Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Selesai mengisi energi di cafetaria, Fadhlan dan Syifa segera melangkah kembali menuju lantai paviliun president suite tempat Kakek Ali dirawat. Mengingat pesan sang kakek yang menegaskan hanya ingin berbicara empat mata dengan Fadhlan, Syifa dengan pengertian memilih untuk tetap menunggu di luar ruangan koridor bersama Ummi Salwa.
Namun, tepat sebelum Fadhlan mengulurkan tangannya untuk memutar knop pintu kamar inap, Syifa tiba-tiba bergerak maju, memegang erat pergelangan lengan kemeja suaminya. Langkah Fadhlan terhenti, ia menoleh.
"Terima kasih, Mas," bisik Syifa lirih, kepalanya menunduk dalam, menatap ujung sepatunya.
Fadhlan mengernyitkan dahi sejenak, memutar tubuhnya menghadap sang istri sepenuhnya. "Hmm? Terima kasih untuk apa, Dek?"
"Terima kasih karena Mas Fadhlan sudah berbaik hati mengerahkan segalanya, banyak membantu dan menolong seluruh keluarga saya selama Kakek sakit di sini," ujar Syifa dengan nada suara yang bergetar menahan haru, matanya kembali berkaca-kaca mengingat betapa besarnya utang budi keluarganya pada pria di hadapannya ini.
Fadhlan mengembuskan napas panjang. Tanpa memedulikan koridor rumah sakit yang sepi dan hanya ada beberapa perawat lewat, ia melangkah maju, merengkuh tubuh ringkih Syifa ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Dek. Abi, Ummi, Paman Andi, dan Kakek Ali, mereka keluarga saya juga. Mereka sudah menjadi bagian terpenting dari hidup saya, jadi sudah sepantasnya saya melakukan ini semua," tutur Fadhlan penuh ketulusan, mengusap punggung Syifa lembut.
"Baiklah... kalau begitu, saya masuk ke dalam menemui Kakek dulu, hm?"
Syifa melepaskan pelukannya, lalu mengangguk pelan dengan mata yang masih sedikit basah. Fadhlan yang menatap wajah manis istrinya mendadak merasa gemas dan didera rasa rindu yang membuncah, ia menundukkan kepalanya, berniat untuk mengecup singkat bibir mungil Syifa sebagai penenang.
"Mas... jangan! Ada Ummi di ujung sana, malu!" bisik Syifa panik dengan mata membelalak, mencoba menahan dada Fadhlan dengan kedua tangannya.
"Sebentar saja, Dek... Mas sangat merindukanmu," ujar Fadhlan dengan sorot mata yang mendadak berubah sendu dan penuh permohonan, menatap lekat bibir istrinya.
Ummi Salwa yang kebetulan berdiri agak jauh di koridor dan mengerti isyarat serta kode romantis dari menantunya, segera tersenyum penuh arti. Beliau memilih untuk berbalik dan pura-pura masuk kembali ke ruangan sebelah demi memanggil Abi Musthofa, memberikan ruang privasi bagi pasangan muda itu.
"Boleh, ya?" bisik Fadhlan lagi, makin mengikis jarak di antara mereka.
"Tapi Mas... tidak di sini juga, ini tempat umum. Nanti kalau tiba-tiba ada perawat atau dokter lain yang lewat dan melihat bagaimana?" tukas Syifa, suaranya makin mencicit pelan karena gugup.
"Tapi saya benar-benar sedang ingin, Dek," sahut Fadhlan keras kepala, menyatukan kening mereka.
Syifa menghela napas pasrah, hatinya tidak tega menolak tatapan sendu suaminya. "S-sebentar saja ya? Janji?"
Begitu mendapat lampu hijau dan izin dari istrinya, Fadhlan dengan penuh semangat langsung mendaratkan bibirnya, m******t lembut belahan bibir mungil Syifa. Genggaman tangan Fadhlan di pinggang Syifa mengerat, menekan lembut tubuh istrinya agar semakin merapat, memperdalam ciuman penuh kerinduan itu selama beberapa saat di keheningan koridor luar kamar rawat.
‘Ya ampun... sejak kapan Mas Fadhlan berubah jadi pria yang tidak tahu tempat seperti ini!’ batin Syifa berteriak, jantungnya bertalu-talu hebat bagai genderang perang.
Merasa napasnya mulai habis dan takut ada orang lain yang benar-benar lewat, Syifa buru-buru menepuk-nepuk bahu tegap Fadhlan memberikan kode keras, sembari sekuat tenaga mendorong dada suaminya agar menjauh.
