Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Malaikat Di Balik Dinding Kontrakan
Nyonya Victoria memegang dadanya yang serasa sesak! ..
Dia mengingat tentang kejadian beberapa hari yang lalu, sudah menghina dan merendahkan gadis itu dengan mengatakan ingin menguras hartanya Adrian.
"Namun saat ini Nyonya victoria, melihat dengan mata kepala sendiri. bagaimana gadis itu justru sebaliknya- berbagi dengan orang lain! tidak ada di raut wajahnya seperti gadis lain yang akan mengincar harta putranya".
"Ya Tuhan ucap nyonya Victoria"!
Kemudian sang supir pun berkata; Nyonya lihat, gadis itu sangat baik hatinya.
Saya waktu itu sama mba inah sedang mengantar belanja ke pasar tradisional - Namun karena saya belum datang untuk menjemput karena ban mobil saya kempes di tengah jalan, jadi saya agak telat menjemput.
"Gadis itu membantu mba inah, membawa barang belanjaan padahal banyak" sampai ke parkiran.
Ketika saya datang! mba Inah ingin memberi dia uang tetapi gadis itu malah menolaknya- dia bilang dia ikhlas membantu.
'semua orang di sekeliling sini sudah tahu tentang kebaikan gadis itu! Nyonya'.
Mba inah kalau ke pasar tradisional sini, dia senang dan selalu mencari gadis itu. namun, akhir-akhir ini gadis itu jarang ada di pasar!
Saya juga baru melihatnya lagi sekarang di sini, ucap sang supir kepada nyonya victoria.
Nyonya Victoria hanya menganguk dan sekarang paham apa yang di katakan oleh supir nya.
Adrian pulang ke apartemennya dia membayangkan wajah Nala. saat beraktivitas tadi, meskipun Nala tadi hanya memakai kaos sederhana dan celana jeans yang sudah pudar tapi kecantikannya semakin mempesona.
"Adrian tersenyum bangga satu kata yang keluar dari mulutnya perfect."
Nyonya Victoria duduk di ruang kerjanya yang sunyi, memandangi kembali berkas penyelidikan tentang Sekretaris anaknya yang baru saja di dapat oleh kepercayaannya.
Kali ini, terbaru tertulis dengan jelas di baris paling atas, membuat tangan wanita sosialita itu sedikit bergetar.
Nama lengkap " Nala Putri." status: yatim piatu. kedua orang tuanya telah tiada sejak ia masih remaja akibat kecelakaan. tidak memiliki saudara kandung. tinggal sebatang kara di sebuah kontrakan petak kecil di kawasan padat penduduk.
Dia sekolah sampai menengah atas. Nala sempat melanjutkan kuliah selama satu tahun- dia berhenti karena tidak ada biaya!
"Namun dia sering membantu orang-orang di sekitar lingkungan tempat ia tinggal."
Nyonya Victoria meletakkan kertas itu dengan perlahan. Jantungnya berdenyut nyeri, sebagai seorang ibu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang gadis bisa bertahan hidup di ibukota sendirian tanpa kedua orang tua?...
Rasa bersalah kembali menyergapnya. kemarin di kantor, ia dengan sombongnya menghina pakaian sederhana Nala dan menyebutnya 'g.adis kampung oportunis'. padahal, dengan statusnya yang yatim piatu, "Nala harus memutar otak setiap hari hanya untuk membayar sewa kontrakan demi menyambung hidup."
Hebatnya, gadis itu tidak pernah mengeluh, selalu datang ke kantor dengan pakaian yang sangat rapi, bersih, dan memancarkan kecerdasan yang luar biasa.
" Nyonya" suara asisten rumah tangganya memotong lamunan Nyonya Victoria. "Pak Adrian baru saja pulang."
Victoria menarik napas dalam-dalam, merapikan dokumen itu ke dalam laci, lalu berjalan keluar untuk menemui putranya.
Di ruang tamu, Adrian tampak baru saja meletakkan jasnya di sofa. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya langsung menajam begitu melihat mama nya berjalan mendekat.
Sejak insiden pengusiran Marisa beberapa hari yang lalu ketika membuat kekacauan di kantornya!.
Hubungan Adrian dan mama nya memang menjadi sedikit renggang, Adrian menjadi sedikit sensitif jika ada hal yang menyangkut Nala Putri.
