Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Lama tidak bertemu, Ketua." Sapanya ramah.
Aleta membeku selama beberapa detik. Tatapannya terkunci pada wajah pria di hadapannya, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Rambut hitam pendek, mata abu-abu tajam, serta bekas luka tipis di dekat pelipis kiri.
Dia mengenal wajah itu. Sangat mengenalnya, benarkah pria di depannya ini adalah orang yang dulu bekerja di bawah komandonya?
"Reigan..." suara Aleta terdengar lirih penuh ketidakpercayaan.
Pria itu tersenyum kecil. "Syukurlah. Ternyata kau masih mengingatku."
Aleta langsung mencengkeram erat setang motornya. Emosi yang sejak tadi dia tahan mulai bercampur menjadi satu. Terkejut. Curiga. Dan marah.
"Aku melihat sendiri tubuhmu bersimbah darah waktu itu," ujar Aleta dingin. "Bagaimana kau bisa hidup?"
Reigan menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya pada motor sport miliknya.
"Itu... ceritanya panjang."
"Aku tidak punya waktu untuk permainan bodoh, dan bagaimana kau bisa yakin aku adalah atasanmu?"
"Aku juga tidak datang untuk bermain-main. Awalnya aku ragu, tapi setelah mengamatimu beberapa kali aku semakin yakin." Reigan menghela napas panjang lalu melanjutkan. "Gerakanmu masih sama, taktik dan gaya menyerang yang kau lakukan masih menjadi ciri khas seorang Aurelia, komandan utama Organisasi One."
"Jadi kau memata-mataiku selama ini?"
"Hanya memastikan bahwa instingku benar." Tatapan mata Reigan perlahan berubah serius. Senyum santainya lenyap begitu saja. "Aku datang untuk memperingatkanmu."
Aleta menyipitkan mata. "Peringatan? Tentang apa?"
"Leon sepertinya sudah mulai merencanakan perang, aku dengar organisasi Obsidian Circle mengajukan kerja sama padanya tapi Leon masih ragu."
Kalimat itu membuat suasana di gang sempit tersebut terasa semakin dingin.
Aleta terdiam, tetapi ekspresinya tidak banyak berubah. Seolah dia memang sudah menduga hal itu akan terjadi cepat atau lambat.
"Tidak mengejutkan, aku sudah menduga hal itu."
"Apa saat ini kau sedang berurusan dengan Obsidian Circle?" tanya Reigan.
Aleta mengangkat kedua bahunya acuh. "Itu tidak penting untukku memberitahumu."
"Kau meremehkannya." Reigan menatap tajam ke arah Aleta. "Leon sekarang bukan orang yang sama seperti dulu, kalau kau terlibat dengan Obsidian Circle, artinya kau cepat atau lambat akan bertemu dengan Leon."
Aleta tertawa kecil tanpa humor. "Dan aku juga bukan Aurelia yang dulu, aku sudah menunggu momen itu justru bagus kalo dia mencariku lebih dulu."
Angin pagi berembus pelan melewati gang itu. Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar dari kejauhan, tetapi ketegangan di antara mereka terasa begitu jelas.
Reigan memperhatikan Aleta beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Aku pikir kau sudah mati."
"Aku juga berpikir hal yang sama tentangmu, tapi ternyata Tuhan masih berbaik hati mempertemukan kita."
Sudut bibir Reigan terangkat tipis. "Sayangnya kita berdua terlalu keras kepala untuk mati, Ketua."
Aleta tidak membalas candaan itu. Tatapannya justru semakin tajam penuh kecurigaan.
"Kalau kau masih hidup, kenapa baru muncul sekarang?"
Pertanyaan itu membuat ekspresi Reigan berubah samar. Pria itu menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap Aleta.
"Karena selama ini aku diburu oleh organisasi yang sudah mengendus keberadanku."
"Diburu siapa?"
"Black Vulture."
Mata Aleta langsung berubah dingin.
Reigan melanjutkan, "Setelah kematianmu dan kehancuran One, semuanya berubah kacau. Leon membersihkan siapa pun yang masih setia padamu, termasuk aku."
Rahang Aleta mengeras mendengar hal tersebut. Dia memang tahu Leon kejam. Namun ternyata pria itu bahkan tidak menyisakan sedikit pun belas kasihan pada orang-orang lama One, rekan seperjuangan mereka.
"Aku berhasil lolos, tapi yang lain tidak seberuntung itu," ujar Reigan pelan.
Keheningan sesaat tercipta. Aleta perlahan menurunkan pandangannya. Bayangan wajah orang-orang lama dalam organisasinya kembali muncul di kepalanya satu per satu.
Mereka yang dulu memanggilnya pemimpin. Mereka yang dulu bersumpah setia padanya. Dan semuanya hancur dalam satu malam berdarah itu.
"Kenapa kau mengirim foto kalung itu?" tanya Aleta akhirnya.
