Renata, seorang istri yang sudah berumah tangga lima tahun lamanya bersama sang kekasih yang di pacarinya sedari dulu.
Dani, sang suami yang sangat mencintai Renata sekaligus sebagai orang yang manjadi mandat dari ayah mertua untuk selalu menjaga Renata di akhir hayatnya.
Namun sayangnya, sang Suami memiliki kelemahan yang sering membuat sang istri menangis karena kenormalannya sebagai seorang wanita muda yang bergairah.
Bermacam cara pun di tempuh Renata bersama sang suami agar bisa menyelesaikan masalah tersebut, namun sayang, hasilnya sama saja. Para ahli dalam bidangnya tidak bisa mengobati kelemahan yang di miliki Dani.
Lalu bagaimana Renata dan Dani menangani masalah ini ??
__________
Ditunggu kritik dan sarannya..
Tolong gunakan bahasa yang baik saat memberi kritik dan sarannya ya..
Makasih..
Selamat membaca 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idhan Kusmana The'a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Delapan tahun telah berlalu semenjak kejadian yang membuat keluarga Denis menjadi seperti ini. Keyakinannya masih kuat akan kesembuhan Dani dan bahkan Denis juga yakin kalau Renata masih hidup di luaran sana, hanya saja dia tidak meyakini kalau bayi di perut Renata masih hidup, karena kalau di lihat dari bekas mobil dan jurang yang terjal seperti itu mungkin bisa membuat Renata keguguran.
"Pak sudah sampai" suara Asisten Reno membuyarkan lamunan Denis yang terus memikirkan keadaan Dani dan Renata.
Denis langsung turun dari mobilnya dan berjalan menuju sebuah gedung berlantai dua puluh. Nampak begitu sepi pemandangan di setiap penjuru luar maupun dalam gedung ini. Bagaimana tidak, ini adalah hari libur, tapi kliennya tetep keukeuh ingin melakukan rapat di dalam kantornya.
Asisten Reno yang mendampingi Denis di sisinya langsung menekan tombol angka 18 saat sampai di dalam lift.
"Ting" pintu lift itu terbuka saat sampai di lantai yang sudah di tentukan sebelumnya.
Denis dan Reno berjalan melewati beberapa ruangan pekerja para petinggi di kantor itu.
Dan "BRUKKKK" seorang gadis kecil menabraknya, membuat jas Denis basah dan kotor karena jus yang di bawa gadis itu mengenai pakaian Denis.
"Maaf" suaranya lirih, ketakutan di wajah gadis kecil itu benar-benar terlihat jelas oleh Denis dan Reno. Dia merasa bersalah karena sudah menggangu orang lain.
"Maafkan saya Om, tolong maafkan saya" air matanya menetes, rasa takutnya meningkat, dalam pikirannya dia menebak akan di marahi oleh dua laki-laki di hadapannya.
"Hei, tenanglah. Jangan menangis, anak cantik gak boleh nangis tau, ntar jadi jelek" bujuk Denis sambil membungkukkan badannya. Di angkatnya bahu gadis itu, dan di seka pula air matanya yang terus mengalir. Tapi mengalirnya tak seperti air di viva rucika ya 😉😉.
"Apa Om tidak akan memarahi saya? " tanya gadis itu. Suaranya masih terdengar lirih.
Denis hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Pak, ayo" ajak Asisten Reno.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka. Meninggalkan gadis yang terus memandanginya, "Daaaaah" Denis melambaikan tangan kanannya.
"Makasih Om " teriak gadis itu.
.
.
🐣🐣🐣🐣🐣🐣🐣
.
.
Rapat pun berjalan dengan lancar,saatnya kedua belah pihak untuk menandatangani berkas.
"Jadi, apa Pak Adeen bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami" tanya Denis.
"Tok.. Tok.. Tok.. "
"Tok.. Tok.. Tok.. "
"Tok.. Tok.. Tok.. "
Terdengar suara ketukan pintu yang kencang dan juga ricuh, membuat Denis dan juga Adeen terganggu.
