Bagi Heskala Regantara, kehidupannya di tahun 2036 hanya soal kerja, tanggung jawab, dan sepi. Ia sudah terlalu lama berhenti mencari kebahagiaan.
Sampai seorang karyawan baru datang ke perusahaannya — Aysha Putri, perempuan dengan senyum yang begitu tipis dan mata yang anehnya terasa akrab.
Ia tak tahu bahwa gadis itu pernah menjadi bagian kecil dari masa lalunya… dan bagian besar dari hidupnya yang hilang.
Lalu, saat kebenaran mulai terungkap, Heskal menyadari ...
... kadang cinta paling manis lahir dari kesalahan yang paling tak termaafkan.
•••
"The Sweetest Mistake"
by Polaroid Usang
Spin Of "Gairah My Step Brother"
•••
Bisa dibaca terpisah.
•••
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Polaroid Usang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
•••
Pagi itu berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, sampai Zeline merasa ada yang janggal. Lift berhenti di lantai departemen mereka, rekan kerja satu departemennya segera keluar lift. Zeline baru melangkah menuju mejanya ketika suara yang sangat ia kenal terdengar dari belakang.
"Aysha."
Langkahnya refleks melambat. Beberapa orang menoleh singkat. Heskal berdiri di belakangnya, jas rapi, wajah tenang, seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka akhir-akhir ini. Seperti mereka hanya atasan dan bawahan. Entah ada urusan apa CEO-nya itu ada di departemennya sepagi ini.
Heskal mendekat pada Zeline, menatap Zeline cukup lama hingga perempuan itu khawatir ada yang memperhatikan mereka dan sadar akan sesuatu diantara mereka.
"Hari ini kamu ke lab lagi?" Tanyanya.
Zeline menoleh singkat. "Iya, Pak."
Heskal mengangguk. "Kita pergi bareng."
Zeline mengerjab kaget, menatap Heskal dengan kedua matanya yang membulat, lalu mengernyit. Ia baru hendak menolak tapi Heskal segera menyela.
"Ayo. Saya tunggu disini. Saya juga mau liat progres Lumina secara langsung."
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk diperhatikan orang lain. Tapi Zeline tahu, itu bukan sikap profesional. Heskal sedang mengambil kesempatan. Zeline hanya mengangguk kecil, lalu melangkah menuju mejanya untuk meletakkan tas selempangnya dan mengambil barang yang ia rasa akan di butuhkan. Dia kembali mendekat pada Heskal yang berdiri didepan lift.
"Udah sarapan?" Tanya lelaki itu setelah memasuki lift yang berjalan menuju gedung sebelah dimana Departement Research and Development berada.
"Udah, Pak."
Heskal mengangguk. Di perjalanN, beberapa karyawan masuk lift, hingga tak ada yang bersuara lebih dulu. Lift berhenti di lantai laboratorium Lumina Project. Pintu terbuka, aroma steril dan suara mesin menyambut mereka.
"Pagi, Pak Heskal," sapa Pak Arya, Kepala Departemen R&D, sambil berjalan mendekat. "Jujur saya sedikit kaget karena Pak Heskal datang tanpa pemberitahuan. Untungnya pagi ini saya sudah standby di laboratorium."
"Pagi," jawab Heskal tersenyum tipis. "Biasanya saya hanya melihat laporan mingguan dari Aysha. Tapi minggu ini, saya sekalian ikut mau lihat langsung perkembangan Lumina." Ucap Heskal.
Nada itu netral. Tapi posisi mereka tidak.
Zeline berdiri setengah langkah di depan Heskal, seperti biasa. Tapi kali ini, ia tidak sendirian. Ada seseorang di belakangnya. menopang tanpa diumumkan.
"Baik, mari, Pak." Kata Pak Arya.
Zeline melangkah mengikuti Pak Arya dengan Hedkal di sampingnya. Tangannya penuh, tablet di satu tangan, map laporan di tangan lain, satu buku catatan dijepit di ketiak. Belum lagi ID card dan pulpen yang hampir jatuh.
