Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana rencana tuan muda
"Serius kamu mau magang di perusahaan daddy?" tanya Azka ketika kembarannya menemuinya saat sedang sendirian. Mereka masih di rumah Dira dan Vira. Dia.merasa aneh mendengar keinginan Kian.
"Iya, setelah pulang sekolah. Kamu mau ikut?" Dia butuh Azka untuk bergabung di timnya.
"Kenapa aku harus ikut?" pancing Azka. Dia tau kembarannya pasti punya tujuan.
Kian tersenyum tipis.
"Ganti suasana aja," kilah Kian santai.
"Kamu butuh bantuanku?" tebak Azka sambil menaikkan satu alis matanya. Kedua tangannya terlipat di atas dadanya. Bahkan Azka menyandarkan punggungnya di dinding.
"Begitulah." Kian membenarkannya, masih dengan bibir yang menyunggingkan senyumnya.
Azka menghembuskan nafas pelan.
"Padahal cuma magang aja," desis Azka meremehkan kembarannya.
"Ini beda. Kata daddy kalo aku bisa memajukan perusahaan, dia akan menyetujuiku menikahi Wanda." Kian membela diri dalam uraian yang panjang.
"Oooh .... Kirain dua tiga hari lagi bakal menikah," sindir Azka kalem. Dalam hati dia kaget juga mendengar syarat dari Daddy mereka.
"Mau-ku, sih, begitu." Kian tertawa pelan. Azka juga ikut tergelak dengan volume suara yang juga tidak terlalu keras.
"Bagus juga, sih. Daddy ngga mau kamu membuat susah hidup anak orang setelah menikah," saran Azka.
Kian makin tergelak disindir begitu. Tapi dia tidak marah.
"Padahal aku sempat berpikir akan tetap hidup mudah dengan menggunakan fasilitas daddy."
"Dasar," maki Azka setelah mendengar ucapan kembarannya. Tapi dalam hati dia tau, pasti Kian merasa syarat daddy cukup berat hingga butuh bantuannya.
Bagaimana bisa anak magang memberikan kemajuan pada perusahaan dalam waktu singkat.
*
*
*
Wanda menatap wajah lembut yang sedang tersenyum padanya. Malam ini, setelah tiba di rumah, maminya Kian langsung menemuinya di kamarnya.
"Kian sungguh serius ingin menikahi kamu."
DEG
Pipi Wanda merona. Tidak menyangka maminya Kian sudah tau dengan niat gila putranya. Dia merasa malu dan canggung dihadapan wanita cantik yang sudah melahirkan anak sebaik Kian. Takut dianggap tidak tau diri.
Emily menyadarinya, dia cepat meneruskan ucapannya.
"Om dan tante tidak menolak. Tapi om dan tante ingin Kian sungguh sungguh merealisasikan niatnya."
Wanda menatap Emily bingung. Sorot matanya penuh tanda tanya.
"Kian akan magang di perusahaan dulu beberapa bulan. Setelah pulang sekolah."
Oooh, syukurlah, batin Wanda lega karena nantinya bisa mengurangi interaksi Kian dengan Aditama. Dia masih trauma dengan perkelahian mereka beberapa hari yang lalu.
"Untuk sementara kamu tinggal di rumah Keyra, ya, sayang. Biar Kian tidak merasa mudah mendapatkan kamu. Karena bagi tante dan om, kamu sangat berharga."
DEG DEG
Ada yang mencubit keras hatinya. Selama ini tidak ada yang membuatnya merasa berharga selain mamanya. Sepasang matanya mulai memanas.
Emily menggenggam kedua tangan Wanda yang terasa dingin.
"Sekarang pun kamu sudah dianggap putri kami."
Wanda menahan tangis yang ingin pecah.
Terimakasih, tante, batinnya.
"Tante, kalo boleh tau ...., kenapa tante tidak mencari gadis yang setara buat Kian? Saya .... saya hanya orang biasa yang selalu menyusahkan Kian." Suara Wanda bergetar menahan gejo-lak perasaan yang mau meledak.
Emily mengeratkan genggamannya, seolah ingin meyakinkan Wanda.
"Tante percaya dengan pilihan anak tante. Kamu cantik, juga baik. Pasti tanpa kamu sadari banyak laki laki yang naksir kamu, tapi mereka takut dengan Aditama."
Wanda ngga yakin dengan ucapan mami Kian. Setaunya laki laki di sekolahnya senang melihat dia dibully Aditama.
"Tante juga ngga butuh gadis dari keluarga kaya. Kian sudah kaya dan bisa mencukupkan kebutuhan istrinya nanti." Emily tersenyum penuh arti.
Wanda tersipu. Perkataan Tante Emily seolah ditujukan padanya. Tapi dia merasa sedikit khawatir, apakah keluarga Keyra akan mau menampungnya.
*
*
*
Aditama menatap geram Kian yang melewatinya dengan santai di parkiran sekolah. Ada Wanda bersama dengannya. Wanda berjalan sambil menundukkan kepalanya, tidak menghormatinya sama sekali. Cewe itu lupa dia pernah jadi tuannya.
Dia masih harus bersabar karena mama dan papanya masih melarangnya membawa motor.
Flasback on
Tadi pagi ketika mereka sarapan bertiga, Aditama sudah mengungkapkan keinginannya.
"Kapan aku bisa bawa motor sendiri, ma, pa?" tanya Aditama dengan nada kesal. Dia masih harus disupiri Pak Supri. Anehnya dulu saat bersama Wanda dia tidak pernah sekesal ini.
Dulu sesekali dia memang naik mobil bersama Wanda, karena lebih sering menunggangi motor balapnya. Tapi rasanya biasa saja.
"Satu minggu lagi," sahut Panji Hasta.
"Loh, kata papa dua atau tiga hari lagi aku boleh bawa motor," protes Aditama kaget. Kenapa ditunda tunda lagi, sih, batinnya kesal.
"Papa dan mama khawatir dengan kamu, Tama. Benturan di kepala kamu cukup keras," sela maminya-Mirelin mencoba membuat putra tunggalnya mengerti. Dia juga masih dilanda rasa takut kalo putranya sampai terluka parah.
"Sekarang aja aku sudah sembuh dan bisa bawa motor," bantah Aditama tetap keukeh dengan pendapatnya.
Panji Hasta menghela nafas panjang.
"Oke, dua hari lagj," putus Panji yang ngga ingin lebih lama berdebat dengan putranya.
Senyum lebar langsung tercipta di bibir Aditama. Segala rencana sudah mulai tersusun di otaknya.
Dia ngga membiarkan Kian dengan mudah merebut Wanda.
"Tentang Wanda, bagaimana, pa. Aku kesulitan di sekolah ngga ada dia," nyinyir Aditama sambil menatap tajam wajah papanya.
Rahasia apa yang papa sembunyikan dariku? Aku harus tau, tekatnya dalam hati.
"Papa akan mencari salah satu temanmu untuk melakukannya." Menurut Panji, ini solusi yang paling tepat.
Aditama mendengus geram.
"Aku ngga mau yang lain, pa."
Mirelin mulai khawatir melihat kemarahan putranya.
'Untuk kali ini harus mau." Panji sudah tidak ingin dibantah.
Kali ini Panji balas menatap sorot marah papanya. Suasana sarapan pagi ini jadi terasa menegangkan.
Endflashback