Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
WARNING TYPO
***
Melisa POV
Seorang gadis yang sedang memandangi ponselnya dengan wajah terkejut. Keringat membasahi tubuhnya tidak diperdulikannya. Gadis itu masih tetap fokus pada foto yang dikirim temannya.
“ Ini tidak mungkin Olivia” gumanku lirih.
Aku tidak percaya dengan apa yang dikirim Rini. Foto yang menampilkan Olivia memakai tenktop dan celana pendek untuk menampilkan tubuhnya. Selain itu rumah Olivia tidak seperti yang dibicarakan anak-anak.
“ Kalau ada nominasi pembohong besar Olivia mendapatkan predikat juara” kataku mengomentari foro yang dikirim Rini.
Aku mengcopy foto Olivia kedalam flasdish yang kusimpan dirumah. Aku merasa penasaran mengenai rumah Olivia. Sebuah ide jail masuk kedalam otakku. Olivia dilindungi oleh geng BS sehingga rumahnya pasti ketat. Aku bisa mengetes kemampuan Melisa dengan bertarung dengan anak buahnya. Walaupun begitu Melisa harus bertarung maksimal 3 orang sekaligus menginggat luka tembak belum pulih 100 persen.
Aku menghubungi seseorang disebrang sana. Aku melakukan vidio call kepada dua anak buahku.
“ Je mau main?” tanyaku kepada Je yang disambut gembira.
“ Tentu mau” kata Je semangat.
“ Je kamu bertugas jadi umpan untuk mengiring anak buah BS. Kamu boleh bertarung sepuasnya tapi ingat jangan sampai menimbulkan korban” perintahku kepada Je.
“ Oke” kata Je semangat.
“ Tris kamu ikut aku menjelajah rumah Olivia”
“ baik nona” kata Tris sopan.
“ Sekarang dengarkan rencanaku” kataku tersenyum.
Aku mematikan ponselku setelah memberikan sedikit rencana kejahilan. Aku penasaran akan isi rumah Olivia. Hati kecilku mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang besar teruangkap.
Aku merasa tubuhku mulai lengket akibat keringat. Aku berjalan menuju ke kamar mandi untuk mandi yang diiringi dengan lagu kebahagiaan. Aku merasa bahagia setelah pulang dari rumah kak Rayhan.
“ Aku jalan sama cogans” gumanku. Aku masih tidak percaya kak Rayhan mengajakku jalan.
Aku keluar kamar mandi membaringkan tubuhku. Aku menutupi wajahku yang memerah. Memejamkan mata menemui Melisa yang tampak datar ‘sepertinya Melisa biasa saja diajakin jalan sama cowok ganteng’.
-----
Fajar telah terbit diufuk timur menyinari dua orang yang mengawasi rumah berlantai dua. Rumah yang menurutku seperti rumah mewah pada umumnya.
Tanganku memengang teropong mengamati situasi rumahnya. Rumah yang dikelilingi oleh anak BS. Aku masih belum melihat tanda-tanda kemunculan Olivia.
“ Kalau tidak ada kerusuhan tidaklah seru” kata je disebrang sana. Je sudah bersiap menyerang yang menunggu perintahku.
Aku mendengar suara mesin yang hidup. Aku menebak bahwa sekarang Je sedang bermain kejar-kejaran mobil dengan anggota BS yang lain. Je sepertinya menikmati permainan yang telah dia ciptakan.
“ Tunggulah target belum ditemukan” kataku meminta je bersabar.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti didepan kerumah Olivia. Aku memfokuskan teropongku ke mobil. Aku melihat Olivia bersama seorang laki-laki yang seusia ayahku. Mereka berdua saling berciuman dengan tangan laki-laki itu menyentuh tubuh Olivia dengan bebas ‘Aku bergidik ngergi melihatnya’.
“ Tris foto orang dimobil putih” perintaku kepada Tris.
“ Dapat” kata Tris senang.
Olivia mengakhiri ciumannya dengan beberapa perkataan yang tidak bisa kudengar. Olivia keluar dari mobil dengan pakaian yang minim bahan. Aku melongo melihat penampilannya yang berbeda 180 derajat antara disekolah dan dirumah.
