Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Edward telah sampai di Lobi hotel milik Tuan Robert, diikuti di belakangnya Asisestennya Lukas. Dengan langkah tegap nya mereka memasuki Hotel tempat meetingnya hari ini. Sengaja meeting kali ini diadakan diluar perusahaan, karna pasti akan sangat membosankan meeting selama empat jam kedepan di ruang kantor. Mereka disambut hangat oleh Tuan Robert pemilik Hotel, Tuan Robert menyalami mereka berdua.
"Selamat datang di hotel kami Tuan Muda. Senang bertemu anda kembali." ucap Tuan Robert.
"Ya, Terima kasih sambutanmu." Edward menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Mari saya antar ke ruangan pertemuan anda, Peserta rapat sudah ada di dalam Tuan." ucap Tuan Robert sembari tangan kanannya diulurkan menyamping , mempersilahkan melangkah duluan dan di ikuti langkah Lukas di belakangnya.
Dengan tegap, gagah dan wibawanya Edward bersama Lukas memasuki ruang meeting. Ruangan luas dengan meja ditata seperti huruf U, yang sebagian besar sudah banyak kursi yang di isi oleh para peserta rapat.
"Selamat pagi semua.." Edward sedikit menundukkan badannya memberi salam diikuti dengan Lukas.
"Selamat Pagi Tuan.." ucap seluruh peserta rapat. Edward pun duduk disamping sebelah para ceo lain dibawah naungan Presiden Direktur yang tak lain adalah Ayahnya sendiri, diikuti Lukas di samping Edward.
Rapat pun di mulai , Edward mendengarkan dengan seksama. Sesekali menimpali pembicaraan mereka. Sesekali melirik layar ponselnya. Entah notifikasi siapa yang sedang ia tunggu.
Wajahnya terlihat tersenyum saat Edward teringat dengan wajah Aurora yang terlintas dipikirannya. Wajah cantik yang selalu saja membuat hatinya menghangat dan jantungnya berdegup kencang saat dekat dengannya.
"Tuan Edward, bagaimana dengan anda..?" tanya salah seorang peserta rapat.
"Ah, iya.." Edward tersentak dalam lamunannya dan langsung menegakkan tubuhnya kemudian berdehem untuk menutupi rasa kagetnya.
"Ehemm ,"Edward berdehem untuk menyamarkan rasa terkejutnya. " Ya ,seperti pada berkas yang sudah saya ajukan, mohon dipertimbangkan. Ini akan sangat menguntungkan untuk perusahaan kedepannya. Dan meningkatkan nilai sahamnya"
" Tuan Edward, saya setuju dengan usulan anda. Memang seharusnya kita mengembangkan sayapnya kembali. Jangan sampai kita tertinggal dengan perusahaan asing disini. Kita harus tetap mempertahankan pasar nasional." ucap Tuan Admaja.
"Lalu dari mana aliran dana untuk proyek tersebut?" tanya salah seorang CEO
"Saya akan menggunakan dana pribadi lima puluh satu persen dari anggaran pembuatan. Untuk sisanya kami akan mencari investor yang mau menanamkan modalnya." ucap Edward tegas.
"Saya akan menanamkan dua puluh persen." ucap Tuan Admaja sambil tersenyum melirik anaknya Edward. Edward pun tersenyum mengangguk.Ia bahagia karena ayahnya mau mendukungnya.
Peserta rapat mulai sibuk berdiskusi sendiri, Entah mengapa sebenarnya proyek itu sangat menjanjikan. Tapi jumlah uang yang dikeluarkan begitu besar, apalagi perusahaan mereka tidak sebesar perusahaan Edward.
"Tuan Edward, saya akan menanamkan sembilan persen saja. Anda tau bagaimana kondisi perusahaan saya sekarang." ucap salah satu peserta rapat.
Edward menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. " Terima kasih, itu juga sudah sangat membantu."
Tak terasa rapat telah empat jam berlalu. Tuan Admaja menutup rapat ini dengan makan siang bersama.
"Baiklah, rapat kali ini kita akhiri. Terima kasih untuk yang sudah hadir. Silahkan menikmati jamuan dari kami. Terimakasih." Tuan Admaja menyalami semua yang hadir.
