"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Kuliah dipercepat.
Pihak kampus mengumumkan melalui pengeras suara yang tersebar di setiap sudut gedung bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara. Gempa susulan masih mungkin terjadi, dan salah satu gedung laboratorium di sisi timur kampus dilaporkan ambruk. Tidak ada korban jiwa, namun kampus mengambil keputusan tegas. Semua mahasiswa harus segera pulang.
Halaman kampus berubah menjadi lautan manusia. Ribuan mahasiswa berhamburan keluar dari gedung-gedung kuliah, wajah-wajah mereka masih menyisakan sisa ketakutan dari gempa tadi.
Meysa berjalan di antara kerumunan itu bersama Aqeela. Wulandari sudah pamit pulang lebih dulu, karena ada masalah di rumah yang tidak bisa ia tunda.
"Cha, kita jadikan ke toko kosmetik?" tanya Aqeela, sambil mengayunkan tangan sahabatnya.
Meysa mengangguk malas. Tidak punya energi untuk menolak.
Sepanjang perjalanan menuju toko kosmetik yang hanya berjarak lima menit dari gerbang kampus, Meysa merasa ada yang mengawasinya dari belakang.
Ia menoleh sekilas.
Rangga.
Pria itu berjalan di belakang mereka dengan jarak sekitar sepuluh meter.
Aqeela tidak menyadari keberadaan Rangga. Ia terlalu sibuk berceloteh tentang lip balm merek mana yang paling bagus, tentang warna lipstik yang lagi tren.
Meysa hanya mengangguk-angguk, pura-pura mendengarkan, padahal pikirannya sedang sibuk dengan pria di belakangnya.
"Rupanya dia mau jadi mata-mata" batin Meysa "Bukannya dia sudah cukup membuat kekacauan hari ini?"
Toko kosmetik itu berada di lantai dasar ruko dua lantai, kecil tapi bersih, dengan rak-rak berjejer rapi berisi berbagai macam produk perawatan wajah dan tubuh. Aroma bedak dan lotion menyambut mereka begitu pintu kaca terbuka.
"Hallo, cantik-cantik, silakan dilihat-lihat dulu," sapa pramuniaga dengan senyum lebar.
Meysa berjalan ke rak pelembap, pura-pura sibuk membaca label produk. Aqeela berlajan menuju rak lipstik, mengambil beberapa tester, mencoret-coret di punggung tangannya dengan semangat.
"Cha, lo tunggu di sini ya. Gue mau ke toilet bentar. Perut gue rasanya mules banget, gegara sarapan mie rasa sambel pesas." ucap Aqeela sambil meremas perutnya.
"Iya, Aqeela."
Aqeela berlari kecil menuju toilet di ujung ruangan toko.
Meysa memutar badan, hendak mengambil pelembap lain dari rak paling atas.
Rangga, pria itu berdiri di dekat pintu. Ia bersandar di kusen pintu, tangannya ia masukkan kedalam saku celana, menatap Meysa dengan tatapan tajam.
Meysa pindah ke rak lain. Rak sampo. Ia mengambil satu botol, membaca labelnya, lalu meletakkannya kembali.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Meysa penasaran.
"Siapa yang ngikutin kamu? Aku cuman lagi lihat—!"
"Lihat apa?"
"Lihat kamu." Rangga tersenyum menyebalkan.
"Pergilah. Sebelum Aqeela mengetahui kamu," usir Meysa.
Tapi Rangga tidak pergi.
Ia malah melangkah masuk.
Meysa pun mundur.
Punggungnya mengenai rak sampo, botol-botol plastik bergoyang pelan, hampir jatuh.
Rangga terus maju.
"Mau a-apa kamu?" seketika bulu kuduk Meysa merinding melihat sikap Rangga.
Kemudian Rangga meraih pergelangan tangannya.
"Sayangggg..." ucap Rangga.
"Apa—"
Rangga menarik Meysa keluar dari toko, menuju ke lorong samping yang menghubungkan ruko dengan dinding belakang bangunan. Tempat itu sempit, gelap, dan sunyi. Hanya ada mereka berdua, dan satu lampu temaram yang hampir mati di ujung lorong.
Punggung Meysa membentur dinding.
Rangga mendekat. Kedua tangannya menempel di dinding, mengurung Meysa di antaranya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Rangga, jangan—"
Tapi Rangga tidak menghiraukan panggilan gadis itu.
"Cup, ckkk, hhmmpptttt.."
Meysa terkejut, matanya membelalak
Tangannya terangkat, menepuk dada Rangga, kepalan tangannya yang kecil menghantam bidang dada pria itu berulang-ulang.
"Rang—ga—lepas—" Meysa terus meronta-ronta.
Namun Rangga tidak melepaskan. Tangannya malah meraih pinggang Meysa, menariknya lebih dekat, memperdalam ciuman itu seolah ia ingin menelan semua penyesalan yang ia rasakan..
"RANGGA! MEYSA!"
Suara Aqeela memecahkan segalanya..
aku suka cerita nya tetap lanjutin ya 🥲
haha puas banget liat si Mak Lampir gak diterima
sumpah bab paling benci di sini 😭
kenapa harus begitu tor ceritanya gak sanggup aku liat Meysa kalo dia tau kebenaran tentang si Rangga dan Mak Lampir itu 😭
jangan mau lah ga masa masih OON Mulu kapan smart nya sih