NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32.

Pagi itu, kelompok KKN Desa Sukamaju mendapat program kerja dadakan dari pihak desa.

Bukan hasil rapat yang telah direncanakan sebelumnya, melainkan permintaan langsung dari warga.

Mereka diminta membantu memperbaiki jembatan kayu yang menghubungkan Desa Sukamaju dengan dusun di seberangnya.

Beberapa papan jembatan sudah mulai lapuk. Bahkan ada yang patah sehingga cukup berbahaya jika terus digunakan.

"Kalau nunggu bantuan datang, bisa-bisa keburu roboh," ujar salah seorang warga sambil tertawa kecil.

Mendengar itu, Arga langsung mengangguk.

"Baik, Pak. Kami siap membantu."

Tak lama kemudian, seluruh mahasiswa KKN berkumpul di lokasi.

Sebagian warga masuk ke hutan untuk mengambil batang kayu yang sudah dipilih, sementara mahasiswa membantu mengangkut dan membersihkannya.

Arga, Adrian, Dion, Dimas, Rizki, Reza, dan Andre membantu warga memotong kayu menggunakan gergaji dan kapak.

Sementara Alya, Tiara, Laura, Nadia, Amelia, Siska, dan yang lainnya bertugas mengangkat ranting serta potongan kayu yang lebih kecil.

Satu batang kayu biasanya harus diangkat oleh tiga hingga empat orang sekaligus.

"Ya ampun... berat banget," keluh Tiara sambil mengusap keringat di dahinya.

Laura ikut menghela napas.

"Baru satu batang aja udah pegal."

Di belakang mereka, Alya masih berusaha mengangkat ujung kayu sambil menahan tawa.

"Semangat dulu."

"Kalau ngeluh terus, kayunya nggak bakal jalan."

Dion yang kebetulan lewat langsung menyahut,

"Kayunya sih tetap jalan."

"Yang tumbang nanti orangnya."

Ucapan itu membuat beberapa warga dan mahasiswa langsung tertawa.

Alya memonyongkan bibir.

"Ih, Dion."

"Bukannya bantu malah ngeledek."

"Yaudah sini."

"Dikasih ke gue aja."

"Jangan!"

"Aku masih kuat."

Alya kembali mengangkat kayu itu meski napasnya mulai tersengal.

Melihat tingkah mereka, salah seorang bapak warga tersenyum.

"Pelan-pelan aja, Nak," ujar salah seorang bapak sambil tersenyum. "NggaK usah dipaksa. Yang penting selamat."

"Iya, Pak."

Beberapa menit kemudian mereka akhirnya tiba di lokasi jembatan.

Begitu kayu diletakkan, Alya langsung menjatuhkan diri di atas rumput.

"Astaga..."

"Ternyata kerja bakti begini capek juga."

Tiara ikut duduk di sampingnya.

"Baru mulai, Al."

"Masih banyak kayu yang harus diangkut."

Alya langsung memejamkan mata.

"Jangan diingetin dulu."

"Napas aku belum balik."

Ucapan Alya kembali mengundang tawa orang-orang di sekitar mereka.

Setelah beristirahat beberapa menit, Arga menepuk kedua tangannya.

“Ayo, lanjut lagi.”

“Biar cepat selesai.”

“Iya!” jawab mereka hampir bersamaan.

Para cowok kembali membantu warga memasang tiang penyangga jembatan.

Suara kapak, gergaji, dan palu saling bersahutan memenuhi area sungai.

Sementara itu, Alya, Tiara, Amelia, dan Siska kembali mengangkat papan-papan kayu yang sudah dipotong.

“Al, pegang ujung sana,” ujar Tiara.

“Iya.”

Alya segera mengangkat salah satu ujung papan.

Baru beberapa langkah berjalan, wajahnya langsung meringis.

“Ya ampun...”

“Berat juga.”

Dion yang melihat itu langsung menyeringai.

“Tadi katanya masih kuat.”

Alya mendelik.

“Diam, Dion.”

“Aku masih kuat, kok.”

“Cuma... kayunya aja yang berat.”

Mendengar alasan Alya, Adrian langsung tertawa.

“Logikanya unik juga.”

“Namanya juga Alya,” sahut Dion.

Gelak tawa kembali terdengar.

Di sisi lain, Arga yang sedang membantu memasang papan jembatan sempat menoleh ke arah mereka.