"Itu untuk memastikan kalau kau benar-benar Aurelia, karena hanya kau yang tahu tentang kalung itu."
Reigan memasukkan kedua tangannya ke saku hoodie. "Dan sekarang setelah aku melihatmu langsung..." pria itu tersenyum tipis. "Aku yakin."
Tatapan Aleta tetap dingin. "Yakin apa?"
"Bahwa mantan ketua One yang ditakuti dunia bawah itu benar-benar sudah kembali."
Hening sejenak menyelimuti tempat itu, Aleta melepas helm full face dari kepalanya dan wajah remaja yang sejak tadi tertutup helm akhirnya terlihat jelas.
Reigan terpaku di tempatnya, wajah Aurelia yang saat ini benar-benar masih muda tapi sorot mata dan auranya tidak berubah masih sama seperti dulu.
"Apa kau operasi plastik?" ujar Reigan.
Hanya itu yang bisa dia pikirkan sekarang, karena tidak mungkin wajah Aurelia yang dewasa jadi lebih muda seperti sekarang.
"Apa kau berpikir aku bisa melakukannya? Kau tahu tubuhku sudah hancur karena Leon, mana mungkin aku melakukan operasi plastik."
"Lalu, kenapa wajahmu berubah?"
Aleta tersenyum tipis. "Transmigrasi jiwa."
"Apa?" raut terkejut tampak jelas di wajah Reigan.
"Jiwaku masuk ke raga orang lain."
Detik itu juga tawa Reigan terdengar. "Apa kau sedang bercanda?"
"Menurutmu aku punya waktu untuk bercanda?" tanya Aleta datar.
Tawa Reigan perlahan mereda, tetapi ekspresi tidak percaya masih jelas terlihat di wajahnya. Dia kembali menatap Aleta dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba mencari kebohongan dari ucapan wanita itu.
Namun semakin lama dia memperhatikan, semakin dia menyadari sesuatu. Sorot mata itu, dan cara Aleta berdiri. Tatapan dingin penuh tekanan yang seolah mampu membuat siapa pun gemetar hanya dalam sekali lihat.
Semua itu memang milik Aurelia.
"Aku masih sulit mempercayainya," gumam Reigan pelan.
"Aku juga berpikir seperti itu saat pertama kali bangun di tubuh ini."
Aleta menyandarkan tubuhnya pada motor sambil melipat kedua tangan di depan dada. Angin pagi membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan.
"Awalnya aku mengira semua itu hanya mimpi," lanjutnya tenang. "Sampai aku menyadari bahwa aku benar-benar hidup lagi."
Reigan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, pria itu terlihat kehilangan kata-kata. Dunia bawah memang dipenuhi banyak hal tidak masuk akal, tetapi transmigrasi jiwa jelas berada di luar nalar manusia normal.
"Jadi..." Reigan menelan ludah pelan. "Nama gadis ini siapa?"
"Aleta."
"Aleta..." Reigan mengulang nama itu lirih.
Tatapannya berubah rumit. Sulit baginya menyamakan wajah remaja cantik di depan sana dengan sosok Aurelia yang dulu dikenal kejam dan ditakuti. Namun aura mengerikan itu tetap ada. Tersembunyi di balik wajah muda dan polos tersebut.
"Berapa umur tubuh ini?" tanya Reigan lagi.
"Tujuh belas."
Reigan langsung mengusap wajahnya kasar. "Gila."
Aleta terkekeh kecil melihat reaksi tersebut. "Aku sudah bilang sejak awal kalau ini sulit dipercaya."
"Bukan sulit lagi, ini benar-benar tidak masuk akal."
"Tapi ini kenyataannya."
Keheningan kembali tercipta beberapa saat sebelum Reigan mendadak menyipitkan mata.
"Tunggu." Tatapannya berubah serius. "Kalau kau hidup lagi... jangan bilang Leon juga tahu soal ini?"
Aleta menggeleng pelan. "Tidak. Dia hanya tahu aku sudah mati, tapi tidak tahu aku berada di tubuh orang lain."
Reigan menghela napas lega. "Baguslah. Kalau dia sampai tahu, keadaan akan jauh lebih berbahaya untukmu."
Aleta menatap tajam ke arah Reigan. "Aku tidak peduli."
"Kau tetap saja terlalu gegabah."
"Aku memang tidak berniat bersembunyi selamanya." Sorot mata Aleta perlahan berubah gelap.
"Dulu dia membunuhku tanpa memberiku kesempatan melawan." Sudut bibirnya terangkat tipis penuh dingin. "Sekarang giliranku yang akan menghancurkan semuanya."
Karena sudah setahun juga berlalu kenapa baru sekarang Ravian penasaran/ngejar2 Aletta? bukan dari dulu?? Berarti yang Ravian sukai sekarang BUKAN Aleta TAPI Aurelia..