"Tolong lihat siapa yang mengganggu" titah Adeen pada asistennya.
Asistennnya pun berjalan dengan gagah menghampiri pintu itu. Setelah berbica dengan seorang wanita yang panik dia langsung kembali menemui Adeen.
"Pak,Rizcha mengalami kecelakaan" bisik Asisten di kuping Adeen, sontak membuat Adeen langsung bangun dari duduknya dan meninggalkan ruangan sebelum menandatangani berkah yang ada di hadapannya yang sebelumnya sudah siap ia tanda tangani.
"Kau urus masalah disini" ucap Adeen panik sambil terus berjalan.
Asisten pun meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi pada Denis sehingga terjadi penundaan kerjasama antara kedua belah pihak. Tapi Denis memaklumi hal itu,dan langsung berpamitan dengan Asisten Adeen untuk kembali pulang.
.
.
Nama Adeen Alexander Alfred.
Pemilik perusahaan AGroup. Di umurnya yang baru 20 tahun sudah mampu memimpin perusahaan yang sudah 35 tahun lamanya di dirikan oleh Ayahnya,Malik Charles Alfred.
__________
Setelah puas bermain, Cia dan El memutuskan untuk segera pulang saja. Jam juga sudah memunjukkan pukul Dua Siang lewat Lima Belas Menit.
Anna pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. 60 menit sudah berlalu, mereka sudah sampai di kota tempat tinggal mereka. El yang kelelahan masih terlihat pulas tidur di kursi penumpang tengah bersama Cia.
Anna yang lupa dengan arah jalan menuju rumah El kebingungan dan memutuskan menepikan mobilnya. Kebetulan juga, hp Anna mati dan dia lupa membawa Chargeran hpnya.
Anna memandangi kedua wajah bocah yang seharian ini bersamanya. Begitu imut dan juga polosnya mereka. Rasa senang menggebu-gebu yang sebelumnya tak pernah Dia alami membuatnya sedikit kebingungan.
"Ada apa denganku,kenapa hari ini aku begitu senang melihat kedua bocah ini tertawa dan tertidur di depanku? " bisiknya.
Cia yang merasa haus terbangun dari tidurnya. Melihat sang Mommy tengah tersenyum memandangi dirinya.
"Ini dimana Mom? " Cia melihat sekeliling jalan yang tak di kenalinya.
"Mommy lupa arah jalan rumah El.
Apa kamu ingat Sayang? "
Cia hanya menggelengkan kepalanya sambil meneguk air di botol yang di belinya tadi di tempat yang Dia kunjungi.
"Cia bangunin Kak El aja ya Mom? " usulnya sambil menutup botol air minumnya.
"Jangan Sayang, kasian.
Kamu ingat gak jalan ke Rumah Sakit dimana Papinya di rawat?"
"Tau Mom, deket FlyOver yang mau ke Mall Mega" tutur Cia
Anna pun melajukan kembali mobilnya menuju Rumah Sakit.
Tak jauh. Hanya perlu waktu 30 menit mereka sampai di Rumah Sakit itu.
Anna mencoba membangunkan El dengan lembut. Di usapinya pipi putih ke merahan itu, "Sayang bangun. Udah sampai"
Samar-samar El mendengar suaru seorang wanita,matanya di buka dengan perlahan, di kucek pula kedua matanya dengan perlahan. "MOMMY? " celetuknya.
"Ah? " Anna tersenyum kaget mendengar ucapan El.
"Udah sampei Sayang. Ayo turun" Anna mengulurkan tangan kanannya pada El yang kini sudah sadar kalau yang berada di hadapannya adalah Mommynya Cia.
El mengedarkan pandangannya saat keluar dari mobil, "Ini Rumah Sakit tempat Papi Dani " batinnya.
Anna yang melihat ekspresi El kebingungan langsung menjelaskan alasannya kenapa Dia membawa El ke tempat itu.
