NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

misi kedua di kota B

Kota B, sebuah metropolis di selatan Tiongkok, bersolek merayakan pergantian tahun yang tinggal enam hari lagi. Di era 1963-an, kota ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan utama, tempat bertemunya berbagai budaya. Bangunan-bangunan bergaya kolonial berjejer di sepanjang Sungai Mutiara, sementara gang-gang sempit di belakangnya menyimpan ribuan rahasia.

Jinyu turun dari kereta barang di stasiun pinggiran kota. Tubuhnya kaku setelah tiga hari bersembunyi di antara karung gandum. Salju tipis turun, membasahi rambut cokelatnya yang mulai panjang. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, mengeluarkan map dokumen dari dalam jaket.

["Selamat datang di Kota B. Target kedua: Organisasi Naga Hitam."]

Organisasi Naga Hitam?

["Aliansi gelap antara pedagang senjata, mata-mata asing, dan pengkhianat lokal. Mereka menyamar sebagai perkumpulan seni bela diri. Markasnya di gedung tua kawasan pelabuhan."]

Jinyu membaca dokumen itu sambil berjalan. Organisasi ini memiliki anggota lebih dari seratus orang. Mereka menyamar sebagai perkumpulan Kung Fu bernama "Perguruan Naga Putih" nama yang ironis, karena hati mereka hitam pekat. Kegiatan mereka: menyelundupkan barang antik China ke luar negeri, menjual informasi pada dinas intelijen asing, dan melindungi buronan bayaran.

Yang membuat mereka sulit ditangkap? Mereka pandai menyamar. Anggotanya terdiri dari berbagai bangsa dari Jepang, Rusia, bahkan beberapa pribumi China yang sudah lama bekerja sama. Mereka bergerak seperti bayangan, tidak pernah meninggalkan jejak.

Tapi mereka meninggalkan satu kesalahan: dokumen yang bocor ke tangan militer. Dan sekarang, Jinyu datang untuk membersihkan mereka.

Jinyu berjalan menyusuri jalanan kota. Di etalase toko, radio-radio menyiarkan lagu-lagu perayaan Tahun Baru. Beberapa warga terlihat membawa belanjaan, mempersiapkan perayaan. Anak-anak bermain petasan di gang-gang sempit.

Ia berhenti di depan sebuah toko pakaian bekas. Masuk, keluar beberapa menit kemudian dengan penampilan berbeda. Jaket militer dan baju merahnya tersembunyi di dimensi. Kini ia mengenakan pakaian anak jalanan seperti celana longgar, jaket tambal, topi bulu menutupi rambut cokelatnya.

Di wajahnya, coretan kotor sengaja dibuat. Matanya ia buat sayu, seperti anak kelaparan.

Ia berjalan ke kawasan pelabuhan. Semakin dekat, semakin banyak pria-pria mencurigakan berjaga di setiap sudut. Mereka mengamati setiap orang yang lewat.

Jinyu pura-pura mengemis di dekat pintu belakang gedung tua itu. Ia duduk bersila, mangkuk kosong di depan, tubuh menggigil kedinginan. Tapi matanya mengamati setiap detail.

Pintu masuk utama: dua penjaga. Pintu samping: satu penjaga, tapi area itu selalu ramai. Pintu belakang: satu penjaga, tapi area sepi. Atap: ada celah, tapi terlalu tinggi. Ventilasi: mungkin.

Selama tiga jam ia "mengemis", ia mengumpulkan data. Pola pergantian penjaga setiap 2 jam. Saat pergantian, ada celah 3 menit di pintu belakang. Di dalam, terdengar suara ramai seperti mereka sedang mengadakan pertemuan besar.

["Ini kesempatan. Pertemuan besar berarti semua anggota berkumpul. Selesaikan sekali jalan."]

Tapi juga berarti seratus orang lebih.

["he?? Kemana gelar ratu iblis itu kau buang, kata takut pernahkah ada di kamus mu?. Ingat itu?"]

Jinyu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.

Malam tiba. Pukul 8, pergantian penjaga di pintu belakang. Jinyu bergerak.

Tubuh kecilnya melesat di antara bayangan. Dalam 2 detik, ia sudah di balik pintu, sebelum penjaga baru sempat mengambil posisi. Ia bersembunyi di balik tumpukan peti, mengamati.

Di dalam, gedung itu ternyata lebih besar dari kelihatannya. Aula utama dipenuhi meja-meja bundar, di atasnya tumpukan dokumen, peta, dan beberapa barang antik dari vas, patung, gulungan lukisan. Di sekeliling aula, puluhan pria duduk atau berdiri. Mereka berbincang dalam berbagai bahasa.

Di panggung kecil, seorang pria berkumis tebal yang merupakan ketua organisasi sedang berpidato dalam bahasa Mandarin campur Jepang.

"Tahun depan, kita kirim tiga kontainer lagi ke Osaka. Barang-barang ini sudah dijanjikan pada kolektor di sana." Ia menunjuk tumpukan vas Dinasti Ming. "Nilai total... 5 juta yuan."

