Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menguatkan
Pintu ruangan operasi akhirnya terbuka. Dokter perempuan yang menangani Natari keluar bersama asistennya.
"Dokter, bagaimana anak saya?" tanya Mami Tiara.
"Operasi nya sudah selesai namun keadaannya masih kritis. Benturan di kepalanya cukup kuat karena korban tak menggunakan sabuk pengaman. Kita akan melihat perkembangannya selama 48 jam. Jika korban bisa siuman, maka korban pasti selamat."
Mami Tiara langsung merasakan seluruh bagian tubuhnya ikut hancur mendengar penjelasan dokter itu. Natari adalah putri bungsunya. Anak itu lahir disaat Tiara berpikir bahwa ia tak mungkin hamil lagi. Kedua kakak lelaki Natari sudah berusia 18 dan 16 tahun saat Natari lahir.
"Mami, duduk dulu. Jangan berputus asa. Kita masih punya harapan." hibur Sinta sambil memegang tubuh mami Tiara dan membawanya ke kursi yang ada di depan ruang operasi itu. Aldi yang adalah seorang dokter, nampak meminta penjelasan secara mendetail mengenai keadaan kekasihnya itu.
"Mami, kita tidak diijinkan untuk melihat keadaan Nata. Jadi sebaiknya mami pulang saja dan beristirahat. Biar kami saja yang berjaga." kata Arsen.
"Nggak bisa, nak. Rumah mami jauh dari tempat ini. Mami nggak mau sesuatu terjadi dan mami terlambat datang." Tiara menolak.
Aldi mendekat. "Aku sudah menyewa sebuah penginapan di kompleks rumah sakit ini. Penginapan yang dikhususkan untuk keluarga pasien. Mami sebaiknya istirahat di sana saja."
"Tapi....." Tiara nampak enggan meninggalkan putrinya.
"Aku akan menjaga Nata di sini." kata Aldi.
"Kami akan bergantian." kata ujar Arsen sambil menepuk pundak Aldi sebagai tanda dukungan.
Mami Tiara akhirnya mau juga di bawa ke tempat peristirahatan. Aldi sengaja memberikan dia minuman yang sudah dicampurkan dengan obat penenang agar perempuan paru baya itu bisa tertidur.
Menjelang subuh, Arsen melangkah menuju ke kondominium itu. Ia merasa sangat lelah. Saat ia masuk ke dalam, nampak Sinta yang tertidur di sofa, sementara mami Tiara tertidur di dalam kamar yang pintunya tidak dikunci.
Arsen mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Sinta. Tangannya menyingkapkan rambut Sinta yang menutupi wajahnya. Ia tahu kalau Sinta pasti belum lama tertidur karena ia sangat menyayangi Natari.
"Maafkan aku, Sinta. Karena keinginanku ingin memilikimu, bibiku sampai nekat melakukan hal ini padamu." kata Arsen dalam hati.
Ia kemudian duduk di atas karpet, tepat di samping sofa tempat Sinta tidur. Kepalanya diletakkan di pinggiran sofa, tepat di samping tangan Sinta.
***********
Pagi pun tiba. Mahendra memeriksa ponselnya selesai mandi. Tak ada panggilan atau pesan dari Sinta.
Lelaki yang baru selesai mandi itu segera menghubungi istri keduanya. Ponsel Sinta tak bisa dihubungi. Ia segera membuka aplikasi di ponselnya untuk melacak keberadaan signal ponsel Sinta. Dahi lelaki itu langsung berkerut saat menyadari kalau itu di kompleks sebuah rumah sakit swasta. Ia pun menelepon mbo Sarmi.
"Sejak kemarin, nyonya ke kota. Sahabat nyonya yang bernama nona Natari mengalami kecelakaan. Nyonya kelihatan sangat khawatir karena keadaannya kritis."
"Siapa yang mengantar Sinta ke kota?" tanya Mahendra.
"Tuan Arsen."
"Terima kasih, mbo." Mahendra merasakan kalau kepalanya langsung tegang. Ia melepaskan handuk di pinggangnya lalu segera membuka lemari dan mengambil pakaiannya, setelah itu Mahendra keluar kamar. Nampak Gizel yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Sayang, mau kemana? Sarapannya hampir siap."
"Aku keluar sebentar." Mahendra mempercepat langkah kakinya. I segera masuk ke mobilnya dan pergi. Gizel nampak kesal karena suaminya tak menghargai sarapan yang sudah dia siapkan.
Ponsel Gizel berbunyi. Ia kaget melihat ada panggilan dari Cakra. "Mau apalagi kamu?"
"Aku ada di depan rumahmu. Aku ingin kita ketemu."
"Kamu gila!" Gizel mematikan ponselnya dan segera kembali ke meja makan.
************
Mobil Mahendra sudah terparkir di tempat parkir rumah sakit yang dekat dengan titik koordinat ponsel Sinta.
Ia turun dengan tergesa dari mobil dan menyadari bahwa titik koordinat itu bukan berada di dalam rumah sakit namun kondominium yang biasa disewakan untuk keluarga pasien.
Langkah Mahendra berhenti tepat di depan kamar bernomor 20A.
Ia dapat melihat kalau pintu depan tak sepenuhnya tertutup. Makanya Mahendra mencoba mengintip ke dalam. Matanya langsung tertuju pada Sinta yang tertidur di atas sofa dan Arsen yang duduk di atas karpet sambil kepalanya ada di dekat tangan Sinta.
Lelaki itu bermaksud akan masuk saja namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Arsen yang akhirnya terbangun.
Lelaki itu nampak mengerjakan tubuhnya yang mungkin agak kaku karena cara tidur yang tidak dalam posisi yang baik.
