NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Negotiations (B)

Emily mendengus, memutar bola matanya dengan malas. "Cih. Kau pikir tubuhku ini tagihan kartu kreditmu yang seenak jidat bisa kau cicil sesuka hati?"

Raphael tersenyum tipis, arogan, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. "Aku tidak pernah pakai kartu kredit untuk mendapatkan apapun yang kuinginkan. Aku bayar lunas."

Emily mendecak, matanya berputar sekali lagi menahan kesal. "Tidak bisakah kau menahan burung perkututmu? Kau seperti remaja tolol yang baru pertama kali merasakan berhubungan."

"Bukan perkutut," Raphael menyahut tenang, sudut bibirnya terangkat nakal. "Tapi elang."

Emily mengangkat alis tinggi. "Oh, percaya diri sekali. Aku masih berbaik hati menyebutnya perkutut. Biasanya, pria berbadan sepertimu... seringnya seukuran burung pipit."

Raphael terkekeh pendek, menegakkan tubuhnya. "Sudah berapa banyak jenis burung yang kau teliti sampai bisa berani membuat kesimpulan seperti itu?"

Emily menatapnya tajam. Refleks, ia menepuk meja cukup keras untuk menegaskan kekesalannya, tapi tak bisa menyembunyikan bahwa ia sedikit terpojok. "Kenapa kau malah membahas nama-nama burung?"

Raphael mengangkat gelasnya lagi, meneguk perlahan dengan tatapan menyebalkan. "Karena kau yang memulainya, Nona Cooper. Dan jujur saja aku tidak keberatan kalau kau ingin melakukan penelitian lapangan agar tidak lagi salah menyebut spesies milikku."

Emily mendengus, amit-amit. Pria cabul dengan segala pemikiran kotor murahannya. "Kau itu menjijikkan, Raphael."

...•••...

"Kau mau kopi, wine, atau yang lain?" tanya Raphael sambil melangkah ke arah minibar di sudut ruang kerjanya.

Mereka memang sudah sepakat datang ke firma hukum Walter untuk menandatangani kontrak resmi antara klien dan pengacara. Emily sempat menduga Raphael akan sengaja menahan kesepakatan itu sampai urusan perjanjian mereka selesai dinegosiasikan atau bahkan sampai ia berhasil menjeratnya ke ranjang, namun yang terjadi justru sebaliknya, pria itu tanpa ragu langsung menyetujui kerja sama hukum itu, seolah yakin ia tetap bisa menagih bagian paling inti dari perjanjian mereka kapan saja ia mau.

"Apa saja, asal kau tidak mencampurnya dengan racun atau obat tidur," balas Emily, bersedekap sambil meneliti setiap detail ruangan yang memamerkan kejayaan trah Walter.

Raphael terkekeh rendah. "Tidak semua yang keluar dari tanganku itu berbahaya, Emily."

"Oh, ya? Lalu berapa persen sisi baik yang kau punya?"

"Kurang lebih... satu."

Cih. Emily mendengus pelan, memutar matanya.

"Setidaknya masih ada persentasenya," ujar Raphael santai sambil mengambil dua gelas kristal berisi cognac yang baru saja ia tuang. Ia menyerahkan salah satunya pada Emily dan mengisyaratkan agar perempuan itu duduk di kursi di hadapannya. "Silakan duduk."

Tanpa repot mengucapkan terima kasih, Emily langsung mengambil tempat yang ditunjukkan.

Menatapnya dengan senyum miring, Raphael menggigit pelan bibir bawahnya, sebuah kebiasaan kecil saat ia menikmati bagaimana Emily selalu memilih melawan, memilih menentang, selalu enggan tunduk padanya. Dalam hati ia tahu, sikap keras kepala itu hanya membuat permainan ini lebih menarik, tinggal sedikit waktu sebelum menundukkan wanita itu sepenuhnya.

Raphael menarik napas pelan. Sedikit gerah, ia melepas jas armaninya yang sejak tadi melekat, menyampirkannya di punggung kursi kebesarannya di balik meja. Dari laci, ia mengambil beberapa dokumen, kemudian menyusunnya rapi di atas meja kayu gelap tempat kerjanya.

"Ini.." katanya, menyodorkan dokumen itu.

Emily meraih berkas-berkas itu, membolak-balik halaman dengan mata waspada. Namun, dari sudut pandangnya, ia bisa menangkap Raphael yang sedang menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, memperlihatkan gurat otot dan urat yang timbul jelas di sepanjang lengannya.