"Mas, ih! Sudah!" tukas Syifa dengan napas sedikit terengah begitu tautan bibir mereka akhirnya terlepas. Wajahnya sudah merah padam sempurna. "Ini tempat umum loh, Mas. Nanti kalau benar-benar ada orang yang lihat bagaimana coba?" omel Syifa pelan sembari tangannya bergerak cekatan merapikan kerah kemeja suaminya yang sedikit kusut akibat ulahnya sendiri.
Fadhlan justru menyunggingkan senyuman penuh kemenangan yang teramat tampan. "Astaghfirullah... maafkan Mas ya, Dek. Terima kasih banyak karena sudah selalu mengingatkan suamimu yang penuh khilaf ini," ujarnya tanpa penyesalan.
"Jangan pernah diulangi lagi ya, Mas!" ketus Syifa bersungut-sungut. "Kan nanti bisa...kalau sudah pulang ke rumah."
Mendengar kalimat terakhir Syifa, binar kebahagiaan seketika terpancar dari sepasang mata Fadhlan. "Betul ya? Janji, di rumah nanti boleh lebih dari ini?" kejar Fadhlan cepat.
"I-iya! Ya sudah sana cepat masuk ke dalam, kasihan Kakek sudah menunggu lama dari tadi," usir Syifa cepat, mendorong tubuh Fadhlan ke arah pintu kamar inap demi menyembunyikan rasa malunya yang sudah di ubun-ubun.
......................
Fadhlan menarik napas dalam-dalam, meredakan senyumannya sebelum perlahan membuka pintu kamar inap dan melangkah masuk ke dalam. Di atas ranjang, Kakek Ali tampak sedang bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang terlihat sangat letih.
"Maaf, Kakek apa kedatangan Fadhlan malam-malam begini mengganggu waktu istirahat Kakek?" tanya Fadhlan dengan nada sangat sopan, melangkah mendekat lalu meraih tangan sepuh itu untuk diciumnya dengan takzim.
Kakek Ali perlahan membuka mata, lalu tersenyum tipis menatap menantu cucunya. "Tidak, Nak Fadhlan. Kakek justru sejak sore tadi memang menunggumu. Kakek sempat khawatir apa Syifa lupa tidak memberitahumu, atau apa kalian berdua saat ini sedang bertengkar di luar?"
Fadhlan terkekeh halus, menggelengkan kepala. "Tidak sama sekali, Kek. Syifa sudah menyampaikan pesan Kakek dengan sangat baik. Hanya saja, tadi Fadhlan harus menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan. Kenapa makanan kakek masih penuh? Apa makanannya kurang enak di lidah Kakek?" tanya Fadhlan cemas, melirik nampan makanan di atas nakas.
Kakek Ali menghela napas pendek, menggeleng lemah. "Kakek sedang tidak berselera untuk makan apa pun, Nak. Lidah Kakek terasa pahit."
"Bagaimana kalau Fadhlan saja yang menyuapi Kakek malam ini, mau ya?" bujuk Fadhlan lembut, mengambil mangkuk bubur hangat tersebut. "Kalau Kakek terus-menerus menolak makan seperti ini, nanti Syifa di luar pasti akan merasa semakin sedih dan terpukul, Kek. Tadi saja waktu menemui Fadhlan di atas, matanya sampai sembab karena menangis memikirkan kondisi Kakek."
Mendengar nama cucu kesayangannya dibawa-bawa, Kakek Ali terkekeh pelan, lalu menepuk-nepuk pelan bahu tegap Fadhlan. "Hm... kalian berdua ini memang paling pintar ya kalau sudah bekerja sama untuk membujuk Kakek kalian yang sudah tua rentan ini."
Akhirnya, berkat pendekatan dan bujukan sabar dari Fadhlan, Kakek Ali pun perlahan mau membuka mulutnya untuk menerima suapan demi suapan bubur. Dengan penuh ketelatenan dan kesabaran seorang cucu, Fadhlan menyuapi beliau sembari sesekali menanggapi obrolan ringan yang dilontarkan Kakek Ali.
Sampai pada suapan kelima, Kakek Ali tiba-tiba menghentikan kunyahannya, menatap lekat wajah Fadhlan dengan tatapan mata yang mendalam.
"Bagaimana perkembangan hubungan pernikahan kalian berdua sejauh ini, Nak? Apakah sampai saat ini Syifa masih saja terus menjaga jarak denganmu di rumah?"
Tangan Fadhlan yang sedang memegang sendok seketika terhenti di udara mendengar pertanyaan yang begitu menohok dari Kakek Ali. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Namun, dengan cepat ia menguasai diri, mengulas senyuman manis demi meyakinkan Kakek Ali di hadapannya.
"Alhamdulillah... semuanya berjalan dengan sangat baik, Kek. Pelan-pelan, kami berdua terus berusaha menjalin komunikasi dan hubungan rumah tangga yang harmonis," jawab Fadhlan mantap.
