NovelToon NovelToon
Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintapertama / Supernatural / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:137.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isnasari Sulfia Handriyani

Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.

Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.

Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.

Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.

Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.

Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Hari Ini

Acara jalan-jalan keliling desa untuk nostalgia sukses membuat Gadhis dan Santi mengisi ulang energi. Santi bisa mengobati kerinduannya untuk pulang kampung. Gadhis bernostalgia akan masa kecil yang sempat dihabiskan di desa itu.

Wajah Gadhis makin cerah, secerah mentari pagi karena alamat yang dia pegang dari Mas Yono, padahal kalau di desa tidak perlu alamat, tinggal tanya saja penduduk di daerah situ pasti ada yang bisa menunjukkan. Kadang memang

manusia lebih memilih untuk sedikit repot agar mendapat sensasi berbeda, salah satunya seperti yang dilakukan Gadhis.

“Senyum saja terus,” celetuk Santi melihat ekspresi wajah sahabatnya.

“Tuhan sedang berpihak padaku tahu, ini adalah ekspresi penuh syukur dari ku, hehehe…”

Santi mencebikkan bibirnya mendengar kalimat yang diucapkan Gadhis, “jangan sirik, sirik itu tanda tak mampu,” bisik Gadhis tepat di telinga Santi.

Sambil tertawa kecil Gadhis memacu langkah meninggalkan Santi di belakang. Baru beberapa langkah di depan, Gadhis tiba-tiba menghentikan langkahnya dia menoleh ke belakang dan mundur beberapa langkah mensejajarkan diri dengan Santi, “Kita lewat depan rumahnya Pria, yuk.”

“eee ini anak, ngelunjak. Udah untung aku nggak ada rencana buat lapor sama Mas Aldo, pakai ingin ketemuan sama matan lirikan,” teriak Santi sambil meletakkan tangannya dipinggang dan mata melotot.

Sambil berjalan Gadhis menautkan tangannya ke tangan Santi, “nggak…bukanbegitu, dulu dia baiiiikkkk banget, saking baiknya sampai aku selalu ingat sama dia…maksudku kebaikannya, sama kebaikannya, hehehe.”

“Modus, kita lewat saja ya…ingat cuman lewat, pakai berlagak minta alamat, padahal kalau sudah lewat pasti ingat rumahnya yang mana.”

“Kamu tahu San…aku yakin nggak ada sahabat sebaik kamu di atas bumi ini.”

“Tapi buatku masih lebih penting Mas Aldo dari pada kamu,” Santi mencibirkan bibirnya melihat sikap Gadhis yang terus saja bermanis-manis karena ada maunya.

“Sebentar San, sepertinya ini sudah dekat rumahnya, nanti kalau pas depan rumahnya kita jalan pelan-pelan ya,” mata Gadhis fokus melihat beberapa rumah yang ada di depan.

“Begini ini ABG telat, kamu itu sudah tua sudah dua puluh tahun…” belum juga Santi menyelesaikan kalimatnya Gadhis sudah membekap mulut santi.

Gara-gara aku juga, sekalinya aku ajak jadi detektif sekarang lagaknya seperti agen 008.

“Kalau pas depan rumah itu, kita acting yang kayak ngobrol gitu ya, berhenti sebentar, nanti aku berdiri sebelah kanan, biar bisa lirik gitu, aku penasaran sama wajahnya tau San.”

“”Iya…iya, ayo, yang penting nanti sore harus beli tepo tahu terus besok pagi wajib beli nasi pecel, nasi pecel daerah sini terkenal enak soalnya.”

Tiba-tiba Gadhis berhenti sambil mencubit perut Santi, “Kamu nggak apa-apa Dhis,” ucap Santi sambil memegang dahi Gadhis seperti sedang mengecek suhu badan.

Itu rumahnya depan kita tahu, kita kan sudah janjian tadi—jawab Gadhis tanpa suara hanya menggerakkan bibir, kepala dan matanya saja.