“ Kok Elgartara bisa suka sama cewek seperti itu” kataku tidak percaya.
Aku menginggat setiap interaksi mereka yang sangat harmonis dan mengundang rasa iri. Aku juga menginggat setiap baris yang ditulis penulis berbanding terbalik dengan kenyataan.
Aku percaya Olivia adalah Yoana yang suka pada Elgartara namun aku tidak percaya apa yang kulihat. Aku pikir Yoana berganti indentitas hanya untuk berubah pribadi menjadi lebih baik.
“ Tuan Elgartara berselingkuh dengan cewek murahan sepertinya?” tanya Tris polos.
“ Iya” kataku spontan.
“ Nona tidak ada bukti Elgartara menghabiskan waktu bersama cewek itu” kata Tris.
Aku memandang Tris dengan wajah serius. Maat Tris tidak menunjukan adanya kebohongan.
“ Bagaimana kau bisa yakin?” tanyaku.
“ Karena tuan Elgartara sibuk dengan perusahaanya” kata Tris santai.
“ Perusahaan Pramudja masih dipegang ayahnya dan Elgartara tidak memiliki status apapun disana” kataku.
“ Tuan Elgartara menjalankan perusahannya sendiri. Maksudku semenjak tuan Elgartara membeli perusahaan HJ yang dulunya hampir bangkrut. Sekarang perusahan HJ sebesar ini. semua itu berkat kerja kerasnya tuan Elgartara” kata Tris menjelaskan.
Aku memandang Tris tidak percaya rencana yang kususun untuk menyelamatkan perusahaan ayah lenyap. Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa berat ‘Astaga aku tertampar kenyataan’.
“ Nona” kata je menyadarkan keberadaanku.
“ Je lakukan sekarang” kataku singkat.
Aku melihat je melewati rumah Olivia dengan kecepatan tinggi. Beberapa anak buah je turun untuk membawa Olivia secara paksa. Semua orang panik melihat aksi yang begitu cepat.
“ KEJAR B******N ITU” teriak kak Arjeno.
Semua anak buah kak Arjeno mengejar Je dengan gas penuh. Aku tersenyum melihat mereka memakan umpan. Aku masuk kedalam rumah Olivia dengan lancar.
Tris merusak sistem CCTV yang berada dirumah Olivia sehingga yang dilihat hanyalah kosong tanpa orang. Kami berdua mengeledah isi rumah dengan secara mendetai. Kami seperti pencuri yang menyelinap seperti ninja.
Aku berhenti disebuah kamar yang terkunci. Aku mengunakan jepit rambut untuk membuka pintunya. Perlu kerja keras untuk membuat pintu terbuka.
Aku berhasil masuk kedalam ruangan yang seperti kamar. Ada banyak benda-benda disini. Aku melihat ada banyak foto-foto Elgartara mulai dari tk hingga sekarang.
Aku menutup mulutku terkejut dengan tulisan yang berwarna merah. Tulisan yang berada ditengah foto Elgartara ‘MILIKKU’. Tulisan yang berasal dari noda darah yang mengering.
“ Olivia harus dibawa ke psikiater” gumanku.
Aku melihat berbagai botol minuman keras yang berserakan. Aku iseng memotret kamar rahasia Olivia. Mataku terpaku pada sebuah lukisan yang berbentuk coretan. Lukisan abstrak yang berwarna merah darah. Aku membelai lukisannya merasakan adanya sesuatu rahasia berdarah.
Aku mengikuti arus coretan yang menuju ketembok. Aku sedikit mengetuk tembok yang ternyata sebuah papan. Aku pernasaran mencoba membuka papan yang sudah menyatu pada tembok.
Aku berhasil membukanya menampilkan sebuah kotak. Kotak tua yang terkunci rapat membuatku kesulitan untuk melihatnya.
Bunyi suara kegaduhan memasukki pendengaran. Aku segera menghubungi Tris untuk segera keluar. Aku dengan cepat mengunci pintu dengan jepitan dari dalam. Aku mengembalikkan papan ketempat asalnya.
