Blurb :
ARJUNA, seorang advokat/pengacara/lawyer yang profesional di bidangnya. Namun, karena pesonanya itu, dia kerap didatangi para wanita-wanita cantik hingga gelar 'Play Boy' pun melekat pada dirinya. Ada alasan tersendiri kenapa rumor yang kurang enak disandang itu menyebar begitu saja.
Persidangan telah mempertemukan Arjuna dengan jaksa muda bernama SHADRINA ARIMBIE. Intrik mewarnai kisah cinta mereka hingga terungkap jati diri Arjuna yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laper, pengen makan orang
“Oppa ...!” teriak sang gadis dengan manja, lalu memeluknya.
Arimbie membulatkan bibirnya sambil menganga lalu menutup mulut dengan telapak tangannya.
“Kapan kamu pulang? Kenapa gak ngabarin dulu?”
“Aku baru landing, trus nyari Oppa. Ternyata Oppa di sini?” Mimik manjanya masih belum hilang dari wajahnya.
“Iya, tapi kamu lepasin dulu. Jangan peluk-peluk begini.” Arjuna melepaskan kedua tangan Mozza yang melingkar erat di pinggangnya.
Arimbie berdiri dengan matanya yang mendelik. “Oppa ...! Eoni pulang dulu. Laper, lagi pengen makan orang!” ketus Arimbie sambil mengusap perutnya.
“Ya udah, kamu makan dulu yang banyak, biar kuat. Nanti kita bicara lagi,” sahut Arjuna.
“Aku kira, dia akan mencegahku pergi lalu memperkenalkan aku sebagai calon istrinya. Malah nyuruh aku makan,” gerutu Arimbie dalam hatinya. “Mentang-mentang aku ini calon istri bohongan, dia bebas pamer pacar-pacarnya di depan mataku. Keterlaluan!”
Setelah Arimbie berlalu, Arjuna mempersilakan Mozza duduk dan memintanya bercerita kenapa bisa sampai di sini.
“Pak Juna, siapa gadis ini? Tolong jangan buat Arimbie sakit hati. Saya gak terima,” ucap Dinda yang penasaran.
“Shuutt ...,” sela Ghibran. Dia sudah tahu betul siapa Mozza ini. Dia langsung berteriak memanggil adiknya yang masih di dapur. “Gha ...! Ada tamu, tolong bawa minuman ke sini!” serunya dengan suara lantang.
“Aku datang ...!” sahut Ghaisan seraya membawa nampan dari dapur. Matanya terbelalak ketika melihat siapa tamu yang datang.
Ghaisan adalah laki-laki pemalu. Dia akan salah tingkah jika berhadapan langsung dengan gadis yang disukainya. Dia hampir saja kembali ke dapur. Namun, Ghibran memanggilnya kembali.
“Eiits, mau kemana? bawa sini minumannya,” perintah Ghibran. Dia tahu benar bahwa adik bungsunya ini sangat menyukai Mozza sejak lama.
Dengan tangannya yang sedikit bergetar, Ghaisan meletakan minuman di meja, lalu meraih jaket kulit yang tersampir di sandaran sofa. “Maaf, semua. Saya pergi dulu ada urusan sebentar,” ucap Ghaisan mendadak.
Ghibran dan Ghiffari hanya menertawakannya sambil berteriak. “Awas, ya, Gha! jangan pipis di celana!” seru Ghiffari meneriaki adiknya yang gugup setengah mati.
“Kenapa, sih, dia?” tanya Arjuna heran.
Mozza tersenyum melihat tingkah Ghaisan yang belum berubah sejak dulu. Mozza adalah anak dari Rully yang berkuliah mengambil jurusan fashion design di negara Korea. Dia sangat akrab dengan Arjuna karena selama ini mereka hidup sebagai adik dan kakak.
“Aku baru tiba di rumah. Kakek bilang, Oppa gak tinggal lagi di sana. Kenapa?” tanya Mozza sedikit kecewa.
“Gak apa-apa, kok, toh kalau sudah berkeluarga nanti, aku tetap harus pindah dari rumah kakek,” jawab Arjuna. “Oh, ya. Mana oleh-olehku?”
“Oppa nih, malah nanyain oleh-oleh. Bukannya nanyain kabarku.”
“Karena Oppa sudah lihat kamu baik-baik saja. Kenapa harus nanya lagi?”
Mozza kembali memeluk Arjuna. “Oppa gak pernah telepon aku, aku kangen banget jadinya.” Mozza belum tahu kalau ternyata mereka bukanlah saudara kandung. Namun, Arjuna tetap menyayanginya seperti seorang kakak pada adik. Tidak ada yang berubah.
“Kalian semua lihat, 'kan? Kita ini adik dan kakak. Jangan ada yang salah paham tentang hubungan kami,” terang Arjuna.
“Yang salah paham bukan kita tapi calon istri Pak Juna, tuh,” timpal Arumi yang sedari tadi hanya menyimak.
“Ngomong-ngomong, tadi itu kenapa dia langsung pergi?”
“Duh, masih belum ngerti juga ya, kalau calon istrinya cemburu begitu?” kilah Dinda seraya menggaruk kepalanya.
“Coba tanya dia, Din. Apa benar Arimbie cemburu? Sepertinya aku gak yakin.”
“Abang lihat sendiri, gih. Jangan sampai Bu Arimbie bunuh diri gara-gara cemburu,” usul Ghiffari.
“Bunuh diri? Tadi dia bilang, kan cuma lagi pengen makan orang saja,” gumam Arjuna seraya berdiri lalu keluar mencari Arimbie.
Sementara dia memberi waktu pada Mozza berkenalan dan bercakap-cakap di rumahnya, Arjuna menghampiri Arimbie yang tengah menyiram tanaman di kavling.
“Sayang, sudah selesai makannya?” tanya Arjuna mendekati.
Arimbie hanya diam pura-pura tak mendengar pertanyaan Arjuna.
“Bukannya tadi lapar? makan, yu!” ajaknya. Namun, masih tak ada jawaban dari mulut Arimbie. “Kamu kenapa, sih?” tanya Arjuna sambil menatap karena sudah kehabisan kata-kata.
“Aku gak lapar. Makan aja sendiri.”
“Kenapa gak lapar? Kamu diet?”
“Jangan tanya-tanya Mulu deh, berisik.”
“Ya udah aku duduk di sini saja, nemenin kamu nyiram bunga,” ucapnya seraya duduk di kursi teras sambil memandangi Arimbie yang sedang marah. “Kok, bisa, ya? Bunga nyiram bunga?” Arjuna mulai lagi dengan gombalannya.
“Maksudnya?” tanya Arimbie sambil menoleh. Akhirnya dia terpancing.
“Kamu gak tahu, ya, kalau kamu itu cantik seperti bunga-bunga di taman? Aku mau kok, jadi tukang kebun biar bisa ngerawat kamu tiap hari.”
Diam-diam Arimbie menahan senyumnya mendengar rayuan lelaki yang duduk di belakangnya. Dia tidak berani menampakkan wajahnya yang mulai memerah.
“Kamu kok, diam saja,” tanya Arjuna.
“Emangnya aku harus ngomong apa?”
“Katakan apa saja, terserah. Biarkan lidahmu itu keseleo supaya ....” Belum selesai Arjuna dengan ucapannya, Arimbie sudah menyemprotnya dengan air kran hingga basah wajah dan pakaian yang dikenakannya.
“Kamu mau main air denganku?” tanya Arjuna seraya berdiri. Dia hendak merebut kran dari tangan Arimbie karena ingin membalasnya.
“Tidak, tidak, sayang. Maaf, aku gak sengaja. Beneran,” ucap Arimbie sambil menghindar dan tertawa lepas.
“Ambilkan aku handuk, bajuku basah semua.”
“Oke, oke. Tunggu sebentar. Jangan ke mana-mana.” Arimbie masuk lalu kembali membawa handuk. Dia langsung mengeringkan rambut Arjuna tanpa diminta.
“Kamu kok, nakal, sih? Aku bilangin sama Bunda, nanti.”
“Silakan. Aku juga mau bilang sama kakekmu kalau ternyata calon suamiku sudah berani bawa-bawa perempuan lain ke rumahnya.”
Arjuna mendongak sambil tersenyum menatap Arimbie. “Ternyata benar, kamu cemburu.”
“Aku gak cemburu, aku cuma ....”
“Cuma takut kehilangan aku, 'kan?” lanjut Arjuna. Selalu kalimat-kalimat itu yang mereka ucapkan di saat seperti ini.
“Terserah kamu mau bilang apa? Yang pasti setelah kita menikah, aku gak mau sampai ada rumor-rumor seperti sebelumnya.”
“Aku mengerti,” ucap Arjuna sambil berdiri lalu menarik tangan Arimbie. “Aku mau ngenalin kamu pada adikku. Dia jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk menghadiri pernikahan kita.”
“A-adik?” tanya Arimbie penasaran.
“Iya.”
“Tunggu, tunggu. Kenapa gak pernah bilang kalau Kak Juna punya adik?”
“Orang kamu juga gak nanya,” jawabnya seraya menarik dengan paksa tangan Arimbie yang masih penasaran. “Aku memang belum cerita banyak tentang keluargaku, bukan? Wajar saja kalau kamu tidak tahu.”
“Jadi kapan mau cerita semua?”
“Nanti setelah menikah.”
Setelah perkenalannya dengan Mozza, Arimbie minta maaf karena telah salah paham.
“Gak apa-apa, Kak. Wajar saja kalau calon istri Oppa cemburu, karena memang Oppa-ku ini kan playboy. Sangat patut untuk dicurigai,” ucap Mozza sedikit berbisik.
“Bukan playboy tapi mantan, Mozza. Aku kan sudah pensiun, sudah insyaf sekarang,” ucap Arjuna sambil berkacak pinggang.
“Iya, iya, mantan playboy. Awas aja kalau kembali jadi playboy.”
“Aku ganti baju dulu. Ingat! kalian jangan jelek-jelekin aku mulu di depan calon istriku. Nanti dia kabur. Aku kan belum ngerasain indahnya jadi pengantin baru.”
Arimbie langsung melempar wajah Arjuna dengan bantal sofa saat itu juga.
...-o0o-...
...—BERSAMBUNG—...
Readers ... udah kasih boomlike belum? Jangan lupa, ya, dukung terus biar aku tidak pindah lapak. Terima kasih untuk dukungan kalian semua semoga Allah membalasnya. 😘🙏
hanya 🌹yg dapat mewakili perasaan ku saat membaca nya 🥰🥰🥰
🙏🙏🙏🙏🙏
ku simak terus ya Thor