NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Truth Serum

"Ci Keira," ucap Brandon pelan, "mau mempertimbangkan pria yang lebih baik?"

Kalau dunia ini punya tombol pause, aku akan menekannya hanya untuk menatap kamera imajiner dan bertanya, serius?

Brandon berdiri terlalu dekat. Bau parfumnya tajam, bercampur aroma rokok mahal yang menempel di jas. Senyumnya malas, matanya turun ke wajahku dengan keyakinan menjijikkan bahwa semua perempuan seharusnya merasa tersanjung.

Aku mundur satu langkah.

"Minggir."

Ia tertawa kecil. "Galak. Reynard mengajarimu?"

"Tidak. Aku lahir dengan kemampuan dasar menolak pria menjijikkan."

Senyumnya menegang.

[Peringatan: agresi meningkat.]

Brandon mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh daguku.

Sebelum jarinya sampai, suara dingin memotong udara.

"Sentuh dia, dan kau kehilangan tangan itu."

Brandon berhenti.

Aku menoleh.

Reynard berdiri di ujung koridor taman, Topeng Perak memantulkan cahaya mendung. Ia tidak berlari. Tidak berteriak. Tapi setiap langkahnya membuat udara terasa lebih berat.

Untuk pertama kalinya, senyum Brandon benar-benar hilang.

"Reynard." Ia menurunkan tangan. "Kami hanya bicara."

"Kau menghalangi jalan istriku."

Kata istriku itu jatuh pelan, tapi entah kenapa membuat telingaku panas.

Brandon melirikku, lalu tertawa sinis. "Tenang. Aku tidak akan mengambil barang yang tidak kau pakai."

Kalimat itu kotor.

Lebih kotor karena ia mengatakannya sambil tersenyum.

Aku bahkan belum sempat marah ketika Reynard sudah berada di depanku. Tangannya tidak menyentuhku, tapi tubuhnya menutupku dari Brandon.

"Pergi."

"Atau?"

"Atau aku lupa kita masih berada di rumah Herman."

Brandon menatapnya lama. Ada kebencian tua di matanya. Lalu ia mundur, merapikan jas seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kita lihat nanti," katanya.

Ia pergi ke arah ruang makan.

Aku baru sadar tanganku gemetar.

Reynard menoleh. "Kau terluka?"

"Tidak."

Kali ini bukan bohong. Secara fisik.

Secara mental, aku ingin melempar Brandon ke kolam ikan.

Reynard menatapku beberapa detik, seperti mendengar bagian terakhir itu terlalu jelas.

"Masuk," katanya. "Jangan sendirian."

Aku mengikuti dia kembali ke ruang makan utama. Di sana suasana sudah berubah. Herman berdiri di dekat sofa, wajahnya bingung. Monica memegang bahu Danny, sementara Celine duduk dengan wajah pucat tapi tetap mencoba terlihat anggun. Brandon masuk lebih dulu dan langsung duduk di samping Celine, seolah tidak baru saja mencoba mengunci jalan istriku.

Istriku.

Astaga, kenapa kata itu masih terngiang?

[Fokus, Host.]

Benar. Fokus.

Celine menatapku dari ujung sofa. "Ci Keira, kenapa lama sekali? Jangan-jangan tersesat di rumah sendiri?"

Monica tersenyum. "Keira memang sering begitu. Pikirannya suka melayang."

Reynard duduk di sampingku.

Aku menatap gelas jus di meja.

Di dalam Ruang Penyimpanan, sebuah botol kecil bertanda Truth Serum terasa seperti berkedip memanggil.

Aku tidak berniat memakainya hari ini.

Sungguh.

Tapi setelah Brandon di taman, setelah Celine sengaja memancing, setelah Monica terus menusuk dengan wajah ibu palsu, aku tiba-tiba merasa rumah ini terlalu lama nyaman dengan kebohongan.

[Truth Serum: membuat target mengatakan kebenaran yang sedang dipikirkan.]

[Durasi efektif: 15 menit.]

[Dosis kecil cukup untuk satu orang.]

Aku melihat Celine mengambil gelas sparkling grape juice miliknya. Ia selalu memilih gelas dengan potongan lemon, berbeda dari yang lain.

Tangan kiriku turun ke pangkuan.

[Transfer mikro selesai.]

Setetes cairan tak terlihat jatuh ke gelas Celine ketika pelayan lewat membawa nampan tambahan. Tidak ada yang melihat.

