“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Berkenalan dengan Lyorine ternyata tak seperti yang Elowen bayangkan. Dia pikir wanita itu akan menatapnya dengan tatapan merendahkan, seperti Putri Lidya.
Tapi, tidak…
Lyorine tersenyum ramah dan binar matanya itu tidak bisa bohong kalau dia tulus menyapa Elowen.
“Selamat malam Duchess,” ucapnya pertama kali saat Cassian mengenalkannya pada Elowen.
Elowen tersenyum dan membalas sapaan Lyorine dengan mengangguk singkat.
“Istriku sedikit istimewa, jadi dia berbicara menggunakan bahasanya sendiri Putri Lyorine. Kuharap kau bisa memahaminya dengan baik,” Cassian mencoba mengatakan hal itu agar Lyorine tidak merendahkan soal Elowen yang tidak bisa bicara.
“Oh, begitu ya?”
Elowen menulis di catatannya.
“Senang bertemu dengan anda Putri Lyorine Ravenhearst.”
Lyorine membaca itu dan tersenyum lebar. “Jadi begini ya caranya. Ini sangat mengagumkan, Duchess. Anda berbicara dengan tulisan yang sangat indah. Sepertinya kita akan cocok, karena saya juga melakukan hal yang sama.”
Melakukan hal yang sama? Apa maksud Lyorine? Elowen bertanya-tanya.
Melihat ekspresi Duchess seperti kebingungan. Lyorine menyentuh tangan Elowen. Lalu berkata, “saya membuat esai untuk berkomunikasi dengan para dewan kerajaan. Seperti suami Anda,” katanya lalu membisikan sesuatu. “Itu semacam protes, jadi tenang saja tidak ada hal romantis yang mengganggu di antara kami.”
Lyorine menjelaskan hal itu agar Duchess tidak termakan omongan masyarakat yang mungkin akan muncul.
“Oh iya,” Lyorine beralih pada Cassian. “Istri anda sangat cantik sekali,” pujinya. “Gaun yang anda pakai sangat bagus. Apa sudah ada yang memujinya?” tanya Lyorine kembali mengarah pada Elowen.
Elowen tersenyum, wanita ini sangat ramah dan setiap kata-katanya menyebarkan keceriaan. Dia pintar berkomunikasi, cerdas, dan tulus. Pantas saja Cassian pernah menyukai wanita ini.
“Terima kasih, Putri Lyorine. Anda juga terlihat sangat cantik.” Tulis Elowen di catatannya.
Lyorine menyunggingkan senyumnya lagi. “Sebuah kehormatan mendapat pujian dari Anda, Duchess Clyvedon.”
Elowen menulis lagi di catatannya. “E-L-O-W-E-N namaku Elowen.”
“Duchess Elowen Clyvedon. Baiklah, mari berteman baik.” Lyorine memeluk Elowen erat.
Cassian melihat kedua wanita itu berinteraksi. Mereka terlihat akrab, Lyorine sama sekali tidak terlihat merendahkan istrinya yang bisu. Dan, Elowen juga terlihat nyaman.
Padahal sebelum ini matanya sembab, Cassian ingin bertanya soal itu tapi tidak jadi karena beberapa tamu penting tiba-tiba datang menghampiri mereka.
“Selamat malam Elly?” kali ini Lucien yang menyapa. Cassian langsung menatap sinis ke arah pria itu. Lucien langsung meralat kata-katanya, “...maksud saya… Duchess Clyvedon.”
“Selamat malam Marquess Lucien. Cravat yang bagus,” tulis Elowen memuji hiasan leher yang dipakai Lucien. Dia cukup tampan dengan kombinasi jubah dan cravat itu.
Lucien menyentuh cravat miliknya. “Ya, ini kado dari adikku, Putri Lyorine.”
Lyorine yang disinggung langsung menoleh. “Oh, aku baru menyadarinya sekarang. Aku tak menyangka kau akan memakainya di sini, Kak.” Wanita itu melihat Lucien dengan tangan yang mengusap dagunya. “Benar juga kata Duchess, kau terlihat tampan dengan cravat itu, Kak.”
Elowen terkekeh.