Aku membuka jendela dua lantai. Aku menutup mataku berganti jiwa dengan Melisa.
Tangan kiri Melisa memegang kotak dan tangan kanan Melisa berfungsi untuk menutup jendela. Melsia segera melompat kebawah dengan kaki menjadi tumpuan.
Adegan yang Melisa lakukan sangat berbahaya namun Melisa sudah terbiasa sejak dilatih kakek. Aku menginggat saat tubuhku terasa sakit dan nyeri semua akibat ulah Melisa. Aku harus berada ke tukang pijet untuk merelaksasikan otot-ototku.
Rasanya sangat sakit aku bahkan menangis saat mbak-mbaknya mulai memijat area yang sakit. Aku merasa luka tembak tidak ada apa-apanya dibandingkan luka akibat pukulan, tendangan, jatuh dari lantai 2 rumah sendiri dll.
Melisa kabur membawa kotak keluar dari dalam rumah. Melisa berlari melewati halaman Olivia dengan kecepatan penuh. Melisa berhenti saat ada tembok menghalagi langkahnya. Melisa mundur untuk membuat ajang-anjang sehingga Melisa bisa melompat.
Suara pertaruangan terdengar dibelakang Melisa. Aku melihat Tris yang kesulitan melawan dua orang anak buah BS. Melisa menatap datar kearah Tris dengan kaki yang mendekati Tris.
“ Otak encer otot lembek” guman Melisa menghina Tris. Aku tertawa mendengar ejekannya kepada anak buahnya sendiri.
Melisa segera memuluk kepala anak salah satu anak buah kak Arjeno. Satu anak buah kak kak Arjeno tumbang. Melisa menatap kearah satu anak buah kak Arjeno yang tersisa. Melisa melempar kotak kearah Tris yang membawa barang curian. Segera melisa menyerangnya dengan memukul dan menendang.
Anak buah kak Arjeno merasa kewalahan menghadapi Melisa. sekarang Melisa sudah tidak sepayah dahulu. Akhinya anak buah kak Arjeno tumbang.
Tris segera menyuntikan suatu cairan kedalam tubuh mereka. Aku sedikit binggung cairan apa yang isuntiknya.
Melisa segera menarik Tris untuk kabur. Melisa dan Tris berhasil melewati tembok dengan susah payah. Melisa harus menganggkat badan Tris yang besar keatas.
Melisa berhasil kabur dari rumah Olivia dengan mobil hitamnya. Melisa mengerem mobilnya ketika anak BS menghadang dengan mobil dan montor mereka.
Melisa tersenyum menyaksikannya. Melisa menarik tuas dan menekan gas. Roda mobil Melisa berputar untuk melaju. Melisa memutar arah sehingga diikuti geng BS. Melisa menambah laju kecepatannya saat melintasi jalanan.
Melisa tersenyum senang saat berada dijalanan. Mobil polisi mengejar Melisa bersama dengan geng BS membuat jiwa Melisa merasa bahagia. Melisa terus melajukan mobilnya saat lampu hijau.
Aku merasa kasihan melihat Tris yang sudah memucat. Tangannya memegang erat sabuk pengaman. Bibirnya merapalkan doa keselamatan. Air matanya berlahan berlinang. Tris terlihat bergitu ketakutan atas perbuatan Melisa.
Melisa berhenti mendadak saat lampu merah membiarkan polisi dan geng BS mendekatinya. Tris meringgkuk tak berani mengeluarkan suara. Saat mereka mendekat dan lampu hijau menyala mereka ketinggallan jauh.
Aku bukanlah orang bodoh yang tidak tahu trik polisi. Semua lampu lalu lintas berwarna berubah warna merah yang akan menghentikan Melisa.
Sebelum itu terjadi aku meminta Melisa dan Tris turun dari mobil. Aku mengarahkan Melisa untuk masuk kedalam gang. Melisa dan Tris turun digang kemudian Melisa meminta Tris untuk mengendalikan mobilnya dari jarak jauh.
Melisa dan Tris membuka tudung, masker, kaca mata dan topi mereka. Tris memakai jas, kemeja dan dasi. Tris memasukkan barang-barang curiannya kedalam tas-tas kecil bermerek yang sudah dia persiapkan. Tris menjadi seorang bodyguardku.