Tanpa komentar Santi langsung menarik tangan Gadhis untuk terus berjalan, “aku malu, kamu kaya orang gila tahu nggak sih! Kita dilihatin orang-orang itu loh…”

Akhirnya gagal rencana jadi detektif dengan tujuan ketemu mantan lirikan. Gagal juga keinginan untuk sekedar melirik Pria untuk melunaskan rasa keingin tahuannya.

Sialan Santet, padahal kalau tahu juga Pria nggak akan mengenali aku, apa besok aku datangi saja ya…

“Dengar ya Dhis, kamu memang sahabatku tapi yang sering menunjang kelangsungan hidupku itu Mas Aldo, jadi maaf kalau aku lebih membela mas Aldo dari pada kamu.”

“Dasar kamu sahabat durhaka, awas saja kalau sampai kamu cerita sama Mas Aldo, aku kempesin badan kamu…bener.”

“Kalau kamu berani kempesin badan aku, lihat saja aku rebonding rambut keritingmu,” Gadhis kembali berjalan meninggalkan Santi sambil sesekali menghentakkan kaki. Kelihatan sekali kalau mode ngambek sedang on.

Pria memarkirkan motornya di halaman rumah. Dari jauh tadi dia memperhatikan ada dua orang perempuan berhenti di depan rumah dan seperti sedang kebingungan. Dia bermaksud untuk memarkirkan motornya lebih dulu sebelum mendatangi dua perempuan itu dan menawarkan bantuan, karena dari penampilannya kelihatan kalau bukan berasal dari sekitar desa. Tapi ternyata orangnya sudah

pergi.

“Dapat le, obatnya ibumu?”

“Alhamdulillah dapat yah,” Pria mendekati Rahmat dan mencium tangannya.

“Sudah dhuha belum, kalau belum kamu sholat dhuha dulu, mumpung waktunya masih keburu,” bagi Rahmat sholat adalah hal yang paling penting. Sholat bisa menjaga dari perbuatan keji dan munkar.

“Sudah yah, tadi mampir di masjid besar, sekalian lewat sekalian sholat. Jarang-jarang kan yah punya kesempatan untuk sholat di masjid besar. Mumpung sedang ada di sini.”

“Ya sudah, sana bawa obatnya ibumu ke kamar,” Rahmat kembali sibuk dengan orang-orangnya yang sedang mengeringkan padi sambil menikmati kopi dan jenang beras, sesekali Rahmat berteriak, “*Yen* *mepe diratakne le ben garinge parine rata*.” (kalau menjemur diratakan biar keringnya merata)

“*Inggih pak, sampun rata menika*.” (iya pak, ini sudah rata)

“*Ya wes, yen kesel leren sik*.” (Ya sudah, kalau capek istirahat dulu)

Seperti itulah kesibukan Rahmat setiap habis panen, kalau dulu dia akan ikut mengerjakan semua pekerjaan seperti yang lain. Akhir-akhir ini Rahmat hanya mengawasi dan sesekali memberi arahan. Badannya lebih mudah capek katanya.

Dalam kamar, Rustini—ibu Pria lelap dalam tidurnya. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya Pria memutuskan untuk menyimpan obat di atas meja. Meninggalkan kamar Pria menuju dapur, dia yakin budenya ada di situ.

“Bude.”

“Sudah datang kamu le, dapat obatnya ibumu?”

“Dapat bude, tapi Pria nggak tega membangunkan ibu untuk minum obat, nanti bude saja yang membantu minum obat ya…”

Tarti menganggukkan kepala, “biarkan saja nanti bude yang bantu ibumu minum obat. Le ada yang ingin bude bicarakan denganmu,” Tarti membimbing Pria untuk duduk pada dipan yang terbuat dari bambu.

“Ini tentang sakitnya ibumu dan meninggalnya kakekmu.”

Pria menarik nafas, melihat wajah budenya pria merasa kalau cerita ini akan panjang dan menyedihkan, “Baik bude, Pria akan mendengarkan semuanya dengan baik.”