Tepuk tangan riuh. Jinyu mengamati dari balik peti. Matanya menyapu ruangan, menghitung jumlah musuh.

Seratus dua puluh tiga orang. Sebagian bersenjata api, sebagian senjata tajam. Posisi mereka tersebar, tapi cukup berdekatan.

["Strategi?"]

Satu per satu terlalu lama. Lebih baik langsung ke tengah.

["GILA KAU!"]

Tapi Jinyu sudah bergerak.

Ia melompat dari balik peti, berlari cepat ke tengah aula. Sebelum siapa pun bereaksi, ia sudah berdiri di atas meja utama, tepat di hadapan ketua organisasi.

Semua hening.

"KAU ANAK APA?!" teriak seorang anggota.

Jinyu tersenyum. Senyum yang sama seperti saat ia membunuh mata-mata di hutan.

"Aku pembasmi sampah."

Ketua organisasi itu baru sempat meraih pistol di pinggang—BUK!—tinju Jinyu menghantam wajahnya, membuatnya jatuh pingsan.

Kekacauan pecah.

Seratus lebih pria menyerang serempak. Jinyu melompat, menghindari rentetan pukulan. Tubuh kecilnya berputar di udara, mendarat di bahu seorang anggota, mematahkan lehernya dalam satu gerakan.

Pisau di tangan kanan, pistol di tangan kiri. Dor! Dor! Dua anggota jatuh. Cring! Pisau menangkis serangan pedang, lalu membalas menusuk perut lawan.

Jinyu bergerak seperti badai. Setiap detik, satu atau dua orang jatuh. Pukulan, tendangan, tusukan, tembakan, semua bercampur dalam kekacauan yang indah.

Darah memercik ke mana-mana. Jeritan sakit bercampur umpatan dalam berbagai bahasa. Tapi Jinyu tidak peduli.

Ia menari di tengah maut.

Bayangan merah melesat di antara mereka. Pisau di tangan kanan menebas leher satu, pisau kiri menusuk perut yang lain. Darah muncrat, memerciki wajahnya. Ia menjilat darah di bibir dan terlihat menjijikkan.

Lantai bawah penuh mayat. Darah menggenang di mana-mana. Jinyu berdiri di tengah, napas sedikit cepat. Baju merah yang kini hampir hitam oleh darah dan tangannya berlumuran merah segar.

Ia mengangkat tangan, menatap darah yang mengalir di sela jari. Lalu, perlahan, ia menjilatinya.

Mata keemasannya berbinar gila.

"Hmmm..."

Tiba-tiba wajahnya berubah jijik. Ia meludah keras.

"Bah! Darah bangsa asing hambar. Seperti air bekas cucian." Ia meludah lagi. "Tidak ada rasa takut yang cukup. Pengecut semua."

Dari lorong, sisa-sisa anggota yang masih hidup sekitar 15 orang mundur ketakutan. Mereka melihat anak kecil itu, dengan mata berbinar, tersenyum seperti iblis. Di sekelilingnya, puluhan mayat bergelimpangan.

"Monster... dia monster!" teriak seorang.

Jinyu menoleh, senyumnya melebar. "Monster? Aku lebih dari itu."

Ia melompat, menyerang lagi.

Sepuluh menit kemudian, aula yang tadinya ramai kini sunyi. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Hanya beberapa orang yang masih hidup, mereka yang bersembunyi di sudut, gemetar ketakutan.

Jinyu berdiri di tengah, napas sedikit cepat. Bajunya basah oleh darah musuh. Wajahnya penuh percikan merah. Matanya bersinar dalam gelap.

["...12?"]

123.

["KAU BARU SAJA MEMBUNUH 123 ORANG DALAM 10 MENIT REKOR BARU!!."]

Mereka lemah.

Jinyu kembali menjilati darah ditangan nya dan tetap meludah "tidak ada yang manis satupun, bajingan-bajingan ini sangat menjijikkan "

Dia akhirnya membersihkan belati dan tangannya menggunakan sapu tangan yang dia beli di sebuah toko jalanan.

Lalu jinyu berjalan ke sudut tempat tiga orang bersembunyi. Mereka memohon-mohon, meratap.

"Tolong... jangan bunuh kami..."

Jinyu menatap mereka. "Kalian warga negara China?"

Mereka mengangguk cepat.

"Tapi kalian bekerja sama dengan musuh. Menjual tanah air." Jinyu menghela napas. "Kalian lebih hina dari mereka."

Pisau di tangannya bergerak cepat. Dua tewas. Satu yang paling muda, mungkin 17 tahun, ia biarkan hidup.

"Kau," katanya. "Katakan pada polisi, ini kiriman dari militer. Mereka yang berkhianat, beginilah akibatnya."

Pemuda itu hanya bisa mengangguk lemas.

