NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PUTRI TIDUR YANG MEMATAHKAN TULANG

Rabu Siang, Pukul 14.15 WIB

Kawasan Konveksi Cipulir, Jakarta Selatan

​Pasar Cipulir siang ini panasnya bukan main. Debu beterbangan, bau selokan mampet bercampur asap knalpot bajaj, dan teriakan pedagang saling sahut-sahutan.

​Di tengah kekacauan itu, sebuah operasi gabungan Royals x Vanguards sedang berlangsung.

​Posisi 1: Mobil Alphard Hitam (Markas Komando)

Parkir di seberang gang, kaca gelap, mesin menyala.

​Roseanna Vallerian duduk di jok tengah, memegang iPad yang terhubung ke CCTV mini (yang dipasang Oliver). Di sebelahnya, Fattah Maverick sedang sibuk ngunyah keripik singkong.

​"Fattah, bisa diem nggak mulut lo?" desis Roseanna tanpa menoleh. "Suara kriuk-kriuk lo kedengeran sampe ke earpiece Aqeela."

​"Laper, Rose. Tegang butuh energi," jawab Fattah santai, tapi matanya tajam melihat layar. "Target belum kelihatan. Harry, laporan."

​Posisi 2: Gerobak Bakso di Depan Gang

​Harry Nareswara berdiri di belakang gerobak bakso (sewaan), memakai wig keriting dan handuk kecil di leher. Dia mengaduk kuah bakso dengan gaya chef profesional.

​"Lapor, Komandan. Situasi aman terkendali. Cuma si Gajah ini nih, ngabisin stok pentol," lapor Harry lewat mic tersembunyi di kerah kaos partainya.

​Di sebelahnya, Mohan Alveric (nyamar jadi anak SD bongsor pake topi merah terbalik) sedang menyeruput kuah bakso mangkok kelima.

​"Enak banget, Har. Nanti kita jualan beneran aja yuk," kata Mohan polos.

​"Diem lu, Han. Fokus," Harry menepuk jidat Mohan pake sendok sayur.

​Posisi 3: Warung Kopi Pinggir Jalan

​Di bangku kayu panjang warkop, Ilham Mahendra duduk dengan gelisah. Dia memakai rompi oranye tukang parkir dan topi bucket kumal untuk menutupi kepala botak licinnya.

​Di sebelahnya, duduk Lia.

​Lia memakai dress bunga-bunga sederhana (yang dia anggap baju gembel) dan kacamata hitam besar. Dia sedang main HP, wajahnya datar dan bosan setengah mati.

​"Lama banget sih," keluh Lia, mengipasi lehernya dengan tangan. "Pori-pori gue bisa tersumbat debu nih. Kalau jerawatan, lo yang bayar facial gue ya, Botak."

​Ilham melirik Lia. "Sabar elah, Tuan Putri. Ini lagi nangkep penjahat, bukan ngantri chatime. Lagian lo ngapain sih ikut di lapangan? Mending lo di mobil sama Rose."

​"Di mobil AC-nya dingin, bikin ngantuk," jawab Lia asal. "Mending di sini, bisa liat lo keringetan kayak kuli. Hiburan."

​Ilham mendengus. "Awas aja kalau nanti ada rusuh lo nangis lagi. Gue nggak mau gendong lo."

​Lia menatap Ilham dari balik kacamata hitamnya. Tatapan meremehkan.

"Siapa yang minta digendong? Pede banget lo."

​"Target terlihat!" suara Fattah di earpiece memotong perdebatan mereka.

​Sebuah motor Beat hitam tanpa plat nomor masuk ke area pasar. Pengendaranya memakai jaket kulit hitam dan helm full face.

​"Itu dia," bisik Ilham, ototnya menegang. Dia berdiri, pura-pura mengatur parkir motor lain. "Siap-siap, Li. Jangan jauh-jauh dari gue."

​Lia cuma menguap pelan, menyimpan HP-nya ke dalam tas selempang kecil. "Hm."

​Di Dalam Toko Konveksi "Jaya Abadi"

​Aqeela Azalea berdiri di balik etalase kaca yang penuh debu. Dia memakai daster batik (biar kelihatan kayak anak pemilik toko), tapi jam tangan Rolex-nya lupa dicopot.

​Target masuk ke dalam toko. Bau rokok dan keringat langsung menyeruak.

​"Misi, Mbak. Mau ambil pesenan jaket," suara Target berat dan serak.

​Jantung Aqeela berdegup kencang. Tenang, Aqeela. Tenang. Kamu pernah akting jadi pohon di drama sekolah. Ini gampang.

​"O-oh, pesenan yang mana ya, Mas?" tanya Aqeela, berusaha tersenyum ramah (tapi bibirnya gemetar).

​"Atas nama Bos K. Yang model Vanguards tapi logonya madep kiri," jawab Target tidak sabar. "Buruan. Gue nggak punya waktu."

​"Sebentar ya, Mas. Barang ada di gudang," Aqeela berbalik badan, memberi kode tangan ke CCTV.

​Di dalam mobil, Roseanna memberi komando. "SERGAP!"