El tak keberatan dengan dirinya yang di bawa ketempat itu, karena di tempat itu dia juga bisa beristirahat sekaligus menemani Papinya.
"Sayang, kamu ikut turun gak, nganterin El ke ruangan Papinya? Tanya Anna pada Cia yang sedang memejamkan matanya sebelah.
"Ikut Mom" jawabnya lemas.
Mommy dan anak gadisnya itu berjalan menemani El menemui Papi.
Saat El dan Cia tengah asyik bercanda sambil berjalan, tiba-tiba Cia menghentikan langkah kakinya. "Ada apa Sayang? " tanya Anna yang ikut melihat ke arah pandangan Cia menuju.
"Itu kok kaya Ayahnya Chaca, Mom" tunjuk Cia pada laki-laki yang sedang tertidur di samping tangan seorang gadis kecil yang terbaring di kasurnya.
Anna pun memperhatikan raut wajah laki-laki itu sekilas, dan mengajak Cia melanjutkan perjalannya. "Nanti kita mampir setelah mengantar El,ya".
Sesampainya di ruangan Dani dirawat, Anna tidak ikut masuk kedalam ruangan itu. Dia hanya mengantar sampai di depan pintu saja.
"Daaaaaaa" Cia melambaikan tangannya pada El, dan El pun membalas lambaian Cia.
Setelah beberapa langkah Anna baru tersadar kalau tas El yang masih di peganginya lupa tidak di kembalikan ke El.
"Sayang tunggu sebentar ya, Mommy kembalikan tas El dulu" titahnya sambil berlari kembali keruangan itu.
"Tok.. Tok.. Tok" Anna langsung mengetuk dan membuka pintu itu.
Dia berjalan menuju El yang kini sedang duduk memegangi tangan Papinya.
"Ini tas mu" Anna mengarahkan tas yang di peganginya sedari tadi pada El.
El pun menerima tas itu dan mengucapkan "Terimakasih ".
Anna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum,dan menyentuh tangan El yang masih memegangi tangan Papinya sehingga membuat Anna tak sengaja menyentuh tangan Dani.
Anna pun meninggalkan dua laki-laki itu disana. Dia dan Cia melanjutkan niatnya untuk menemui laki-laki yang di lihat Cia tadi.
Cia dan Mommy pun menghentikan langkahnya saat tepat berada di depan pintu ruangan yang bertuliskan Lavender.
"Tok.. Tok.. Tok.. " diketuknya pintu itu.
Tak lama seorang laki-laki berkemeja putih dan berdasi hitam membukakan pintu tersebut.
"Om Adeen" mulut Cia repleks saat melihat laki-laki di hadapannya itu.
"Eh Cia" sapa Adeen ramah.
Adeen pun mempersilahkan kedua wanita itu masuk kedalam ruangannya, dan mempersilahkan mereka duduk. Adeen juga memceritakan kenapa Chacha bisa di rawat di Rumah Sakit itu.
"Ini siapa? " tanya Adeen pada seorang wanita cantik di samping Cia.
"Ini Mommy Anna, Om"
"Ah ia, maaf saya lupa memperkenalkan diri.
Saya Anna" tuturnya sambil mengulurkan tangannya pada Adeen, dan Adeen pun menerima uluran tangan Anna " Saya Adeen " balasnya.
Adeen tersenyum melihat senyuman di wajah Anna. Hatinya yang sedari tadi bimbang akibat anak kesayangannya mengalami insiden tiba-tiba merasa debaran yang begitu kencang. "Ada apa denganku? Ingat, dia adalah istri orang. " batin laki-laki yang kini sedang salah tingkah di hadapan Anna.
APAKAH INI PENGALAMAN DARI AUTHOR SENDIRI. .. KRYA SPERTI GK MUNGKIN HNY SKEDAR CERITA HALU DOANK... PSTI PNGALAMAN PRIBADI..
semangat
mksh