Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Nyaman yang Mulai Terasa”
Jam menunjukkan pukul 09.45. Pelajaran les Arkan telah berakhir.
Begitu Miss Anna mengatakan kelas selesai, Arkan langsung berlari menuju Nayla. Wajahnya bersinar penuh semangat.
“Kakak! Tadi Arkan hebat loh! Jawaban Arkan betul semua!” serunya antusias.
Nayla tersenyum lebar.
“Wahh, Arkan hebat sekali, sih.”
Ia mengacak lembut rambut anak itu.
“Sudah ganteng, pintar, lucu, anak baik lagi.”
Arkan terkekeh bangga, dadanya sedikit dibusungkan.
Namun Nayla segera mengingatkan,
“Ehh, kamu belum memberikan salam pada Miss. Ingat?”
Arkan langsung berbalik.
“Terima kasih, Miss Anna, atas pelajarannya hari ini,” ucapnya sambil membungkukkan badan kecilnya dengan sopan.
Miss Anna terdiam sejenak.
Dadanya menghangat.
Bagaimana tidak… anak yang dulu sering membuatnya menangis, bahkan pernah membuatnya hampir menyerah, kini berdiri dengan sikap sebijak ini.
Ia benar-benar tersentuh.
Dulu, kalau bukan karena gaji yang tinggi, mungkin ia sudah mengundurkan diri sejak lama.
Namun sekarang… sepertinya hari-hari ke depan akan terasa lebih ringan.
Tanpa sadar, ia melirik ke arah Nayla.
Nayla membalas tatapannya dengan senyum kecil, lalu mengangguk pelan.
Setelah berbasa-basi sejenak, Miss Anna pun berpamitan.
“Arkan, Miss pulang dulu. Kita akan bertemu lagi minggu depan,” ucapnya sambil melambaikan tangan.
**
Setelah menemani Arkan belajar, Nayla memutuskan membuat camilan sehat untuknya.
Di dapur, ia mulai menyiapkan bahan-bahan sederhana. Namun seperti biasa, Arkan terus membuntutinya ke mana pun ia pergi.
Langkah kecil itu tak pernah jauh darinya.
Melihat itu, Bibi Rani hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
“Nay, biar Bibi saja,” ujarnya lembut.
Nayla menggeleng cepat.
“Enggak apa-apa, biar aku saja. Aku memang suka bikin kue, kok.”
Tangannya tetap sibuk mengaduk adonan, sebelum tiba-tiba ia berhenti sejenak.
“Ehh… aku manggilnya Bibi atau Mbak, sih?” tanyanya penasaran.
“Bibi saja. Samakan saja dengan yang lain,” jawab Bibi Rani santai.
Nayla mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada adonan.
Dari obrolan ringan itu, ia baru mengetahui sesuatu.
Ternyata, Bibi Rani yang mengatur seluruh pengeluaran rumah tangga. Bahkan, semua urusan gaji para pegawai di rumah itu juga berada di tangannya. Termasuk gajiku
Nayla sedikit terkejut.
Berarti… Bibi Rani ini seperti kepala pelayan… pikirnya.
Seperti yang sering ia baca di novel-novel.
Sementara itu, aroma manis mulai memenuhi dapur.
Arkan yang sejak tadi berdiri di dekatnya, kini menatap adonan itu dengan mata berbinar, seolah tidak sabar menunggu hasilnya.
Setelah makan camilan dan bermain sebentar, kini Arkan tertidur lelap.
Padahal tadi mereka sedang menonton film di ruang keluarga. Namun begitu Nayla meninggalkannya ke dapur sebentar, anak itu sudah terlelap di sofa.
Nayla hanya terkekeh pelan.
Gemes.
Ia kemudian mendekat, memperbaiki posisi tidur Arkan agar lebih nyaman.
Sesekali, ia mengecup pipi tembamnya dengan gemas.
Karena Arkan sudah tidur, barulah Nayla mengecek ponselnya.
