"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Cklek!
Pintu itu terbuka tiba-tiba dari dalam. Karena tumpuan bebannya hilang, tubuh Kaisar langsung terhuyung ke belakang.
"Eeh...!" Kaisar mencoba menyeimbangkan diri, namun gravitasi lebih cepat. Ia jatuh ke lantai tepat di depan kaki Raline.
"Kai?" ucap Raline kaget, matanya membelalak melihat sosok suaminya yang tiba-tiba "tumbang" di depan pintu kamarnya.
"Aduh... pelan-pelan dong, Lin. Gue baru aja mau napas," rintih Kaisar sambil memegangi pinggangnya. Ia mencoba terkekeh kecil untuk menutupi rasa malunya, tapi tawanya langsung terhenti menjadi ringisan saat otot wajahnya tertarik.
"Lo baru balik?" tanya Raline awalnya dengan nada menginterogasi. Namun, begitu cahaya lampu kamar menyinari wajah Kaisar sepenuhnya, kalimat Raline tertahan di tenggorokan.
Raline mematung. Matanya menelusuri wajah Kaisar yang biasanya terlihat tampan dan bersih, kini berubah drastis. Ada lebam kebiruan di tulang pipi, darah yang sudah mengering di sudut bibir dan lubang hidung. Membuatnya tampak kacau.
Wajah Raline yang semula kesal langsung berubah pucat karena khawatir. Ia segera berlutut di samping Kaisar.
"Lo kenapa?!" tanya Raline dengan nada bergetar, jemarinya gemetar saat nyaris menyentuh luka di sudut bibir Kaisar. "Kai, lo berantem? Kok bisa sampe kayak gini? Siapa yang mukulin lo?"
Bertubi-tubi pertanyaan keluar dari mulut Raline. Rasa gengsinya hilang seketika, digantikan oleh kecemasan yang nyata.
Kaisar mencoba memalingkan wajah, merasa malu dilihat dalam kondisi menyedihkan seperti ini. "Cuma masalah kecil, Lin. Biasa, masalah cowok..."
"Masalah kecil apanya sampai muka lo hancur begini!" potong Raline, matanya melotot tapi jelas ia sangat cemas. "Tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Gue ambil kotak P3K."
Raline hendak berdiri dengan terburu-buru, namun tangan Kaisar yang terasa dingin menahan pergelangan tangannya.
"Lin, santai aja... gue nggak apa-apa," bisik Kaisar pelan, menatap Raline yang tampak sangat tulus mengkhawatirkannya.
"Nggak apa-apa gimana? Lo berdarah, Kai!" Raline melepaskan tangan Kaisar dengan lembut tapi tegas. "Duduk di kasur gue. Sekarang."
"Lin, gue..."
"CEPETAN!"
Kaisar akhirnya hanya bisa pasrah. Mendengar nada tinggi Raline yang penuh kecemasan itu membuatnya tak bisa menolak.
Ia pun bangkit, berjalan pelan menuju ranjang istrinya. Sementara Raline, ia segera pergi ke dapur untuk mengambil kotak P3K.
Tak berselang lama, Raline kembali dengan membawa kotak P3K serta baskom kecil berisi air dan juga handuk kecil bersih.
Ia menghampiri Kaisar yang duduk di tepian ranjang, menarik kursi belajar dan duduk di sana menghadap Kaisar langsung.
Raline mengambil handuk kecil yang sudah terendam dalam air, memeras airnya lalu mulai membersihkan sisa-sisa darah di wajah Kaisar dengan hati-hati.
Ia mengelap darah yang mengering itu dengan gerakan lembut hingga bersih. Setelahnya, ia memabasih kapas dengan obat merah, menempelkannya perlahan ke sudut bibir Kaisar yang robek.
"Sshhh... pelan-pelan, Lin. Perih," ringis Kaisar spontan sembari menjauhkan wajahnya sedikit.
Mata Raline melotot tajam. "Ini gue udah pelan, tau!"
"Yang gak pelan tuh yang kayak gini," sambung Raline sembari menekan lebih keras pada luka suaminya.
"Akhhh, adududuh... Lo niat gak sih ngobatin gue?" omel Kaisar kembali menjauhkan wajahnya dari Raline. Ia merasa lukanya malah semakin sakit.
"Kalo tau sakit, makanya jangan sok jago!" sahut Raline ketus. "Kalo mau jadi jagoan itu harusnya udah gak bisa ngerasain sakit lagi!"
Kaisar mendengus, namun ia tidak membantah lagi. Ia membiarkan Raline kembali mendekatkan kapasnya. Kali ini, gerakan tangan Raline jauh lebih lembut, seolah ia menyesal telah menekan luka itu terlalu keras tadi.
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan napas pendek Kaisar yang menahan perih. Jarak mereka begitu dekat hingga Kaisar bisa melihat detail wajah Raline dari jarak sedekat itu.
"Lagian kenapa sih lo harus berantem segala?" ucap Raline, beralih mengobati luka di tulang pipi suaminya. "Tadi lo bilang cuma mau nongkrong doang, pulang-pulang malah babak belur. Apa kebiasaan lo sama teman-teman lo emang kayak gini?"
Kaisar membuang napas pelan. "Awalnya emang cuma nongkrong biasa kok, tapi tiba-tiba aja ada serangan gak terduga. Ya akhirnya gini."
"Semua pasti ada alasannya, kan? Alasan apa yang bikin mereka tiba-tiba datang nyerang kalian? Gak mungkin kan ujug-ujug nyerang gitu aja tanpa alasan."
"Dendam lama," jawab Kaisar. "Dendam yang sampe sekarang belum beres antara gue sama dia. Tiap ketemu pasti kayak gini."
Raline geleng-geleng kepala. "Kenapa harus terus pada punya dendam terus berantem tiap ketemu? Gak bisa gitu kalo hidup yang tenang-tenang aja? Gak usah saling nyakitin gini?"
Kaisar menggeleng tegas. "Nggak bisa. Sampai kapanpun gue sama dia bakal terus kayak gini. Gue gak bisa terima dengan apa yang dia lakuin ke Nana dulu. Sakit gue denger cerita Nana."
Raline terdiam. Ternyata ini tentang Nana. Gadis itu menjadi alasan kenapa Kaisar berkelahi hingga babak belur seperti ini.
Ia pikir ini hanya soal tawuran antar kelompok pemuda biasa, tapi ia salah besar. Hal itu membuat Raline sedikit kecewa.
"Apa hubungannya sama Nana?" Raline mencoba bertanya, suaranya terdengar biasa meski dalam hati terasa mengganjal.
Kaisar tidak langsung menjawab. Ia melepas jaketnya dan sehingga Raline dapat melihat luka bekas cakaran di lengannya yang tidak terlalu dalam tapi terlihat cukup perih.
"Lo dicakar?" tanya Raline sembari meraih tangan suaminya, menatap luka itu lebih dekat.
Kaisar mengangguk. "Ya, tapi gapapa sih yang ini. Gak terlalu parah, rasanya kayak dicakar kucing," jawabnya santai.
Raline membuang napas. Bisa-bisanya Kaisar menganggap kecil lukanya padahal jelas terlihat ia meringis ketika lukanya itu disentuh.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," kata Raline kemudian. "Apa hubungannya Nana sama orang yang berantem sama lo? Apa dia lecehin Nana atau..."
"Bukan," potong Kaisar. "Dia mantan pacarnya Nana waktu SMP. Namanya Bisma, tapi kita biasa sebut dia si Buaya."
"Waktu awal gue pacaran sama Nana dia cerita soal si Buaya yang katanya sering selingkuh dari dia. Nana sakit hati diselingkuhin berkali-kali, sampe dia sakit. Itu bikin gue sakit hati dengernya. Jadi... gue cari dia ke sekolahnya langsung dan gua serang dia lebih dulu saat balik sekolah. Alhasil, gue sama dia jadi musuhan sampai sekarang."
Raline menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengoleskan salep. Ia menatap mata Kaisar dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara tidak percaya dan rasa jengkel yang mulai naik ke ubun-ubun.
"Tapi itu masa lalu, Kai," ujar Raline dengan nada suara yang tertahan. "Hubungan Nana sama musuh lo itu udah berlalu, dan sekarang mereka udah hidup bahagia di jalan masing-masing. Terus kenapa lo harus balasin dendam yang gak ada kaitannya secara langsung sama lo?"
Kaisar membalas tatapan Raline dengan keras kepala, seolah luka-luka di wajahnya adalah medali kehormatan. "Sebagai pacarnya Nana, gue gak bisa diem aja, Lin. Meski itu cuma masa lalu, tapi gue gak terima Nana disakitin berkali-kali. Harga diri gue sebagai cowoknya terusik setiap kali liat muka sok jagoan si Buaya."
Raline menarik napas panjang, mencoba meredam denyut di pelipisnya. Ia merasa konyol. Di sini ia, di tengah malam, mengobati luka suaminya yang didapat dari perkelahian demi membela "trauma" masa lalu pacarnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dada Raline, tapi ia menepisnya cepat-cepat.
"Terserah lo lah, Kai," sahut Raline ketus. Ia membereskan kapas dan botol obat merah dengan gerakan kasar, memasukkannya kembali ke kotak P3K. "Ternyata lo masih kekanak-kanakan."
Raline bangkit berdiri, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang hanya akan membuatnya semakin kesal. "Yaudah, lo istirahat aja. Gue mau ke dapur buat simpen ini."
Raline baru saja akan melangkah pergi membawa kotak P3K dan baskom, namun tiba-tiba tangan Kaisar yang besar dan hangat mencekal pergelangan tangannya. Langkah Raline terhenti, ia menoleh dengan dahi berkerut.
Kaisar mendongak, menatap Raline dengan sorot mata yang kali ini terlihat jauh lebih rapuh dan lelah. Suaranya merendah, hampir seperti bisikan yang memohon.
"Lin... apa gue boleh tidur di sini malam ini?"
Raline terdiam mematung. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "Maksud lo?"
"Gue... gue cuma lagi nggak mau sendirian," gumam Kaisar pelan sambil menatap lantai. "Gue pengen ditemenin, dan kepala gue masih agak pusing. Boleh, kan? Di kursi juga gapapa."
Raline menghela napas panjang, tak bisa menolak permintaan Kaisar malam ini. Terlebih karena ia kasihan melihat kondisinya.
"Yaudah, terserah lo aja," jawab Raline datar. "Lo boleh tidur di kasur, tapi jangan macam-macam atau tonjok luka lo itu!"
Kaisar tersenyum senang. "Janji deh."
Raline lalu melepaskan tangan Kaisar dan berlalu dari hadapan pemuda itu.
"Dasar nyebelin," gumamnya saat melangkah keluar dari kamar.
Sementara itu, Kaisar mulai berbaring di kasur sambil merasakan sakit di sekujur tubuh. Ia merasa sangat lelah hingga menguap.
Perlahan-lahan matanya yang terasa berat mulai tertutup. Pemuda itu akhirnya dapat beristirahat di rumah malam ini, meski harus merasakan kesakitan akibat ulahnya sendiri. Setidaknya ia tak jadi meringkuk di sel tahanan.
Bersambung...
😌
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya