NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan yang Tidak Sengaja

"Bagaimana kabarmu sekarang, Dik?" tanya Deni begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap Pradika.

Ia meletakkan sekeranjang buah pir di atas meja nakas, lalu menarik sebuah kursi plastik untuk duduk di sisi ranjang.

Pradika yang sedang bersandar pada tumpukan bantal menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Wajahnya yang kemarin sempat pucat pasi kini perlahan mulai memancarkan rona kehidupan, meski selang infus masih setia menancap di punggung tangan kanannya.

"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin."

"Baguslah kalau begitu,"

"Jujur saja, melihatmu ambruk seperti ini membuatku pusing. Sepertinya aku harus mencari rekan kerja baru di yang badannya lebih tahan banting." keluh Deni sembari mengembuskan napas berat, bahunya merosot lesu.

Pradika terkekeh pelan mendengar keluhan rekannya itu.

"Kenapa harus repot-repot? Kamu bisa membawa Syahrul."

"Syahrul?" Deni membelalakkan matanya, menatap Pradika seolah pemuda itu baru saja menyarankan ide paling gila abad ini.

"Dia itu masih anak bawang, Dik! Baru lulus training tiga bulan lalu. Mana bisa bocah sekecil itu dilepas langsung untuk menghandle pekerjaan berat di lapangan, tengah hutan pula?"

"Kan ada kamu yang bisa mengawasi dan mengajarinya pelan-pelan. Aku yakin dia pasti bisa beradaptasi dengan cepat," bela Pradika tenang.

"Ah, tidak mau! Aku ini mencari rekan kerja untuk berbagi tugas dan meringankan beban penderitaan di lapangan, bukan malah menambah pekerjaan baru dengan mengasuh anak bawang," gerutu Deni.

Pradika hanya bisa tertawa pasrah menanggapi penolakan Deni. Ia sendiri tahu bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu pekerjaan divisi mereka dalam waktu dekat.

Kemarin, dokter yang merawatnya sudah memberikan peringatan keras. Pradika ditegaskan tidak boleh lagi mengonsumsi makanan sembarangan di warung pinggir jalan, harus menjaga kebersihan sanitasi air, dan dilarang keras melakukan aktivitas fisik yang terlalu lelah karena hal-hal tersebut bisa dengan mudah memicu bakteri di ususnya aktif kembali dan membuat penyakit typusnya kambuh.

Deni menatap Pradika lekat-lekat, menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Tapi kalau dipikir-pikir, ini kan bukan pengalaman pertamamu bertugas di area pedalaman Kalimantan? Tahun lalu kamu bahkan berada di hutan yang lebih lebat selama satu bulan penuh."

"Memang bukan," aku Pradika jujur.

"Lalu kenapa baru sekarang badanmu bisa ambruk sampai terkena typus begini?"

"Aku juga tidak tahu. Mungkin memang kondisi fisikku saja yang sedang apes."

Deni tidak langsung percaya. Ia menggosok dagunya yang ditumbuhi janggut tipis dengan gerakan lambat, memasang rahang berpikir seolah sedang menganalisis sebuah konspirasi besar di balik penyakit typus Pradika. Setelah beberapa detik menimbang-nimbang, sebuah senyuman jahil mendadak terbit di sudut bibir pria beranak satu itu.

"Sepertinya sakitmu ini bukan murni karena faktor kelelahan fisik atau sanitasi air yang buruk di dalam hutan, Dik," ujar Deni penuh selidik.

"Lalu karena apa?" tanya Pradika polos, mengernyitkan dahi heran.

"Sepertinya... sakitmu ini karena kamu sedang merindukan seseorang setengah mati," tembak Deni telak sembari terkekeh menggoda.

Pradika tersedak air liurnya sendiri, wajahnya mendadak berubah kikuk.

"Apa hubungannya rindu dengan bakteri usus? Jangan mengada-ada."

"Tentu saja ada hubungannya! Pikiran stres karena rindu bisa menurunkan imun tubuh, tahu!" sahut Deni semakin bersemangat menggoda juniornya.

"Aku perhatikan ya, selama dua minggu kita di dalam hutan kemarin, setiap kali ada waktu senggang sejenak setelah makan malam, kamu selalu saja duduk menyendiri memperhatikan layar ponselmu. Padahal kamu sudah tahu kalau di sana itu tidak ada sinyal sama sekali. Nah, perbuatan sekonyol itu hanya dilakukan oleh orang yang sedang kasmaran. Siapa sih perempuan yang bisa membuat seorang Pradika yang kaku ini jadi seperti itu? Apa kamu sudah punya pacar?"

Pradika menggelengkan kepalanya lemah, mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar rawat. Jika status perempuan itu adalah pacarnya, mungkin Pradika akan dengan sangat percaya diri dan bangga menjawab seluruh rentetan pertanyaan kepo dari Deni. Namun sayangnya, hubungan asmaranya dengan Rana, sang admin gudang logistik itu, belum sampai ke tahap komitmen apa pun. Belum ada kejelasan, dan ia sendiri masih berada di posisi memperjuangkan rasa sepihak.