Melihat Alya masih kesulitan membawa kayu, ia menghampiri.

“Tiara.”

“Kalian bertiga angkat yang lebih kecil aja.”

“Yang ini biar aku sama mereka.”

Arga mengambil papan kayu yang sedang dibawa Alya, lalu mengangkatnya bersama Dimas dan Andre.

Alya mengembuskan napas lega.

“Makasih.”

“Hm.”

Jawaban Arga tetap singkat seperti biasa.

Namun perhatian kecil itu kembali ditangkap Laura.

Ia menggenggam papan kayu di tangannya sedikit lebih erat.

Tatapannya mengikuti Arga yang sudah kembali bekerja.

Entah mengapa, setiap kali Alya kesulitan, Arga selalu menjadi orang pertama yang membantu.

Perasaan itu kembali mengusik hati Laura, meski ia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, warga desa tersenyum melihat semangat para mahasiswa KKN.

“Kalau ramai begini,” ujar salah seorang bapak.

“Kerja berat pun rasanya jadi ringan.”

Semua kembali melanjutkan pekerjaan dengan penuh semangat, berharap jembatan itu bisa selesai sebelum sore tiba.

Matahari mulai meninggi.

Keringat membasahi pakaian hampir semua orang yang ikut bekerja.

Meski begitu, tidak ada yang mengeluh. Mereka tetap saling membantu agar pembangunan jembatan cepat selesai.

Beberapa bapak terlihat mulai memasang papan-papan kayu di atas rangka jembatan.

Suara palu yang memaku papan terdengar bersahutan.

Tok!

Tok!

Tok!

Sementara itu, mahasiswa KKN bertugas mengantarkan papan yang sudah dipotong.

“Pak, yang ini taruh di mana?” tanya Dimas.

“Yang panjang bawa ke ujung sana, Nak.”

“Siap, Pak.”

Alya yang sejak tadi membantu mengangkat papan mulai mengusap keringat di dahinya.

“Panas banget,” gumamnya.

Adrian yang sedang lewat sambil memanggul papan langsung menyahut,

“Makanya topi koboinya dipakai.”

Alya spontan menepuk jidatnya.

“Ya ampun! Aku lupa dibawa.”

Dion langsung tertawa.

“Tumben, barang andalan lo malah ketinggalan.”

“Ih, jangan diketawain.”

“Kan bisa lupa.”

Mendengar itu, beberapa warga ikut tersenyum geli.

Tak lama kemudian, salah seorang ibu datang membawa teko besar berisi teh hangat dan beberapa nampan berisi ubi rebus, pisang goreng, serta singkong goreng.

“Istirahat dulu, Nak.”

“Minum sama makan dulu.”

“Wah, terima kasih, Bu,” jawab mereka hampir bersamaan.

Semua segera berkumpul di bawah pohon yang rindang.

Alya mengambil segelas teh hangat, lalu duduk di atas batang kayu sambil mengatur napas.

“Capek?” tanya Arga yang duduk tak jauh darinya.

Alya mengangguk kecil.

“Capek...”

“Tapi seru.”

Arga tersenyum tipis.

“Itu baru namanya kerja bakti.”

Alya ikut tersenyum.

“Iya.”

“Kalau rame-rame begini ternyata nggak kerasa.”

Dion yang baru saja menggigit pisang goreng langsung menyela.

“Kerasa, Al.”

“Perut gue dari tadi yang paling kerasa.”

Ucapan itu kembali mengundang gelak tawa.

Suasana istirahat pun terasa hangat, dipenuhi canda dan obrolan ringan sebelum mereka kembali melanjutkan pembangunan jembatan.

Setelah beristirahat sekitar lima belas menit, pekerjaan kembali dilanjutkan.

Kali ini, papan-papan kayu mulai dipasang satu per satu di atas rangka jembatan.

Beberapa warga memegang papan agar tidak bergeser, sementara Arga, Dimas, Andre, Adrian, Dion, Rizki, dan Reza membantu memakunya.

Tok!

Tok!

Tok!

Suara palu kembali menggema di sekitar sungai.

Sementara itu, Alya bersama Tiara, Amelia, dan Siska bertugas mengantarkan paku, palu, serta papan yang masih berada di tepi jalan.

“Al, tolong ambilin paku yang itu,” pinta Dimas.

