Selama tujuh tahun Khiana bersama anaknya hidup sebagai seorang pelarian dikarenakan sebuah tragedi di masa lalu.
Walaupun perasaannya hancur karena tragedi itu, tetapi ternyata dirinya masih belum bisa melupakan Kiral.
Selama tujuh tahun Kiral hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan dikarenakan kesalahannya di masa lalu.
Walaupun ia tahu bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan Khiana terhadapnya, tetapi sebenarnya ia menyimpan sebuah kebenaran yang tidak bisa ia katakan kepada siapapun saat tragedi itu terjadi.
Tujuh tahun berlalu. Keduanya masih sama-sama tersiksa dengan keadaan.
Tujuh tahun berlalu. Rindu keduanya semakin besar.
Tujuh tahun berlalu. Garis takdir mulai menuliskan pertemuan baru bagi mereka berdua.
Bagaimanakah takdir akan mempersatukan mereka kembali?
- update setiap Jum'at malam -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JasmineTea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 31 - Hampir Saja
Dulu guruku pernah berkata. Ada dua fase yang biasanya akan dilalui oleh mahasiswa rantau saat kuliah di luar negeri.
Pertama adalah 'fase turis'. Seperti namanya, di fase ini, kamu seakan-akan adalah seorang turis yang sedang berlibur. Segala sesuatu yang kamu temui di negara itu, dari hal terkecil sampai terbesar akan terlihat menarik dan mempesona.
Lalu, setelah beberapa bulan kamu akan masuk ke fase kedua. Aku lupa apa sebutan fase ini, tapi intinya di fase ini kamu akan mulai merasa bosan dan cenderung tertekan dengan kebiasaan hidup yang berbeda 180 derajat dengan tempat tinggalmu yang biasanya.
Segala euforia tinggal di luar negeri akan runtuh seketika dan yang tersisa hanyalah realita kehidupan yang kejam.
Sebelum pergi ke sini, aku telah mengantisipasi fase-fase itu. Tapi, aku tidak menyangka akan secepat ini masuk ke fase kedua. Padahal belum sebulan aku tinggal di sini.
Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah tugas kuliah yang menumpuk dan juga gaya belajar yang benar-benar berbeda dengan Indonesia.
"Hah.. aku malas kuliah.." Ucapku pada Kiral yang entah sudah ke berapa ribu kalinya. Kiral yang sedang menatap laptopnya diam tak merespon dan sama sekali tidak menggubris ocehanku. Mungkin dia bosan mendengarnya.
Kutelungkupkan kedua tanganku di atas meja. Sambil menatapnya aku bertanya-tanya kenapa manusia ini bisa sefokus itu mengerjakan segala hal yang dia lakukan. Selama ini aku tidak pernah melihatnya mengeluh ataupun terlihat lelah.
Tuk..tuk.. kuketuk pelan ujung laptopnya. Lalu berkata.
"Dari pada belajar di sini, mending kita cari makan yuk."
Saat ini aku dan Kiral sedang berada di salah satu student cafe. Sebuah tempat nongkrong mahasiswa yang dikhususkan untuk mengerjakan tugas dan belajar.
Kiral akhirnya mengalihkan pandangannya dari laptop kepadaku. Aku tersenyum kepadanya. Mengira bahwa manusia ini setuju dengan ucapanku. Tapi, alih-alih mengiyakan dia malah mengangkat tangannya lalu menjentikkan jarinya tepat di jidatku.
Pletak !
"Aw!"
"Sudah jangan mengeluh. Kerjakan tugasmu. Sekarang belum waktunya makan." Setelah mengucapkan kalimat menyebalkan itu dia langsung kembali fokus ke laptopnya. Kini bahkan jari-jarinya mulai menari-nari di atas keyboard dan mengetikkan sesuatu.
Hah.. dasar.
Keningku terasa sakit. Tapi, hal itu tidak lantas membuatku menuruti perintahnya. Aku tetap diam dan menatap lekat laki-laki di sampingku. Lalu aku menyadari adanya sedikit perubahan dari wajah Kiral.
"Kak.."
"Hm."
"Kayaknya kakak kurusan deh."
Kiral melirik sekilas ke arahku.
"Masa sih?"
"Heem."
Kuperhatikan wajahnya lebih dekat. Kantung matanya sedikit menggelap. Pipinya juga jelas lebih tirus dari biasanya.
"Hmmm.." Kuletakan tanganku di keningnya.
"Kamu ngapain?" Ucap Kiral. Fokusnya kembali teralihkan kepadaku.
"Kakak sakit ya? Badan kakak lumayan hangat loh."
"Engga." Jawabnya singkat.
Kuletakan tanganku kembali di wajahnya. Kali ini di pipi. Hangat juga.
"Tapi badan kakak beneran panas loh.."
Kiral tiba-tiba menarik tanganku lalu mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku. Aku yang kaget dengan tindakannya yang tiba-tiba membeku seketika.
"Kamu sengaja pegang-pegang ya?" Ucapnya pelan. Nafasnya sampai terasa dikulitku.
"Engga kok.. Aku cuma mau memastikan kakak sakit atau engga." Jawabku jujur.
"Bohong."
Aku menggeleng cepat.
"Beneran kak.."
Kiral tidak melepaskan genggamannya. Matanya kini memicing ke arahku mencoba menebak apakah aku berkata jujur atau tidak. Aku menelan ludahku gugup.
Selama beberapa detik kami diam tak bergerak. Sampai akhirnya tatapan mata Kiral jatuh di bibirku. Kini, giliran Kiral yang meletakkan tangannya di pipiku. Jarinya mengusap pelan, membangkitkan kesadaranku sepenuhnya kembali.
Tunggu sebentar? apa dia akan melakukan itu? Aku menatap Kiral tidak percaya. Lalu, saat dia benar-benar mendekat, sebelum jarak kami benar-benar terhapus, aku segera berdiri dari kursi.
"Ahaha.. ka-kayaknya.. aku mau ke toilet sebentar deh.." Ucapku terbata. Tanpa menunggu respon Kiral aku segera lari ke toilet.
Sesampainya di sana kubasuh wajahku dengan air. Pantulan wajahku di cermin memerah. Dadaku juga berdebar.
Nyaris saja..
Telat satu detik saja, mungkin tadi bibir kami akan benar-benar menempel.
Sekali lagi kubasuh wajahku dengan air. Selama kami bersama, aku dan Kiral sama sekali tidak pernah melakukan kontak fisik kecuali pegangan tangan. Kami memang sudah bertunangan. Untuk pasangan lain melakukan hal seperti itu sangatlah wajar. Belakangan ini, Kiral juga sudah mulai 'menyudutkan'-ku untuk melakukan itu. Apa aku lakukan saja ya? toh nanti juga kami akan menikah kan?
TIDAK!
Teriakku dalam hati. Kutampar pipiku sendiri.
Tidak Khiana! Tidak boleh. Tahan semua itu sampai kalian menikah! Tindakan kecil itu kalau dibiarkan akan merembet ke tindakan selanjutnya. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi!
Lagi, kubasuh wajahku. Kali ini cukup lama. Setelah mengeringkan wajah dan merasa lebih tenang, aku kembali ke tempat Kiral berada.
"Ah.. segarnyaaaa.. setelah mencuci muka sepertinya semangat belajarku kembali lagi." Ucapku dengan nada ceria. Kiral hanya menatapku datar. Tapi aku melihat sedikit pandangan kesal darinya.
Maafkan aku. Tapi aku tidak mau melakukan hal yang belum boleh kita lakukan.
Kutarik bukuku untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda dan mencoba untuk fokus.
Tapi setelah beberapa menit pikiranku tidak bisa dikondisikan. Kiral yang sedang duduk di sampingku kini malah diam menatapku.
Kenapa malah memperhatikanku sih? Sana kembali ke laptopmu.
"Aku lapar.. ayo cari makan." Ucapnya.
Loh? kenapa rasanya situasinya jadi terbalik. Kulirik wajahnya sekilas lalu kucek jamku.
"Belum waktunya makan kak." Jawabku.
Tanpa memperdulikan perkataanku Kiral mematikan laptopnya. Memasukkannya ke dalam tas dan membereskan barang-barangnya yang lain.
"Aku ingin makan kebab. Tempatnya lumayan jauh. Ayo berangkat sekarang."
Duh kalau sudah begini aku sama sekali tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa mengalah dan ikut membereskan buku-bukuku.
Setelah keluar dari student cafe, kami berjalan bersama menuju stasiun kereta. Tempat kebab yang Kiral maksud terletak di pusat kota jadi kami harus menaiki kereta untuk menuju ke sana.
"Kak.. kalau dipikir-pikir selama di sini kakak sering makan makanan timur tengah ya?"
"Iya. Soalnya makanan asli orang sini terlalu hambar di lidah." Jawabnya.
Begitu sampai di food truck tempat penjual kebab, antrian yang lumayan panjang sudah terbentuk.
"Woahh.. padahal belum waktunya makan siang tapi antriannya sudah sepanjang ini."
"Ya kan.. bukan aku aja yang sesuka itu sama kebab ini."
Kiral menarik tanganku menuju antrian. Setelah mengantri beberapa menit akhirnya kebabpun kami dapatkan.
Kami kembali berjalan untuk mencari tempat yang cocok untuk makan dan akhirnya menemukan spot yang bagus di pinggiran danau.
.
.
.
Bersambung...
-Author Note-
Halo semuanya~
Selamat hari raya Idul Fitri 1442 H. ^.^/
Dimanapun kalian berada semoga tetap sehat dan bisa menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.
Tetap semangat dan jangan lupa like ya! hehe..
with love,
JasmineTea.