Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.tebasan melampaui langit S1 END
*BOOM!*
Blood_Emperor menerjang. Di dalam domain darah miliknya, gerakannya berubah jadi untaian bayangan merah yang melesat zig-zag, menghancurkan sisa-sisa pilar batu di Altar Langit.
Efek penalti *Agility* sebesar 40% bener-bener kerasa berat di tubuh virtual gua. Jinho di luar pasti lagi teriak-teriak panik ngeliat indikator status gua yang berubah warna jadi ungu pekat, tanda kalau mobilitas gua dikunci abis.
"Mati lu, Jin-woo! *[Crimson Executions - Eksekusi Merah]*!!"
Blood_Emperor muncul tepat di atas kepala gua. *Greatsword* hitamnya menyala merah darah, membelah udara dalam bentuk tebakan vertikal maut yang siap ngebelah tubuh gua jadi dua bagian. Kecepatan dan bobot serangannya udah gak menyisakan ruang buat menghindar, apalagi dalam kondisi kaki gua yang serasa ketanam di rawa darah.
2,5 juta penonton di kolom *live chat* mendadak hening. Ini dia momen penentuan.
Tapi di dalam kokpit *Sovereign Edition*, gua justru ngelepasin semua ketegangan di otot gua. Gua merem.
Gua gak nyoba buat ngeliat pergerakan pedangnya pake mata virtual. Gua gak nyoba buat gerakin kaki gua yang berat. Di dalam ajaran tertinggi Aliran Pedang Kelana, ada sebuah konsep bernama **[Mind’s Eye - Mata Pikiran]**.
Ketika kecepatan tubuh lu dibatasi oleh dunia, maka lu harus memotong menggunakan kecepatan pikiran. Sebelum Blood_Emperor mengayunkan pedangnya, otaknya harus mengirimkan sinyal niat bertarung ke sistem game. Dan di dalam enkripsi saraf 100% *Sovereign Edition*, gua bisa ngerasain fluktuasi sinyal niat itu sejelas kilat di malam gelap.
*‘Satu sentimeter ke kiri dari titik pusat zirah dadanya... di situ letak inti energinya.’*
Mata gua melek. Sepasang mata emas gua berkilat, memancarkan aura dingin yang bener-bener pekat.
**[Aliran Pedang Kelana... Bentuk Pamungkas]**
**[Void Flash - Kilatan Hampa]**
*CRING!*
Gua gak ngayunin pedang dari bawah ke atas buat nahan. Gerakan gua cuma satu tusukan lurus ke depan yang super sederhana. Tapi, kecepatan tusukan itu... melampaui batas *frame rate* yang bisa ditangkap oleh server LFG.
Itu adalah tusukan yang dilepaskan bukan berdasarkan refleks fisik, melainkan mendahului niat serang lawan.
*JLEEESS!*
Suara desingan tajam memotong jalannya pertempuran. Badai aura merah darah milik Blood_Emperor mendadak berhenti total di udara.
*Greatsword* raksasanya mandek tepat tiga sentimeter di atas tudung hitam gua. Angin kencang yang dihasilkan dari sisa momentum serangannya bikin jubah gua berkibar liar, tapi tubuh gua gak bergeser satu milimeter pun.
"B-Bagaimana... bisa...?" Blood_Emperor melotot, matanya gemeteran hebat menatap ke bawah.
Ujung pedang besi standar gua udah tertanam sedalam lima belas sentimeter tepat di celah terkecil zirah dadanya—menembus langsung ke jantung virtualnya sebelum *Greatsword*-nya sempat menyelesaikan jalur tebasannya.
Ini adalah **[Tebasan Melampaui Niat]**. Serangan yang mendarat bahkan sebelum musuh sempat mengeksekusi perintah gerakannya sendiri. Karena serangan ini masuk di sela-sela *frame* sistem, efek *Lifesteal* 100% milik domain darahnya gak sempat terpicu sama sekali.
**[Sistem: SERANGAN FATAL MUTLAK!]**
**[Damage murni menembus batas pertahanan!]**
**[Status: Instakill (Kematian Instan) Terpicu!]**
*CRACK... CRACK...*
Retakan cahaya emas raksasa mulai bermunculan di seluruh tubuh zirah berat Blood_Emperor. Peringkat 1 seluruh server itu perlahan menurunkan pedang raksasanya yang mulai retak jadi debu digital. Dia natap gua dengan tatapan yang gak lagi berisi kemarahan, melainkan rasa kagum dan hormat yang luar biasa dari seorang gamer sejati.
