Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Lagi-lagi dibuat kesal
Keesokan paginya...
Untuk kedua kalinya dalam minggu itu, Queen berhasil bangun lebih pagi dari biasanya. Hal yang cukup ajaib bahkan menurut dirinya sendiri.
Setelah sarapan singkat, ia langsung berangkat ke kampus. Di dalam tasnya tersimpan beberapa lembar revisi yang semalam dikerjakannya setelah Revan pulang. Meski setengah terpaksa, ia tetap mengerjakannya.
Begitu memasuki area kampus, Queen langsung disambut suara heboh yang sudah sangat dikenalnya.
"Queeeen!" Anggi berlari kecil menghampirinya.
Queen sampai terkejut. "Astaga. Lo kenapa pagi-pagi udah kayak orang kesurupan?"
Anggi langsung merangkul bahunya. "Jawab dulu pertanyaan gue."
"Apa?"
"Lo deket sama Pak Revan di luar kampus?"
Deg.
Queen langsung merasa firasat buruk. "Kenapa nanya begitu?"
"Maksud gue..." Anggi menyipitkan mata curiga. "Seberapa dekat?"
Queen hampir tersedak minuman yang baru saja dibelinya. "Dekat apaan sih?"
"Jangan bohong."
Queen langsung memukul lengan sahabatnya. "Ngaco bamget sih lo."
Anggi mendecih. "Semalam grup kampus rame."
"Hah?"
"Dita lihat Pak Revan keluar dari rumah lo."
Queen membeku. "Hah? Masa sih?"
"Iya, Queen."
"Tadi lo bilang, Dita?"
"Iya, rumah dia deketkan sama rumah lo."
Queen langsung memegang kepalanya. Selesai sudah hidupnya. "Terus dia bilang apa?"
Anggi langsung menirukan gaya gosip mahasiswa. "Wah, Pak Revan ternyata dekat sama Queen.'"
"'Jangan-jangan mereka keluarga.'"
"'Jangan-jangan lagi bimbingan skripsi pribadi.'"
"'Jangan-jangan...'"
"STOP!"
Queen langsung menutup mulut Anggi.
Anggi tertawa keras. "Jadi bener dia ke rumah lo?"
Queen menghela napas panjang. "Iya."
Mata Anggi langsung membulat. "Astaga!"
"Jangan teriak!"
"Kenapa dosen favorit kampus bisa ada di rumah lo?"
"Karena dia guru privat skripsi gue."
Anggi berkedip, lalu berkedip lagi. Kemudian... "Hahahahaha!"
Satu koridor langsung menoleh karena suara tawanya. Queen rasanya ingin menghilang dari muka bumi.
"Ya ampun..." Anggi sampai memegangi perutnya. "Jadi sekarang hidup lo diawasin sama Pak Revan di kampus dan di rumah juga?"
Queen langsung menunjuk sahabatnya. "Lo nggak usah seneng dulu."
"Gue bukan seneng."
"Terus kenapa?"
"Gue bahagia."
"Anggi!"
Mereka berdua kembali berjalan menuju gedung fakultas. Namun baru beberapa langkah, suasana koridor mendadak berubah lebih tenang.
Beberapa mahasiswa perempuan langsung merapikan rambut mereka. Yang lain pura-pura sibuk membuka laptop. Queen sudah tahu penyebabnya tanpa perlu menoleh.
Revan... pria itu berjalan dari arah berlawanan sambil membawa beberapa map di tangannya. Kemeja putih dengan lengan digulung membuatnya terlihat rapi dan profesional seperti biasa.
Anggi langsung menyenggol Queen berkali-kali. "Itu... itu..."
"Tau."
"Dia datang."
"Iya gue tau."
"Dia lihat kita."
"Iya Anggi."
"Dia ganteng banget."
Queen memejamkan mata. "Yang terakhir nggak perlu disebutin juga... Anggi."
Anggi nyengir lebar.
Sementara itu, Revan sudah semakin dekat. Beberapa mahasiswa menyapa lebih dulu.
"Pagi Pak."
"Pagi."
"Pagi Pak Revan."
"Pagi."
Lalu saat melewati Queen dan Anggi. Pria itu berhenti. Queen langsung merasa tidak nyaman.
"Pagi, Queen."
Seketika koridor menjadi sunyi.
Mata Anggi membelalak. Beberapa mahasiswa di sekitar mereka ikut menoleh.
Queen ingin menangis. "P-pagi..." jawabnya pelan.
Revan mengangguk. "Revisi yang saya berikan kemarin sudah dikerjakan?"
Anggi langsung menatap Queen. Mahasiswa lain ikut menatap Queen. Queen ingin mengubur dirinya sendiri.
"Udah."
"Bagus."
"Tapi baru sedikit."
"Yang penting dikerjakan."
Queen mendengus pelan.
Sedangkan Revan terlihat cukup puas. "Nanti sore saya cek."
"Pak..." Queen mulai protes.
"Hm?"
"Bisa nggak jangan bahas skripsi di kampus?"
Sudut bibir Revan terangkat tipis. "Kenapa?"
"Malu."
Kini Revan tertawa kecil. "Ternyata kamu tahu malu juga."
"Pak Revan!"
Tawa beberapa mahasiswa langsung terdengar. Sedangkan Revan hanya mengangguk santai sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang dosen.
Meninggalkan Queen yang berdiri kaku di tengah koridor. Dan Anggi yang kini menatapnya dengan ekspresi penuh arti.
"Queen..."
"Apa lagi?"
"Fix."
"Fix apaan?"
Anggi menyeringai lebar. "Semester ini bakal seru."
Queen langsung memukul lengannya lagi. Namun jauh di dalam hati, kuliah kali ini tidak terasa membosankan seperti biasanya.
Setelah kejadian di koridor itu, Queen dan Anggi akhirnya masuk ke dalam kelas. Namun baru saja Queen duduk di kursinya, ponselnya bergetar.
Nathan.
Senyum kecil langsung muncul di wajahnya. Queen mulai membalas pesan dari Nathan, jarinya sibuk mengetik dan seketika Queen langsung terkekeh kecil.
Anggi yang duduk di sampingnya langsung melirik.
"Dari Nathan ya?"
Queen hanya mengangguk, sementara jarinya masih sibuk mengetik.
"Cie," goda Anggi sambil tersenyum jahil.
"Cie apaan sih?" jawabnya tanpa menoleh
Anggi hanya menyeringai jahil.
Namun sebelum mereka sempat melanjutkan obrolan, dosen masuk ke dalam kelas dan perkuliahan segera dimulai.
Waktu berjalan cukup cepat. Saat jam istirahat tiba, Queen dan Anggi memutuskan pergi ke kantin.
Seperti biasa, kantin kampus sedang ramai. Mereka baru saja membeli minuman ketika seseorang memanggil dari belakang.
"Queen."
Queen menoleh.
Nathan... Pria itu berdiri sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
"Nathan?" Queen terlihat terkejut. "Ngapain lo di sini?"
"Mau ketemu pacar gue lah."
Anggi langsung menahan senyum.
Nathan lalu duduk di kursi kosong dekat mereka. "Aku lagi ada urusan dekat sini."
Queen mengangguk.
Mereka mulai mengobrol santai. Sesekali Nathan membuat Queen tertawa.
Namun beberapa meja dari tempat mereka duduk. Seseorang tanpa sengaja melihat ke arah mereka... Revan. Pria itu sedang duduk bersama beberapa dosen lain sambil membahas sebuah dokumen.
Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan. Namun saat melihat Queen tertawa lepas bersama Nathan, tatapannya sempat berhenti beberapa detik.
"Pak Revan?" Suara salah satu dosen membuatnya kembali fokus.
"Ya?"
"Kita bisa lanjut?"
Revan langsung mengalihkan pandangan. "I-iya silahkan."
Namun dari tempat duduknya, ia sempat melihat Nathan meraih gelas minuman Queen tanpa izin lalu meminumnya santai.
Queen hanya memprotes kecil. Sedangkan Nathan tertawa. Entah kenapa, Revan sedikit mengernyit.
Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memainkan sedotan minumannya. "Oh iya," katanya tiba-tiba.
"Hm?" Queen menoleh.
"Malam ini ikut gue, yuk."
"Ke mana?"
Nathan tersenyum lebar. "Ada party ulang tahun sepupu gue."
Anggi yang sedang memakan kentang goreng langsung tertarik. "Party?"
"Iya."
"Di mana?"
"Di club."
Mata Anggi langsung berbinar. "Seru tuh!"
