Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12 : PENGKHIANATAN DI BAWAH ATAP LUMINANCE
Siang itu, sebuah studio foto premium di kawasan Jakarta Selatan tampak bising oleh kru yang berlarian. Shinta Kirana Wijaya (23 tahun) sedang berada di tengah-tengah sesi pemotretan untuk jenama kosmetik lokal yang mengontraknya sebagai duta merek. Sebagai seorang content creator dan influencer kecantikan dengan ratusan ribu pengikut, Shinta sangat menuntut kesempurnaan. Ia tidak segan-segan memaki staf jika hasil gambar tidak sesuai dengan egonya.
"Heh! Kamu bisa kerja tidak, sih?!" bentak Shinta dengan nada melengking kepada asisten pencahayaan studio. "Lihat di monitor ini! Highlight di bagian pipiku terlalu silau! Kamera ini harganya puluhan juta, tapi kalau caramu memegang reflektor sekasar itu, wajahku jadi kelihatan aneh! Ganti posisinya sekarang!"
"Maaf, Kak Shinta. Saya sesuaikan lagi arah cahayanya," jawab staf studio itu sambil menunduk takut.
Setelah menyelesaikan beberapa video ulasan produk dengan senyum manis yang sangat palsu di depan kamera, Shinta merebut ponselnya dari tangan asisten pribadinya. "Kalian rapikan sisa alat-alatnya. Aku mau ke toilet sebentar. Jangan ada yang berani menggangguku!"
Shinta melangkah angkuh menuju toilet VIP di sudut studio, lalu mengunci pintunya dari dalam. Begitu sendirian, topeng manisnya luruh, berganti raut wajah yang dipenuhi kedengkian. Pikirannya sejak semalam terus-menerus dirongrong oleh rasa cemburu yang membakar dada. Ia tidak tahan mengingat bagaimana Fandi Achmad Mahendra, suami dari kakak tertuanya, masih saja mencuri pandang ke arah Kalea Azzahra Putri saat makan malam semalam.
"Kalea lagi, Kalea lagi. Kenapa Mas Fandi tidak bisa berhenti melirik perempuan bermata biru sialan itu? Apa kurangnya aku dibanding anak haram itu?" batin Shinta penuh dendam.
Demi memastikan perhatian Fandi sepenuhnya terkunci pada dirinya, Shinta membuka aplikasi pesan dan langsung menekan tombol panggilan video ke nomor kakak iparnya tersebut.
Di belahan kota yang lain, tepatnya di dalam ruang kerja tertutup di sebuah perusahaan pialang saham terkemuka, Fandi Achmad Mahendra (31 tahun) sedang memeriksa laporan keuangan kuartal. Begitu melihat ponselnya di atas meja bergetar dan menampilkan wajah manja Shinta, sebuah seringai licik langsung terukir di bibirnya. Tanpa membuang waktu, Fandi bergegas mengunci pintu ruang kerjanya agar tidak ada staf kantor yang masuk tiba-tiba.
"Halo, sayang," sapa Fandi dengan suara rendah yang dibuat seromantis mungkin. "Ada apa menelpon Mas siang-siang begini? Mas sedang merindukanmu di kantor, tahu."
"Mas Fandi bohong!" rengek Shinta di depan layar kamera, sengaja mengerucutkan bibirnya untuk menggoda. "Mas bilang rindu aku, tapi semalam di meja makan kenapa mata Mas tidak bisa lepas dari Kak Kalea? Mas sengaja ya mencari perhatian perempuan gatel itu sampai dia menendang kaki Mas?!"
Fandi terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. "Astagfirullah, Shinta sayang, jangan sebut nama perempuan pembawa sial itu lagi. Mas bersumpah, Mas merasa sangat jijik melihat mukanya semalam. Mas meliriknya karena mencari celah untuk menjatuhkannya lagi di depan Mbak Fitri-mu yang kaku itu. Di hati Mas cuma ada kamu, Shinta. Kamu jauh lebih seksi dan menarik."
Mendengar rayuan tersebut, Shinta tersenyum lebar penuh kemenangan. Sifat berani dan liciknya memuncak. Demi mengunci gairah pria itu agar tidak berpaling pada Kalea, Shinta melakukan tindakan nekat di dalam kubikel toilet studio. Ia perlahan melonggarkan kancing kemeja atasnya, sengaja memamerkan lekuk bahu dan kulit putihnya di depan kamera ponsel, lalu menatap Fandi dengan pandangan mata yang sayu menggoda.