Hubungan mereka terlihat sangat dekat. Lucien dan Lyorine. Elowen iri dengan kedekatan itu, dia tidak pernah sedekat itu dengan saudara-saudara laki-laki di keluarga Whitmore.
Bahkan, saat Elowen pikir Cleona yang paling dekat dengannya. Ternyata tidak seperti itu. Cleona tidak pernah menganggapnya.
Cassian meraih lengannya, membuat Elowen tertarik keluar dari lamunan kelam itu. Kepalanya mendongak ke arah Cassian. Pria itu menatapnya dalam.
“Kamu tidak apa-apa?” bisiknya pelan ke telinga Elowen.
Elowen mengangguk.
Tepat pada saat itu orkestra menghentikan permainannya sesaat. Lalu memulainya dengan nada-nada pertama waltz.
Cassian langsung menempatkan dirinya di depan Elowen.
“Maukah kau berdansa denganku?” undang Cassian sambil mengulurkan tangannya.
Berdansa? Ya Tuhan, Elowen menahan napas saat mendapat undangan dari Cassian.
Tentu saja dia tidak menolak. Elowen tersenyum melihat Sang Duke membawanya ke tengah lantai dansa melewati para tamu undangan.
Cassian langsung memeluk Elowen, mereka mulai dengan gerakan pertama. Pria itu memutar tubuh Elowen, mereka berdansa dengan mesra.
Kerumunan tamu melihat pasangan itu dengan tersenyum iri. Sang Duke terlihat sangat mencintai istrinya. Mereka pasangan yang luar biasa.
Di sisi lain, Lyorine dan Lucien juga ikut berdansa menyusul Cassian dan Elowen. Setelah itu para tamu undangan yang lain juga ikut berdansa.
Di sudut lantai dansa yang sepi, Cleona berdiri menatap Elowen dan Cassian dengan tatapan kesal. Dia juga melihat ke arah Lyorine. Beberapa detik yang lalu dia ingin menghampiri Cassian. Tapi terhenti karena dia melihat Sang Duke bersama Putri Lyorine.
“Sialan! Sainganku bertambah lagi. Wanita itu kenapa harus kembali sih!” gerutunya.
Cleona mulai menyiapkan rencana untuk mendapatkan Cassian. Pertama, dia harus menjauhkan Lyorine dari pria itu. Cleona berpikir saingan terberatnya adalah Lyorine dan bukan Elowen.
Terlepas dari ruang dansa yang dipenuhi banyak orang.
Lady Valerie datang dan langsung tertarik ke rumah kaca yang terlihat cukup terang. Dia penasaran apa yang dilakukan Elowen dengan bunga-bunga miliknya.
“Awas saja kalau dia mengganti semua Camelia milikku! Aku akan memberi pelajaran wanita bisu itu,” geramnya sambil berjalan mendekati rumah kaca Kastil Clyvedon.
Saat masuk ke dalam, Lady Valerie mematung melihat yang terjadi. Dari luar itu memang dihias dengan mawar biru. Tapi di dalam rumah kaca itu, bunga camelia putihnya dirawat dengan sangat baik.
Camelia putih dan mawar biru menjadi dekorasi yang sangat cocok dan elegan.
Lady Valerie hampir tak bisa berkata-kata saking takjubnya.
“Kali ini kau akan kubiarkan karena membuat bunga kesayanganku tumbuh dan dirawat dengan baik,” ujarnya.
Dia sempat berpikir Elowen menyingkirkan semua bunga-bunga yang pernah ia tanam saat masih menjadi Duchess. Tapi tidak, Elowen merawatnya. Bunga-bunga itu tampak sehat dan berbunga lebih banyak.
“Jadi dia juga menyukai bunga…?”
Acara pesta dansa pertama Elowen akhirnya berakhir dengan sangat sukses. Masyarakat menceritakan betapa indahnya pesta dansa itu selama beberapa minggu.
Elowen mulai dikenal banyak orang dengan seleranya yang tinggi terhadap dekorasi pesta.
Beberapa istri bangsawan mulai mengundangnya ke acara-acara mereka.
Itu kabar baik tapi juga sekaligus tantangan baginya. Karena dia harus menulis di catatan setiap kali berbicara dengan para wanita yang mengundangnya. Dan itu melelahkan…
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer