pria yang diperkirakan telah berkepala tiga itu menyadari sikap Yoshizu yang berbeda dari para pelanggannya yang lain. Ia mencondongkan badan, berbisik, “Pengamat?” tanyanya hati-hati agar tak terdengar oleh yang lain.

“Pemburu,” jawab Yoshizu.

“Kelompok?” tanyanya kembali.

“Pribadi.”

Bartender itu langsung mengangguk.

Maksud dari percakapan mereka, saat si bartender bertanya pengamat yang berarti lawan bicaranya kemungkinan seorang informan yang sedang mengumpulkan informasi—karena informan dikenal sebagai orang yang menjual hasil informasi yang didapat kepada orang-orang yang membutuhkan informasi bersangkutan. Terkadang informan ialah orang suruhan bangsawan atau kerajaan untuk mengumpulkan informasi dari rakyat akan suatu hal. Tapi saat Yoshizu menjawab pemburu, itu berarti ia seorang yang mencari suatu hal. Jika perampok akan menjawab pemburu harta.

Bartender itu tampaknya orang yang baik, karena ia senang mendengar jawaban Yoshizu kalau ia bukanlah seorang perampok seperti kebanyakan para pelanggannya yang sedang minum-minuman di barnya saat ini. Tapi ia heran kenapa Yoshizu dengan tenangnya bisa masuk ke tempat yang asing, sendirian, demi mencari informasi di sebuah bar. Jika Yoshizu orang baik-baik, seharusnya ia langsung bertanya pada informan di luar sana. Itu menunjukkan kekagumannya pada pelanggan barunya itu.

Satu catatan, walau bertanya pada seorang informan akan sebuah informasi belum tentu mereka memberi jawaban yang memuaskan. Terkadang mereka akan memeras para pelanggan mereka pada setiap informasi yang diberikan. Tak semua informan yang mau memberi petunjuk dengan lengkap dan bayaran yang ringan.

Bartender bertanya dengan suara pelan, “Apa yang kau inginkan?”

Yoshizu mencondongkan badannya agar suara bisikannya terdengar oleh bartender. Dengan hati-hati ia bertanya, “Pelelangan gelap?”

Bartender dengan lambat menegakkan kembali tubuhnya. Ia berpikir keras untuk memberi tahu atau tidak. Tapi pelanggannya satu ini tampak serius. Ia baru sadar akan mata cemerlang milik Yoshizu yang menggambarkan pelanggan barunya itu bukanlah orang biasa.

Ia mengambil secarik kertas dan menulis sebuah alamat singkat. “Malam ini. Kau beruntung,” jawabnya berbisik sambil memperhatikan kiri-kanan agar tak ada yang mendengar

Yoshizu mengambil kertas itu dan membacanya sekilas, mengingatnya dengan cepat, lalu meremukkan kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku.

“Terima kasih, kawan.”

Yoshizu mengeluarkan dua lembar uang kertas dengan nilai besar dan uang koin ke atas meja. Saat itu si pelayan langsung menerima dan menyimpannya agar tidak dilihat oleh orang lain. Yoshizu memberinya senyuman sebelum ia melangkah meninggalkan bar.

.

.

.

Kereta kuda yang dijalani Esha sampai di depan balai kota. Kedua kuda itu berhenti di depan tangga masuk pintu balai. Esha membalikkan badan, membuka pintu bilik kereta dan mempersilahkan Lacus turun. Mereka berdua menaiki empat anak tangga, memijak beranda balai yang sepi. Tidak sama dengan istana, di depan balai tidak ada penjaga yang selalu berdiri di depan pintu masuk. Namun seharusnya ada seseorang yang duduk di dekat pintu masuk sebagai penerima tamu. Kenyataannya tidak ada siapa pun yang mereka temui saat Esha membuka pintu.

Keanehan pertama.

“Apa benar ini balai kota?” heran Esha.

Lacus hanya tersenyum kecut.

Sesaat mereka mendengar langkah kaki dari dalam menuju ke arah mereka. Sedetik mereka berdua telah menyiapkan diri akan hal yang tidak diinginkan. Namun seorang lelaki kurus jakung hadir di depan mereka beserta seorang yang jauh lebih tinggi darinya membawa sebuah buku yang diapit di lengan kirinya.

Lelaki itu terdiam sesaat, kemudian tercengang. “Siapa gerangan kiranya? Demi kemakmuran padi, ternyata Tuan Putri dari Kerajaan Woerlt hadir di balai nan sempit ini. Maafkan hamba, Tuan Putri, atas kelancangan hamba yang tidak menyambut Anda dengan seharusnya.” Ia membungkukkan badan memberi salam penghormatan.

Lacus tersenyum ramah seperti biasa. “Tidak perlu dipikirkan.” Namun di dalam hati ia benar-benar merasa kesal karena di depannya dua orang itu tidak terlihat menghargai kedatangannya. “Kalau saya boleh tahu Anda siapa?” tanya Lacus kemudian.

“Maafkan hamba terlambat memperkenalkan diri. Hamba Jilra Flaksh, pemimpin kota ini.” Laki-laki itu memperkenalkan diri dengan membungkukkan badan, seorang di belakangnya mengikuti gerakannya.

“Salam kenal, Tuan Flaksh,” balas Lacus.

“Ah, tidak baik membiarkan Tuan Putri berdiri terlalu lama. Biarkan hamba menjamu Anda, meski tidak banyak yang bisa hamba berikan. Silahkan ke arah ini, Tuan Putri.” Lelaki bernama Jilra Flaskh itu mempersilahkan tamunya.

“Terima kasih,” balas Lacus. “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Tuan Flaksh,” ujarnya kemudian.