"Oh ya? Mas benar-benar cuma mau melihat aku?" bisik Shinta dengan nada sensual, sengaja memprovokasi hasrat iparnya. "Hubungan rahasia kita ini sudah berjalan tiga tahun loh, Mas. Selama ini Mbak Fitri yang bodoh itu tidak tahu apa-apa karena dia terlalu sibuk menjadi dokter spesialis jantung di rumah sakit besar. Aku bahkan rela memberikan seluruh tubuh dan hidupku untuk Mas, asal Mas berjanji jangan pernah lagi melirik mata biru Kalea."
Napas Fandi seketika memburu melihat ke beranian Shinta yang memamerkan tubuhnya di balik layar ponsel. Hasrat terlarang yang sudah mereka pupuk selama tiga tahun tanpa sepengetahuan Fitri membuat pertahanan moral Fandi runtuh sepenuhnya. "Shinta... kamu benar-benar membuat Mas gila siang ini. Cukup, jangan menggoda Mas seperti itu di toilet. Mas sudah tidak bisa menahan hasrat Mas lagi kalau melihatmu seperti itu."
"Hahaha, kalau Mas memang sudah tidak tahan, jemput aku sekarang juga di studio foto," goda Shinta dengan tawa manja yang berbisik, kembali merapikan pakaiannya dengan gerakan lambat yang sengaja memancing. "Ayo kita selesaikan rasa rindu kita di tempat yang nyaman."
"Baik, sayang. Bereskan barang-barangmu sekarang," jawab Fandi dengan suara serak yang berat, matanya berkilat penuh nafsu yang meluap. "Kita pergi ke hotel sekarang juga. Mas akan sewa kamar terbaik untuk kita berdua siang ini. Mas tidak peduli lagi dengan pekerjaan kantor!" Fandi langsung memutus panggilan video, menyambar kunci mobilnya, dan melangkah terburu-buru keluar ruangan.
Satu jam kemudian, mobil sedan mewah milik Fandi membelok memasuki area lobi megah Hotel Grand Luminance. Ironisnya, demi mencari sensasi ketegangan yang menantang sekaligus ingin membuktikan eksistensinya, Shinta sengaja menyuruh Fandi untuk memesan kamar di hotel bintang lima tempat Kalea bekerja sebagai General Manager. Mereka berdua sama sekali tidak memiliki rasa takut atau bersalah sedikit pun kepada Fitri yang sedang bertaruh nyawa melayani pasien di rumah sakit.
Fandi dan Shinta melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis lobi hotel dengan jemari yang saling bertautan erat dan mesra. Shinta mengenakan kacamata hitam besar dengan gaya modis ala sosialita, sementara Fandi berjalan dengan angkuh di sampingnya, sesekali mengelus pinggang adik iparnya tersebut.
Namun, takdir rupanya tidak membiarkan kelicikan mereka berjalan tanpa hambatan. Tepat di dekat meja resepsionis utama, Kalea Azzahra Putri sedang berdiri mendampingi dua staf senior untuk meninjau laporan sistem reservasi tamu VIP. Kalea yang sore itu mengenakan blazer kerja hitamnya yang sangat anggun, tegas, dan memancarkan wibawa kepemimpinan, mendadak membeku di tempatnya berdiri.
Mata biru jernih milik Kalea membelalak sempurna saat menangkap sosok kakak ipar dan adik bungsunya sedang berjalan beriringan dengan keintiman yang sangat tidak wajar untuk status hubungan keluarga mereka.
"Mas Fandi dan Shinta? Kenapa mereka bergandengan tangan dan bermesraan seperti sepasang kekasih di hotel ini?" batin Kalea terkejut, jantungnya berdegup kencang karena menyadari ada sebuah kebusukan besar yang sedang telanjang di depan matanya.
Kalea melangkah lebar, menghentakkan hak sepatunya ke lantai marmer dengan langkah tegas menuju ke arah mereka berdua. "Mas Fandi? Shinta? Apa yang kalian lakukan berdua di hotel tempat saya bekerja?!" tanya Kalea dengan suara yang rendah, dingin, dan dipenuhi penekanan yang menusuk.
Melihat kehadiran Kalea yang tiba-tiba, Shinta sama sekali tidak terlihat panik atau ketakutan. Ia justru menurunkan kacamata hitamnya sedikit ke pangkal hidung, lalu melemparkan sebuah senyuman sinis dan mengejek yang sangat lebar ke arah kakaknya.
"Wah, lihat Mas... ada Kak Kalea si pembantu hotel," cemooh Shinta dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan agar didengar oleh para staf resepsionis di sekitar lobi. "Memangnya salah kalau kami datang ke sini, Kak? Kami ini tamu yang membawa uang. Mas Fandi mau memesan kamar VIP di sini untuk urusan... bisnis penting bersamaku siang ini. Iya kan, Mas?"
Fandi sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Shinta di depan Kalea. Seolah-olah mengabaikan seluruh rasa bersalah atas pengkhianatannya kepada Fitri, sepasang mata mesum Fandi justru kembali bergerak liar. Pria itu menatap lekuk tubuh mungil Kalea yang terbalut blazer hitam dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh gairah yang melecehkan di tempat umum.
"Benar kata adikmu, Kalea. Kami ke sini sebagai tamu resmi yang membayar mahal," sahut Fandi dengan nada suara yang merendahkan, sementara matanya tetap menatap tajam bibir ranum Kalea. "Sebagai General Manager yang profesional, seharusnya kamu melayani kami dengan ramah dan menyiapkan kamar terbaik, bukan malah berdiri di sini menginterogasi kami seperti polisi pamong praja."
Kalea menatap jalinan tangan mereka yang erat, lalu menatap wajah Fandi dan Shinta bergantian dengan pandangan mata biru yang berkilat tajam laksana belati, dipenuhi oleh rasa jijik dan kebencian yang teramat sangat mendalam. Sifat tegas dan tangguhnya membuat ia menolak untuk diam melihat pengkhianatan keji ini.
"Urusan bisnis penting?!" Kalea tertawa mengejek, sebuah tawa dingin yang terdengar sangat hambar namun menusuk indra pendengaran. "Kalian berdua benar-benar manusia bermuka dua yang tidak tahu malu! Mas Fandi, Mbak Fitri saat ini sedang bekerja keras membedah jantung pasien di rumah sakit, dan kamu malah membawa adik kandungnya ke kamar hotel untuk berselingkuh?! Dan kamu Shinta, kamu tega mengkhianati kakak yang sudah membiayai gaya hidupmu demi laki-laki bajingan ini?!"
Shinta melangkah satu maju, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kalea, lalu berbisik dengan nada memprovokasi yang sangat kejam dan penuh kemenangan egois. "Mbak Fitri itu bodoh, Kak. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sampai lupa bagaimana cara melayani suaminya sendiri. Jadi jangan coba-coba ikut campur atau mengadu pada siapa pun di rumah, atau aku akan menyuruh Papa untuk mencambuk tubuhmu lagi dengan ikat pinggang kulit sampai robek nanti malam! Ayo, Mas Fandi, kita naik ke kamar sekarang. Jangan ladeni wanita haram ini."
Fandi memberikan kedipan mata mesum terakhirnya ke arah wajah Kalea sebelum berbalik pergi bersama Shinta menuju lift khusus kamar tamu. "Selesaikan saja tugasmu di hotel ini dengan baik, Nona Manajer bermata biru yang cantik."
Kalea berdiri mematung di tengah lobi hotel yang luas, memandangi kepergian lift yang membawa Fandi dan Shinta menuju kamar atas dengan napas yang memburu menahan amarah yang luar biasa meledak di dalam dadanya. Rasa benci dan jijik kepada keluarganya kini telah mencapai titik puncak yang tidak bisa ditoleransi lagi. Namun di balik kemarahannya, tangan Kalea yang merogoh saku blazer hitamnya mencengkeram erat kartu nama hitam-emas milik Raditya Evan Baskara.
"Fandi... Shinta... kalian pikir kalian bisa terus bebas menginjak-injak harga diriku dan mengkhianati Mbak Fitri di rumah ini?" batin Kalea dengan rahang yang mengeras kuat hingga urat lehernya menegang.
...****************...
Sementara badai pengkhianatan sedang merayap di lobi Hotel Grand Luminance, ketenangan yang rapuh menyelimuti lantai lima gedung administrasi Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Di dalam ruang kerja Direktur Utama yang luas dan kedap suara, Raditya Evan Baskara sedang duduk bersandar di kursi kebesaran berbahan kulit hitam miliknya.
Jas dokter putihnya tersampir rapi di sandaran kursi. Radit memejamkan kedua mata elangnya perlahan, menikmati menit-menit berharga untuk mengistirahatkan pikirannya yang terkuras habis setelah memimpin operasi bedah vaskular yang menegangkan tadi pagi. Kedua tangan kekarnya saling bertautan di atas perut, dan napasnya berembus teratur. Namun, di balik kelopak matanya yang tertutup, bayangan sepasang mata berwarna biru jernih milik manajer hotel yang bar-bar itu mendadak melintas kembali, memicu desiran aneh yang membuat sudut bibir tampannya berkedut samar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang cukup keras dan berirama centil mendadak memecah kesunyian ruangan ber-AC dingin tersebut.
Radit menghela napas pendek yang sarat akan rasa gusar. Ia membuka matanya perlahan, mengunci kembali ekspresi wajahnya menjadi sedingin es dan sekaku batu batuan. Belum sempat ia memberikan izin masuk dengan suara baritonnya, gagang pintu ek mewah itu sudah bergerak ke bawah.
Pintu terbuka lebar, menampakkan sosok Natasha Olivia Renata yang melangkah masuk dengan gaya gemulai ala model papan atas. Siang itu, Natasha mengenakan gaun terusan ketat berwarna putih tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuh seksinya dengan jelas. Rambut pirangnya digerai indah, dan wajahnya dipenuhi riasan tebal yang segar. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah paper bag mewah dari restoran Jepang bintang lima terkenal di ibu kota.
"Halo, Radit sayang!" sapa Natasha dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat manja dan ceria, langsung melangkah mendekati meja kerja Radit tanpa memedulikan tatapan kaku pria di depannya.
Radit menegakkan posisi duduknya, menatap Natasha dengan pandangan yang sangat datar, dingin, dan tanpa minat sedikit pun. "Nona Natasha? Siapa yang memberikan Anda izin untuk melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi saya tanpa persetujuan dari sekretaris di depan?"
Natasha merengut manja, meletakkan paper bag mewah itu di atas meja kerja Radit yang bersih dengan gerakan pelan. Ia sengaja menopang kedua tangannya di tepi meja, memajukan tubuhnya agar jarak mereka mengikis. "Ih, kamu kok kaku banget sih, Dit? Panggilnya jangan Nona Natasha dong, panggil Natasha saja seperti semalam di taman belakang. Tadi sekretaris kamu sedang ke toilet, jadi aku langsung masuk saja. Lagipula, aku kan calon tunangan kamu, masa mau bertemu kamu saja harus pakai birokrasi yang ribet?"
"Di dalam lingkungan rumah sakit ini, saya adalah Direktur Utama dan Anda adalah orang asing, Nona Natasha," balas Radit dengan suara rendah yang sangat tegas dan memotong kalimat Natasha dengan telak. "Dan tolong hapus ilusi tentang status calon tunangan itu. Semalam saya sudah menegaskan kepada Anda dan ibu Anda bahwa saya menolak perjodohan ini secara mutlak."
Natasha mendengus kesal, namun ia menolak untuk menyerah begitu saja. Sifat ambisiusnya membuat ia mengabaikan urat malunya demi mendapatkan dokter tampan kaya raya ini. Ia menarik kursi di hadapan Radit lalu duduk dengan anggun sambil menyilangkan kakinya yang jenjang. "Aku tidak peduli dengan penolakan kamu semalam, Radit. Mommy Ambar sudah memberikan lampu hijau dan mendukung aku seratus persen untuk menjadi menantu di rumah kamu. Jadi, cepat atau lambat, kamu akan tetap menjadi milikku."
Natasha membuka paper bag di atas meja, mengeluarkan dua kotak bento premium yang berisi Premium Wagyu Beef Yakiniku dan Sashimi segar yang aromanya langsung menyeruak di dalam ruangan. "Sudah ah, jangan bahas masalah yang berat dulu. Aku ke sini sengaja mengosongkan jadwal pemotretanku siang ini khusus untuk membawakan makan siang kesukaan kamu. Aku tahu dari Mommy Ambar kalau kamu sangat suka daging wagyu dengan kematangan medium rare. Ayo, kita makan siang berdua di ruangan ini, aku temani."
Natasha menyodorkan sepasang sumpit bambu mewah ke hadapan Radit dengan senyuman yang sangat lebar dan penuh binar pujaan.
Radit melirik kotak makanan mewah itu sekilas, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata Natasha dengan pandangan mata elang yang dipenuhi aura intimidasi mutlak yang sangat dingin. Kedua tangannya tetap kokoh terlipat di depan dada, sama sekali tidak bergerak untuk menyentuh sumpit ataupun kotak makanan tersebut.
"Bawa kembali makanan Anda dan silakan keluar dari ruangan saya, Nona Natasha," usir Radit dengan nada suara yang sangat tenang namun berdentang laksana vonis hakim di ruang sidang. "Saya tidak memiliki waktu, minat, ataupun selera untuk menikmati makan makan berdua dengan Anda di tempat ini."
Wajah Natasha seketika berubah kaku, senyuman lebarnya membeku di udara. "Radit! Kamu keterlaluan ya! Aku sudah bersikap sangat manis dan menurunkan harga diriku sebagai model terkenal untuk datang ke sini memasakkan dan membawakan makanan ini untuk kamu! Kenapa kamu selalu bersikap sekejam ini sama aku, hah?! Apa susahnya sih cuma makan siang berdua saja?!"
"Karena setiap detik waktu saya terlalu berharga untuk dibuang bersama wanita yang tidak memiliki arti apa pun dalam hidup saya," skakmat Radit dengan kalimat sarkastik yang sangat tajam dan menusuk ego Natasha hingga ke dasar. Pria berusia 29 tahun itu mengambil ponsel pintarnya dari atas meja, mengabaikan keberadaan Natasha sepenuhnya. "Jika dalam waktu satu menit Anda tidak mengemas kembali makanan ini dan melangkah keluar dari ruangan saya, saya tidak akan segan-segan menekan tombol darurat untuk menyuruh lima petugas sekuriti menyeret Anda keluar dari gedung administrasi ini secara paksa. Kamu tahu betul saya tidak pernah bermain-main dengan ucapan saya."
"Kamu... kamu benar-benar pria berhati batu, Raditya Evan Baskara!" jerit Natasha dengan suara yang gemetar menahan rasa malu, marah, dan syok yang luar biasa karena ditolak dengan sangat kejam untuk kesekian kalinya. Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya yang dilapisi maskara tebal.
Dengan gerakan yang sangat terburu-buru dan kasar karena emosi yang meluap, Natasha meraup kembali seluruh kotak bento premiumnya ke dalam paper bag mewah tersebut. Ia berdiri dari kursi dengan menghentakkan kakinya kesal, menatap Radit dengan pandangan penuh dendam yang terluka. "Awas kamu ya, Radit! Lihat saja nanti! Dalam waktu dua minggu, kamu tidak akan pernah bisa membawa perempuan bermata biru fiktifmu itu ke hadapan Mommy Ambar! Dan saat hari itu tiba, aku yang akan memastikan kamu berlutut memohon maaf di depan wajahku?!"
"Kita lihat saja nanti, Nona Natasha. Pintu keluar ada di sebelah kiri Anda," jawab Radit tanpa mendongak dari layar ponselnya, suaranya terdengar sangat datar dan santai seolah ancaman Natasha tidak lebih dari sekadar desiran angin lalu.
Natasha membalikkan tubuhnya dengan sentakan kasar, lalu melangkah lebar dengan entakan sepatu hak tingginya yang berisik, membanting pintu kerja Radit dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang bergaung.
BAM!
Suasana ruangan kerja mewah itu akhirnya kembali sunyi dan dingin.
Raditya Evan Baskara perlahan menurunkan ponselnya, lalu menyandarkan kembali tubuh jangkungnya pada kursi kulit hitamnya. Sebuah senyuman misterius yang sangat tipis dan menawan perlahan terukir di sudut bibir tampannya, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam secara sempurna. Kilatan mata elangnya tampak dipenuhi oleh rasa antisipasi yang besar. Ia melirik jam tangan Rolex-nya yang menunjukkan bahwa taruhan waktu satu minggu dengan Kalea sedang berjalan. Radit tahu betul, gangguan dari Natasha siang ini justru semakin memantapkan posisinya untuk segera mengunci sang manajer hotel yang bar-bar itu ke dalam belenggu takdir kontrak pacar pura-pura yang sudah ia persiapkan dengan sangat matang.