"Mama" sapa Adrian. suaranya terdengar datar defensif. "kalau mama datang ke rumahku malam ini hanya untuk membahas Marisa atau meminta mendaftarkan tuntutan hukumnya, jawabanku tetap sama. Marisa harus menerima konsekuensinya."
Victoria menghela napas, duduk di sofa berhadapan dengan putranya. "Adrian, mama kesini bukan untuk membela Marisa. Mama sudah tahu wanita itu busuk." victoria menjeda kalimatnya, menatap lekat mata putranya. "mama ke sini ingin bertanya tentang?... Nala putri."
Mendengar nama Nala disebut, radar protektif Adrian langsung menyala.
Rahangnya mengeras dan tubuhnya menegang! rasa posesifnya mendadak naik ke permukaan.
Ia mengira mama nya masih ingin mencari celah untuk menindas sekretaris kesayangan itu.
"Jangan sentuh Nala!..mah, " tegas Adrian.
Suaranya merendah namun penuh ancaman yang pekat. "Nala tidak punya salah apa-apa. dia gadis baik-baik, yatim piatu, dan bekerja dengan jujur.
"Jika mama mencoba menggunakan kekuasaan atau koneksi sosialita untuk menindas dan memecatnya dari belakangku, Aku tidak akan segan-segan memindahkan seluruh aset pribadiku keluar dari perusahaan keluarga!"
Victoria tertegun melihat bagaimana Adrian begitu meledak-ledak demi melindungi Nala.
Ini pertama kalinya ia melihat putranya seposesif dan seberani ini demi seorang wanita.
Namun, alih-alih marah seperti biasanya, Victoria justru tersenyum tipis.
"Tenang, Adrian. turunkan egomu." Victoria dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya, membuat Adrian mengernyitkan dahi kebingungan.
"Mama tidak berniat menjahatinya. mama justru...ingin tahu lebih banyak tentang dia."
Adrian menyipitkan matanya, masih menaruh curiga "untuk apa?"
"Mama kemarin melihatnya di pinggir jalan saat terjebak macet!"
Cerita Victoria jujur. dia sedang membagikan makanan untuk anak-anak jalanan dan pemulung.
Mama juga sudah membacanya latar belakangnya yang sebatang Kara di kontrakan kecil.
Mama...hanya terkejut! Bagaimana mungkin gadis yang hidupnya sesulit itu Masih memikirkan orang lain?"
Mendengar pengakuan ibunya, perlahan kepalan tangan Adrian mengendur. Ketegangan di wajahnya sedikit mencair.
"Nala memang seperti itu. "mah! ucap Adrian.
Suaranya melunak, ada nada kebanggaan yang terselip di sana.
'Dia tidak cuman bantu anak jalanan. kalau hari libur, dia sering bantu tetangga kontrakannya yang jualan tanpa minta upah sepeserpun'.
Bahkan preman-preman di pasar dekat kontrakannya sangat menghormati Nala.
"Karena Nala pernah mengobati salah satu dari mereka yang terluka. dia... memiliki hati yang tidak bisa dinilai dengan uang."
Victoria mengangguk-ngangguk, hatinya semakin luluh. "Gadis sekokoh itu... !
Dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Adrian, mama rasa, kesederhanaan itu justru adalah kemewahan yang sesungguhnya.
Victoria berdiri. menepuk pundak Adrian pelan, "mama pulang dulu. jagalah dia baik-baik di kantor. jangan biarkan pria lain seperti Kevin itu mengambilnya darimu."
Adrian terpaku di tempatnya. iya tidak salah dengar, kan? mama nya baru saja memberikan lampu hijau dan restu?
"Bagaimana mama tahu, kalau Kevin menyukai Nala? "
Pasti mama sudah menyelidiki semua tentang latar belakang Nala.!
Hari Sabtu tiba. hari di mana kantor libur. di sebuah gang sempit kawasan permukiman padat, Nala Putri sedang sibuk membantu seorang nenek tua tetangganya - untuk membungkus gorengan yang akan dijual sore nanti.
Dengan rambut yang dicepol rapi dan kaos oblong abu-abu, Nala tampak sangat cekatan.
"Nala, sudah...kamu ini baru libur kerja, malah repot-repot bantu nenek dari pagi," ucap si nenek merasa tidak enak.
Nala tersenyum manis. memperlihatkan wajahnya yang cantik alami, tidak apa-apa! ...nek.
Nala kan sendirian di kontrakan, daripada melamun lebih baik bantu nenek. Lagi pula, nenek kan sudah seperti keluarga Nala sendiri.
'Tiba-tiba suasana gang yang tadinya bising oleh suara anak-anak mendadaknya senyap'.
Beberapa warga mulai berbisik-bisik heboh.
Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat mengkilap. yang jelas-jelas tidak cocok berada di kawasan kumuh itu!
Perlahan masuk dan berhenti tepat di depan kontrakan petak milik Nala.
Pintu belakang mobil terbuka!
Nala tertegun, hampir menjatuhkan penjepit gorengan di tangannya saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut?.
'Bukan Adrian. melainkan Nyonya Victoria'. wanita sosialita itu turun dengan anggun .
Menggenakan pakaian kasual yang tetap terlihat mahal. beberapa pengawal di belakangnya tampak membawa beberapa kotak besar berisi sembako premium dan barang kebutuhan rumah tangga.
Victoria berjalan mendekati Nala yang masih mematung.
Senyuman hangat- yang belum pernah Nala lihat sebelumnya di kantor, kini terkembang di Wajah Ibu sang CEO.
"Selamat siang, Nala Putri," sapa Victoria lembut. " Maaf ibu datang mendadak ke rumahmu yang...minimalis ini.
'Ibu ke sini bukan sebagai ibunya CEO, tapi seorang ibu yang ingin bertamu ke rumah gadis hebat yang sudah menyelamatkan perusahaan putra ibu".
Nala mengerjapkan matanya. benar-benar tidak menyangka bahwa badai besar yang ia hadapi seminggu yang lalu!
Bisa merubah pikiran - Nyonya victoria wanita sosialita , yang sombong dan angkuh itu!.
Di dalam mobilnya yang melaju membelah jalanan kota, napas Adrian memburu.
Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Beberapa menit yang lalu, asisten kepercayaannya memberi kabar darurat bahwa Nyonya Victoria terlihat memasuki kawasan gang sempit tempat kontrakan Nala Putri berada.
"Sial! Apa yang sebenarnya mama rencanakan?"umpat Ardian dengan rahang mengeras.
Pikirannya dipenuhi ketakutan. Adrian sangat khawatir jika sikap lembut ibunya semalam hanyalah sebuah taktik atau kepura-puraan untuk mendekati Nala dan menyakitinya tanpa sepengetahuannya.
Mengingat status Nala yang yatim piatu dan sebatang kara. Adrian merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk melindungi gadis itu.
'Ia Langsung menginjak pedal gas lebih dalam, mengabaikan jadwal rapat sorenya demi memastikan keselamatan sekretaris kesayangannya'.
Sementara itu. di depan kontrakan kecil Nala, pemandangan yang tersaji justru sebaliknya.
Nyonya Victoria sedang duduk di sebuah kursi plastik Sederhana di bawah kanopi teras.
Di atas meja kayu kecil, tersaji sepiring gorengan hangat yang tadi dibuat Nala bersama tetangganya.
"Silahkan diminum tehnya!" Nyonya.
Maap, tempatnya sangat tidak nyaman untuk tamu sekelas
anda; ucap Nala dengan senyum sopan, meletakkan secangkir teh hangat.
Victoria menyesap teh itu, lalu menatap sekeliling. dari tempatnya duduk, ia bisa melihat bagaimana para tetangga, anak-anak kecil, bahkan beberapa pemuda setempat yang penampilannya tampak seperti preman jalanan- menyapa Nala dengan hormat dan tulus.
Mereka semua tampak menjaga Nala, seperti adik atau anak mereka sendiri karena kebaikan Nala yang suka menolong tanpa pamrih selama ini.
"Tidak apa-apa, Nala. tempat ini memang kecil, tapi auranya sangat hangat; ujar Victoria, matanya melembut melihat ketulusan yang memancarkan dari wajah cantik gadis itu.
Cittt!
Suara derit ban mobil Adrian yang berhenti mendadak di ujung gang membuat beberapa warga menoleh kaget.
Adrian keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan setelan jas mewahnya yang kini mulai terkena debu jalanan. ia setengah berlari menuju kontrakan Nala.
Begitu sampai di depan kontrakan Nala, Adrian langsung memposisikan tubuhnya di depan Nala. 'mama ! Apa yang mama lakukan di sini?'
Aku sudah bilang jangan pernah mengganggu kehidupan pribadi Nala!"
Sentak Adrian dengan napas terengah-engah, mata tajamnya menatap sang mama nya, dengan penuh kewaspadaan.
Nala terkejut melihat kedatangan bosnya yang mendadak. "pak Adrian? Tenang dulu. Pak. Nyonya Victoria ke sini tidak bermaksud jahat..."
Nyonya Victoria hanya menghela napas panjang melihat kepanikan sang putranya.
Ia berdiri dari kursi plastiknya, merapikan pakaiannya. lalu menepuk lengan Adrian. Adrian, hapus pikiran burukmu tentang mama mu ini.
Mama ke sini, justru untuk mengantarkan sembako dan melihat sendiri bagaimana gadis pilihanmu ini hidup.
Victoria menoleh ke arah Nala, lalu tersenyum hangat. "Nala, terima kasih atas teh dan gorengannya. saya pulang dulu".
Adrian. jangan terlalu galak pada mama mu sendiri.
Adrian terpaku, di tempatnya. saat melihat mama nya berjalan dengan anggun kembali ke mobil sambil melambaikan tangan, dengan ramah pada anak-anak kecil di gang.
Setelah mobil ibunya pergi, Adrian berbalik menatap Nala dengan tatapan bersalah namun posesif.
"kamu...benar-benar tidak diapa-apakan oleh mama ku? "tanya Adrian, suaranya berubah lembut drastis.
Jemarinya hampir menyentuh pundak Nala. sebelum ia menahannya karena sadar mereka berada di tempat umum.
Nala hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepala melihat sisi protektif Adrian yang begitu menggemaskan.
Syukurlah Nala! kalau mama ku, tidak melakukan menghina atau menindasmu. Sekarang aku lega- kalau begitu aku pulang ya Nala.
"Adrian pun melangkahkan kakinya dan masuk ke mobilnya! sambil melambaikan tangan ke arah Nala".
Nala pun membalas lambaian tangan Adrian. lalu berkata hati-hati Pak Adrian di jalannya!
Adrian tersenyum! membalas dan menjawab Oke Nala ,sampai ketemu besok hari Senin di kantor.
"Hari Senin tiba, dan atmosfer di kantor berubah total. Kevin, si staf populer dari divisi pemasaran, kini tampak jaga jarak dari Nala".
Meskipun tidak mendendam atas penolakan cinta beberapa hari yang lalu, Kevin memilih bersikap profesional dan agak menjauh demi menghormati perasaan Nala yang menyukai Adrian".
Tetapi Kevin tetap menyayangi Nala sebagai adiknya meskipun bukan adik kandung sendiri!
Kevin sudah berjanji akan melindungi Nala, jika ada orang yang menyakitinya termasuk bosnya sendiri Pak Adrian.
Ketika berjalan di lorong koridor Nala dan kevin bertemu, secara tidak sengaja.
Nala dengan tersenyum, lalu menyapa Kevin, dengan senyum manis.
Kak Kevin, gimana kabarnya hari ini ucap Nala dengan suara lembut?
kevin menjawab sapaan Nala,
Kabar saya baik Nala. lalu bagaimana dengan kabarmu hari ini?
kabar saya juga baik. kak Kevin Ucap Nala dengan suara sopan, dan lembut.
'Nala, membuka tas bekal makanannya lalu mengeluarkan kotak makanan, dan berkata;
Kak Kevin, tadi aku di rumah membuat bekal makanan yang banyak. ini ada bekal makanan buat sarapan pagi kak Kevin. Sambil menyodorkan kotak makanan ke tangan Kevin.
'Dari kejauhan Adrian melihat Nala dan Kevin, tampak akrab! Bahkan Nala, sedang memberikan sebuah kotak makanan untuk Kevin'.
Tatapan tajam Adrian, dari kejauhan sambil mengepalkan tangannya!....
"Hai pembaca! Selamat datang di puncak kecemburuan Pak Adrian. Sebelum lanjut ke bab berikutnya, coba tebak di kolom komentar; apa yang bakal terjadi sama kotak makanan Kevin kalau Adrian lewat? Sampai jumpa di BAB: 10, singa ngamuk di kantor. Jangan lupa like dan komentar karena dukungan dari anda sangat berarti bagi author, terima kasih".
Salam hangat "sevda Aryan "