Pun setelahnya, terlihat juga Raphael melonggarkan simpul dasinya, membiarkan sedikit kulit lehernya terlihat. Pemandangan itu membuat tenggorokan Emily sedikit tercekat tanpa ia sadari. Emily harus mengakui, dari bahu hingga pinggang, pria itu memang nyaris sempurna. Sayang, dari leher ke kepala, ia lebih mirip iblis jelek yang menyebalkan dan terlalu percaya diri. Buru-buru ia mengambil gelas, menyesap cognac yang tersisa, lalu kembali fokus pada dokumen di depannya.

"Kau yakin ingin menandatangani ini sebelum perjanjian gilamu, Tuan Walter?" ucap Emily sembari menelusuri baris demi baris tulisan di atas kertas tersebut. "Kau tidak takut kalau aku menipumu dan membatalkan perjanjian fantasi gilamu itu?"

Raphael tertawa rendah dengan suara baritonnya. Ia menyelipkan sebatang rokok di antara bibirnya yang teriris senyum tipis, lalu menyalakannya dengan tenang. Asap tipis mengepul di antara rahangnya yang tegas dan kumis rapi yang kontras dengan sorot mata tajamnya, membuat seluruh sosoknya tampak berbahaya sekaligus memesona.

"Aku percaya," jawabnya. "Lagipula, semua orang di New York tahu, keluarga Cooper, termasuk keturunannya yang satu ini, adalah keluarga terhormat. Mereka membangun kepercayaan dalam bisnis dengan reputasi itu. Kalau kau menipuku..." Ia menoleh penuh ke arah Emily, senyumnya punya maksud lain, tampak mematikan. "...berarti semua yang kudengar tentang kalian hanya omong kosong. Dan itu artinya kau mencoreng citra keluargamu sendiri."

Raphael lalu bergerak mendekat. Tangan kirinya bertumpu di sandaran kursi Emily, sementara tangan kanannya mendarat di atas meja, persis di samping dokumen yang tengah wanita itu baca. Tubuhnya yang hangat mendekat, membuat Emily bisa merasakan bayangan dan aroma maskulin pria itu menyelimuti dirinya. Deru napas Raphael yang panas menyapu pelan di kulit lehernya.

"Tanyakan padaku kalau ada kalimat yang tidak kau mengerti." Terdengar dalam nada suaranya, yang sepertinya sengaja dia bisikkan terlalu dekat di telinga Emily.

"Tidak perlu. Karena kau percaya padaku, maka aku pun percaya padamu. Begitu cara keluargaku mengajarkanku membangun bisnis dengan kolega," sarkas Emily, tak mau kalah. Ia segera menyambar pena di atas meja dan menandatangani dokumen itu—bukti sah bahwa Raphael kini resmi menjadi pengacaranya.

"Bisa tidak, jangan terlalu dekat? Aku risih," protesnya sambil mendongak, mendorong dada Raphael agar menjauh.

"Kenapa? Kau gugup?" Raphael mengangkat alis, tersenyum nakal.

"Cih. Kurangi kadar percaya dirimu. Yang ada... mulutmu bau," balas Emily cepat sambil menutup hidung.

Raphael mengernyit, tersinggung. Mulutnya bau? Fitnah terkeji yang pernah dia dengar. Padahal ia tahu perawatan dirinya tak main-main, bahkan untuk urusan napas. Kurang ajar.

"...maksudku kau bau rokok. Aku tidak suka baunya," tambah Emily buru-buru, setelah melihat gurat kesal di wajah pria itu.

Hendak menanggapi ucapan Emily tentang bau rokok itu, tetapi dering ponsel di saku celana Raphael menghentikannya. Dengan malas ia merogoh saku, menatap sekilas layar sebelum mengangkatnya.

Emily memperhatikan. Hanya hitungan detik, ia menyadari perubahan di wajah pria itu. Rahang Raphael tiba-tiba tampak menegang, otot di pelipisnya sedikit mengerut, dan jemarinya mengepal di sisi tubuh. Ada sesuatu dari seberang sana yang menyulut amarahnya. Emily ingin bertanya, tetapi memilih diam, membiarkan telinganya menangkap maksud percakapan Raphael yang rendah dan dingin.

Tak lama, panggilan itu berakhir. Raphael menarik napas tajam. "Kita lanjutkan urusan ini besok," ucapnya pendek, terdengar berat. "Aku harus ke Las Vegas sekarang."

Tanpa menjelaskan apa pun, ia mengenakan kembali jasnya dengan cepat, merapikan letak dasi yang tadi sempat ia longgarkan. Tergesa, Raphael melangkah keluar ruangan itu, meninggalkan Emily sendirian dengan tanda tangan di dokumen dan ribuan pertanyaan di kepalanya.

Apa yang terjadi?

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!