“Berjanjilah dahulu, apapun yang kau dengar nanti jangan menyimpan amarah dalam hatimu.”

Tarti menghembuskan nafas berat. Butuh waktu baginya untuk memilih dan menyusun kata aga keponakannya mengerti tanpa meninggalkan sakit hati.

“Le…kakemu percaya kalau sakitnya ibumu karena santet.”

Mata Pria membulat sempurna, dia terkejut dengan pernyataan yang disampaikan Tarti, “Mana ada santet di jaman seperti ini bude. Ibu itu fisiknya yang sakit, jadi ya harus dibawa ke dokter.”

“Kalian membicarakan tentang aku ya,” Surti sudah berdiri di depan pintu menuju dapur. Suara sandal terseret ketika Surti berjalan, memaksa Pria berdiri mendekat dan menuntun ibunya.

Dengan tatapan mata memohon Surti meminta Tarti untuk meninggalkan dia dan anaknya berdua, “Mbak, tinggalkan aku dengan anakku, biarkan aku yang menceritakan semuanya.”

“Bude ke depan dulu ya le, melihat anak-anak yang sedang menjemur padi.”

“Apapun yang diceritakan budemu, mungkin benar mungkin juga tidak le,” Rusti memulai ceritanya, “Sebelum meninggal kakekmu sempat berpesan pada kami, kalau kita harus berhati-hati dengan orang dari keluarga Supomo,” Rusti berhenti untuk mengatur nafasnya.

“Ibu tidak harus menceritakan semuanya sekarang bu, Pria masih beberapa hari lagi di sini.”

Surti menggelengkan kepalanya, kemudian dia melanjutkan, “pesan ibu hanya satu, jangan pernah menyimpan dendam dan sakit hati. Kalaupun nanti ibu mati, ibu ingin mati dengan tenang tanpa membawa amarah di hati ibu.”

Pria mencerna semua yang diceritakan Ibu dan budenya. Dari cerita hari ini, dia menjadi tahu alasan kakek pomo dulu melarang Gadhis berteman dengannya. Entah karena memang menyimpan dendam atau karena khawatir ada pembalasan dendam. Ini akan menjadi pekerjaan rumah buatnya, banyak yang harus

dia cari tahu dan bagaimana memperbaiki semuanya. Karena dia terlanjur

menjadikan Gadhis sebagai tujuan hidupnya.

Ojo lali jempol, komen lan vote ya…

Matur

thank U

1
Yovianti Yudo
next
Ish_2021
ugh...
Sekar Milenia
ceritany bagus lohh...
Rini Farah
keren Thor
Rini Farah
👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Rini Farah
bagus ceritanya
Pangeran Matahari
hai kk aku mmpir ni ma.pir juga y kecucu manja oma
Mike
ngakak aku Thor bacanya 😂
Mike
Ini bener udah tamat KA?
Ish_2021: terimakasih sudah di apresiasi ❤️ ya...
total 2 replies
Rini Haryati
sukses
semangat
lanjut
Rina Avriliasunshine
tetap semangat berkarya author
Rina Avriliasunshine
aku juga setia kok thor meskipun nemunya pas udah end
Ish_2021
terimakasih doanya aamiin
Rina Avriliasunshine
aku doain mba othor novelmu ini nanti banyak yang baca..
aku suka ceritanya
Rina Avriliasunshine
aku masih setia
Pangeran Matahari: mmipir y kk kecucu manja oma
total 1 replies
Rina Avriliasunshine
ceritanya bagus tapi sayangnya kok sepi
Rina Avriliasunshine
cerita yang bagus pasti tidak banyak yang baca..
Pangeran Matahari: mmpir y kk ke cucu manja oma
total 3 replies
Ish_2021
ahhh...
Ish_2021
akhirnya perjuanganku usai
Pangeran Matahari: mmpir juga y kk ke cucu manja oma
total 1 replies
Ish_2021
ketika mendekati akhir rasanya tak ingin berpisah dengan Gadhis dan Pria
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!