Kecuali mungkin Reynard.

Ia menatap gelas itu, lalu menatapku.

Aku menatap balik dengan ekspresi paling polos.

Jangan tanya. Ini demi keselamatan sosial.

Sudut matanya bergerak.

Celine mengangkat gelas. "Aku ingin bersulang untuk Ci Keira. Semoga menjadi istri yang baik untuk Ko Rey. Walaupun..." Ia tersenyum manis. "Tidak semua perempuan bisa membuat suaminya benar-benar bahagia."

Monica tertawa pelan.

Herman mengerutkan kening. "Celine."

Brandon bersandar dengan santai, jelas menikmati pertunjukan.

Celine menyesap minumannya.

Satu.

Dua.

Tiga detik.

Matanya tiba-tiba melebar.

"Sebenarnya aku tidak peduli apakah dia bisa membuat Reynard bahagia," katanya.

Ruangan hening.

Celine menutup mulutnya.

Terlambat.

Aku duduk lebih tegak.

Oh.

Ini bekerja.

Monica menatap putrinya. "Celine, apa yang kau katakan?"

Celine menggeleng panik. "Aku... aku tidak tahu. Aku hanya..."

Ia kembali bicara, lebih cepat, seperti kata-kata didorong keluar dari tenggorokannya.

"Aku cuma kesal karena Keira kelihatan lebih cantik daripada aku setelah menikah. Aku benci. Dulu Mama bilang dia harus dibuat kusam supaya tidak menarik perhatian. Tapi sekarang dia tetap mencuri perhatian."

Herman membeku.

Aku merasakan tubuh Keira dingin dari dalam.

Jadi Herman mendengar.

Monica pucat. "Celine!"

"Dan Brandon juga menatap dia terus!" Celine berbalik ke Brandon, air matanya mulai keluar. "Padahal dia selalu bilang aku tidak berguna. Dia bilang aku cantik, tapi di kamar dia marah karena dia tidak bisa..."

Brandon melonjak berdiri. "Diam!"

Tapi Truth Serum tidak peduli pada pria marah.

Celine terisak, kata-katanya pecah tetapi jelas. "Dia tidak bisa menyentuhku seperti pria normal. Setiap gagal, dia memukul meja, membanting barang, kadang mencengkeram tanganku sampai biru. Dia bilang salahku. Dia bilang aku tidak cukup menggoda. Padahal dia yang tidak bisa."

Sunyi setelah itu seperti kaca pecah yang belum jatuh.

Herman menatap Brandon dengan wajah tidak percaya.

Monica memegang sofa agar tidak jatuh.

Brandon memerah sampai leher.

Di kepalaku, Si Kepo mengeluarkan satu baris dingin.

[Rahasia Brandon: terbuka sebagian.]

Sebagian?

Apa lagi sisanya, paket neraka?

Brandon bergerak cepat.

Ia menendang kaki meja kecil, membuat gelas dan piring jatuh berantakan, lalu mendorong Celine sampai perempuan itu jatuh ke karpet.

"Aku bilang diam!"

Celine menjerit.

Reynard berdiri.

Anto tidak ada di sini, tapi Reynard tidak butuh Anto. Dalam satu langkah, ia sudah berada di antara Brandon dan Celine. Tangannya menahan dada Brandon, tidak keras, tapi cukup membuat pria itu tidak bisa maju.

"Satu langkah lagi," kata Reynard, "dan aku pastikan semua orang di Jakarta tahu apa yang baru saja dia katakan."

Brandon terengah. Untuk sesaat, aku melihat ketakutan di balik amarahnya.

Herman akhirnya bersuara. "Brandon. Keluar."

"Om Herman, dia berbohong!"

Celine, masih di lantai, tertawa sambil menangis. "Aku ingin berbohong. Aku ingin bilang kau hebat, kau kuat, kau laki-laki paling sempurna. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa berhenti bicara."

Monica menatapku.

Matanya tajam, penuh kecurigaan.

"Apa yang kau lakukan pada anakku?"

Aku berdiri perlahan. "Saya? Saya dari tadi duduk."

Benar secara teknis. Secara moral, mari kita bahas nanti.

Monica melangkah ke arahku. "Jangan pura-pura. Sejak kau datang, rumah ini kacau."

