Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sujud Sang Serigala
Asap dari sisa kebakaran di Panti Asuhan Kasih Bunda perlahan menyatu dengan kabut fajar yang dingin. Di tengah reruntuhan gudang yang menghitam, Arkan Xavier berdiri mematung. Kata-kata Aisyah tentang "belajar mengaji dengan benar" terus berdengung di telinganya, lebih keras daripada ledakan granat Luciano beberapa jam lalu.
minggu setelah penyerangan panti, suasana di mansion Xavier berubah total. Tidak ada lagi musik klasik yang dingin atau kesunyian yang mencekam. Arkan telah memulangkan sebagian besar pengawal pribadinya, menyisakan hanya Leo dan tim inti yang paling setia. Ia ingin rumah ini berhenti menjadi benteng peperangan dan mulai menjadi tempat tinggal manusia.
Namun, konflik baru muncul dari dalam. Gideon, paman Arkan yang selama ini mengelola bisnis kasino dan perdagangan senjata di luar negeri, tiba di Jakarta. Ia tidak senang melihat keponakannya "menjadi lunak" hanya karena seorang wanita bercadar.
"Kau menghancurkan imperium yang dibangun ayahmu dengan darah, Arkan!" bentak Gideon di ruang kerja Arkan. "Mengembalikan aset kepada keluarga Malik? Itu penghinaan bagi nama besar Xavier!"
Arkan, yang kini duduk tanpa beban senjata di pinggangnya, menatap pamannya dengan tenang. "Ayah membangun imperium di atas fondasi pasir, Paman. Itulah sebabnya ia mati kesepian dan penuh musuh. Aku ingin membangun sesuatu yang tidak akan runtuh saat aku menutup mata nanti."
"Hanya karena wanita itu?" ejek Gideon. "Dia hanyalah kelemahanmu. Jika kau tidak segera kembali ke jalur kita, dewan direksi akan menyingkirkanmu."
"Silakan coba," sahut Arkan pendek. "Tapi ingat, aku tahu di mana semua bangkai yang kau sembunyikan berada."
Di sisi lain mansion, di paviliun timur, Hamdan sedang duduk di teras sambil merapikan kitab-kitabnya. Ia masih sulit memercayai bahwa ia kini menjadi "tamu" yang dihormati oleh pria yang dulunya ia anggap sebagai iblis. Namun, melihat perubahan pada adiknya, Aisyah, yang mulai terlihat lebih tenang—meski masih menyimpan duka—membuat Hamdan luluh.
Aisyah datang membawa secangkir teh hijau. "Bang, Tuan Arkan ingin bicara."
Hamdan mendengus. "Mau bicara apa lagi dia? Mau menawarkan helikopter lagi?"
"Bukan, Bang. Dia ingin... dia ingin menagih janji Aisyah malam itu," bisik Aisyah, pipinya sedikit bersemu di balik cadarnya.
Tak lama kemudian, Arkan muncul. Ia tidak lagi memakai jaket kulit hitam yang intimidatif, melainkan baju koko putih bersih pemberian Aisyah dan sarung yang tampak kaku di kakinya yang panjang. Ia terlihat sangat canggung, seperti seekor singa yang mencoba belajar terbang.
"Hamdan," Arkan mengangguk hormat. "Aku ingin kau mengajariku. Dari awal. Dari Alif."
Hamdan tertegun. Ia menatap Arkan lama, mencari kebohongan di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang minta diisi dengan cahaya. Hamdan menghela napas panjang, lalu menggeser kursi di depannya.
"Duduklah, Tuan Xavier. Di depan kitab ini, kau bukan bos mafia. Kau adalah hamba yang sedang pulang," ujar Hamdan tegas.
Aisyah berdiri di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Arkan Xavier, pria yang ditakuti seluruh Asia Tenggara, kini duduk bersila di atas lantai kayu, mengeja huruf-huruf hijaiyah dengan terbata-bata di bawah bimbingan kakaknya.
Itu adalah momen yang sangat damai, sampai sebuah telepon dari Leo memecahkan suasana.
"Tuan, ada tamu di gerbang bawah. Dia tidak membawa senjata, tapi dia membawa dokumen yang Anda minta," suara Leo terdengar bergetar. "Dia bilang... dia adalah Sofia Xavier."
Arkan membeku. Nama itu adalah nama ibunya. Ibu yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat lima belas tahun yang lalu.
Sofia Xavier masuk ke ruang tamu mansion dengan keanggunan seorang ratu yang telah lama hilang. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, namun matanya—mata yang sama dengan Arkan—masih tajam dan waspada.
Arkan berdiri mematung di tengah ruangan.
"Ibu?"
Sofia mendekati putranya, menyentuh pipi Arkan dengan tangan yang gemetar. "Kau sudah sangat besar, Arkan. Dan kau... kau mirip sekali dengan ayahmu, tapi matamu... matamu memiliki kelembutan yang tidak pernah ia punya."
Aisyah dan Hamdan berdiri di kejauhan, merasa tidak enak mengganggu reuni tersebut. Namun, Sofia menoleh ke arah Aisyah.
"Jadi, kau adalah putri Rahman Malik?" tanya Sofia.
Aisyah mengangguk pelan. "Iya, Nyonya."
Sofia mengeluarkan sebuah kotak logam tua dari tasnya. "Arkan, aku lari bukan karena kecelakaan. Aku lari karena aku tidak sanggup melihat ayahmu menghancurkan orang-orang baik hanya untuk kekuasaan. Termasuk Rahman Malik."
Sofia membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah surat pernyataan asli yang ditandatangani oleh Xavier Senior. "Rahman Malik tidak pernah mencuri uang panti asuhan itu. Ayahmu menjebaknya karena Rahman menolak mencuci uang hasil perdagangan senjata. Ayahmu memalsukan kematianku agar aku tidak bisa bersaksi di pengadilan."
Hening yang mematikan kembali menyelimuti ruangan.
"Ibu menyimpannya selama lima belas tahun?" Arkan bertanya dengan suara serak.
"Aku menunggumu siap, Arkan. Aku menunggumu menemukan seseorang yang bisa membuatmu cukup berani untuk
menghancurkan warisan ayahmu," Sofia menatap Aisyah dengan penuh terima kasih. "Wanita ini telah melakukannya. Dia memberimu alasan untuk menjadi manusia, bukan sekadar Xavier."
Sofia kemudian menyerahkan dokumen lain kepada Hamdan. "Dan ini adalah lokasi di mana ayahmu sebenarnya berada, Hamdan. Dia tidak pernah menjadi buronan karena jahat. Dia disembunyikan oleh orang-orangku di sebuah biara tua di perbatasan Malaysia agar tetap hidup. Dia masih hidup, Hamdan. Ayah kalian masih hidup."
Tangis Aisyah pecah. Ia jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan tangannya. Semua beban yang menghimpitnya selama berminggu-minggu—rasa bersalah karena mencintai putra musuh ayahnya, rasa malu karena sejarah keluarganya—seketika luruh.
Ayahnya bukan pencuri. Ayahnya adalah pahlawan yang menolak tunduk pada kejahatan.
Hamdan pun ikut menangis, memeluk adiknya dengan erat.
Arkan mendekati Aisyah. Ia berlutut di depannya, namun kali ini ia tidak menyentuhnya. "Aisyah... aku akan membawamu padanya. Malam ini juga. Kita akan menjemput ayahmu."
Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat. Gideon, yang ternyata telah menyadap pembicaraan itu, merangsek masuk dengan belasan anak buah bersenjata lengkap. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, Luciano yang entah bagaimana bisa kabur dari tahanan sementara, menyeringai licik.
"Cukup dengan reuni keluarga yang membosankan ini!" teriak Gideon. "Arkan, kau sudah terlalu banyak tahu dan terlalu banyak memberi. Sekarang, serahkan semua dokumen itu atau kalian semua akan mati di sini!"
