Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Ningsih curiga
"Anisa ke mana kok sudah lama tidak kelihatan, Ning?" Bu Ita muncul ketika dia sedang membeli sayur keliling.
"Kemaren dia pergi ke kota di rumah saudara tapi mungkin beberapa hari lagi akan segera pulang." Ningsih menjawab sambil tersenyum.
"Loh kok dia bisa seberani itu mengatakan Anisa akan segera pulang?" Kinan membatin di dalam hati karena dia memang tidak tahu.
"Oh tak kira ke mana kok tidak pernah nampak dia keliling desa lagi menggunakan motor, biasa kalau sore kan sering dia kelilingnya." Bu Ita berkata santai saja karena dia juga tidak tahu.
"Biasa lah, namanya gadis jadi sedang banyak pikiran sehingga membutuhkan healing sebentar ke kota." bu Ningsih tersenyum di hadapan semua orang.
"Arumi iya setiap hari nampak karena dia berangkat kerja kan ya." Mbak Nanda juga membuka suara.
"Iya." bu Ningsih mengangguk Dan Dia seolah tidak ada beban sama sekali.
"Apa ini, Kenapa dia tidak takut mengatakan Anisa masih hidup?" Kinan tenggelam dalam pikiran dia sendiri.
Bahkan karena sedang sibuk memikirkan ucapan bu Ningsih bahwa Anisa masih hidup di dunia ini, Kinan malah tanpa sadar meremas-remas tahu yang ada di dalam plastik karena pikiran dia begitu gundah gulana memikirkan ucapan dari bu Ningsih tadi, sungguh dia tidak paham dengan ucapan tersebut.
Amir mendapat info dari Arya bahwa Anisa sudah meninggal dunia dengan cara gantung diri, namun Kenapa ini bu Ningsih dengan berani mengatakan bahwa Anisa masih hidup dan dia hanya pergi ke kota saja untuk mencari hiburan, bahkan tidak lama lagi dia akan segera pulang ke desa ini bersama dengan yang lain juga.
Jelas ini menjadi tanda tanya besar di dalam hati Kinan karena tidak mungkin bila orang sudah meninggal dunia tapi masih bisa kembali lagi, rasa penasaran yang begitu besar terkadang ingin sekali Kinan bertanya secara langsung namun dia menyadari bahwa ucapan itu nanti hanya akan memicu pertengkaran.
Para warga yang ada di sini juga jelas tidak akan percaya bahwa Anisa sudah meninggal dunia dengan cara gantung diri, sebab orang tua Anisa sendiri mengatakan bahwa gadis itu dalam keadaan sehat dan saat ini hanya sedang pergi ke kota untuk liburan, dalam beberapa hari kedepan dia akan segera pulang kembali ke sini.
Tentu Kinan jadi tidak tahu harus bereaksi bagaimana Karena dia juga kebingungan, apa mungkin ini semua memang hanya konspirasi atau karena bu Ningsih yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Anisa meninggal dunia dengan cara seperti itu, sehingga dia tetap berpendapat bahwa Anisa masih hidup di dunia ini.
Mbak Nanda menoleh kepada Kinan ketika melihat wanita itu sedang meremas-remas tahu yang ada di dalam kantong plastik, bahkan sejak tadi Kinan hanya diam saja tanpa memberikan ucapan walau hanya sepatah kata kepada para teman yang sedang membeli sayur bersama, seolah Dia sedang memiliki banyak pikiran sehingga malas untuk membuka suara.
"Nan, kamu lagi bertengkar sama Amir ya jadi melampiaskan kepada tahu ini?" Mbak Nanda bertanya sambil bergurau.
"Hah!" Kinan kaget dan reflek melepaskan tahu yang ada di dalam plastik itu.
"Masa masih pengantin baru sudah bertengkar saja kau ini." Bu Ita juga membuka suara.
"Enggak kok, aku tidak bertengkar sama Mas Amir." Kinan menggeleng dengan cepat.
"Lalu Kenapa tahu itu ke rumah sampai hancur lebur dan tidak ada satu pun yang tersisa dalam keadaan utuh." Mbak Nanda mengambil plastik itu dan menunjukkan di hadapan semua orang.
"Pasti Dia sedang kesal dan hanya bisa melampiaskan kepada tahu ini saja." Bu Ita tetap yakin dengan hal itu.
Kinan menghelai nafas panjang Karena dia juga tidak mungkin memberikan alasan bahwa dirinya sedang banyak pikiran, ini mau tidak mau maka dia harus mengiyakan bahwa dirinya sedang bertengkar dengan Amir yang ada di rumah, hanya alasan itu saja yang bisa membuat Kinan merasa aman.
"Atau Kamu sedang ada pikiran lain, Nan?" bu Ningsih ikut bertanya kepada Kinan.
"Ah enggak, nggak ada kok!" Kinan terlihat panik dan dia menggeleng dengan sangat cepat.
"Cerita saja kalau memang ada, kau terlihat begitu panik sekarang." Bu Ita juga kaget melihat reaksi Kinan.
"Ah aku pulang dulu ya kalau begitu." Kinan tidak jadi belanja dan segera pergi meninggalkan mamang sayur.
"Dia Kenapa sih kok mendadak saja seperti itu?" Mbak Nanda sangat bingung dengan Kinan yang sangat gugup.
"Aku yakin dia pasti sedang bertengkar itu dengan Amir, tidak biasa Kinan hanya diam saja dan terus termenung." Bu Ita menatap langkah wanita yang sudah menjauh itu.
"Masih pengantin baru tapi sudah bertengkar jadi pasti terasa begitu hambar sekali." Ningsih juga ikut membuka suara.
"Padahal mereka sudah sama-sama dewasa dan pernah membangun rumah tangga, tapi yang namanya manusia pasti saja ada kesalahan yang datang dalam kehidupan ini." ujar Bu Ita.
Semua mengangguk setuju karena setiap rumah tangga pasti akan ada pertengkaran di dalam sana, entah itu berat atau ringan tapi yang jelas memang menimbulkan pertengkaran yang bisa membuat hati ini terasa begitu luka, belum lagi nanti bila ada orang lain yang ikut campur maka pasti permasalahan akan semakin panjang dan juga rumit.
"Kenapa dia seolah melirik aku sejak tadi?" batin Ningsih yang merasakan dirikan dari Kinan.
"Menurut aku Dia sangat terbebani sekali itu, apa Kinan tipe istri yang sangat takut kepada suami ya?" Nanda bertanya kepada Bu Ita.
"Ya kan sudah sewajarnya kalau istri takut kepada suami dan memiliki kepatuhan besar." Bu Ita menjawab dengan lembut.
"Semoga saja mereka tidak memulai perdebatan yang sangat besar, kasihan juga kalau banyak masalah." Nanda berdoa dengan hati yang baik.
Ningsih yang masih tetap terdiam karena sejak tadi Dia merasa bahwa Kinan seolah melirik dia dengan tatapan yang sangat takut dan penasaran juga, tapi dia tidak bisa menyimpulkan arti dari lirikan tersebut karena dirinya juga tidak paham apa yang telah terjadi, sebab menurut dia masalah yang sedang terjadi itu tidak pernah ada orang yang mengetahui.
"Mungkin hanya perasaan aku saja karena tidak ada yang mengetahui tentang kematian Anisa." Ningsih kembali membatin di dalam hati.
Dia sangat yakin bahwa tidak ada warga lain yang mengetahui tentang kematian Anisa itu, hanya Arumi dan juga pak Hardi yang telah melihat secara langsung dan bila mereka tidak membuka mulut maka masalah itu tidak akan menyebar ke seluruh orang dan mereka bisa tetap anteng menikmati apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
member purnama yang senior pda sibuk pacaran aja sih 🤭...musnah dah tuh member yang baru netes 🤣🤣
aayooo thor..kita tunggu loh jodohnya Kiara. harus yg sakti melebihi Kiara ...biar gak dianggap remeh sama kiara nya..yang ganteng ..yang gagah..pokoke laki² yg sempurna yg cuma ada didunia novel../Facepalm/
siapa sebenernya iblis jahat itu...
apa motif drai rencannya bu ningsih ya... kenapa dia membangkitkan anisa dengan mengisi tubuh anisa dengan arwah jahat....
iblis ini sungguh licik karna bisa menghilahkan jejaknya sehingga para member kesulitan menemukan dan menangkapnya...
ayo Purnama mulailah melakukan penyelidika. karna anisa sudah hidup kembali....
Apakah ada tokoh baru untuk jodoh Kiara,,,Digo kurang pas lah ..tapi semua ada di tangan othor sih 🤭🤭
ya berjuang lebih keras lagi memantaskan diri
Sekelas Kiara tentu butuh pendamping yang tangguh mental baja
jangan sedih go,ucapan dua setan bodoh itu harusnya jadi motifasi kamu buat tambah kekuatan dgn cara trs berlatih biar tambah kuat💪👍