NovelToon NovelToon
Cinta Yang Datang Terlambat

Cinta Yang Datang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: M. Aipp

Follow IG @samsularipin_101

"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".

Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.

Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.

Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecah di Ujung Papan

Pecahan cangkir porselen putih berhamburan di lantai dua puluh enam hotel SCBD setelah menghantam dinding kaca, meninggalkan lelehan kopi pekat di permukaannya. Valerie Vance berdiri dengan napas terengah-engah dan mata memerah, menatap gusar tablet digital yang menampilkan pergerakan gerobak kereta logistik koridor barat di atas peta interaktif.

Dana sebesar empat ratus miliar rupiah yang baru saja dialokasikan Aurelia Group untuk akuisisi Nusantara Prima Terminal di wilayah utara kini resmi menjadi aset mati. Proyek Temasek tidak memberikan hasil sepeser pun bagi mereka.

"Panggil seluruh tim hukum dan direksi operasional di Indonesia sekarang!" perintah Valerie dengan suara tajam. "Alana Wijaya kira dia bisa bermain-main menggunakan regulasi rel kereta api kuno? Cari celah terkecil dari izin lingkungan jalur itu. Kalau kita tidak bisa mengadang kapal mereka di lautan, kita hancurkan izin operasional keretanya di daratan!"

.

.

.

Di saat yang sama, deru mesin diesel ganda dari lokomotif logistik berat bergema membelah area perbukitan barat Jakarta. Di dalam salah satu gerbong inspeksi eksekutif yang mengekor di belakang rangkaian baja, Jevandra dan Alana duduk berhadapan di sofa kulit.

Sisi lain gerbong tersebut dilengkapi berbagai layar pemantau lalu lintas rel, tempat para teknisi bekerja dalam hening. Namun di sudut tempat Jevandra dan Alana berada, suasananya terasa begitu intim dan sarat akan kemenangan.

Alana menyesap teh melati hangat buatan asistennya sembari menikmati pemandangan pepohonan hijau yang berlari cepat di luar jendela. "Valerie tidak akan tinggal diam, Jev. Orang seperti dia tidak terbiasa menerima kekalahan dalam dua puluh empat jam pertama. Dia pasti sedang mengejar izin AMDAL atau sertifikasi keselamatan rel milik Paman Broto."

Jevandra bangkit, mendekati Alana, lalu mengambil cangkir teh dari genggaman istrinya dan meletakkannya di meja. Tanpa aba-aba, ia menarik lembut lengan Alana hingga tubuh wanita itu terdorong makin rapat ke dadanya.

"Biarkan saja dia mencoba," bisik Jevandra, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Alana dengan sikap santai namun protektif. "Dokumen yang ditandatangani Paman Broto tadi pagi dilindungi Undang-Undang Otonomi Khusus Aset Strategis Negara. Ayahku pernah mencoba menggugat izin itu delapan tahun lalu dan gagal total. Valerie hanya membuang tenaga."

Alana menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Jevandra, meresapi detak jantung suaminya yang tenang dan penuh kepastian. "Kamu terlihat sangat menikmati peran sebagai pemburu ini, Mr. Pratama."

"Aku menikmati hasilnya," sahut Jevandra seraya menunduk, mengikis jarak di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya menyapu bibir Alana. "Dan aku menikmati fakta bahwa wanita tercerdas di industri ini berada dalam pelukanku—bukan sekadar sekutu di atas kertas, tapi sebagai istriku seutuhnya."

Rona merah tipis merayapi pipi Alana, sebuah reaksi alami yang tak lagi berusaha ia tutupi dari Jevandra. Ia mencondongkan badan ke atas, menyatukan bibirnya dengan bibir Jevandra dalam ciuman hangat yang perlahan kian dalam. Di atas kereta yang melaju menembus perbukitan, kekuasaan dan gairah mereka menyatu menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.

.

.

.

Akan tetapi, saat rangkaian kereta pertama berhasil memasuki kawasan proyek eksekutif Temasek diiringi sorot kamera wartawan dan decak kagum utusan Singapura, hambatan baru sudah menunggu di luar gerbang.

Iring-iringan sedan hitam berplat nomor khusus pemerintah daerah mendadak memotong jalur masuk utama. Dari mobil tengah, turun seorang pria paruh baya bertubuh gempal—Kepala Dinas Perizinan dan Investasi Daerah—yang didampingi dua pengacara Aurelia Group.

Bimo Pratama, yang sengaja hadir untuk menyaksikan keberhasilan pengalihan rute tersebut, melangkah cepat mendekati mereka dengan dahi berkerut.

Jevandra dan Alana turun dari gerbong inspeksi dengan tenang, berjalan bergandengan tangan mendekati kerumunan yang mulai tegang di depan gerbang.

"Ada masalah apa ini, Pak Kadis?" suara Bimo Pratama menggelegar, mencoba menekan pejabat daerah itu menggunakan wibawanya selaku pimpinan Pratama Group.