​KONFRONTASI

​Dari pintu belakang toko, Raisa (yang udah nunggu di gudang) langsung melompat keluar.

​"MAU KEMANA LO, PENGECUT?!" teriak Raisa.

​Target kaget. Dia refleks mundur. "Jebakan!"

​Dia langsung lari keluar toko, menabrak Aqeela sampai jatuh (untung Aqeela jatuh ke tumpukan kain).

​"KEJAR!!" teriak Raisa.

​Target lari ke jalanan gang sempit. Tapi di sana sudah menunggu Harry dan gerobak baksonya.

​"Eits! Mau kemana, Bos? Bayar dulu baksonya!" Harry mendorong gerobak ke tengah jalan, memblokir akses.

​Target panik. Dia berbalik arah, tapi di belakangnya sudah ada Ilham dan Lia.

​Ilham meniup peluit parkirnya kencang-kencang. PRIIIT!!!

​"PARKIR DULU, BRO! DISINI TARIFNYA MAHAL! BAYAR PAKE GIGI!"

​Ilham langsung menerjang maju, melayangkan pukulan ke arah Target.

​BUGH!

​Target menangkis pukulan Ilham dengan helmnya, lalu menendang perut Ilham.

​Ilham mundur selangkah, meringis. "Lumayan juga lo."

​Target panik karena dikepung. Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Mata pisaunya berkilat kena matahari.

​"MINGGIR LO SEMUA! GUE TUSUK NIH!" ancam Target, mengayun-ayunkan pisau membabi buta.

​"Awas piso!" teriak Harry, menarik Mohan mundur.

​Ilham berdiri di depan Lia, merentangkan tangannya. "Lia! Mundur! Dia bawa sajam!"

​Lia berdiri di belakang Ilham, wajahnya masih datar. Dia melihat jam tangannya. "Duh, udah jam setengah tiga. Gue ada janji creambath jam empat."

​"Lia! Lo gila ya?! Lari sana!" bentak Ilham tanpa menoleh, matanya fokus ke pisau lawan.

​Target melihat celah. Ilham sibuk ngelindungin cewek di belakangnya. Target menyeringai.

​Dia pura-pura menyerang Ilham, tapi tiba-tiba berbelok cepat dan menerjang ke arah Lia.

​Target berpikir Lia adalah titik lemah. Cewek cantik, dress bunga-bunga, kacamata gede. Pasti gampang disandera buat jalan keluar.

​"Kena lo, Cewek Manja!" Target menerjang Lia, pisaunya diarahkan ke leher Lia.

​"LIAAA!!" Ilham berteriak panik, berusaha menggapai Lia tapi terlambat.

​Lia menghela napas panjang.

​"Hah... ribet banget sih hidup gue," gumam Lia pelan.

​Saat Target sudah berjarak satu jengkal...

​Lia tidak menjerit. Dia tidak lari.

​Dengan gerakan santai tapi sangat cepat, Lia menjatuhkan tas mahalnya ke tanah (biar nggak rusak).

​Lalu, saat tangan Target yang memegang pisau mendekat, Lia menangkap pergelangan tangan cowok itu dengan dua jarinya.

​Grep.

​Target kaget. Cengkraman cewek ini kuat banget?

​Lia memutar pergelangan tangan Target ke arah luar dengan teknik kuncian Aikido yang sempurna.

​KREK.

​"ARGHHH!" Target menjerit, pisaunya jatuh.

​Belum selesai. Lia menarik lengan Target, memutar tubuhnya, lalu menggunakan pinggulnya sendiri sebagai tumpuan untuk membanting cowok yang beratnya 70kg itu.

​BRAKKKK!!

​Target terbanting keras ke aspal panas. Napasnya langsung hilang.

​Lia berdiri tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia menatap Target yang mengerang kesakitan di bawah kakinya.

​Lalu, dengan santai, Lia menginjak dada Target dengan sepatu flat shoes-nya.

​"Lo ngerusak mood gue," kata Lia dingin. "Dan lo bikin gue keringetan. Gue benci keringetan."

​Hening.

​Pasar Cipulir mendadak sunyi.

​Ilham melongo. Rahangnya jatuh sampai ke aspal. Matanya hampir keluar.

Harry menjatuhkan sendok kuahnya.

Mohan bengong.

Raisa (yang baru lari nyampe depan) berhenti mendadak.

​Lia mengambil tasnya dari tanah, menepuk-nepuk debunya. Dia menoleh ke Ilham yang masih kayak patung.

​"Apa liat-liat?" tanya Lia datar. "Tangkep tuh. Keburu bangun lagi."

​"L-lo..." Ilham gagap, menunjuk Lia dengan jari gemetar. "Lo... barusan... banting orang? Pake satu tangan?"

​Lia memutar bola mata. "Gue males jelasin. Buruan iket dia. Gue mau minum es teh."

​Lia berjalan santai menuju warkop, meninggalkan Ilham yang masih syok berat. Ternyata selama ini, cewek yang dia panggil "manja" dan "lemah" itu adalah mesin pembunuh berwajah bidadari.