Para peserta rapat mulai membubarkan diri,di ikuti dengan Edward." Lukas, pergilah ke jamuan makan dulu aku mau telfon sebentar." ucap Edward sembari menjauh dari keramaian.
"Baik Tuan."
Edward mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Hallo..." terdengar suara lembutnya di panggilan telfonnya.
"Ah ya Sayang, mengapa hari ini belum menghubungiku ? apa kau sibuk sepanjang hari ini? Apa kau melupakan sesuatu di hari ini sayang.. ??
Aurora diseberang sana mengerutkan dahinya saat Edward membuka percakapan. Tak mengerti mengapa Edward berkata seperti itu. Sesuatu apa maksudnya.
" Ah maafkan aku, aku lupa, banyak berkas yang harus segera aku urus. Sesuatu...???Apa kau sedang merindukanku hemm, ..."
Edward mengerutkan dahinya ,"Apa Aurora melupakan hari ini hari ulang tahunku?" gumamnya dalam hati.
"Ah,ya aku sedang merindukanmu. Apa kau benar benar lupa??"
Aurora semakin mengerutkan dahinya, ia berpikir sejenak, apa yang telah aku lupakan.. ia melihat kalender di ponselnya sejenak. Tiba tiba ia teringat..."
"Apa kau sedang berulang tahun hari ini sayang...? ah maafkan aku, aku melupakan hari ini... Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur, sehat dan semoga terwujud apa yang kau diharapkan selama ini"
Edward tersenyum lebar mendengar doa dari Aurora. Edward berharap tahun ini ia bisa segera menikahi Aurora. Hidup dengan keluarga yang dicintainya.
" Ah itu kamu ingat sayang, apa kau tak memberiku hadiah terbaikmu untukku Aurora sayang..? ...
"hahaha... ya.. iya.. nanti kalau aku pulang, kau mau apa Kak Edward ??
"Aku mau kamu segera pulang dan segera menikah denganku. Apa kau keberatan Aurora..? Aku tak meminta yang lebih dari itu...cukup jadi istri dan ibu untuk anakku." ucap Edward memohon.
"B**aiklah aku kabulkan permintaanmu, tunggu aku kembali. Aku akan jadi pengantin wanita tercantikmu sayang. Kita akan bahagia saat hari itu tiba. Emm.. Bagaimana dengan Viona? kemana perginya orang itu? Bukankah dia juga terobsesi padamu? Apa dia tidak akan membuat ulah lagi sayang?"
Edward sejenak berfikir, entah mengapa tiba tiba perasaannya tidak enak. Sosok Viona yang terus saja mengganggu kehidupannya.
"Tenanglah, jangan terlalu difikirkan. Kita akan hadapi bersama.Aku akan selalu melindungimu."
"Hei, sayang...!! jangan sampai karena kau melindungiku,kau melupakan keselamatanmu sendiri. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu bahkan tahu itu. Orang orangku juga akan selalu menjagaku dengan baik."
"Kau selalu saja keras kepala Aurora. Aku bahkan ingin kamu bermanja padaku. Berlindung dibelakang tubuhku saat kau dalam masalah. Baiklah jaga dirimu, selalu beri kabar padaku. Aku tutup dulu ya , aku merindukanmu. "
"I miss you too.."
Edward pun melangkahkan kakinya mencari keberadaan Lukas. " Lukas, siapkan mobil, kita ke kantor sekarang." ucap Edward
"Baik Tuan. Apa Tuan tidak makan siang dulu Tuan?" Tanya Lukas sembari mencari kunci mobilmnya.
"Tidak,,! nanti kau pesankan saja untukku." Ucap Edward sembari keluar dari Hotel.
Mobil pun melaju meninggalkan hotel tempat pertemuannya. Di dalam mobil Edward sibuk dengan pikirannya sendiri. Entah mengapa perasaannya tidak enak beberapa hari ini. Entah mengapa ia merasa ada orang yang sedang mengawasinya dari jauh. "Sepertinya aku harus segera menyelidikinya." gumamnya dalam hati.
▪︎
▪︎▪︎▪︎
Bersambung...
jangan lupa vote, like and comentnya
Thank you ❤
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya