--Lebih baik menyinggung Raja Neraka, daripada menyinggung Feng Yaorao--
Dunia mengenal Feng Yaorao, putri sulung keluarga Feng, sebagai gadis yang pemalu, lemah dan tidak berpendidikan. Mereka menganggapnya sampah tak berguna yang bisa ditindas sesuka hati. Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah sebuah kemalangan merenggut nyawanya, jiwa gadis lemah itu telah digantikan oleh seorang Top Assassin berdarah dingin dari Abad ke -24.
Licik, kejam, dan pendendam. Feng Yaorao yang baru tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitinya lolos begitu saja. Siapapun yang berhutang padanya, harus membayar dengan darah. Siapapun yang menghalanginya, akan berakhir di kuburan massal.
Mengandalkan insting membunuh yang tajam serta Ular Darah-- makhluk spiritual mistis di dalam tubuhnya yang bisa bertransformasi menjadi cambuk mematikan, dia siap membalikkan dunia kuno ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - Permainan Baru Dimulai
Feng Yaorao tersenyum tipis. Menggali lubang sendiri lalu melompat ke dalamnya? Ah, justru adegan seperti inilah yang sangat dia sukai.
"Xiao Bai, hajar dia! Pastikan ibunya tidak bisa mengenali wajahnya lagi!" perintah Feng Yaorao dingin.
Guk, Guk!
Belum sempat semua orang bereaksi, anjing berbulu putih itu melesat bagai kilat. Dengan gerakan ganas, Xiao Bai menerkam pria yang berguling-guling di tanah. Cakar-cakarnya yang tajam mencabik kulit wajah pria itu tanpa ampun. Darah segar menciprat, membasahi tanah kering dan menciptakan pemandangan yang sangat mengerikan.
Semua orang terperanjat. Bukan hanya karena terkejut melihat seekor anjing mampu memahami ucapan manusia, tetapi juga merinding oleh kekejaman Feng Yaorao.
Di mata mereka, pria itu memang bajingan yang pantas dihukum. Namun, dia sudah dilumpuhkan dan kehilangan kejantanannya. Apakah wanita ini harus menghancurkannya hingga tak tersisa? Hati nurani mereka berteriak bahwa tindakan Feng Yaorao terlalu kejam, namun tak satupun dari mereka berani membuka mulut. Ketakutan membelenggu lidah mereka, takut jika amarah wanita itu mendadak beralih ke mereka.
Bahkan Pangeran Cang Yao dan Chi Feng, yang sudah pernah menyaksikan betapa ganasnya Xiao Bai, tetap merasakan sensasi dingin menjalar di punggung mereka. Metodenya terlalu kejam... namun anehnya, sangat efektif untuk membungkam semua orang.
Di sudut lain, Qin Yuyan mengepalkan tangannya erat. Jemarinya memutih. Dia hampir saja melompat keluar untuk menghentikannya, tetapi akal sehatnya menahannya. Jika dia mencampuri urusan ini sekarang, seluruh rencana sepupunya mungkin akan berantakan. Dengan napas tertahan, dia memilih tetap bersembunyi di balik kerumunan.
Bagi Feng Yaorao—seorang mantan pembunuh bayaran yang hidup di antara darah dan mayat—kata 'kejam' hanyalah lelucon. Dunia ini keras, mengampuni mereka yang menyimpan dendam padanya sama saja bersikap kejam terhadap diri sendiri. Hari ini, dia hanya sedang menagih hutang atas nama dirinya yang dulu.
"Feng Yaorao! Cukup!" teriakan Pangeran Cang Rui menggema lagi, memecah kesunyian yang mencekam. Dia melangkah maju, dadanya naik turun oleh amarah. "Kau seorang wanita, bagaimana bisa kau sekejam ini?"
Kejam?
Feng Yaorao tertawa dalam hati. Pangeran ini berani mengucapkannya tanpa rasa malu? Dibandingkan dengan konspirasi kotor yang dirancang Pangeran Cang Rui untuk menyingkirkan seorang gadis polos demi ambisi pribadinya, tindakannya hari ini tak ada apa-apanya.
"Kejam?" Yaorao memiringkan kepalanya, menatap Pangeran Cang Rui dengan pandangan acuh tak acuh. "Bagian mana dari tindakanku yang kau sebut kejam?"
"Sama sekali tidak kejam," sahut Pangeran Cang Yao tiba-tiba dari samping. Wajahnya tenang, namun tatapannya dengan jelas menunjukkan bahwa dia mendukung Feng Yaorao.
"Kau... kalian...!" Wajah Pangeran Cang Rui memerah padam.
"Ada apa denganmu, Pangeran Rui?" potong Yaorao dengan nada malas, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Jika ingin bicara, bicaralah yang jelas. Kau, kau, kau... jika orang luar mendengarnya, mereka bisa mengira Pangeran Ketiga Kerajaan Cang yang terhormat ternyata seorang pemuda gagap."
Deg!
Napas semua orang tertahan. Gila! Wanita itu baru saja menyebut Pangeran Cang Rui gagap di depan umum!
Meskipun Feng Yaorao memiliki dukungan kuat dari Keluarga Qin, yang membuatnya bisa melakukan apa saja di luar, namun berurusan dengan seorang pangeran kerajaan adalah hal yang sepenuhnya berbeda.
"Feng Yaorao!" bentak Pangeran Cang Rui, matanya menyalang penuh kebencian. "Kau bukan hanya tidak berguna, tapi juga berhati busuk! Wanita sepertimu tidak akan pernah pantas menjadi permaisuriku, apalagi menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan!"
Kata-kata itu akhirnya meluncur dari mulut Pangeran Cang Rui—kalimat yang selama ini terpendam di dasar hatinya. Dia sengaja membawa-bawa nama Keluarga Kerajaan agar tindakannya memojokkan Feng Yaorao terlihat sebagai bentuk martabat istana, bukan dendam pribadi.
"Oh? Begitukah?" Feng Yaorao tersenyum manis, namun tatapan matanya tetap dingin. "Karena Pangeran Rui begitu membenciku, bagaimana kalau kita batalkan saja pertunangan kita sekarang? Bukankah itu sangat adil?"
Suasana mendadak hening.
Pangeran Cang Yao dan Chi Feng saling memandang. Semua orang yang berdiri di sana merasa seolah-olah pendengaran mereka sedang mempermainkan mereka.
Membatalkan pertunangan?!
Seluruh Kerajaan Cang tahu betapa Feng Yaorao saat mencintai Pangeran Cang Rui. Gadis itu bahkan rela melakukan apa saja—termasuk mempertaruhkan nyawanya—hanya demi mendapatkan lirikan dari sang pangeran. Namun kini, wanita yang sama mengucapkan kata 'pembatalan pertunangan' dengan ekspresi begitu santai dan penuh keangkuhan, seolah pertunangan itu hanyalah beban yang ingin dia buang ke tong sampah.
Pangeran Cang Rui terpaku. Dia menatap Feng Yaorao, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah cantik itu. Namun yang dia temukan hanyalah ketenangan.
"Apakah dia sedang berpura-pura? Menjual mahal agar aku mengejarnya?"
Pikiran itu membuat amarah Pangeran Cang Rui sedikit surut, digantikan oleh rasa kebanggaan yang samar. Dia harus mengakui bahwa penampilan Yaorao hari ini sangat menawan, tetapi kelakuannya tetap saja membuatnya jijik.
Namun, bukankah ini kesempatan emas? Jika Feng Yaorao sendiri yang memulainya, dia tidak perlu takut Adipati Qin akan menyalahkannya!
"Karena Nona Feng sendiri yang memintanya, maka aku akan mengabulkannya!" jawab Pangeran Cang Rui cepat, takut Feng Yaorao menarik kembali ucapannya. "Namun, kita harus menghadap Ayahanda Kaisar secara resmi agar kau tidak bisa mundur di kemudian hari."
"Tunggu dulu..." Feng Yaorao menyela sebelum Pangeran Cang Rui sempat menyelesaikan kalimatnya.
Pangeran Cang Rui terkekeh sinis. Sudah kuduga. Dia pasti menyesal sekarang.
"Kenapa? Kau ingin mundur?" ejek Pangeran Cang Rui dengan dagu terangkat.
"Pangeran Rui sepertinya salah paham," Feng Yaorao tertawa pelan, sebuah tawa merdu yang terdengar sangat mengejek. "Pertunangan kita memang sudah berakhir, tapi kita tidak perlu merepotkan Yang Mulia Kaisar lagi. Beliau... sudah membatalkannya sendiri."
BOOM!
Pernyataan itu bagaikan guntur yang menyambar di siang bolong.