Sedari tadi banyak notifikasi masuk, namun ia tak sempat melihatnya karena Arkan terus memanggilnya.
Layarnya dipenuhi pesan dari Karen, Mirna, juga keluarganya…
dan satu nama yang membuat jemarinya berhenti.
Orang itu.
Nayla menatap layar cukup lama.
pesan itu masih terus masuk, seakan tidak ingin memberinya ruang.
Namun Nayla belum siap.
Dengan pelan, ia menghela napas…
lalu mengabaikannya.
Ia memilih membuka pesan grup. Yang terdiri dari Nayla, Karen, Mirna dan Caca
Percakapan Grup Empat Daun semanggi
Mirna:
NAYLA ANNAYA😭 LO KE MANA DARI TADI??
Karen:
WKWK santai napa sih Mir 😭
Mirna:
Gimana gak panik, dari pagi gak bales! Lo kenapa? Sakit? Kenapa??
Karen:
Ih ini orang udah kayak ibu-ibu kehilangan anak 😭
Nayla:
ASTAGA 😭 aku lagi nemenin Arkan sumpah
Mirna:
OHHH bocah itu lagi. Ya ampun Nay, lo makan gak? Minum gak? Istirahat gak??
Karen:
Tuh kan… mode ibu aktif 🤣
Nayla:
Iya bu Mirna 😭 semuanya aman
Karen:
Gimana bocahnya? Masih nempel kayak perangko?
Nayla:
Pake banget 🙂 ke dapur ikut, buang air besar pun ikut
Mirna:
Ya ampun gemes sih, tapi capek juga pasti 😭
Karen:
ehh, serius tuhh biar berak ikut
Nayla:
Canda 😩
Karen:
lahh si anjirrr
Mirna:
Tapi serius Nay… lo betah di sana?
Nayla terdiam sejenak.
Nayla:
…betah kok
Mirna:
LAH kok gitu jawabnya?? 😭 pasti ada apa-apa!
Karen:
Iya, titik-titik gitu loh 😏
Beberapa detik kemudian—
Caca:
Kalau gak nyaman, pulang aja.
Hening.
Mirna:
TUH CA! sekali ngomong langsung bikin mikir 😭
Karen:
Iya ih, langsung nusuk gitu loh
Nayla menatap layar.
Nayla:
Seriusan seru kok. Itung-itung belajar menjadi seorang ibu 🙈
Caca:
Nay, seriusan lohh
Nayla:
Aku serius kok ca
Mirna:
tapi kalau ada apa-apa! Jangan dipendem sendiri Nay 😭
Karen:
Kita ada ya
Nayla:
terimakasih para daun semanggi 🫶🫶🫰
Mirna:
love you kalian 😘😘😘
Karen:
👍
Caca:
🩷
setelah puas mengobrol Nayla ikut terlelap di samping Arkan.
**
Saat terbangun, Nayla tidak mendapati Arkan di sampingnya.
Namun dari kejauhan, ia mendengar suara obrolan.
Pelan-pelan, kesadarannya kembali.
Begitu mengenali suara itu, Nayla langsung terduduk dan merapikan rambutnya dengan cepat.
Jam berapa ini…?
Kenapa ayahnya Arkan sudah di rumah?
Dan… kenapa masih di sini sih…?
Batin Nayla mulai menggerutu.
Biasanya, pria itu baru pulang malam.
Dan kenapa belum pergi juga ke luar kota.
Namun kali ini… berbeda.
“Loh, kakak sudah bangun?” seru Arkan tiba-tiba.
“Arkan! Kebiasaan ihh, ngagetin kakak terus,” protes Nayla sambil memegang dadanya.
Arkan hanya terkekeh gemas.
Lalu, tanpa peringatan—
“Cup!”
Ia mengecup pipi Nayla.
“Eh, Arkan!”
Namun anak itu malah menatapnya polos.