Gideon mengarahkan senjatanya ke arah Sofia. "Bahkan kau, kakak iparku tersayang. Kau seharusnya tetap mati lima belas tahun yang lalu!"
Arkan berdiri perlahan. Auranya berubah. Ia bukan lagi pria yang belajar mengaji, ia kembali menjadi sang raja mafia, namun kali ini ia bertarung untuk kebenaran.
"Leo! Sekarang!" teriak Arkan.
Lampu mansion padam. Dalam kegelapan, Arkan bergerak seperti hantu. Ia telah mengenal setiap sudut rumah ini lebih baik daripada siapa pun.
Suara tembakan meletus, namun Arkan tidak lagi menembak secara membabi buta. Ia melumpuhkan satu per satu anak buah Gideon dengan teknik bela diri yang mematikan namun tidak fatal.
Aisyah dan Hamdan berlindung di balik pilar marmer. Di tengah kekacauan, Luciano mencoba mendekati Aisyah dengan pisau di tangannya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu untuk menghancurkan Arkan, maka tidak ada yang boleh memilikimu!" desis Luciano.
Namun, sebelum pisau itu mengenai Aisyah, Hamdan menghadangnya. Hamdan, sang guru mengaji yang tidak pernah menyentuh kekerasan, memukul tangan Luciano dengan tongkat kayu miliknya hingga pisau itu terlempar.
"Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu!" bentak Hamdan.
Arkan muncul dari kegelapan dan memberikan tendangan telak ke dada Luciano, membuatnya pingsan seketika. Gideon sendiri sudah dilumpuhkan oleh Leo dan tim Alpha di luar ruangan.
Pertempuran itu singkat namun menentukan. Saat lampu kembali menyala, Gideon dan anak buahnya sudah terikat. Arkan berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu. Ia menoleh ke arah Aisyah, Sofia, dan Hamdan.
"Sudah berakhir," ucap Arkan. "Imperium Xavier... aku bubarkan malam ini juga. Mulai besok, semua aset legal akan diubah menjadi yayasan kemanusiaan atas nama Rahman Malik dan Sofia Xavier. Dan bisnis ilegalnya... sudah kuhancurkan datanya."
Di Bandara Halim Perdanakusuma, jet pribadi Arkan sudah siap di landasan pacu. Arkan, Aisyah, Hamdan, dan Sofia bersiap untuk berangkat ke perbatasan Malaysia untuk menjemput Rahman Malik.
Sebelum naik ke pesawat, Arkan berhenti di depan Aisyah. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan berisi cincin berlian mahal, melainkan sebuah kunci rumah sederhana di pinggiran kota, jauh dari kebisingan mafia.
"Aisyah," ucap Arkan, matanya kini jernih dan penuh kedamaian. "Aku sudah bukan lagi 'Kesayangan Mafia'. Aku hanyalah seorang pria yang sedang mencoba memperbaiki diri. Jika setelah menjemput ayahmu nanti kau masih bersedia menerimaku... aku ingin memulai hidup baru di rumah itu. Sebagai tetanggamu, atau sebagai siapa pun yang kau izinkan."
Aisyah menatap kunci itu, lalu menatap Arkan. Di balik cadarnya, ia tersenyum—sebuah senyum yang bisa dirasakan Arkan melalui sorot matanya yang hangat.
"Tuan Arkan," jawab Aisyah lembut. "Perjalanan kita masih panjang. Tapi setidaknya, sekarang kita berjalan di jalan yang sama. Jalan yang menuju cahaya."
Pesawat itu lepas landas menembus awan fajar. Di bawah sana, Jakarta mulai terbangun, namun bagi Arkan dan Aisyah, sebuah babak baru yang lebih suci baru saja dimulai. Babak di mana cinta tidak lagi tumbuh di atas darah, melainkan di atas doa-doa yang dikabulkan.