Pangeran Cang Rui membeku. Jantungnya berdebar kencang. Dia menatap Feng Yaorao dengan tatapan tak percaya. "Apa... apa yang baru saja kau katakan?"
"Astaga... Apakah Pangeran Ketiga kita juga mengalami masalah pendengaran selain gagap?" Feng Yaorao menggelengkan kepalanya berpura-pura prihatin. Dia lalu menoleh ke arah Pangeran Cang Yao. "Yang Mulia Pangeran Yao, bisakah kau mengulanginya? Kasihan Pangeran Rui, pendengarannya sepertinya memburuk."
Pangeran Cang Yao tersenyum tipis, menanggapi permainan itu dengan sempurna. "Tentu. Saudaraku, Nona Feng mengatakan bahwa Ayahanda Kaisar telah resmi membatalkan pertunangan kalian berdua."
"Kau dengar itu?" Feng Yaorao melipat tangannya di dada. "Bahkan orang polos seperti Pangeran Yao bisa mendengarnya dengan jelas. Apakah Pangeran Rui merasa kemampuan otakmu berada di bawahnya?"
Mata Pangeran Cang Yao berkedut mendengar dirinya disebut 'orang polos', namun dia memilih untuk diam dan menikmati pertunjukan.
Sementara itu, Chi Feng yang berdiri di dekatnya menatap Feng Yaorao dengan takjub. Wanita ini tidak hanya memiliki kecantikan yang tiada tara, tetapi juga lidah beracun yang sanggup menumbangkan harga diri musuhnya dalam hitungan detik.
"Feng... Yao... Rao!" Suara Pangeran Cang Rui keluar dari celah giginya yang mengatup rapat. Tinjunya terkepal hingga terdengar bunyi gemeretak dari sendi-sendinya. Wajahnya memerah padam menahan malu.
Bagaimana mungkin? Sebagai pihak yang terlibat, bagaimana bisa dia menjadi orang terakhir yang tahu bahwa pertunangannya telah dibatalkan oleh ayahnya sendiri? Apakah pemanggilan istana tadi adalah untuk hal ini? Ini bukan sekedar pemutusan hubungan—ini adalah penghinaan terbuka!
"Mengapa Pangeran Rui tampak begitu marah?" goda Feng Yaorao dengan mata berbinar. "Bukankah ini yang selalu kau inginkan? Aku hanya mewujudkan keinginanmu. Kalau kau bersikap seemosional ini, orang-orang bisa berpikir bahwa kau sebenarnya diam-diam menyukaiku!"
"Kau... kau wanita tidak tahu malu! Bermimpi di siang bolong!" teriak Pangeran Cang Rui, kehilangan seluruh martabat seorang pangeran hingga suaranya melengking bagaikan penjual sayuran yang menjajakan jualannya di pasar.
"Terima kasih atas pujiannya yang begitu tinggi," jawab Feng Yaorao tanpa rasa bersalah sedikitpun, bahkan membungkuk kecil dengan sangat anggun.
Semua orang di sekeliling hanya bisa terperangah. Apakah wanita ini benar-benar Feng Yaorao yang dulu? Apakah dia sudah gila, atau memang sudah tidak memiliki rasa malu lagi? Dipuji 'tidak tahu malu' dan dia malah mengucapkan terima kasih?!
Guk, guk..
Xiao Bai yang berdiri di samping Feng Yaorao menggonggong pelan, seolah ikut prihatin dengan tingkat kepercayaan diri tuannya. Sementara Ular Darah di dalam dirinya memilih untuk tetap diam, sudah terbiasa dengan kegilaan tuannya.
"Kau... ka-kau...!" Pangeran Cang Rui menunjuk Feng Yaorao dengan jari gemetar, napasnya memburu hingga dadanya naik turun.
"Tolong kendalikan dirimu, Pangeran Rui. Atau, kau ingin seluruh Kerajaan Cang heboh karena kabar bahwa Pangeran Ketiga yang terhormat ternyata seorang pemuda yang gagap dan emosional?" Feng Yaorao mengingatkannya dengan ramah, tetapi yang semua orang lihat, tidak ada kebaikan dalam ucapan maupun tatapannya.
semangat 💪💪💪 Ditunggu updatenya❤❤
ini baru dirimu yg sesungguhnya tegas, disiplin dan harus kejam tanpa ampun pd musuh 💪💪💪
lanjut..... lanjut lagi seruu bingit
semangat yaorao💪💪💪