"Apa Syifa termasuk istri yang susah diatur, atau dia masih sering bersikap cuek dan dingin kepadamu sebagai suami?" kejar Kakek Ali lagi, ingin memastikan kebahagiaan cucunya.
Fadhlan menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berbinar tulus saat menceritakan kepribadian istrinya. "Tidak sama sekali, Kakek. Syifa itu aslinya adalah seorang istri yang sangat penurut dan berbakti. Setiap pagi di rumah, dia juga selalu rajin membantu bibi di dapur untuk memasak sarapan, dan tidak pernah absen untuk menyiapkan pakaian kerja Fadhlan sebelum berangkat ke rumah sakit," puji Fadhlan tulus, mengangkat semua kebaikan Syifa ke permukaan.
"Alhamdulillah... Ya Allah, Kakek ikut merasa sangat tenang dan bahagia mendengarnya, Nak. Itu berarti Syifa perlahan sudah mau belajar untuk membuka hati dan menerima kehadiranmu seutuhnya di dalam hidupnya," tutur Kakek Ali dengan gurat kelegaan yang amat sangat di wajah sepuhnya.
Sementara itu, di koridor luar, Ummi Salwa baru saja kembali dari arah dapur mini paviliun membawa sepiring buah apel dan pir yang sudah dikupas rapi. Beliau melihat Syifa yang sedang duduk melamun di sofa tunggu.
"Syifa ini tolong antarkan buah potongnya masuk ke dalam kamar Kakek ya, Nak. Sekalian kamu temani suamimu di dalam," titip Ummi Salwa lembut, menyerahkan piring kaca itu ke tangan Syifa.
"Oh... iya, Ummi," sahut Syifa, bangkit berdiri dan menerima piring tersebut.
Syifa melangkah perlahan menuju pintu kamar inap Kakek Ali yang sedikit renggang. Namun, tepat saat ia hendak mendorong pintu dengan siku tangannya, sayup-sayup dari dalam ruangan ia mendengar suara obrolan yang teramat serius antara kakeknya dan Fadhlan. Entah mengapa, ada dorongan batin yang kuat membuat langkah kaki Syifa terhenti tepat di balik dinding pembatas, memilih untuk diam dan mendengarkan kelanjutan obrolan mereka terlebih dahulu.
...----------------...
"Lalu, bagaimana dengan urusan memberi Kakek seorang cicit, Nak? Kakek ini sudah tua, dan Kakek tahu betul, kalian berdua sampai detik ini belum benar-benar melakukannya sebagai sepasang suami istri, bukan?" tanya Kakek Ali blak-blakan dari dalam ruangan.
Dari balik dinding, napas Syifa seketika tercekat, tangannya yang memegang piring buah mulai gemetar hebat mendengar pertanyaan sesensitif itu.
Di dalam kamar, Fadhlan pun dibuat kaku dan salah tingkah. "Ehm... soal itu, kami sedang dalam proses pendekatan yang lebih dalam, Kakek," jawab Fadhlan terbata-bata, mencoba menetralisasi suasana.
Kakek Ali menghela napas panjang, menatap menantunya dengan tatapan maklum. "Betul begitu? Dari sorot matamu saja, Kakek sudah tahu kalau kamu sedang berbohong demi menutupi sesuatu, Nak. Kalian belum benar-benar melakukan hubungan itu, kan? Apa semua ini ada kaitannya dengan kondisi ingatan Syifa yang belum pulih?" tanya Kakek Ali lurus. "Kamu masih terus setia menunggu sampai ingatan masa kecil Syifa kembali seutuhnya, Nak Fadhlan?"
Fadhlan menundukkan kepalanya dalam-dalam di sisi ranjang, guratan kesedihan dan beban emosional yang selama ini ia pikul sendiri akhirnya tampak jelas di wajah tampannya. "Fadhlan sampai sekarang belum pernah berani memberitahunya secara langsung kalau dulu kami berdua sebenarnya pernah sangat dekat, Kek. Sampai detik ini, Fadhlan masih terus berjuang mencari tahu, bagaimana cara terbaik untuk mengembalikan ingatan masa lalu Syifa tanpa harus membebani psikologisnya," ujar Fadhlan dengan nada suara yang bergetar sendu, sarat akan cinta yang teramat besar namun terhalang oleh takdir.
"Kakek sangat memaklumi perasaanmu, Nak. Kakek tahu, dulu waktu kecil kalian berdua itu sangat dekat seperti kakak beradik kandung sendiri. Tapi sekarang, saat takdir menyatukan kalian menjadi sepasang suami istri, pasti rasanya sangat canggung dan berat bagimu untuk bersikap romantis secara tiba-tiba pada Syifa yang menganggapmu orang asing," kata Kakek Ali, mencoba menghibur dan menguatkan hati Fadhlan.
...****************...