Lelaki itu akhirnya berdiri. Ia memperbaiki letak selimut di tubuh Sinta lalu segera ke kamar mandi.
Tiba-tiba sebuah ponsel di atas meja berbunyi. Sinta terbangun. Ia melihat ke arah ponsel itu dan segera menerima panggilan itu. "Hallo Aldi. Ada apa?"
"Ta, cepatlah ke sini, bangunkan mami Tiara. Keadaan Natari semakin kritis."
"Astaghfirullah. Baiklah Aldi." Sinta bangun. Ia kaget melihat Ader ada di lantai. "Arsen, ayo bangun! Kita harus ke rumah sakit." kata Sinta. Ia kemudian turun dan membangunkan mami Tiara.
"Mami, ayo bangun. Kita harus ke rumah sakit."
"Ada apa, nak?"
"Nata membutuhkan kita."
Mahendra bersembunyi saat ketiga orang itu keluar dari kondominium itu.
Mereka memasuki rumah sakit dari pintu belakang. Mahendra diam-diam mengikuti mereka sampai di depan ruangan ICCU.
"Bagaimana keadaan Natari? Ada apa dengan anakku?" tanya Mami Tiara.
"Mami masuk saja." kata Aldi.
Mami Tiara masuk.
Sinta menatap Aldi. "Bagaimana keadaan Nata?"
"Dia tiba-tiba drop pagi ini. Aku sangat ketakutan."
Sinta menepuk pundak Aldi. Dia tahu kalau Aldi sangat mencintai Natari.
"Sabar ya?"
Arsen mendekati mereka. Ia melingkarkan tangan kanannya di bahu Aldi sementara tangan kirinya di bahu Sinta. Mereka pernah bersama disuatu ketika. Kini mereka akan saling menguatkan. Arsen merasa sangat bersalah. Ia tahu ini perbuatan bibinya.
Mahendra memperhatikan interaksi ketiga orang itu. Sinta nampak menangis di bahu Arsen. Ia dapat merasakan bahwa Arsen begitu perhatian kepada istrinya.
2 jam berlalu, kini mami Tiara sudah lebih kuat begitu papa Natari akhirnya sampai.
Dokter keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat sedih. "Maaf, kami sudah berusaha. Pasien sudah meninggal dunia."
Sinta terpana saat melihat mami Tiara tiba-tiba saja pingsan. Sedangkan Aldi berteriak histeris sambil memukul-mukul dinding di hadapannya.
"Nata .....! Tidak.....!"
Arsen langsung memeluk pinggang Sinta saat perempuan itu nyaris pingsan. Pada saat itulah Mahendra keluar dari persembunyiannya.
"Sinta.....!"
Saat melihat Mahendra, Sinta langsung melepaskan diri dari pelukan Arsen. Ia berlari dan memeluk Mahendra sambil menumpahkan tangisnya di dada sang suami.
"Abang, Nata sahabat terbaikku. Mengapa dia harus pergi dengan cara seperti ini?"
Mahendra tak bicara. Ia hanya mengusap punggung Sinta sementara matanya menatap lurus ke arah Arsen yang juga sedang menatapnya. Hati Arsen cemburu. Ia tak bisa menyembunyikannya. Dan itu yang membuat Mahendra semakin erat memeluk Sinta.
**********
Arsen mendorong dengan kasar pintu kamar bibinya. "Lihat perbuatan mu, Aunty. Natari sampai meninggal. Kenapa sampai aunty tega merusak rek mobil Natari?"
"Diam, Arsen!"
"Bagaimana aku bisa diam? Sinta sangat sedih karena kematian Nata."
"Maka tugasmu adalah menghibur dia."
"Bagaimana aku bisa menghibur dia? Suami aunty terus memeluknya seolah ingin menunjukkan kepada semua orang yang hadir di pemakaman itu kalau Sinta adalah miliknya."
Gizel menahan amarah di hatinya. Pada hal kemarin malam ia sudah berhasil membuat Mahendra tidur dengannya. Walaupun sebenarnya ia merasakan kalau suaminya terkesan buru-buru dan ingin menyelesaikan permainan mereka.
Ia segera menelepon Mahendra. Di dering ketiga, panggilannya tersambung. "Sayang, apakah kamu lupa kalau siang ini kita akan ke tempat yang papa inginkan?"
"Aku tidak bisa."
"Kamu sudah janji ke papa. Jangan begitu dong, sayang. Aku tahu kalau Sinta ada di apartemen mu. Aku kan tidak meminta lebih. Ini untuk papa."
"Aku tidak bisa janji!"
"Brengsek!" Gizel mematikan ponselnya dan membuangnya ke atas ranjang.
"Kita kalah, aunty. Dan bagaimana jika polisi mengendus kalau ada yang tak beres dengan kecelakaan Natari?"
"Tenangkan. Pihak pembuat mobil yang akan disalahkan karena gagal produksi."
Gizel duduk di atas ranjang. Otaknya berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan.
Sedangkan Mahendra di apartemennya sedang menatap Sinta yang masih terduduk lesu di sofa ruang tamu.
"Abang, jika tadi yang menelepon mba Gizel, Abang harus pergi. Jangan mengabaikannya. Aku tak mau dianggap sebagai madu yang tak tahu diri."
"Tapi......!"
"Pergilah! Lagi pula aku ingin menemani mami Tiara beberapa hari ini. Aku bermaksud akan pergi ke rumah mereka."
"Kamu sendiri atau bersama Arsen?"
Sinta menatap suaminya dengan mata yang sembab karena kebanyakan menangis. "Jangan menuduh sembarangan. Aku tak suka." kata Sinta lalu segera meninggalkan Mahendra dan masuk ke kamar untuk bersiap ke rumah Natari.
Apakah yang akan Arsen lakukan selanjutnya?
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