Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 31 nikah
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA, AZARA AMORA BINTI RADITYA, DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR, TUNAI!"
"SAH!" Semua orang ditempat itu berucap. Aku, ah rasanya sangat-sangat bahagia. Hari ini aku dan Ara sah menjadi seorang suami istri, penantian yang sangat lama sudah terbayar.
"Alhamdulillah," ucap semuanya, dan disertai do'a.
Ara meraih tanganku dan menciumnya, begitu pun aku yang mengecup keningnya. Kami berdua sama-sama memasangkan cincin dijari secara bergantian.
Aku dan Ara naik kepelaminan, uhuy banyak yang menginginkan hal ini bukan? Terutama yang baca. Hehe.
Tamu secara bergantian mengucapkan selamat padaku, pernikahanku dan Ara tak begitu mewah. Para readers pun datang dan memberikan selamat.
"Jaga Ara ya, jangan sakiti dia!" ucap salah satunya sambil menatapku tajam.
"Lo jahat! Kenapa sih, lo yang duluan nikah, gue kan juga pengen!" oceh Karell sambil memukul lenganku.
"Siapa suruh gak nikah duluan!" balasku yang mampu membuatnya berwajah datar.
"Lo gimana sih, temen nikah malah di omelin," sahut Vino menatap tajam kearah Karell.
"Diem lo!" Aku tertawa kecil, bahkan disaat pernikahanku mereka sempat-sempatnya bertengkar.
Setelah semua tamu pulang, aku dan Ara berpamitan kepada Mama nya Ara, alias Mertuaku. Ari beserta istrinya, tersenyum kearahku.
"Jaga anak Mama baik-baik, semua tanggung jawab Mama serahkan pada kamu, Nak." Mama mengusap kepalaku lembut, disertai tangis harunya. Aku senang, karena Ara bisa bersama dengan Ibunya, walaupun tanpa sesosok Ayah.
Setelah berpamitan, aku dan Ara pun memasuki mobil menuju rumah baru, Ara menangis dalam dekapanku, ia memelukku dengan erat.
Setelah meninggalkan gedung yang cukup mewah tersebut, aku dan Ara sampai dirumah. Aku sengaja tak membawa Ara kerumah baruku, dan memawanya kerumah lama, yaitu rumah Mami dan Papi, karena Mami yang memintanya, ia bilang, ia ingin menghabiskan waktu bersamaku selama 1 minggu kedepan. Maklum, mereka masih rindu padaku yang tampan ini.
"Abang, Ara capek!" Aku menoleh kearah Ara. Ara melepas sepatu yang ia kenakan, lalu membuangnya kesembarang tempat.
"Sepatunya jahat! Kaki Ara kan sakit!" keluhnya, dan langsung terduduk di tanah, membuat gaun putih yang ia pakai kotor. Ah dasar!
"Ara, jangan duduk disitu bego! Gaunnya kotor samyang!" ocehku sambil menatapnya datar.
"Gendong!" Aku membulatkan mata, gendong katanya? Padahal aku juga sangat letih. Tapi, jika menolak maka Ara akan menangis dan merengek seperti bocah lima tahunan.
"Yaudah, iya." Aku langsung saja mengangkat tubuh mungilnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Ara melingkarkan tangannya dileherku, sambil menatapku.
"Apa?" tanyaku. Ara hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Lo berat, tau gak?" Aku menurunkan tubuh Ara ketika sudah sampai di dalam kamarku, keringat sudah membasahi kening beserta tubuhku. Langsung saja aku melangkahkan kaki masuk kedalam kamar mandi.
"Abang, mau kemana?" rengek Ara.
"Mau mandi, sayang. Mau ikut?" tanyaku. Ara menggeleng lalu merebahkan tubuhnya dikasur.
...
Aku dan Ara bersiap turun untuk makan malam, aku menarik kursi dan duduk, begitu pun Ara. Kami semua pun mulai untuk makan.
"Yan, Mami pengen punya cucu,"
Ukhuk! Ukhuk!
Aku langsung terbatuk mendengar ucapan Mami, segera ku ambil air dan meneguknya pelan. So what?! Aku baru saja menikah, Mami sudah meminta cucu padaku.
"Tuh lihat, Mi. Anak kita sampai tersedak denger permintaan Mami," tutur Papi sambil menunjukku.
"Tau nih, Mami. Kan aku baru nikah, masa langsung dimintain Cucu," balasku. Pipiku memanas dan mungkin sudah merah sekarang.
"Lebih cepat lebih baik kan?" Anissa menatapku sambil menurun naikkan alisnya menggodaku, aku langsung saja membalasnya dengan tatapan tajam.
"Bener tu kata Anissa." Aku hanya menggeleng pelan mendengar ucapan Mami.
Setelah makan malam selesai, aku dan Ara kembali kekamar, bersiap untuk tidur. Saat aku keluar dari kamar mandi, terlihat Ara sedang duduk diranjang sambil tertunduk, aku menghampirinya, menggenggam tangannya dan mencoba bertanya.
"Lo kenapa, hm?" tanyaku lembut.
"Ara takut, kalau Abang ninggalin Ara kayak dulu," Aku pun membawa Ara kepelukanku. Ku usap lembut rambut panjangnya.
"Gue gak akan ninggalin lo, kok. Tapi, jika suatu saat gue yang akan jauh dari lo, mintalah pada Allah untuk mendekatkan kita. Dan jika suatu saat lo yang akan jauh dari gue, maka gue akan meminta pada Allah untuk mendekatkan kita kembali. Paham?" Ara mengangguk mendengar ucapanku.
"Ara ngantuk," Ara melepas pelukannya dan menguap, ia merangkak naik keatas kasur dan membaringkan tubuhnya. Aku pun ikut terbaring disampingnya.
"Eum ... lo denger kan apa yang di minta Mami tadi? Soal itu, lo mau kan melakukan--" belum sempat ucapanku selesai, sudah terdengar dengkuran lembut darinya. Aku mendatarkan wajahku, bisa-bisanya ia meninggalkan suaminya ini tidur. Padahal aku ingin meminta hakku sebagai suami.
"Dahlah bodo amat! Gue tidur aja," ucapku, memeluk tubuh Ara dan mulai terlelap.
#BERSAMBUNG!
Dahlah gaje:') gimana part yang ini? Jelek gak?🙂aku butuh pendapatmu para readers😭
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