Jinyu mulai menjelajahi gedung itu. Di ruang bawah tanah, ia menemukan harta karun yang tak tercatat dalam dokumen.

Vas Dinasti Ming bukan satu, tapi puluhan. Patung perunggu dari Dinasti Han. Gulungan kaligrafi karya seniman terkenal. Permata, giok, emas batangan. Semua siap dikirim ke luar negeri.

Ia juga menemukan tumpukan dokumen rahasia. Peta-peta instalasi militer China. Daftar nama agen asing yang bekerja di dalam negeri. Catatan transaksi dengan intelijen Jepang dan Rusia.

Dan yang paling berharga: sebuah buku kuno dari Perpustakaan Kekaisaran, dicuri saat perang, dianggap hilang selama 20 tahun.

["Ini... ini semua bernilai tak terhingga. Secara historis, secara budaya."]

Simpan semua.

Jinyu membuka pintu dimensi. Satu per satu, peti-peti itu lenyap ke dalam ruang rahasianya. Vas, patung, dokumen, semua masuk. Hanya menyisakan beberapa barang sebagai bukti untuk militer.

Selesai, ia berdiri di tengah ruang bawah tanah yang kosong. Puas.

Pukul 3 pagi, Jinyu berjalan keluar dari gedung itu. Tubuhnya bersih, ia sudah berganti baju di dalam dimensi, baju merah kesukaannya kini kembali terlihat. Rambutnya ia sisir rapi. Tidak ada yang menyangka ia baru saja membunuh lebih dari seratus orang.

Ia berjalan ke wisma militer di pusat kota. Gedung tua berlantai tiga, dengan tanda kecil di pintu: "Wisma Tamu".

Jinyu masuk. Penjaga malam yang seorang pria paruh baya mengangkat alis melihat anak kecil masuk.

"Hei, Nak, ini bukan tempat main. Cari apa?"

Jinyu mengeluarkan kartu pengenal militer. Kartu itu bergambar dirinya, dengan cap merah Komandan Wei.

Penjaga itu mengambil, memeriksa. Matanya membelalak. "Ini... Letnan Muda Su Jinyu? Umur 5 tahun?"

"Iya."

Penjaga itu memeriksa kartu berulang kali. Capnya asli. Tanda tangannya asli. Tapi... anak ini?

"Maaf, Nak maksudnya, Letnan. Tapi ini benar-benar kartu militer?"

Jinyu mengangguk. "Saya baru selesai tugas. Perlu istirahat satu malam."

Penjaga itu menghela napas, lalu mengangguk. "Baik, Letnan. Silakan." Ia memberi kunci kamar nomor 7. "Di lantai dua. Ada kamar mandi. Sarapan jam 7."

Jinyu menerima kunci. "Terima kasih."

Kamar nomor 7 sederhana tapi bersih. Ranjang kayu dengan seprai putih, meja kecil, lemari, dan jendela menghadap ke jalan. Jinyu menutup pintu, lalu ambruk di ranjang.

Tubuhnya lelah. 123 orang dalam 10 menit—bahkan untuk ratu iblis, itu kerja keras.

["Kau tidur disaat seperti ini?"]

Cuman sebentar.

["Besok ke kota C. Selesaikan target tiga."]

Iya, iya. Tiga hari lagi. aku mau istirahat dulu.

Jinyu memejamkan mata. Di luar, suara kota mulai sunyi. Hanya sesekali terdengar klakson mobil atau suara orang mabuk bernyanyi.

Tiba-tiba, ketukan pintu.

Jinyu membuka mata. Ia meraih pisau, berjalan pelan ke pintu.

"Siapa?"

"Pelayan wisma, Letnan. Ada kiriman teh hangat dari penjaga malam."

Jinyu membuka pintu sedikit. Seorang wanita paruh baya berdiri dengan nampan berisi teko dan cangkir.

"Masuk."

Wanita itu meletakkan nampan di meja. Sebelum pergi, ia berkata, "Letnan, penjaga malam titip pesan: 'Selamat bertugas, dan hati-hati di jalan'."

Jinyu mengangguk. "Sampaikan terima kasih."

Pintu tertutup. Jinyu menatap teh itu. Hangat. Ia menuang, menyesap perlahan. Rasanya sederhana, tapi menenangkan.

["Manusia kadang baik juga."]

Iya.

Ia memandangi jendela. Di luar, lampu-lampu kota berkelap-kelip. Besok malam, pergantian tahun 1963 ke 1964. Dan lusa, ia akan berangkat ke kota C.

Masih 53 hari sampai tahun baru Imlek, Ia punya waktu.

Tapi ia tidak ingin membuang waktu. Semakin cepat selesai, semakin cepat pulang.

Jinyu memejamkan mata. Xiao Hu, Yoyo, Ibu Liu, Ayah Su, Kakak Ketiga... semua terbayang di benaknya.

Sebentar lagi. Aku pulang, tunggu aku ibu.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tidur di ranjang sungguhan.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidur dengan senyum

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!