​10 Menit Kemudian - Interogasi di Gudang Konveksi

​Target sudah diikat di kursi kayu di dalam gudang toko. Wajahnya babak belur (ditambah bogem mentah dari Ilham yang masih emosi).

​Roseanna dan Fattah masuk ke gudang. Roseanna menatap Lia yang sedang duduk santai di tumpukan kain sambil minum teh botol.

​"Lia," panggil Roseanna curiga. "Ilham bilang lo yang ngelumpuhin dia?"

​Lia mengangkat bahu. "Kebetulan dia kepleset, Rose. Gue cuma dorong dikit."

​"Kepleset mata lo!" protes Ilham. "Dia ngebanting orang itu kayak ngebanting bantal guling, Rose! Tekniknya Aikido sabuk item!"

​Lia mendelik ke Ilham. "Diem lo, Botak. Jangan nyebar gosip. Gue cuma ikut kelas bela diri dikit pas TK."

​"TK APAAN YANG NGEMAJARIN PATAHIN TULANG ORANG?!"

​Fattah tertawa kecil, menepuk bahu Ilham. "Udah, Ham. Terima nasib. Cewek yang lo taksir ternyata lebih sangar dari lo."

​"Gue nggak naksir!" bantah Ilham, mukanya merah padam.

​Fattah berbalik ke arah Target yang terikat. Wajahnya berubah serius dan menakutkan.

​"Sekarang giliran lo," kata Fattah dingin. "Siapa yang nyuruh lo? Dan kenapa lo nyerang Aqeela pake nama gue?"

​Cowok itu meludah darah. "Gue nggak bakal ngomong."

​"Yakin?" Lia berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekat.

​Melihat Lia mendekat, cowok itu langsung gemetar ketakutan. Dia ingat rasanya dibanting tadi.

​"J-jangan deket-deket! Gue ngomong! Gue ngomong!" teriak cowok itu panik.

​"Cepet," kata Lia, mengecek jam tangannya. "Waktu gue mahal."

​"I-itu... Kairos. Ketua Black Cobra. Dia yang nyuruh pesen jaket palsu. Dia mau adu domba kalian."

​"Terus?" kejar Roseanna. "Siapa informan Kairos? Dia tau detail soal kita. Pasti ada orang dalem."

​Cowok itu menelan ludah. "Gue... gue denger Kairos nelpon seseorang. Dia manggilnya 'Bos Besar'."

​"Ciri-cirinya?" desak Fattah.

​"Gue nggak tau mukanya... tapi gue pernah liat mobilnya pas ketemuan sama Kairos di gudang tua," jawab cowok itu gemetar. "Mobil sport. Warna merah. Ada kuda jingkraknya."

​Ferrari Merah.

​Dunia Roseanna seakan runtuh.

​Semua orang di ruangan itu tahu siapa pemilik satu-satunya Ferrari merah yang sering parkir di lobi SMA Pertiwi.

​Julian Adhitya.

​Tunangan Roseanna. Anak pemilik Yayasan.

​Roseanna mundur selangkah, berpegangan pada meja. Wajahnya pucat pasi.

​"Julian..." bisik Roseanna. "Jadi selama ini... dia?"

​"Anjing," umpat Ilham pelan. "Tunangan lo sendiri yang mau ngancurin lo, Rose?"

​Fattah menatap Roseanna dengan tatapan prihatin. Dia tahu betapa sakitnya dikhianati orang terdekat.

​"Bawa dia ke polisi," perintah Fattah pada Oliver. "Tapi simpen info soal Julian. Kita butuh bukti yang lebih kuat daripada omongan kroco ini."

​Fattah berjalan mendekati Roseanna.

​"Rose," panggil Fattah lembut.

​Roseanna mendongak, matanya berkaca-kaca.

​"Kita pulang," kata Fattah. "Lo butuh istirahat. Perang kita berubah arah sekarang. Musuh kita ada di dalem selimut lo sendiri."

​Roseanna mengangguk lemah. Dia berjalan keluar, diikuti geng Royals.

​Saat Lia melewati Ilham, Ilham menahan lengan Lia.

​"Lia," panggil Ilham serius.

​Lia menoleh. "Apa lagi?"

​"Lo... lo sebenernya siapa sih?" tanya Ilham bingung. "Lo bisa banting orang, tapi lo males gerak. Lo kaya, tapi lo mau kotor-kotoran di sini."

​Lia menatap Ilham, lalu tersenyum misterius.

​"Gue cuma cewek yang pengen hidup tenang, Ham," jawab Lia. "Tapi kalau ada yang ganggu temen gue... atau ganggu gue... gue nggak segan-segan matahin leher mereka."

​Lia melepaskan tangan Ilham, lalu berjalan pergi dengan anggun.

​Ilham menatap punggung Lia.

​"Gila..." gumam Ilham. "Gue beneran jatoh cinta sama monster cantik."

​Harry menepuk pundak Ilham. "Sabar ya, Ham. Saingan lo berat. Saingan lo males gerak, tapi mematikan."

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!