Pejabat itu tampak melirik ragu ke arah pengacara Aurelia Group di sebelahnya. "Mohon maaf, Pak Bimo, Pak Jevandra... Kami menerima laporan gugatan darurat mengenai potensi sengketa batas lahan di titik peralihan rel barat. Berdasarkan pasal keberatan investasi, seluruh kegiatan bongkar muat material di titik ini harus dihentikan sementara selama tiga hari untuk audit lapangan."

Bimo Pratama menegang. "Tiga hari?! Itu sama saja memberi kesempatan Temasek membatalkan kontrak kita!"

Pengacara Aurelia Group tersenyum sinis di balik kacamatanya. "Ini prosedur hukum yang sah, Pak Bimo. Hukum daerah harus dihormati."

Jevandra hendak melangkah maju dengan raut wajah mengeras, tetapi Alana menahan lengannya, memberi sinyal agar suaminya tetap tenang. Alana lalu maju satu langkah, mengambil ponsel pribadinya, dan melakukan video call terenkripsi yang langsung disambungkan ke layar proyektor portabel milik tim Humas di lokasi.

Di layar besar itu, muncul sosok pria tua berambut putih yang mengenakan kemeja batik khasnya.

Haryo Wijaya. Patriark tertinggi keluarga Wijaya.

Seketika, semua orang di area gerbang—termasuk Kepala Dinas dan pengacara Aurelia Group—terpaku. Wibawa Haryo Wijaya terasa begitu kuat meski hanya lewat layar digital.

"Siapa yang berani menghentikan kereta cucuku?" suara Haryo terdengar berat dan dingin melalui pengeras suara.

Kepala Dinas itu mendadak berkeringat dingin dan refleks membungkuk ke arah layar. "K-Kakek Haryo... Kami hanya menindaklanjuti laporan gugatan dari pihak Aurelia—"

"Aurelia Group?" Haryo terkekeh rendah—sebuah tawa yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang memahami rekam jejak bisnisnya. "Sampaikan pada pemilik Aurelia di Singapura, sepuluh menit lalu, konsorsium keluarga Wijaya bersama Otoritas Moneter telah membeli empat puluh persen saham induk perusahaan mereka di bursa efek London melalui aksi korporasi tertutup. Saat ini, Wijaya adalah pemegang saham pembanding terbesar di perusahaan mereka."

Mata pengacara Aurelia Group membelalak sempurna. Ponsel di dalam saku jasnya bergetar tanpa henti—sebuah panggilan panik yang datang langsung dari kantor pusat mereka di Singapura.

Haryo Wijaya menatap lurus ke arah kamera, mengalihkan pandangannya pada Jevandra dan Alana yang berdiri berdampingan. "Jevandra, Alana... Lanjutkan pembongkaran material kalian. Jika ada anjing kecil yang mencoba menggonggong di depan gerbang proyek kalian lagi, lindas saja."

Sambungan video pun terputus. Keheningan total melingkupi area pelabuhan darat tersebut. Kepala Dinas dan pengacara Aurelia Group tak lagi berani menatap ke depan; mereka perlahan mundur dan kembali masuk ke mobil dengan wajah pucat pasi.

Bimo Pratama memandang anak dan menantunya dengan takjub. Aliansi ini rupanya jauh lebih besar dan berbahaya dari yang pernah ia perkirakan.

Jevandra merengkuh pinggang Alana dengan erat, menoleh ke arah istrinya sembari tersenyum lebar. "Kakekmu benar-benar tahu cara menutup pertunjukan dengan spektakuler."

Alana tertawa renyah, menyandarkan kepalanya di bahu Jevandra saat gerobak-gerobak kereta mulai membongkar ribuan ton baja ke area proyek. "Dia hanya tidak suka kalau ada orang asing yang mengganggu permainan keluarga kita, Jev."

Di bawah terik matahari siang, di tengah deru mesin dan riuh tepuk tangan para pekerja proyek Temasek, Jevandra dan Alana berdiri kokoh sebagai pasangan penguasa baru yang kini memegang kendali penuh atas takhta industri Nusantara.

Bersambung......

1
Anonim
Lanjut 💪💪
Anonim
Heeemmm semakin mantap
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
Heemmmm😍😍
Anonim
🤭🤭🤭🤭
Anonim
Lanjut 💪💪
Anonim
Mantap😍😍😍
Anonim
Mantap
Anonim
Lanjut 🤭🤭
Anonim
Mantap
Anonim
Lanjut
Anonim
😍😍😍
Anonim
Menarik
Anonim
Outor buat alana kuat dong jangan cemgeng😍😍
Aripin: kak coba baca ke bab Berikutnya
total 1 replies
Anonim
Heeemmm 💪💪💪
Anonim
😍😍😍
Anonim
Menarik 😍😍😍
Adinda
bagaimana Kalau simpanan jevandra hamil anak jevandra pasti seru thor
Aripin: hm🤔 menarik, ditunggu ya kak, dan jangan lupa juga mampir yaa di karya aku yang terbaru judulnya "Anak yang Tak Pernah Dianggap"
total 1 replies
Lasa Hardianti
Pantesan aja Pak Bimo milih Alana buat jadi istri Jevandra. udahlah cantik, otak pinter, pluss nya jadi trofi berharga buat perusahaan😌
Lasa Hardianti
Gila badas banget Alana, suka deh sama karakternya😌😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!