Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Seperti biasanya, akademi dengan kedamaian dan kesibukannya.
Namun semuanya menjadi bising saat beberapa murid datang dengan membawa banyak keributan.
Pandangan mereka begitu kosong.
Saat semuanya berpikir bahwa satu pengajar saja sudah cukup, mereka salah.
Salah satu guru mengalami cedera parah saat berusaha melawan dan mengalahkan para murid aneh itu.
Dan akhirnya beberapa murid pun ikut membantu meskipun berakhir terluka, bahkan ada yang hampir kehilangan nyawanya.
Akademi menjadi riuh dengan adegan pertarungan.
Anehnya beberapa murid itu seolah kebal dengan serangan semua orang bahkan murid terkuat sekalipun dikerahkan.
Mereka menyerang dengan membabi buta dan tak pandang bulu.
Disisi lain, Rosetta dan Vione yang ikut bertarung melupakan Caily yang tidak bisa menggunakan sihir.
Vione mengerahkan kekuatan Rize, peri yang menjalin kontrak dengannya, namun dampak dari kekuatannya yang terlalu besar membuat sebagian properti akademi rusak.
Ledakan demi ledakan terdengar saling bersahutan, anehnya para murid dengan tatapan kosong itu seolah kebal dengan sihir, malah jumlah mereka yang semakin bertambah.
Pergerakan mereka sudah seperti wabah, menular.
Fenrir yang dikerahkan oleh Rosetta pun juga tampaknya memberikan dampak yang merugikan bagi pihak akademi.
Namun keduanya mampu melawan tanpa mempedulikan beberapa bangunan yang hancur akibat pertarungan itu.
Beberapa murid ikut mengerahkan hewan kontrak mereka, namun tampaknya tidak terlalu berguna karena setelahnya mereka malah tampak bersikap aneh, mereka seolah tertular, dan kini mereka balik menyerang pihak akademi.
Banyak hewan kontrak yang kini juga ikut menyerang akademi atas perintah tuan mereka yang kini tidak sadar sedang berada dibawah pengaruh kekuatan asing.
"Vione!" Teriak Rosetta dari kejauhan.
Vione menoleh dan melambaikan tangannya sebagai respon.
"Cari Caily! dia bisa mengatasi hewan-hewan itu!" Teriak Rosetta kembali.
Vione yang kini naik kebangunan akademi dibantu oleh Rize mulai mengedarkan pandangannya kebawah guna mencari keberadaan Caily diantara kerumunan pertarungan.
Namun rambut putih mencolok milik Caily tidak terlihat sama sekali.
Yang ia lihat hanya seorang Alisa yang tampak sedang berusaha menyembuhkan beberapa murid yang terluka menggunakan sihir cahaya yang mengandung penyembuhan.
Vione mengabaikannya hal itu karena berpikir itu sudah seharusnya tugas seorang penyembuh seperti Alisa.
Disisi lain, profesor Lay yang terus melawan murid aneh itu kini menyadari sesuatu, aura dan energi mereka terasa sama dengan gumpalan hitam yang ia ambil dari taman belakang akademi, tepatnya pada tumbuh-tumbuhan itu.
Ia masih belum tahu dan masih dalam proses penyelidikan, saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus bertarung.
Ia berlari diantara bangunan runtuh itu hingga tak sengaja melihat kearah tempat darurat dimana semua orang yang terluka sedang ditangani.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Alisa sedang menyembuhkan beberapa dari mereka yang terluka parah.
Matanya menyipit saat melihat perubahan dari tubuh para murid yang Alisa sembuhkan.
Dan lagi-lagi ia merasakan aura yang sama dengan gumpalan hitam yang ia temukan, pikirannya mulai menebak-nebak.
Profesor Lay mulai mendekati Alisa.
"Coba kau sembuhkan yang ini." Katanya sambil menunjuk kearah seorang murid yang lukanya tidak terlalu parah.
Alisa terkejut dengan kedatangan profesor Lay.
"Tapi ada yang lebih parah dan harus segera ditangani." Ujar Alisa dengan wajah panik dan gugup nya.
Profesor Lay menatapnya sejenak. "Lakukan saja."
Dan Alisa pun melakukan apa yang diperintahkan oleh profesor Lay.
Beberapa saat kemudian, profesor Lay tersenyum puas lalu menarik Alisa pergi dari tempat itu.
"Prof?!" Jerit Alisa terkejut sekaligus panik.
Profesor Lay berhenti secara tiba-tiba ditengah akademi yang sebagiannya hancur.
"Vione! Rosetta!" Profesor Lay berteriak keras hingga menarik atensi semua orang.
Vione melompat dari atap bangunan akademi, sedangkan Rosetta menyusul dengan menaiki Fenrir.
"Ada apa, prof?" Tanya Rosetta.
"Aku membutuhkan elemen angin-mu Vione, dan aku membutuhkan kekuatan Fenrir." Ucap profesor Lay.
Vione melirik Alisa sejenak lalu kembali menatap profesor Lay, menunggu penjelasannya lebih jelas.
"Kerahkan seluruh kekuatan Fenrir untuk membuat mereka semua tidak bisa bertarung sebentar, setidaknya mungkin buatlah mereka pingsan tanpa kehilangan nyawa."
Rosetta menatap profesor Lay dengan mata melotot.
"Sudah, lakukan saja." Ujar Profesor Lay dengan senyum lebarnya.
Rosetta meskipun merasa ragu tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh profesor Lay.
Ia dan Fenrir melangkah ketengan keributan pertarungan.
Meskipun Rosetta masih tidak sekuat Vione, setidaknya ada Fenrir yang kekuatannya tidak bisa diremehkan.
Cahaya terang dari Fenrir langsung terarah pada sekumpulan pertarungan itu, mengarah pada target, yaitu para murid yang masih menyerang pihak akademi.
"Dibagian sana!" Teriak Rosetta.
Fenrir bergerak cepat sesuai arahan Rosetta, petir menyambar dari langit dan seketika membuat para murid itu tumbang ketanah.
"Disana!"
BLAR!!
"Disini!"
BLAR!!
"Terakhir!"
*BLAR!! BLAR!! BLAR!!
Bahkan para murid yang berada dipihak akademi juga ikut pingsan karena serangan itu.
Rosetta berlari kearah profesor Lay.
"Apa setelah ini?" Tanyanya sedikit panik.
karena bagaimanapun tidak hanya pihak musuh yang tumbang, tapi pihak akademi pun dibuat pingsan oleh Fenrir karena mereka masih berada diarea yang sama saat pertarungan sedang terjadi.
Profesor Lay hanya tertawa, lalu ia menatap Alisa hingga membuat gadis itu memandang dengan gugup.
"Apa?"
Tidak mungkin ia melakukan hal yang sama seperti Rosetta, ia hanya memiliki sihir cahaya yang bahkan masih berada ditingkat standar, itulah yang sebenarnya ia sembunyikan, kekuatannya tidak sekuat yang dirumorkan.
"Aktifkan sihir penyembuhan, kau cukup lakukan itu disini saja." Kata profesor Lay dengan santai.
Alisa tertawa pelan, gugup dan canggung.
Namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh profesor Lay.
Cahaya putih lembut keluar dari tubuh Alisa, gadis itu tampak fokus pada tugasnya.
Profesor Lay menatap kearah Vione.
"Gunakan elemen angin-mu untuk memperluas jangkauan sihir penyembuhan itu."
Vione kini mengerti apa yang diinginkan oleh profesor Lay, ia tanpa bertanya lagi mulai mengarahkan elemen anginnya pada Alisa lalu merubah arah angin sesuka hatinya.
Butiran hijau lembut berterbangan keseluruh udara bahkan hampir memenuhi seluruh akademi.
Mereka jatuh dari langit seperti hujan dan jatuh mengenai semua orang.
Vione kembali mengerahkan elemen anginnya kesegala arah, memperluas jangkauan sihir penyembuhan itu agar menutupi seluruh area akademi tanpa terkecuali.
Beberapa saat kemudian, udara yang awalnya dipenuhi oleh butiran hijau lembut berubah menjadi asap hitam yang terus berputar-putar.
Saat asap hitam itu saling bertabrakan dengan butiran-butiran hijau itu, mereka tampak pecah dan mengudara, hilang begitu saja.
Dan semua murid yang tumbang kembali mendapatkan rona wajah mereka kembali seolah mereka hanya sedang tertidur biasa.
Beberapa murid dan guru yang masih sadar mendapatkan kembali kesegaran tubuh mereka, luka ditubuh mereka juga perlahan tertutup dan sembuh.
Baru saja mereka merasa lega dan bernapas dengan baik, muncul masalah lain.
Beberapa hewan kontrak para murid tampaknya masih dalam pengaruh asap hitam itu, mereka masih membuat keributan.
Rosetta mendekati Vione dan berbisik didekatnya.
"Mungkinkah mereka semua hewan yang dikontrak tanpa darah?"
Vione hanya diam sambil mengamati para hewan-hewan yang mengamuk itu.