Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Byuuurrr!
"Beritahu lokasinya, atau tanganmu ini tidak akan pernah bisa memegang senjata lagi," ancam Zo dengan nada sedingin liang lahat.
Nyali penjahat itu ciut seketika. "I-ikut denganku... akan kutunjukkan lokasinya."
Zo mencengkeram kerah baju pria itu, menyeretnya dengan kasar menuju mobil yang tadi dipakai penjahat itu untuk menyerangnya. Ia memaksa sang penjahat duduk di kursi pengemudi di bawah todongan senjata hasil rampasannya.
"Jalan. Jika kau berbelok sedikit saja dari tujuanku, peluru ini akan bersarang di kepalamu," perintah Zo. Mobil itu pun melaju kencang meninggalkan jejak darah di aspal, menuju tempat di mana Adira disekap.
FLASHBACK
Kejadian siang tadi dirumah sakit...
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Dokter Cindy, Adira melangkah keluar dari lobi rumah sakit. Hatinya terasa sedikit lebih lega, karena prosedur yang dijalani ternyata tidak berhasil—yang berarti dia tidak hamil. Sesungguhnya, dia belum siap mengandung anak dari pria yang hanya menjadikannya alat balas dendam semata.
Langkahnya mantap menyusuri area parkir yang cukup sepi siang itu. Namun, tepat saat ia baru saja melewati pilar beton besar di pekarangan rumah sakit, sebuah bayangan muncul dari belakangnya dengan sangat cepat.
Sebelum Adira sempat menoleh, sebuah sapu tangan yang sudah dibasahi cairan kimia menyengat, membekap mulut dan hidungnya dengan erat.
"Tolo---hmmmm!"
Adira berusaha memberontak, tangannya mencakar udara, namun bius itu bekerja terlalu cepat. Pandangannya mengabur, detak jantungnya melemah, dan dalam hitungan detik, seluruh tubuhnya lemas. Wanita itu jatuh pingsan, tak sadarkan diri di pelukan orang asing tersebut.
Sementara itu, supir pribadi yang diutus Arlan masih menunggu dengan tenang di dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari sana. Ia terus menatap pintu keluar lobi, sama sekali tidak menyadari bahwa nyonyanya telah ditarik paksa masuk ke dalam sebuah mobil boks tua yang langsung melesat pergi meninggalkan area rumah sakit.
SELESAI FLASHBACK
Ternyata saat akan pulang tadi dari rumah sakit, Adira diculik oleh sekelompok orang tidak di kenal. Dan saat malam hari tiba, Zo juga tiba-tiba mendapat serangan mendadak dari kelompok yang sama.
Dan di sinilah dia, di sebuah gedung tua terbengkalai penuh debu, suasana terasa sangat mencekam. Di tengah ruangan luas itu, Adira tampak terikat kuat di atas sebuah kursi kayu sudah rapuh. Kedua tangannya terbelenggu ke belakang, membuatnya tak berdaya.
Melihat wanita itu masih tak sadarkan diri akibat efek bius, salah satu penjahat mendengus kasar. Ia mengambil seember air dingin keruh, lalu tanpa peringatan langsung menyiramkannya tepat ke wajah Adira.
Byuuurrr!
Ia tersentak hebat, tubuhnya menegang saat air itu membasahi seluruh wajah dan pakaiannya hingga basah kuyup. "Ah! Uhukk... uhukk!" Adira mengerang kesakitan sekaligus terkejut. Dinginnya air itu seketika memicu kesadarannya kembali.
Ia perlahan membuka mata yang terasa berat, mencoba menghalau tetesan air yang menghalangi pandangannya. Saat penglihatannya mulai jelas, Adira mendapati beberapa pria berwajah sangar sedang berdiri mengelilinginya.
Tepat di hadapannya, seorang pria duduk dengan gaya yang sangat angkuh. Ia menyilangkan kakinya dengan santai, menatap Adira seolah-olah wanita itu adalah mangsa yang sudah tidak punya jalan keluar.
"Adira Anasya, putri tunggal Sutra Santoso," ucap pria itu dengan suara berat dan senyum yang sangat mengerikan. Ia memajukan tubuhnya, menatap lekat ke arah wanita itu yang masih menggigil kedinginan. "Kau semakin cantik saja, Adira."
Wanita itu berusaha sekuat tenaga menggoyangkan tubuhnya, mencoba melonggarkan ikatan tali yang melilit erat di kursi kayu tersebut. Namun, usahanya sia-sia; lilitan itu terlalu kuat dan kasar, hingga mulai menggores kulit pergelangan tangannya.
Menyadari perlawanan fisiknya tidak berguna, Adira menarik napas dalam-dalam. Dengan sisa keberanian yang ada, ia mulai menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam. Ketakutan yang tadi sempat muncul kini ia tekan dalam-dalam, digantikan oleh ketenangan.
"Aku tidak mengenalmu. Untuk apa kau menculikku?" tanya Adira dengan suara yang stabil, tanpa ada getaran sedikit pun. "Aku bukan lagi anak orang kaya yang bisa kau mintai uang tebusan. Kau salah sasaran."
Mendengar ucapan itu, pria di depannya justru tertawa terbahak-bahak.
"Buahahahahahaha." Suara tawanya menggema di ruangan luas dan kosong itu, terdengar sangat menyebalkan di telinga Adira. Dengan gerakan perlahan namun mengancam, pria itu mengulurkan tangan, mencoba menyentuh dagu Adira.
Sret!
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang