Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 OPERASI YANG GAGAL KARENA KOLAK
Jam 4:50 langit masih gelap, rumah yang di tempati Galen sunyi. Cuma ada suara jangkrik dan dengkuran Syaril, ayah Anggita bersama Udin, karena mereka kembali lagi ke rumah anaknya. Setelah pulang ke rumah masing-masing, istri mereka meminta kembali lagi ke rumah Galen kaarena memiliki firasat tidak enak dan akhirnya sebagai ayah yang tidak mau putri mereka kenapa-napa mereka menuruti permintaan istri mereka.
Galen duduk di meja, lengannya masih diperban dan masi di depannya laptop dan flashdisk C-12.
"48 jam lagi" Gumam Galen pelan
"Harus selesai sebelum Bram bergerak" Lanjut Galen
Ia salah, Bram sudah bergerak. Tak lama, kaca belakang pecah lalu 10 orang bertopeng masuk dengan langkah ringan. Di depan mereka, Bram memakai jas hitam, pistol di tangan sambil senyum jahat.
"Sunyi sekali" Kata Bram pelan
"Bagus, berarti mereka lengah" Lanjut Bram
Mereka menyebar menyebar dengan senyap, sampai salah satu dari mereka menginjak mainan Dito.
Trek …
"MAMAAA ADA MALINGGG!!!" Teriak Dito
Teriakan Dito memecah pagi, lampu ruang tengah menyala semua. Yang terjadi setelah itu bukan pertempuran, tapi seperti pasar. Astrid muncul pertama yang memakai daster dan wajan di tangan.
"Siapa yang berani masuk rumah anak mama!" Teriak Astrid
Laras (Ibunya Anggita) ikut menyusul juga nyusul, dengan memakai daster juga, tapi kalung emasnya masih nongol. Begitu lihat Bram, wajahnya berubah.
"Bram... kamu..." Ucap Alea (Ibunya Galend)
Bram mengernyit. "Tante?"
Pak Udin datang bawa senter dan sapu.
"Ronda! Ronda!" Teriaknya sambil nyorot ke muka anak buah Bram sampai silau.
Alea (mama Galen) keluar dari dapur bawa rolling pin, langsung duduk di atas kardus kue. "Jangan sentuh kue saya!" Teriak Alea
Wijaya salto dari sofa.
"Formasi!" Ujar Wijaya
Syaril (ayah Anggita) cuma bangun sebentar.
"Oh maling. Mau teh?" Tanya Syaril lalu rebahan lagi.
Bram mengusap pelipis.
"Ini rumah siapa sih sebenarnya?" Gumam Bram
Galen menarik Nabila dan Anggita ke belakang meja.
"Upload sekarang" Bisik Anggita.
Dito dari kolong meja mengacungkan jempol.
"Udah kak, sambil main mobile Legend” Jawab Dito
Layar laptop menyala `MENGUPLOAD KE SERVER POLRI... 67%, Bram melihat itu, matanya merah.
"Cepat berikan kepadaku" Teriak Bram
Bram berjalan ke arah Galen dengan pistol diarahkan ke pelipis Galen. Nabila teriak, Alea menutup mulut.
"Bram, lepasin dia" Suara Alea gemetar
"Dia keponakanmu" Tambah Alea
Bram tertawa pendek …
"Ahahaha, Keponakan? Setelah kalian usir aku karena kakakku ?" Tanya Bram
Angka di layar naik. `85%... 86%...`
10 detik lagi.
Tiba-tiba Astrid maju, di tangannya nampan berisi kolak pisang yang masih mengepul.
"Nak, makan dulu” Kata Astrid lembut
"Panas, hati-hati" Tambah Astrid
"Bu minggir!" Bentak Bram.
Astrid malah menyodorkan lebih dekat
"Ini dari kebun sendiri, cobain manis loh" Ujar Astrid
Dan byur …
Kolak panas itu disiram tepat ke wajah Bram.
"AAAA PANAS!" Bram menjerit, melepas pistolnya.
BEEP …
UPLOAD SELESAI, DATA TERKIRIM
Dari kejauhan, sirene polisi meraung. Bram menelan savalinya
"Sialan" Umpat Bram
Ia melempar bom asap dan kabur lewat jendela bersama anak buahnya, yang tertinggal cuma asap dan satu sendal emas Mami Ratna yang nyangkut di gorden.
15 menit kemudian polisi datang lalu olah TKP.
"Barang buktinya apa bu ?" Tanya polisi.
Bu Narti nunjuk meja.
"Ini wajan, Pak. Ini kolak. Ini flashdisknya ketemu di dalam kolak" Jawab Astrid membuat posili tertawa
Akhirnya polisi bekerja sesuai penjelasan dari Galen, karena kalau bertanya dengan ibu-ibu itu tidak akan selesai.
*****
Mereka semua akhirnya duduk di teras, matahari mulai naik. Galen bersandar di bahu Nabila, terasa capek tapi lega.
"Gimana mau kalahin penjahat, kalau musuhnya kalah sama emak-emak" Kata Anggita sambil ngunyah kue
Dari dalam rumah terdengar suara …
"Bu Astrid, resep lodehnya ya" Teriak Alea
"Tukar sama rendang ya Mami" Ujar Astrid tak kalah teriaknya
"Minggu depan di sini lagi, rame soalnya" Ucap Laras
"Kak aku viral, judulnya 'Ibu-ibu gagalkan Teroris’" Celetuk Dito sambil scroll ponselnya
Di tempat lain, Bram menempelkan es ke wajahnya yang melepuh.
"Gagal lagi, gara-gara kolak" Geramnya.
Anak buahnya berbisik,
"Bos... sendal kita ketinggalan..."
Bram membanting meja.
"ITU SENDAL DUA JUTA!" Kesal Bram
*****
Minggu pagi di rumah Galen rasanya damai banget, di meja panjang ruang tamu udah digelar taplak batik. Di atasnya ada toples kue, teko teh, buku arisan, dan satu kardus kue lapis yang Astrid kayak harta karun.
"Nomor urut 3, giliran Mami ya minggu ini" Kata Laras sambil nyatet pake pulpen warna pink.
Alea mengangguk anggun dengan memakai daster murah tapi kalungnya 20 juta.
"Iya bu, nanti transfer ya" Jawab Alea
"Kue aku minggu lalu laku 2 loyang loh, mau pesen lagi gak ?" Tawar Astrid
Mereka ketawa, suasana begitu terasa hangat.
Di sofa, Ayah Galen baca koran. Ayah Anggita ketiduran. Pak Udin lagi rebahan sednagkan Dito scroll TikTok. Galen, Nabila, dan Anggita duduk di pojok dengan laptop terbuka. Mereka lagi nyusun bukti buat laporin Bram ke KPK.
"Data C-12 udah aman di cloud" Bisik Anggita.
"Bagus," Jawab Galen.
"Tinggal nunggu waktu yang tepat" Timpal Nabila