“Kakak bau jigong,” ucapnya dengan tatapan mengejek
Nayla langsung menganga kaget.
tertawa kecil
"hahaha"
Ingatan itu muncul begitu saja.
Tadi pagi…
Saat sebelum memandikan Arkan, ia yang justru lebih dulu mengecup pipi anak itu.
“Cup~ emm… bau jigong. Ayo mandi dulu, kamu bau jigong,” godanya waktu itu.
Arkan cemberut lucu.
“Kakak… bau jigong itu apa?” tanyanya polos.
Nayla menahan tawa.
“Itu bau air liur. Nih, coba cium bajumu sendiri.”
Arkan menurut.
“Huek!”
Nayla langsung tertawa.
“Hahaha… bau, ya?”
kembali ke masa sekarang_
Tawa Nayla belum sepenuhnya reda—
Langkah kaki terdengar mendekat.
Pelan. Tenang. Tapi cukup membuat Nayla langsung menegang.
Arkan yang masih di sampingnya menoleh santai.
“Papah…”
Perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Tatapannya tenang seperti biasa, sulit ditebak. Namun entah kenapa, Nayla merasa… sedang diperhatikan.
Lagi.
“Nai.”
Apa tadi....Nai. batin Nayla heran
Nayla terbiasa dipanggil “Nay” oleh orang-orang di sekitarnya.
Singkat, sederhana, dan terasa biasa saja.
Namun, baru kali ini ada yang memanggilnya
Nai.
Bukan “Nay” seperti biasanya.
Dan entah kenapa,
panggilan itu justru terasa… mengganggu hatinya.
"Nai" panggil nya lagi
“Kamu sudah bangun,” ucapnya singkat.
Nayla hanya mengangguk kecil.
“Iya…”
Hening sejenak.
Arkan yang tidak peka dengan suasana, malah menarik tangan Nayla.
“Kakak tadi bau jigong, Pah!” lapornya polos.
“ARKAN!” Nayla langsung menoleh cepat, wajahnya memerah.
Namun—
Pria itu justru menahan senyum.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Arkan, ayo mandi. Ini sudah sore,” ucap Nayla tergesa-gesa.
Ia berusaha terdengar biasa saja, meskipun Rasa malu masih memenuhi kepalanya
Arkan yang masih duduk santai langsung mendongak.
“Tapi Arkan belum ngantuk…” protesnya pelan.
“Bukan tidur, mandi dulu,” balas Nayla sambil menarik lembut tangan kecil itu.
Arkan mengerucutkan bibirnya.
“Dingin…”
Nayla terkekeh kecil.
“Enggak. Kakak pakaiin air hangat.”
Ia mulai menggiring Arkan keluar dari ruang keluarga. Namun—
Pria itu masih ada di sana.
Bersandar santai, memperhatikan mereka.
Nayla langsung menunduk sedikit, berusaha terlihat tenang.
“Arkan mandi dulu, Pah…” ucapnya pelan, lebih seperti laporan daripada bicara.
Arkan langsung mengangguk semangat.
Nayla menahan napas.
Entah kenapa, setiap kali berada di dekat pria itu, semuanya terasa… canggung.
“Nai.”
Langkah Nayla terhenti lagi.
Ia menoleh pelan.
“Iya…?”
“Jangan terlalu lama.”
Singkat. Datar.
Namun cukup membuat Nayla salah tingkah.
“I-iya…”
Ia segera menarik Arkan pergi, hampir terburu-buru.
Begitu mereka menjauh—
Arkan mendongak ke arah Nayla.
“Kakak takut, sama papah?”
Nayla langsung menatapnya cepat.
“Enggak kok!”
Arkan menyipitkan mata kecilnya, seolah tidak percaya.
“ihh, di bilang in ya” Nayla mencubit pelan pipinya.
Arkan malah tertawa kecil.
Sementara Nayla hanya bisa menghela napas panjang.
kenapa ya, selalu ada kejadian memalukan. batin nya