Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Di Surabaya, kondisi Linda semakin membaik. Ia juga selalu diajak bicara oleh Dokter Rizwan.
Dokter Rizwan pun memberi saran kepada Ibu Amira agar mengajak Linda melakukan berbagai aktivitas, seperti berolahraga, yoga, dan berjalan-jalan di sekitar vila. Dokter itu juga menjelaskan bahwa kesehatan mental Linda saat ini sudah cukup membaik. Ia hanya perlu lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan dan orang terdekat, mulai merawat diri, serta belajar mengelola stres—tetapi tetap harus didampingi oleh Ibu Amira.
Saat itu, Linda sedang berbaring di kamar. Rencananya, Ibu Amira akan mengajaknya keluar untuk menghirup udara segar sekaligus berjemur. Ibu Amira masuk bersama Yuni.
“Linda,” panggil Ibu Amira.
Linda menoleh ke arah ibu mertuanya, lalu berusaha bangkit untuk duduk.
“Apakah kondisimu sudah lebih baik?” tanya ibu mertuanya.
“Ya, lumayan, Bu. Luka-luka di pergelangan tangan dan kakiku sudah mulai mengering,” jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu. Kami berencana mengajakmu berjalan-jalan sebentar di sekitar vila saja. Aku khawatir kamu bosan terus berada di kamar,” sahut Yuni.
“Benar, aku memang sudah bosan di sini. Ayo, kita keluar! Aku ingin menghirup udara segar.”
Linda pun turun dari tempat tidur dengan bantuan Yuni dan Ibu Amira. Mereka bertiga lalu keluar dari kamar dan menuruni tangga.
Sesampainya di luar, Linda merasa sangat senang. Ia menghirup udara segar dalam-dalam, karena selama ini ia seolah terkurung dan tak pernah merasakan bebasnya udara luar.
“Kamu senang?” tanya Yuni.
“Ya, aku sangat senang, Yuni. Rasanya seperti baru pertama kali aku merasakan udara yang bebas.” jawab nya.
“Aku senang jika Linda senang. Ayo, kita keliling di sekitar sini,” ajak Yuni, diikuti oleh Ibu Amira yang berjalan di samping Linda.
Linda tampak sangat bersemangat saat berkeliling di sekitar vila itu. Ia terus berceloteh sambil menunjuk ke kanan dan ke kiri. Hingga waktu berlalu, mereka pun memutuskan menyudahi kegiatan dan masuk ke dalam vila untuk beristirahat.
Di dalam, sudah ada Seno bersama asistennya, Pak Karyo.
“Sepertinya kalian lelah sekali,” ucap Seno ketika ketiganya masuk.
“Ya, kami memang sangat lelah. Bolehkah aku duduk?” tanya Linda.
“Tentu boleh, Linda. Silakan duduk. Siapa yang berani melarang mu?” sahut Yuni, lalu mengajak sahabatnya itu duduk.
“Terima kasih, kamu sungguh baik sekali, Yuni,” puji Linda.
“Yuni itu sahabatmu, Linda. Sudah sewajarnya ia bersikap baik padamu,” ucap Ibu Amira.
“Sebentar lagi waktu makan siang. Aku mau ke ruang kerja sebentar, nanti aku kembali lagi ke sini,” kata Seno berpamitan.
“Baiklah, Mas. Jangan terlalu lama,” sahut Yuni. Seno pun berjalan pergi bersama asistennya.
.
.
.
Di tempat lain, di rumah megah milik Anton, Risma sedang bersiap-siap untuk pergi tanpa ditemani suaminya. Ia akan berangkat bersama Henri—kekasih gelapnya—serta adiknya, Yuli, dan suami Yuli, Rafa. Rencana mereka adalah mengunjungi sebuah rumah bordil di pinggiran kota, tempat rahasia yang nyaris tak diketahui siapa pun, bahkan oleh aparat kepolisian sekalipun.
Saat itu, Anton melihat istrinya sibuk bersiap. Ia mendekat lalu memeluk Risma dari belakang.
“Kau mau ke mana, Risma? Tidakkah kau merindukanku?” bisiknya sambil mencium leher Risma, yang membuat wanita itu merasa geli.
“Ehm, Mas. Aku merindukanmu, tapi aku harus pergi sebentar. Ada urusan dengan temanku,” jawab Risma, yang seketika membuat cumbuan Anton terhenti.
“Baiklah, aku tunggu kepulanganmu,” ucap Anton dengan nada kecewa karena ajakannya ditolak.
“Aku berjanji, sepulang nanti aku akan memanjakanmu lebih dari biasanya,” bisik Risma menggoda sambil tersenyum.
“Aku pegang janjimu itu,” kata Anton, lalu mencium kening Risma dan meninggalkan kamar.
“Huah, untung saja aku bisa menahannya tadi. Kalau tidak, pasti aku gagal pergi ke tempat itu bersama Henri,” gumam Risma dalam hati. Sebenarnya, Risma sudah tidak lagi mencintai Anton. Bahkan ia telah menyusun banyak rencana untuk menyingkirkan suaminya itu—setelah harta warisan dan hak kepemilikan perusahaan jatuh ke tangan Angga. Setelah itu, ia juga berniat menyingkirkan mertuanya serta Kiara, yang selama ini dianggapnya sebagai pengganggu.
Tak lama kemudian, Risma keluar dari kamar dan berpamitan pada Anton. Sesaat setelah Risma pergi, Anton meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Cari tahu ke mana istriku pergi, dan dengan siapa ia berangkat.”
“Siap, Tuan,” jawab suara di seberang, lalu sambungan terputus. Sebenarnya, Anton sudah lama menaruh kecurigaan terhadap Risma dan Henri, namun ia memilih memendamnya dan menunggu waktu yang tepat untuk membongkar semuanya.
Di sisi lain, Kiara juga baru saja keluar dari kamarnya. Ia telah berdandan sangat cantik dan mengenakan gaun yang anggun untuk berkunjung ke Kantor Anugerah.
Saat melewati tempat Anton berdiri, ia dipanggil oleh priA itu.
“Mau ke mana kau?” tanya Anton dengan nada datar.
“Aku sudah pernah bilang padamu, Paman Anton. Aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kau duga sebelumnya. Permisi, aku harus pergi sekarang,” jawab Kiara tegas, lalu bergegas meninggalkan Anton yang tampak diliputi rasa kesal.
.
.
.
Di gedung Kantor Anugerah yang menjulang tinggi, Kiara telah tiba. Ia melangkah masuk melewati sejumlah orang di sana, dan penampilannya membuat semua orang terkejut.
Semua tertegun melihat Kiara yang tampak bak bidadari turun dari surga. Ia berjalan dengan gaya yang elegan dan anggun. Banyak yang menyapanya, namun tak sedikit pula yang merasa penasaran dengan sosok Kiara. Sebagian menduga ia adalah calon istri Angga, sementara yang lain mengira ia adalah adik Angga yang tak pernah diperkenalkan ke publik.
Kiara masuk ke dalam lift menuju ruangan Angga di lantai atas. Tak lama kemudian, ia sampai dan keluar dari lift. Tanpa sepengetahuannya, di dalam ruangan itu sudah berkumpul para Dewan Direksi—yang adalah sahabat lama mendiang ayah Kiara.
Dengan tenang dan anggun, Kiara melangkah masuk ke ruang kerja Angga. Kehadirannya seketika membuat semua orang di sana terkejut dan tercengang. Terlebih para Dewan Direksi, mereka merasa seolah sedang melihat sosok yang sangat dikenali, namun tak segera ingat siapa dia.
Angga yang merasa kesal melihat kedatangan Kiara, segera bangkit dan menariknya keluar dari ruangan.
“Kau mau apa datang ke sini, hah?” tanya Angga dengan suara pelan namun penuh penekanan.
“Aku sudah bilang, aku akan nekat datang ke sini,” jawab Kiara dengan nada yang sama tenangnya.
“Jangan membuat masalah di sini! Tidakkah kau lihat bahwa di dalam ada para Dewan Direksi?” sergah Angga.
“Wah, maaf sekali, Kakakku sayang. Aku tidak tahu kalau mereka adalah Dewan Direksi. Bukankah ini justru keberuntungan bagiku?” ucap Kiara sambil menyunggingkan senyum sinis seolah sedang menantang Angga.
“Jangan menantang ku! Pulanglah sekarang, atau aku akan—”
“Akan apa? Memukulku? Silakan saja,” bisik Kiara pelan.
“Lakukanlah, tapi ingat—nama baikmu akan hancur di mata mereka,” sahut Kiara sambil menunjuk ke arah pintu ruangan.
“Sialan! Sebenarnya apa yang kau inginkan, hah?”
“Aku hanya menuntut apa yang menjadi hakku: perusahaan ku, serta seluruh aset dan saham yang pernah dimiliki oleh mendiang ayahku,” bisik Kiara—kata-kata itu seketika membuat Angga terdiam kaku.
Tanpa menunggu jawaban, Kiara berbalik dan masuk kembali ke dalam ruangan, tak mampu dicegah oleh Angga.
Sementara itu, Angga masih berdiri di tempatnya, menahan rasa kesal dan amarah yang nyaris meledak.
Bersambung