Nathan terkekeh. "Iya dong pasti."
Lalu pria itu menoleh kepada Queen. "Ayo ikut."
Queen terlihat ragu. "Yah... kayaknya gue nggak bisa deh."
"Kenapa?"
"Soalnya gue ada privat sore ini."
Nathan langsung mengangkat alis. 'Tenang aja. acaranya malam kok."
Queen terdiam.
Nathan melanjutkan, "Partynya juga mulai jam delapan."
"Jam delapan?"
"Iya."
Queen mulai berpikir. Privatnya dimulai pukul empat sore. Biasanya selesai sekitar pukul enam atau setengah tujuh, harusnya masih sempat.
Nathan tersenyum jahil. "Ayo dong, sayang."
Anggi yang sedang minum langsung hampir tersedak.
Sedangkan Queen membeku. "Hah?"
Nathan tertawa kecil. "Kenapa?"
Queen menatapnya heran. "Kok tumben manggil sayang?"
Nathan mengangkat bahu santai. "Ya karena kita kan sekarang pacaran."
Anggi langsung menahan senyum.
Nathan melanjutkan dengan santai. "Gue kepikiran aja."
"Apaan?"
"Mulai sekarang kita pakai aku-kamu aja."
Queen mengangkat alis. "Terus?"
"Terus aku panggil kamu sayang."
Anggi langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Sedangkan Queen mulai salah tingkah. "Nathan..."
"Boleh kan?"
Nathan menatapnya dengan senyum manis. Untuk sesaat Queen merasa pipinya menghangat.
Lalu perlahan ia mengangguk. "Iya deh."
Senyum Nathan langsung melebar. "Nah gitu dong."
Anggi yang melihatnya hanya bisa menggeleng-geleng. "Cieee, sayang... hahaha."
"Diam lo," gerutu Queen malu.
Nathan tertawa puas. "Jadi malam ini ikut ya?"
Queen menghela napas. "Lihat nanti deh."
"Kenapa lagi?"
"Aku kan belum tahu privatnya selesai jam berapa."
Nathan langsung menyandarkan tubuhnya. "Pokoknya jam delapan aku jemput."
Queen berpikir sejenak. "Hm..."
"Nggak ada alasan."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi."
Anggi ikut menimpali. "Udah ikut aja, Queen."
"Oke ya sayang?" kata Nathan cepat.
Queen akhirnya menyerah. "Yaudah. Nanti aku kabarin."
"Nah gitu dong."
"Soalnya privatku jam empat."
Nathan mengangguk. "Kalau jam segitu harusnya bisa lah."
Queen tersenyum kecil. "Iya juga sih."
Apalagi sekarang malam Minggu. Dan selama beberapa hari terakhir, hidupnya memang hanya diisi revisi skripsi, omelan Revan, dan ancaman dari Kevin.
Mungkin sesekali bersenang-senang tidak masalah.
Nathan tersenyum puas. "Oke deh kalau gitu." Pria itu berdiri dari kursinya. "Aku cabut dulu ya, sayang."
Queen kembali dibuat salah tingkah mendengar panggilan itu. "I-iya."
Tanpa diduga, Nathan membungkuk sedikit lalu mencubit pipi Queen gemas. "Sampai nanti malam."
"Ikh... malu tau!"
Nathan tertawa keras.
Anggi yang melihat kejadian itu langsung menjerit kecil. "Ya ampun sweet banget sih kalian."
Queen langsung menutup wajahnya. Sedangkan Nathan melambaikan tangan sebelum berjalan pergi meninggalkan kantin.
Dari kejauhan, di meja para dosen. Revan tanpa sengaja melihat kejadian itu. Tatapannya sempat berhenti saat Nathan mencubit pipi Queen dengan begitu akrab.
Entah kenapa rahangnya sedikit mengeras. "Pak Revan?"
Suara dosen di sampingnya membuatnya tersadar.
"Hm?"
"Kita bisa lanjut?"
Revan mengalihkan pandangannya dari arah kantin.
"Iya." Pria itu kembali melihat dokumen di depannya.
Namun entah mengapa, setelah menjadi guru privat Queen, ia merasa sedikit tidak nyaman. Dan perasaan itu muncul saat melihat gadis keras kepala itu tersenyum begitu manis untuk pria lain.
Saling support sabi kali ya😉