"Lu... bener-bener... seorang *Sword God*," bisik Blood_Emperor sambil tersenyum tipis, sebelum seluruh tubuh karakternya hancur berkeping-keping.
*BOOOOOOM!!!*
Ledakan partikel cahaya emas dan merah darah yang sangat masif meledak di atas Altar Langit Tertinggi, menerangi seluruh jagat raya virtual malam itu. Domain darah hancur, menyisakan gua yang berdiri tegak sendirian di bawah guyuran hujan cahaya digital yang indah bagai kembang api.
**[SISTEM: PEMENANG PERTANDINGAN – SWORDGOD77!]**
**[WAKTU PERTANDINGAN: 00:18 DETIK]**
**[PENGUMUMAN: TURNAMEN LFG MUSIM 7 RESMI BERAKHIR!]**
**[JUARA PERTAMA SEJATI: SWORDGOD77 (LV. 2 - NOVICE)!]**
Hening sejenak... lalu platform LFG bener-bener meledak dalam sejarah internet dunia.
Angka penonton menyentuh rekor absurd **3.200.000 penonton serentak**, sebelum akhirnya seluruh sistem komentar *crash* dan mati total karena gak kuat nampung luapan emosi jutaan orang di seluruh dunia.
Gua nurunin pedang besi gua, memasukinya kembali ke sarungnya di pinggang. Gua natap langit malam virtual yang dipenuhi bintang, lalu narik tudung hitam gua sedikit ke atas, memperlihatkan muka gua sepenuhnya ke arah kamera siaran buat pertama dan terakhir kalinya.
"Hadiah seratus dua puluh juta won... resmi gua ambil," ucap gua santai sambil tersenyum lebar. "Turnamennya seru. Makasih buat semuanya."
Gua nekan tombol *log-out*.
*Zzzzzzt.*
Begitu pintu kokpit *Sovereign Edition* terbuka dengan desisan uap dingin, gua langsung disambut sama keheningan kamar kosan gua. Gua narik napas dalem-dalem, ngerasain tubuh asli gua yang seger bener tanpa ada rasa sakit atau pusing sedikit pun. Stabilisator s-Teknologi bener-bener udah nyembuhin trauma saraf gua.
Gua keluar dari *capsule*, dan hal pertama yang gua liat adalah Jinho yang lagi duduk bersimpuh di lantai sambil nangis sesenggukan meluk laptopnya.
"Ji... Jinho? Lu napa melow begitu, kampret?" tanya gua sambil nyari kaos oblong bersih.
Jinho nengok ke gua dengan muka yang penuh air mata tapi senyumnya lebar banget sampai telinga. Dia nunjukin layar laptopnya yang nampilin dasbor saldo akun *streaming* kami.
"Ji..." Suara Jinho gemeteran parah, megap-megap kayak abis lari maraton. "Lu... lu gak cuma dapet hadiah utama seratus dua puluh juta won dari turnamen..."
"Terus?"
"Total saweran, donasi global, sama bagi hasil iklan dari s-Teknologi malam ini... nilainya tembus **Satu Miliar Dua Ratus Juta Won (Rp 13 Miliar+)**, Jin-woo!!!" Jinho teriak histeris sambil ngelempar bantalnya ke langit-langit kosan. "Kita kaya, Ji! Kita bisa beli gedung kosan ini beserta distriknya sekalian!!!"
Gua terpaku sebentar ngeliat angka nol yang berjejer panjang di layar laptop Jinho. Satu miliar dua ratus juta won... sebuah angka yang gak pernah terbayangkan oleh seorang Kang Jin-woo yang tiga hari lalu cuma bisa makan mi instan bagi dua.
Gua jalan ke arah jendela kosan, ngebuka gordennya dan menatap lampu-lampu kota Seoul yang berkilauan di malam hari.
Gua tersenyum tipis, meraba dada gua di mana jiwa sang pendekar kelana masa lalu bersemayam. Petualangan gua di dunia modern ini baru aja dimulai. Dan kali ini, gua gak bakal bertarung sebagai pendekar miskin yang terlupakan... melainkan sebagai sang legenda tertinggi dunia virtual.
*Sword God* yang sesungguhnya.
**[TAMAT]**