Beruntung bagi Pradika, ketukan pintu menyelamatkannya dari interogasi lanjutan Deni. Seorang dokter bersama dua perawat masuk ke dalam ruangan untuk melakukan kunjungan rutin dan memeriksa cairan infus.

Melihat kedatangan tim medis, Deni pun segera berpamitan karena ia sudah memiliki janji dengan istrinya untuk mengantarkan belanja keperluan dapur ke pasar. Kini, Pradika kembali sendirian di dalam kamar rawat inap yang didominasi aroma tajam cairan antiseptik itu. Kesunyian seketika menyergap ruangan.

Merasa bosan, tangan kiri Pradika bergerak perlahan mengambil ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja nakas sebelah tempat tidur. Begitu ia membuka aplikasi perpesanan hijau, jemarinya secara otomatis bergerak mengetuk ruang obrolan pribadinya dengan Rana. Di kolom pengetikan bagian bawah, ternyata masih ada sebaris kalimat draf pesan yang sengaja ia ketik saat baru saja kembali dari pedalaman, menggantung belum sempat terhapus.

Pradika membaca ulang draf teks tersebut. Niat awalnya adalah ingin menekan tombol hapus secara keseluruhan karena ia merasa isi pesan tersebut terlalu impulsif, norak, dan berpotensi membuat Rana merasa risih. Namun, malang tak dapat ditolak. Ujung jarinya justru tidak sengaja menekan ikon panah hijau; tombol kirim.

"Astagfirullah!" pekik Pradika tertahan, matanya terbelalak lebar menatap layar.

Baru saja Pradika ingin menekan lama gelembung pesan tersebut untuk memilih opsi 'Hapus untuk Semua Orang', keajaiban teknologi justru bekerja terlalu cepat. Di sudut bawah pesan tersebut, tanda dua centang kelabu dalam hitungan detik langsung berubah warna menjadi biru. Pesan itu sudah dibaca langsung oleh penerimanya di seberang sana.

Pradika mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan yang bebas infus, merutuki kecerobohan jempolnya sendiri. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat dibandingkan saat ia menghadapi presentasi kenaikan skill. Rasa cemas, malu, dan panik berbaur menjadi satu di dalam dadanya, menanti dengan pasrah bagaimana bentuk jawaban yang kemungkinan besar akan diberikan oleh Rana atas kelancangan pesannya.

Sementara itu, Rana yang sebenarnya baru saja ingin mengetikkan pesan balasan untuk Fahri, mendadak membeku di tempat. Kelopak matanya berkedip beberapa kali, menatap tidak percaya pada sebaris notifikasi pesan baru yang masuk dari kontak bernama 'Mas Pradika'.

Pesan itu berbunyi:

Mas Pradika: Assalamu'alaikum Rana, bagaimana kabarmu? Aku baru saja kembali dari daerah pedalaman Kalimantan Tengah yang tidak ada sinyal. Apakah kamu merindukanku?

"Rindu?" tanya Rana lirih pada diri sendiri.

Rana menarik napas dalam-dalam, bersandar pada kursinya. Sudut hatinya mendadak diayun oleh perasaan aneh. Jujur saja, selama beberapa minggu masa cutinya kemarin, pikiran Rana sudah terkuras habis oleh gunungan masalah pelik yang dihadapinya;;mulai dari drama perjodohan paksa dengan Putra Nugroho, tindakan kekerasan fisik dari Bu Retno, pelarian diri yang menegangkan ke Cepu, hingga fakta menyakitkan tentang bapak kandungnya. Rana bahkan melupakan eksistensi Pradika dari memori hariannya karena fokus menyelamatkan hidupnya sendiri.

Tetapi siang ini, laki-laki itu justru muncul kembali tanpa prasangka, melempar pertanyaan langsung apakah dirinya merindukan kehadirannya atau tidak.

Rana menjadi bingung dan dilanda kebimbangan tentang bagaimana cara membalas pesan seberani itu tanpa menimbulkan salah paham. Setelah menimbang-nimbang kata selama beberapa menit, Rana akhirnya memutuskan untuk membalasnya dengan gaya bahasa yang seformal dan seaman mungkin.

Rana: Wa'alaikumsalam, Mas Pradika. Alhamdulillah, kabar saya di sini baik. Semoga Mas Pradika juga dalam kondisi yang sama, selalu sehat, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT di mana pun berada.

Di seberang sana, di atas ranjang rumah sakit, Pradika yang sejak tadi menahan napas langsung mengembuskan napas lega melihat balasan Rana. Setidaknya, gadis itu tidak langsung memblokir nomornya karena merasa terganggu. Ia dengan cepat mengetik balasan.

Mas Pradika: Aamiin ya rabbal 'alamiin... Terima kasih banyak atas doanya, Rana. Oh ya, apakah kamu sudah kembali dari cuti?