Sedangkan Melisa yang sudah berganti jiwa denganku. Memakai pakaian dress berwarna pink dengan kaca mata pink bertengger dihidung. Aku mengucir rambutku gaya ponytail hair. Tidak lupa aku menganti sepatu bootku dengan sandal heel. Aku berperan sebagai anak orang kaya yang sombong alias Melisa yang dulu.
Kami berdua berjalan selayaknya orang kaya dengan pengawalnya. Kami melewati polisi dan geng BS dengan mudah. Aku melihat mereka tampak kesal dan binggung. Aku tersenyum tipis ketika melihat kak Arjeno mengumpat dengan sorot mata marah.
“ Tunggu nona” kata salah satu polisi menghentikan langkahku.
“ Apa itu mobil anda” kata kepala polisi mengintrogasi.
Aku menurunkan kacamataku untuk melihat mobil hitam milikku. Aku memasang kembali kacamataku. Aku memandang kepala polisi yang mencurigaiku.
“ Hitam.. warna kegelapan yang tidak aku sukai aku lebih suka membeli mobil berwarna pink” kataku sombong.
“ Kami menemukan sebuah laporan bahwa anda yang menyetir” kata kepala polisi itu.
“ Siapa yang berani-benarinya melaporkanku.. aku seharian ini berbelanja barang-barang mewah dan berkelas” kataku sombong.
“ kami tahu” kata salah satu polisi. Matanya melihat Tris yang kesusahan membawa banyak barang-barang.
“ Bolehkan kami memeriksanya” kata kepala polisi.
“ Silahkan” kataku sambil sedekap tanganku.
Polisi segera mengambil satu kotak yang berisi boneka beruang berwarna pink. Aku sedikit terkejut atas persiapan Tris yang begitu lengkap.
“ Asalkan kalian menganti barang yang sudah kalian sentuh.. aku tidak mau barang yang kupakai tersentuh oleh bakteri yang berada ditangan kalian” kataku menghina polisi didepanku.
Mereka berdua terlihat kesal menatapku. Aku memandang mereka remeh. Aku melihat satu anak kecil yang melihat kearah boneka pinkku.
Pakaiannya yang lusuh dengan rambut kusam. Dia duduk disamping ibunya yang sedang meminta belas kasihan. Hati kecilku merasa iba melihatnya.
Aku melihat para polisi terkejut melihat boneka yang dipengangnya. Boneka yang seharga ratusan ribu dolar.
“ Kami hanya menjalankan tugas” kata kepala polisi mengembalikan boneka kepada Tris. Mereka pergi menjauhiku.
Aku mengambil boneka pink itu dengan jari yang mencupit. Wajahku memandang jijir kearah boneka beruang pink. Aku berjalan mendekati anak kecil itu.
“ Haloww” kataku berpura-pura menelfon.
Tanganku segera menjatuhkan boneka kepangkuan anak itu. Aku menyisipkan uang yang bertuliskan untuk menjaga beneka beruang itu. Aku melirik anak itu tersenyum bahagia.
Aku berjalan menjauh sambil berpura-pura menyombongkan harta kekayaanku. Mereka menatapku dengan wajah santai. Mereka sudah terbiasa melihat tingkah sombong Melisa.
Aku menelfon anak buahku untuk memberikan sekolah gratis untuk anak itu. Selain itu aku memberikan pekerjaan sesuai dengan kemampuan ibu itu.
Aku melihat dari jauh keluarga itu berpelukan dengan tangis haru. Aku hanya memberinya beberapa lembar dan mereka sangat senang membuat hatiku menghangat.
“ Aku berharap mereka bisa hidup lebih baik” kata Tris lirih.
“ Aku juga berharap begitu” kataku dengan senyum tipis.
Akhirnya Je datang menyemput kami dengan mobil berwarna pink. Je keluar dari mobil dengan pakaian dari atas sampai bawah berwarna pink. Rambunya diubah menjadi warna pink.
“ Mobilnya sudah siap nona” kata Je formal. Aku berwajah datar yang menahan tawa.