Heskal memperhatikan itu.
"Ze—" Heskal melirik sekitar sebelum kembali bersuara, "Aysha."
Zeline refleks menoleh pada Heskal. "Iya, Pak?"
"Sini."
Sebelum Zeline sempat bereaksi, Heskal sudah mengambil map laporan dari lengannya, lalu buku catatan dari ketiaknya dengan gerakan tenang, alami. Seolah itu hal paling wajar di dunia.
"Pak—" Zeline membulat, refleks ingin mengambil kembali.
"Biar saya," potongnya ringan. "Kamu pegang tab-nya aja."
Zeline terdiam dalam beberapa detik yang terasa terlalu lama. Tangannya meremas sisi tablet dengan gugup, matanya melirik sekitar. "Iya… Pak," jawabnya akhirnya.
Beberapa peneliti menoleh. Pak Arya didepan mereka ikut melirik sebelum kembali melanjutkan langkah setelah Heskal mengangguk padanya.
Saat mereka berjalan masuk lebih dalam ke lab, Heskal mencondongkan badan sedikit ke Zeline.
"Jangan buru-buru," Heskal berucap, matanya melirik pada tumit Zeline yang diplester, "nanti tambah luka."
Nadanya rendah, perhatiannya terlihat cukup jelas di mata itu. Hampir seperti kebiasaan lama yang lepas tanpa sadar.
Zeline tercekat. Langkahnya otomatis melambat. "Iya, Pak."
Pak Arya menangkap semuanya. Tidak berkomentar. Tapi dari sudut matanya, ia tahu, ini bukan sekadar atasan yang ingin laporan cepat.
Mereka berjalan menyusuri lorong laboratorium yang dingin dan terang. Pak Arya berbicara sepanjang jalan, menjelaskan progres Lumina sambil sesekali berhenti di depan panel kaca atau meja kerja para peneliti.
Zeline berjalan di sampingnya, sesekali mengangguk, sesekali menambahkan penjelasan singkat saat Pak Arya berhenti bicara. Nadanya tenang, terukur. Tangannya menunjuk data, bukan mencari perhatian.
Heskal berjalan setengah langkah di belakang Zeline. Tidak banyak bicara. Tidak memotong. Hanya mendengarkan.
Sesekali, Zeline melambat saat membaca data di layar. Dan setiap kali itu terjadi, Heskal ikut melambat. Tanpa diminta. Tanpa disadari.
Jarak di antara Heskal dan Zeline tidak rapat. Tapi juga tidak kosong. Ada ruang kecil yang terasa… dijaga.
Saat berhenti di unit terakhir, Pak Arya menjelaskan dengan lebih teknis sembari menjalankan produk Lumina versi Rg-101 yang telah lolos uji coba tahap pertama. Zeline fokus pada data. Heskal mencondongkan badan sedikit, cukup dekat untuk melihat layar yang sama.
Bahu mereka hampir bersentuhan.
Hampir.
Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang mendekat.
Tapi keduanya sadar akan jarak itu. Diam-diam Zeline menahan nafas, berusaha menyeimbangkan profesionalitas dan debaran jantungnya yang menggila.
Saat tur selesai, Pak Arya menutup dengan nada profesional. "Sejauh ini Lumina stabil seperti yang selalu Bu Aysha laporkan pada Pak Heskal dan tim kolaborasi AI-RynTech."
Heskal mengangguk. "Yah, saya jelas percaya."
Pak Arya tersenyum, dia berucap dengan sedikit gurauan, "Pak Heskal kelihatannya dangat percaya sama Bu Aysha."
"Sangat." Balas Heskal tersenyum.
Satu kata. Tapi Zeline mendengarnya.
Dan entah kenapa, dadanya menghangat pelan.
Seperti di akui oleh orang yang sejak dulu ia inginkan.
•••
oh iya boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe)
boleh cek profil ku ya kak... nama judul ceritanya Pernikahan yang tak terduga
PLISSSSSSSS
😭😭😭😭😭