Rana: Iya, Mas. Saya sudah sampai di mess sejak kemarin sore. Saya baru saja selesai induksi.

Mas Pradika: Syukurlah kalau sudah sampai dengan selamat... Bagaimana dengan pengalaman cuti pulang kampungmu kemarin? Apakah menyenangkan?

Rana menatap layar ponselnya lama sekali, jemarinya menggantung di atas papan ketik virtual. Pertanyaan sederhana Pradika tentang kata "menyenangkan" mendadak memicu kembali memori tamparan Bu Retno dan tangisan haru di rumah kayu Cepu bersama Pak Tarmuji.

Ingin rasanya Rana berkata jujur menumpahkan seluruh beban hatinya pada seseorang, namun benteng harga dirinya merasa malu dan belum siap untuk menceritakan borok aib rumah tangga keluarganya kepada pria yang baru dikenalnya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin berbohong dengan mengatakan bahwa cuti kemarin "menyenangkan".

Rana akhirnya menarik napas panjang, memilih jalan tengah yang ambigu.

Rana: Seperti naik roller coaster, Mas. Penuh dengan kejutan yang tidak terduga dan menguras emosi. Mungkin karena saya sudah terlalu lama tidak pulang ke rumah, jadi rasanya banyak hal yang berubah.

Mas Pradika: Wah, pasti pengalaman liburanmu kemarin rasanya sangat seru dan menyenangkan sekali ya sampai membuat emosimu naik turun. Aku jadi sedikit iri.

Rana hanya tersenyum getir membaca kesimpulan keliru dari Pradika yang mengira liburannya menyenangkan. Ia memilih tidak mengoreksi asumsi pria itu dan menyudahi obrolan itu dengan pamit karena harus segera mengirimkan laporan.

Sejak momentum obrolan akibat pesan salah kirim itu, hubungan antara Rana dan Pradika secara perlahan namun pasti mengalami pergeseran emosional yang signifikan. Mereka berdua menjadi jauh lebih dekat dari sebelumnya.

Meskipun Pradika masih harus mendekam di ruang perawatan rumah sakit selama lima hari ke depan untuk pemulihan total dari penyakit typusnya, dan Rana sudah mulai sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen manifes di gudang logistik, keduanya hampir setiap malam selalu menyempatkan diri untuk saling bertukar pesan singkat.

Isi pesannya sebenarnya sederhana, hanya seputar tanya-jawab kegiatan harian; Pradika yang mengingatkan Rana untuk tidak melewatkan jam makan siang agar maagnya tidak kambuh, atau Rana yang balik bertanya apakah Pradika sendiri sudah makan atau belum. Namun, bagi dua orang yang sama-sama berhati sepi di perantauan ini, perhatian-perhatian kecil yang konsisten itu tak ubahnya oase hangat yang menumbuhkan rasa nyaman yang kian mendalam di hati masing-masing.

Waktu terus bergulir hingga satu minggu kemudian, Pradika akhirnya dinyatakan sembuh oleh tim dokter dan diizinkan mengurus kepulangan untuk menjalani rawat jalan. Jadwal cuti tahunan Pradika yang sempat tertunda akibat kekurangan manpower pun akhirnya resmi disetujui oleh pihak manajemen perusahaan, dan akan dimulai dalam waktu tiga hari ke depan.

Tepat dua malam sebelum keberangkatannya pulang untuk menemui adiknya, Nahda, Pradika duduk menyendiri di teras mess, di bawah hamparan bintang langit Kalimantan yang bersih. Pikirannya kembali dipenuhi oleh bayangan wajah Rana dan janji umur dua puluh lima tahunnya, pada mendiang orang tuanya. Ia tahu, ia tidak bisa terus-menerus mengulur waktu dalam ketidakpastian rasa.

Dengan membulatkan seluruh keberanian, keyakinan, dan doa yang ia miliki, jemari tangan Pradika mulai mengetikkan sebuah pesan serius yang teramat panjang dan lugas di layar ponselnya, lalu mengirimkannya langsung ke nomor Rana. Sebuah pesan yang seketika membuat Rana yang sedang membaca di dalam kamarnya langsung terkesiap, dilanda dilema yang mengaduk-aduk isi kepalanya.

Pesan itu tertulis dengan sangat tulus:

Mas Pradika: Rana... maaf jika aku terkesan lancang dan terlalu buru-buru menanyakan hal ini. Apakah saat ini kamu sudah memiliki jawaban atas pernyataan rasaku waktu itu, Rana? Aku bersungguh-sungguh ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius bersamamu jika kamu bersedia memberiku kesempatan.

1
indy
Kasihan juga Veri dijebak bu retno. semoga kondisi rani terbuka sebelum ijab kabul.
indy
Walah jadi bukan Veri pelakunya
indy
Betul Rana, jangan pulang ke Bojonegoro
Wiwik Susilowati
lanjut kk
indy
Semangat Rana...
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!