“ Thank you” kataku berbahasa inggris.
Aku melangkahkan kakiku untuk masuk kemudian aku berbalik menatap Tris. Tris menatapku dengan tatapan bertanya.
“ Aku tidak ingin duduk semobil dengan pelayan jadi kamu masuk kedalam mobil jelek itu” kataku memerintahkan Tris untuk masuk kedalam mobil hitam.
Tris mengitikuti perintahku dengan patuh. Aku meminta Tris untuk memberikan pertolongan pertama pada anak buahku yang dipukuli geng BS. Aku melirik Tris yang terkejut dengan apa yang didalamnya. Tris akhirnya masuk dengan susah payah. Aku menangkap mata kak Arjeno yang sedang manatapku jijik.
Aku tidak memperdulikan tatapan seorang yang lebih menjijikan dariku ‘boneka’. Aku segera masuk kedalam mobil yang disopiri Je. Kami melesat kerumah Je yang sudah ada Tris yang selesai mengobati anak buah.
Tris membawa kotak milik Olivia yang kuambil. Aku melihat Tris mencoba membuka dengan mata penasaran. Aku membiarkannya berkerja tanpa ada niat membantunya. Aku duduk sambil menikmati secangkir teh buatan Je.
Aku mencium aroma melati dari dalam teh. Rasanya manis pada teh yang pas dilidahku. Aku mengakui kemampuan Je dalam mengola masakan nomer 1.
“ Apa kamu tidak bisa membukanya?” tanyaku melihat Tris yang dari tadi mengalami kesulitan.
“ Tempat kuncinya macet” kata Tris kesal
“ Biar aku saja” kata Je menawarkan diri.
Je merebut kotak dari tangan Tris dengan kasar. Kemudian menyalakan gergaji mesin untuk memotong kotak tersebut. Tris ingin menghalangi Je namun kuhentikan.
Aku melambaikan tangan menyuruhnya duduk disampingku. Aku dan Tris mengamati tindakan yang dilakukan Je.
“ Obat apa yang kamu suntikan pada anak buah Arjeno?” tanyaku membuka percakapan.
“ Obat ilusi yang kubeli secara ilegal” kata Tris.
“ Apa efek obat itu” kataku penasara.
“ Dalam jangka pendek dan dosis kecil dapat memberikan efek lupa, linglung dan ilusi dalam waktu yang singkat namun sebaliknya akan menyebabkan kematian dan amnesia” kata Tris menjelaskan.
Aku menganalisi kejadian yang sudah kualami disini dengan cerita dinovel. Aku dapat menarik kesimpulan bahwa kemungkinan Elgartara meminum obat ini sehingga Olivia dapat menjadinya boneka.
‘kalau pemikiranku benar maka itu sangat mengerikan’ pikiranku.
Aku menyelusuri harga obat yang digunakan Tris. Harga obatnya mahal dan stoknya terbatas. Aku menutup mataku menuju alam bawah sadar.
Aku melihat Melisa sedang melukis yang ditemani toto. Aku berdiri didepan cermin besar.
“ Menurut novel setelah Olivia diculik Elgartara semakin dekat dengannya. mereka semakin tidak terpisahkan selain itu Elgartara seperti bundak cintanya Olivia” kataku berpikir.
“ Kalau teoriku benar maka waktu Elgartara menyelamatkan Olivia. Elgartara sudah diberi minuman atau makanan yang tercampur obat ilusi ini. sehingga membuat Elgartara berubah. Selain itu Olivia hanya punya satu kesempatan untuk memberikan obat itu pada Elgartara karena harganya setara satu perusahaan” kataku berteori.
“ Kalau teorimu benar kalau salah gimana” kata Melisa. Aku menatap Melisa datar dengan wajah ditekuk.
" Ya berarti Elgartara memcintai Olivia dengan tulus" kataku santai.
Aku membuka mata berlahan. Tanganku memengang kepalaku yang berteori terlalu jauh. Hati kecilku dipenuhi keraguan akan kebaikan hati seorang Olivia.
“ NONA MELISA LIHAT INI ADA NAMA IBU ANDA” teriak Je.
***