“Iya.”

Alya segera berlari kecil mengambil kotak paku, lalu menyerahkannya.

“Nih.”

“Thanks.”

Beberapa saat kemudian, salah seorang bapak mencoba menginjak papan yang baru dipasang.

Krek...

Semua spontan menoleh.

“Tenang,” ujar bapak itu sambil tersenyum.

“Cuma bunyi kayunya.”

“Belum dipaku semua.”

Mendengar penjelasan itu, mereka kembali bernapas lega.

Arga kemudian memeriksa satu per satu sambungan papan.

“Yang sebelah kiri tambahin dua paku lagi, Pak.”

“Biar lebih kuat.”

“Iya, siap.”

Pekerjaan kembali berlanjut.

Sedikit demi sedikit, bentuk jembatan mulai terlihat utuh.

Melihat hasil kerja mereka, wajah Alya langsung berbinar.

“Eh...”

“Udah kelihatan kayak jembatan lagi.”

“Iya,” sahut Adrian sambil tersenyum bangga.

“Kalau begini, sebentar lagi selesai.”

Dion menepuk-nepuk debu di celananya.

“Nanti kalau udah jadi, yang pertama lewat harus Alya.”

“Biar sekalian dites kuat apa enggaknya.”

“Heh!”

“Kenapa aku?”

“Soalnya paling ringan,” jawab Dion cepat.

Ucapan itu kembali membuat semua orang tertawa, termasuk warga yang sejak tadi bekerja bersama mereka.

1
Revalina
akhirnya yang di tunggu" up jugaa🤩
Aylnn_: kemarin² sudah up tapi di review mulu..
total 1 replies
Revalina
gak expek alya bakal ngomong itu🤣🤣🤣 lanjutkan Alya lanjutkan 🤣🤣
Revalina
apasihhh liaaa gak suka dehhh, ketauan banget hidupnya gak pernah bahagia karna terlalu iri sama kehidupan orang lain😏😏😏 lanjut thorrr
Revalina
seseru itu yaa ternyata KKN tapi tambah in konfliknya donggg kaya monoton kalo gitu" aja🤭🤭
Aylnn_: baikk kak..
total 1 replies
Revalina
seseru itu yaa ternyata KKN tapi tambah in konfliknya donggg kaya monoton kalo gitu" aja🤭🤭
Revalina
nahh kan tau rasa tuhh di Lia sama Laura emang gampang jadi komentator yang bisa menghidupkan suasana? susah taukk sukurin dehhh 🤣🤣🤣 lanjut thorrr
Revalina
kamu extrovert banget alyaa, energinya gak habis" kalo aku mungkin suaranya udah habis🤭🤭🤭 lanjut thorr
Revalina
makanya Arga cepet Ngomong dong kalo suka, tembak nanti ke duluan adeknya pak kades lohhh🤭🤭 lanjut thorr
Aylnn_: Siap kak..
total 1 replies
Revalina
wihhh seru bangettt yaa Alya🤣🤣🤣
Revalina
plisss gak sukaaa liaaa, Alya terlalu befikir positif terhadap semua orang. menganggap semua orang itu baikkk 🥲🥲
Revalina
semoga besok gak ada Drama dari penggemar arga🤭🤭 lanjut thorr 🤣🤣
Aylnn_: Besok akan lebih seru lagi kak☺
total 1 replies
Revalina
suka dehh sama Alya, walaupun dari orang ber ada tapi gak lebah kayak jijik sama anak kampung gitu. mau berbaur🫰🫰
Revalina
nahhh tau rasaaaa kannnnn, sok iyeee bngt ihhhh gakk Sukaaa. 😏😏
Aylnn_: nanti malam up lagi kok kak☺
total 2 replies
Revalina
kayanya ada bau" orang ketiga lagi di antara Arga dan Alya nihhh😏😏
Revalina
menurut ku alur ceritanya menarik mudah di mengerti, dan tidak terburu-buru, sukaa🤩🤩
Aylnn_: Makasih kak, syukur lah kalo suka🥰
total 1 replies
Revalina
cerita seru bangettt sukaa 🤩🤩 semangat yaa thorr
Aylnn_: iyaa kak☺
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Aylnn_: Terimakasih Sudah mampir kak☺
total 1 replies
Aylnn_
...
Ny.
Bagus Sekali..
Ny.
bagus kak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!