"Rumah ini sudah kacau sebelum saya datang," jawabku. "Saya hanya membuat semua orang mendengarnya."

Kalimat itu membuat wajah Monica mengeras.

Danny yang sejak tadi bingung melihat ibunya marah mulai menangis. "Mama jangan marah..."

"Danny, lihat kakakmu!" Monica berteriak, kehilangan kendali. "Dia menyakiti Celine!"

Danny berbalik padaku. Wajah kecilnya merah, panik, tidak benar-benar mengerti. Ia hanya tahu ibunya marah dan menunjuk aku.

"Jahat!" Danny berlari ke arahku, tangannya terangkat kacau.

[Power Pill effect: reflex aktif.]

Tubuhku bergerak sebelum pikiranku selesai.

Aku menggeser kaki, menangkap pergelangan tangannya dengan lembut, memutar sedikit agar momentumnya habis, lalu menurunkannya ke sofa terdekat. Tidak membanting. Tidak menyakiti. Hanya menghentikan.

Danny terdiam, kaget.

Aku berlutut di depannya. "Danny, dengar. Aku tidak akan menyakitimu."

Ia menangis lebih keras, tapi tidak menyerang lagi.

Tante Lina, yang sejak tadi berdiri di pinggir, langsung maju dan memeluk Danny dari belakang. "Ayo, Danny. Duduk dulu."

Monica menatapku seperti aku baru mempermalukannya di depan seluruh dunia.

Karena memang iya.

Herman berdiri dengan wajah merah.

"Cukup."

Suaranya berbeda.

Bukan suara pria yang ingin semua orang tenang. Ini suara pria yang akhirnya muak.

"Monica," katanya, "apa benar kau menyuruh Keira memakai riasan itu selama ini?"

Monica membuka mulut. "Herman, jangan dengarkan omong kosong anak-anak."

"Apa benar?"

Monica diam.

Di lantai, Celine masih menangis. "Mama yang suruh. Mama bilang kalau Keira terlalu cantik, Papa bisa ingat perempuan lain. Mama bilang Keira harus terlihat biasa saja."

Herman seperti ditampar tanpa tangan.

Lalu tangannya benar-benar bergerak.

Tamparan itu terdengar keras.

Monica terhuyung, memegang pipinya.

Seluruh ruangan membeku.

Herman menatapnya dengan mata merah. "Itu anakku."

Monica tertawa patah. "Anakmu? Baru sekarang kau ingat dia anakmu?"

Kalimat itu menusuk semua orang.

Herman tidak menjawab.

Tapi rasa bersalah di wajahnya lebih jujur daripada semua pembelaan.

Reynard kembali ke sampingku. "Kita pergi."

Aku melihat Celine di lantai. Untuk pertama kalinya, tidak ada kemenangan penuh di dadaku. Dia jahat. Dia menyakitiku. Tapi dia juga terluka, dan rumah ini menciptakan luka itu dengan sangat rapi.

Namun simpati tidak berarti membiarkan dia menginjakku lagi.

Aku menatap Monica. "Saya pulang dulu, Mama."

Kata Mama kali ini sengaja kupakai.

Untuk mengingatkan semua orang betapa palsunya panggilan itu.

Monica menatapku dengan kebencian terbuka.

Reynard berjalan di sampingku keluar dari rumah Liem. Tidak ada yang menghentikan kami. Bahkan Brandon hanya berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat, rahangnya bergetar oleh malu.

Di mobil, aku baru sadar tubuhku lelah.

Sangat lelah.

Anto mengemudi tanpa bertanya.

Reynard duduk diam di sebelahku.

Aku menatap tangan sendiri. Masih ada sisa gemetar di jari.

Tiba-tiba, tangan dingin menyentuh tanganku.

Reynard menggenggamnya.

Tidak keras.

Tapi cukup untuk membuat napasku berhenti.

"Hari ini," katanya pelan, "kau melakukannya dengan baik."

Sesuatu seperti listrik kecil naik dari telapak tangan ke dada.

Aku menoleh padanya.

Topeng Perak menutupi separuh wajahnya, tapi matanya tidak sedingin biasanya.

Tunggu.

Gay bisa menggenggam tangan perempuan seperti ini?

Reynard memejamkan mata sebentar.

Di sudut pandanganku, Si Kepo berkedip.

[Status: Host makin bingung.]

Aku juga, Kepo.

Aku juga.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!