“Tentu, Tuan Putri,” jawab Jilra sambil menunjukkan jalan pada Lacus. “Silahkan,” ucapnya mempersilahkan Lacus berjalan bersamanya menuju ruang tamu.

Lacus mengangguk dengan anggun sekali. Tanpa diberitahu Esha mengikuti Lacus tepat dibelakangnya, masih bersiaga dengan penuh ketenangan.

Mereka berempat memasuki ruang tamu. Jilra Flaksh mempersilahkan Lacus duduk di hadapannya. Di tengah mereka ada sebuah meja bundar kecil. Orang yang dibelakang Jilra itu dengan sigap membawakan teko berisi teh dan dua cangkir di atas nampan, serta dua piring kecil berisi biskuit gandum. Setelah menghidangkan jamuan sederhana itu, pria jakung itu menunduk sekali lalu beringsut lambat ke belakang Jilra, ia pun berdiri tepat di balik punggung sang pemimpin kota. Sama halnya, Esha juga berdiri di belakang sang putri.

“Ada keperluan apa Tuan Putri datang ke kota kecil kami ini?” tanya Jilra Flaksh.

Ada keperluan apa?, kesal Lacus dalam hati. Apa orang ini tak tahu kalau aku sedang dalam perjalanan? Lacus ingin sekali menyinggung hal itu tapi tak jadi. Menurutnya lebih baik tak disinggung sedikit pun, dan lagi ia ingin menilai seorang Jilra Flaksh. Siapa sebenarnya pria di hadapannya itu?

“Tidakkah Anda tahu bahwa sekali setahun adanya pemeriksaan acak oleh Kerajaan Woerlt?” Lacus mulai pembicaraan dengan berkilah.

“Ah, maafkan hamba, Tuan Putri. Hamba baru menjabat sebagai pemimpin kota, jadi … tidak banyak tahu tentang itu. Maafkan hamba sekali lagi,” jawab Jilra tenang, namun terdengar ragu sebelum menjawab.

“Begitukah?” Lacus sedikit memicingkan matanya. Meski ia bukanlah Yula yang mudah menerka mimik seseorang—apa orang itu berbohong atau tidak, menyembunyikan sesuatu—tapi ia dapat menerka sikap pria di hadapannya. Siapa pun pria bernama Jilra Flaksh, ia orang yang sangat payah dalam berbohong. “Anda baru menjabat sebagai pemimpin kota, tidakkah seharusnya banyak belajar dari pemimpin sebelumnya?”

“Tentu, Tuan Putri.”

“Saya dengar pemimpin sebelumnya jatuh sakit parah. Karena itu kepemimpinan diganti secepatnya. Jika saya boleh tahu, di mana rumah pemimpin lama? Setelah ini saya ingin mengunjunginya.” Perlahan Lacus mengorek informasi.

Jilra Flaksh tampak kebingungan. “Ia … tinggal seorang diri di rumah. Karena itu dirawat di rumah sakit.”

“Kalau begitu, alamat rumah sakit saja.”

“Hamba merasa tidak enak hati jika seorang Putri Woerlt mengunjungi rumah sakit hanya seorang pria tua. Tuan Putri tidak perlu khawatir, pemimpin sebelumnya, Tuan Kurikh sangat nyaman di sana. Kami memberikan pelayanan terbaik pada beliau.”

“Tapi—”

“Jika Tuan Putri berkenan, biar hamba saja yang mengantarkan pesan pada beliau, bahwa Yang Mulia singgah ke kota ini dan menitipkan doa untuk kesembuhan beliau.”

Air muka Lacus masam. Baru pertama kali ini kalimatnya dipotong. Dan orang itu tidak memperlihatkan wajah penyesalan sama sekali. Lacus mengepalkan kedua tangannya, menahan emosi. Ia dapat menenangkan perasannya cepat. Kemudian menghela napas. Ia bersyukur Yula tidak bersamanya. Kemungkinan anak itu tanpa disuruh sudah melayangkan pukulan pada Jilra Flaksh yang sudah tidak sopan padanya.

“Baiklah. Kemungkinan kehadiran saya akan mengganggu waktu istirahat Tuan Kurikh,” ujar Lacus kemudian. “Kalau begitu, kita lanjutkan saja pembahasan mengenai perkembangan Kota Samber akhir-akhir ini. Apa Tuan Flaksh bisa menerangkannya pada saya?”

Jilra menundukkan badan, “Tentu, Tuan Putri.”

Selama Lacus dan Jilra berbincang mengenai kota dan berbagai topik yang berkaitan, Esha mengawasi sekitar walau mata dan kepalanya tak berputar banyak, hanya melirik sesaat. Ia juga melihat gerak-gerik serta cara bicara Jilra Flaksh, baginya terlihat agak menganjal, seakan menutupi suatu hal. Asisten yang ada di belakang Jilra ialah seorang laki-laki muda yang memakai baju formal dan mata yang terlihat cemerlang, tapi tidak terlihat seperti asisten yang memiliki ilmu pengetahuan sosial maupun keuangan. Asisten apa dia? Entahlah. Esha belum bisa menebak pasti. Dan juga, entah sejak kapan ada dua pengawal di depan pintu ruang tamu, walau mereka tak berjaga tapi Esha dapat merasakan kalau mereka bersiaga.

Esha melihat Lacus di depannya. Tuan Puteri Woerlt itu terlihat tenang, bisa tak menghiraukan segala keganjalan dan bicara akrab dengan Jilra. Walau begitu, Lacus tetap sengaja melontarkan pernyataan atau pertanyaan yang membuat lawan bicaranya tersudutkan. Baginya hanya menjalankan tugas, mengawasi sekitar dan melindungi Lacus dari ancaman. Selagi tidak ada ancaman, ia akan tetap diam, tidak akan ikut serta dalam pembicaraan yang ‘bukan urusannya’.

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!