NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11_pertemuan singkat.

"Kak, Daddy dan Mommy kapan balik?" tanya Elvara sambil menatap Edgar yang sedang duduk di ruang kerja apartemen mewah mereka di Amerika. Matanya terlihat sendu, menyimpan kerinduan yang begitu besar kepada kedua orang tuanya.

Edgar yang sedang membaca beberapa dokumen bisnis mengangkat kepalanya perlahan. Ia menatap adiknya dengan tatapan lembut yang jarang diperlihatkannya kepada orang lain.

"Mungkin beberapa minggu lagi. Daddy dan Mommy masih harus menyelesaikan urusan mereka di sana," jawab Edgar tenang. Wajahnya tetap datar, tapi tatapannya lembut.

“Beberapa minggu?” Ulangnya lirih.

Edgar mengangguk pelan.

“Kenapa? Baru sehari sudah rindu?” Tanyanya dengan senyum tipis, alis terangkat.

“Tentu saja rindu. Aku belum pernah jauh dari mereka selama ini.” Balas Elvara cepat dengan wajah cemberut, bibir mengerutkan.

Elvara menghela napas panjang. Baru satu hari berada di Amerika, tetapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan baginya. Negara asing, lingkungan baru, dan aturan-aturan ketat yang dibuat Edgar membuat hidupnya terasa semakin sempit.

Sebenarnya, tujuan Edgar membawanya ke Amerika adalah untuk melindunginya. Namun bagi Elvara, perlindungan itu terkadang terasa seperti kurungan yang tak terlihat.

Sejak pagi, Edgar selalu menanyakan keberadaannya. Bahkan ketika Elvara hanya ingin berjalan-jalan di taman dekat apartemen, Edgar akan mengirimkan pengawal untuk mengikutinya.

Hal itu membuat Elvara semakin tidak nyaman.

Hari demi hari berlalu. Meski Amerika menawarkan pemandangan kota yang indah dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, Elvara tidak benar-benar bisa menikmatinya.

Ia lebih sering berada di rumah.

Suatu sore, saat sedang menikmati secangkir teh di ruang keluarga, bel apartemen berbunyi.

Tak lama kemudian, seorang pria tampan masuk dengan senyum lebar di wajahnya.

"Edgar! Aku datang lagi!" seru pria itu dengan santai. Wajah ceria dengan senyum lebar.

Elvara yang sedang duduk di sofa hanya melirik sekilas.

Pria itu adalah salah satu teman Edgar yang dikenalnya sehari setelah tiba di Amerika.

Saat itu Elvara menganggap pertemuan mereka hanyalah pertemuan biasa yang tidak akan terulang lagi.

Namun kenyataannya berbeda. Pria itu hampir setiap hari datang ke apartemen.

Hari ini datang. Besok datang lagi. Lusa pun datang kembali.

Awalnya Elvara tidak terlalu memedulikannya. Akan tetapi semakin lama, rasa penasarannya mulai tumbuh.

Setelah beberapa minggu memperhatikan, akhirnya Elvara tidak bisa menahan pertanyaannya lagi.

Saat Edgar sedang menikmati kopi di balkon apartemen, Elvara menghampirinya.

"Kak, setelah aku lihat-lihat. Teman kakak sepertinya setiap hari ke rumah," ucap Elvara sambil menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon. Wajah bingung, alis berkerut.

Edgar yang sedang menyeruput kopi langsung menoleh.

"Siapa?" tanyanya singkat dengan tatapan heran.

"Itu, teman kakak yang tinggi, suka pakai jas hitam, dan selalu datang membawa makanan penutup," jawab Elvara penasaran, mata menyipit.

Edgar langsung tahu siapa yang dimaksud.

"Oh, maksudmu Nathan?" Tebak Edgar dengan wajah santai.

"Nathan?" ulang Elvara.

Edgar mengangguk.

"Dia memang sering datang." Tanya Edgar lagi dengan santai.

"Sering sekali malah," balas Elvara cepat. Wajah kesal tipis, bibir mengerucut.

Edgar terkekeh pelan.

"Dia sahabatku sejak lama." Jawab Edgar santai, senyum tipis.

Elvara memutar bola matanya.

"Tapi bukannya sahabat normal tidak datang setiap hari?" Tanya Elvara menaruh tatapan curiga, alis terangkat.

Mendengar itu, Edgar hampir tersedak kopinya sendiri.

"Kau ini memikirkan apa?" tanyanya dengan wajah terkejut, mata membesar.

"Aku hanya heran." Balasnya dengan polos

"Tidak ada yang aneh." Sahut Edgar dengan wajah datar.

Elvara masih belum sepenuhnya percaya.

Bagaimanapun, selama ini Nathan selalu menemukan alasan untuk datang.

Kadang membawa makanan. Kadang mengantar dokumen. Kadang hanya sekadar mampir untuk minum kopi. Yang lebih aneh lagi, pria itu sering mengajaknya mengobrol.

Nathan selalu berhasil membuat suasana yang membosankan menjadi lebih hidup. Berbeda dengan Edgar yang cenderung serius dan terlalu protektif.

Sore itu, seperti biasa, bel apartemen kembali berbunyi. Nathan datang dengan sebuah kotak besar di tangannya.

"Halo semuanya!" serunya riang saat masuk ke dalam rumah. Wajahnya cerah, senyum lebar.

Elvara langsung menatap Edgar.

"Tuh kan, datang lagi." Ucap Elvara kesal, bibir mengerucut.

Nathan yang mendengarnya tertawa kecil.

"Aku merasa sedang dibicarakan." Balas Nathan dengan wajah geli, senyum jahil.

"Memang." Sahut Elvara dengan wajah datar

Nathan meletakkan kotak besar di meja.

"Aku membawa cheesecake favoritmu,

Elvara." Kata Nathan dengan ramah, senyum hangat.

Elvara terdiam sejenak.

"Hah? Kenapa tahu itu favoritku?" Tanya Elvara dengan wajah terkejut, mata membulat.

Nathan tersenyum santai.

"Aku pernah melihatmu memesannya minggu lalu." Balas Nathan santai, senyum tipis.

Elvara semakin bingung. Pria ini bahkan memperhatikan makanan favoritnya?

Edgar yang melihat ekspresi adiknya langsung menyipitkan mata.

"Nathan." Ucap Edgar memasang wajah curiga.

"Apa?" Tanya Nathan dengan wajah polos.

"Kau mulai aneh." Lanjutnya dengan wajah datar, tatapan tajam.

Nathan tertawa keras.

Sementara Elvara hanya memandangi mereka bergantian.

 Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Amerika, rasa penasaran itu berhasil mengalihkan pikirannya dari kerinduan kepada Daddy dan Mommy.

Namun Elvara belum menyadari satu hal.

Kedatangan Nathan yang terus-menerus ke rumah mereka bukanlah kebetulan.

Pria itu memiliki alasan tersendiri.

Alasan yang perlahan akan mengubah kehidupan Elvara di Amerika menjadi jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!